HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 58. Hubungan berakhir?


__ADS_3

***Airport Ngurah Rai***


Kepergian Dian dan Kelvin membuat suasana di airport menjadi tenang seketika. Para fans fanatik membubarkan diri dengan cepat.


Tentu saja semua foto yang berhasil didapatkan sudah beredar di media sosial masing-masing.


Yang paling menarik perhatian adalah identitas wanita cantik yang menjemput Kelvin di airport. Banyak orang penasaran dan mencari tahu sehingga akhirnya identitas Dian sebagai mantan istri Stefan pun terungkap di berbagai media sosial.


Sementara Gisel mengepalkan erat kedua tangannya karena Stefan masih menatap ke arah kepergian Dian dan Kelvin.


Perasaan Gisel bercampur aduk. Kesal, marah, iri, dan cemburu. Gisel menyesali keputusan kepergiannya selama sebulan untuk menghindari kemarahan Stefan malahan menjadi bumerang.


Sikap Stefan terhadapnya semakin dingin dan bahkan menjaga jarak dengannya. Buktinya rangkulan tadi dilepas oleh Stefan tanpa ragu.


Sementara terhadap Dian, pria muda itu terlihat jelas sangat peduli dengan Dian.


"Sia bodoh! Gak bisa bantu sama sekali!" keluh Gisel dalam hati.


Kejadian keris antik yang dibeli oleh Dian sudah diketahui oleh Gisel melalui Anastasia. Itu sebabnya Gisel tidak mau menunda kepulangannya lagi walaupun masih ada pertunjukan balet di Amerika.


"Bukankah itu Dian? Ternyata Dian kenal dekat dengan Kelvin," ucap Gisel, untuk mengalihkan perhatian Stefan dari punggung Dian yang sudah menjauh.


"CEO Chandra sudah mendepaknya dan sekarang Dian mencari mangsa baru. Selama ini banyak pria berbeda muncul di sisi Dian," ujar Rizky.


Mata Gisel berbinar-binar mendengar perkataan Rizky. Kehidupan pribadi Dian yang bergonta-ganti pasangan membuat Gisel percaya keluarga Bramasta tidak akan menyetujui Stefan rujuk dengan Dian.


"Kalian mau bergosip atau pulang?" tanya Stefan dengan wajah tanpa ekspresi.


"Tentu saja pulang! Fan, kamu antar Gisel pulang. Aku mau cari istriku dulu," jawab Rizky.


Dua mobil berhenti di hadapan mereka. Stefan masuk ke dalam mobil mercedes benz dengan cepat. Rizky memberi isyarat mata ke Gisel sebelum masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Gisel tersenyum kecil melihat dukungan Rizky terhadapnya. Gisel semakin yakin dirinya bisa menjadi pasangan Stefan lagi karena orang terdekat pria itu mendukungnya.


Sopir Stefan turun dari mobil dan membantu memasukkan koper Gisel ke dalam bagasi mobil, sedangkan Gisel sendiri sudah duduk di samping Stefan.


Sopir mengemudikan mobilnya keluar dari airport Ngurah Rai. Suasana di dalam mobil tenang dan sepi. Stefan melamun memikirkan sesuatu dengan serius.

__ADS_1


Pikiran Stefan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan setelah melihat kemesraan Dian dan Kelvin tadi. Terlihat jelas mereka berdua saling mengenal dalam waktu yang lama.


Apakah Dian bertemu Kelvin saat di Amerika? Benarkah dugaan Rizky bahwa Dian bersama Kelvin karena Chandra sudah mempunyai pasangan baru?


Sopir menoleh ke belakang setelah membayar karcis parkir. "Tuan Stefan. Kita ke mana sekarang?" tanya sopir dengan sopan.


"Ke Mansion Bramasta!" jawab Gisel dengan cepat, lalu melihat ke arah Stefan.


"Fan! Aku sudah lama gak ketemu tante dan Sia. Aku bawa banyak oleh-oleh untuk mereka," kata Gisel.


"Pak Ben. Ke rumah Gisel!" perintah Stefan.


"Baik tuan Stefan," jawab Pak Ben dengan patuh. Tentu saja sopir pribadi itu lebih mendengar perintah Stefan dari pada Gisel.


