HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 103. Meeting intern Perusahaan Bramasta


__ADS_3

***Perusahaan Bramasta***


Pagi hari para karyawan Perusahaan Bramasta merasakan suasana yang sangat berbeda dari biasanya.


Keadaan di dalam perusahaan luar biasa tenang dan sunyi. Bahkan tidak ada terdengar sapaan satu sama lain maupun karyawan yang berkumpul untuk bergosip ria sebentar sebelum mulai bekerja.


Para karyawan duduk di depan meja kerja masing-masing dengan raut wajah yang serius dan tegang. Mereka semua tahu hari ini penentu masa depan Perusahaan Bramasta, apakah tetap dikuasai oleh Stefan atau berhasil diambil alih oleh Adi Bramasta.


Mobil mercedes benz hitam berhenti di depan lobi Perusahaan Bramasta. Sopir segera membukakan pintu mobil belakang.


Stefan turun dari mobil, lalu merapikan jas kerjanya sebelum melangkah penuh percaya diri masuk ke dalam Perusahaan Bramasta.


Luis dan beberapa eksekutif muda yang berada di pihak Stefan dan ikut dalam meeting pagi ini, sudah berbaris rapi menunggu kedatangan Stefan.


"Pagi CEO Stefan!" sapa Luis dan beberapa eksekutif muda serentak.


"