Gisel hanya bisa tersenyum canggung. Rencananya untuk pulang bersama Stefan ke Mansion Bramasta gagal total.


Dua puluh menit kemudian, mobil sudah berhenti di depan rumah Gisel. Pak Ben yang merasakan aura dingin di dalam mobil sejak keluar dari airport Ngurah Rai, segera turun dari mobil dan membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan koper Gisel.


Sementara Gisel masih enggan turun dari mobil. Gadis tidak tahu malu itu menatap Stefan dengan tatapan memelas dan mata berkaca-kaca.


"Fan. Kenapa kamu bersikap dingin padaku? Kamu masih marah dengan kejadian di ballroom? Sudah satu bulan berlalu, kenapa kamu masih saja menyalahkanku. Jika kamu tidak puas, aku bisa minta maaf ke Dian," ucap Gisel dengan suara bergetar.


Stefan akui dirinya memang masih menyalahkan Gisel karena mengirim foto rekayasa sehingga Dian mengambil keputusan bercerai, tetapi Stefan lebih membenci dirinya sendiri karena mengacuhkan Dian selama pernikahan sehingga foto rekayasa Gisel membuat batas kesabaran Dian habis.


"Fan," panggil Gisel sambil menangis tersedu-sedu.


"Sel! Jangan menyia-nyiakan waktumu lagi. Hubungan kita sudah berakhir satu tahun yang lalu!" kata Stefan dengan tegas.


Wajah Gisel pucat seperti warna kertas. Dirinya sangat syok dengan perkataan Stefan. Hubungan berakhir? Tidak! Tidak! Gisel bertekad dalam hatinya tidak akan melepaskan Stefan.


"Iya, aku tahu. Semua salahku! Tidak seharusnya aku lebih mementingkan karier dari pada hubungan kita waktu itu," kata Gisel.


"Itu sudah takdir!" ucap Stefan singkat.


Takdir yang membuatnya terhindar dari menikahi Gisel yang selama ini dijadikan pengganti gadis kecil cinta pertama Stefan. Takdir jugalah yang mempertemukannya dengan Dian, yang sangat mirip dengan gadis kecil itu.


Gisel mengelap air mata palsunya dengan cepat. Gisel sadar air matanya sia-sia dan tidak mungkin bisa meluluhkan hati baja Stefan.

__ADS_1


"Tidak masalah! Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku lagi!" tekad hati Gisel.


"Aku mengerti, Fan. Tetapi kita masih berteman kan?" tanya Gisel sambil menatap Stefan dengan mata sembab.


"Iya. Hanya teman," jawab Stefan.


"Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku pulang, Fan!" ucap Gisel dan turun dari mobil.


Pak Ben segera menyerahkan koper ke tangan Gisel.


"Aku permisi dulu, nona Gisel!" ucap Pak Ben dengan sopan.


Pak Ben mengemudikan mobil mercedes benz meninggalkan rumah Gisel. Gisel menatap tanpa berkedip hingga mobil itu hilang dari pandangannya.


"Awas kamu, Dian! Semua gara-gara kamu!" gumam Gisel sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


Beberapa saat kemudian, Gisel menarik koper dan membuka pintu rumahnya. Saat berjalan masuk ke dalam rumah, Gisel mengambil handphone dari tas.


"Halo, Sia! Aku sudah di Bali," ucap Gisel dengan riang saat Anastasia menerima sambungan teleponnya dari seberang sana.


***


Sebuah mobil mercedes benz hitam berhenti di tepi jalan. Pak Ben menghentikan mobil atas perintah Stefan. Sopir pribadi yang sudah bekerja selama puluhan tahun di Mansion Bramasta mengintip melalui kaca spion mobil ke kursi belakang, tepatnya tempat Stefan duduk setelah hampir lima belas menit mobil berhenti di sana.


Stefan memegang erat handphone di tangannya. Sekali-kali matanya melirik ke layar handphone untuk memastikan tidak ada panggilan masuk yang terlewatkan.


Stefan sedang menunggu panggilan telepon dari Luis. Tadi dirinya meminta Luis untuk mencari informasi penting.


***


Selamat siang readers tercinta. Informasi apa yang sedang ditunggu Stefan?


Jawabannya di bab malam ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2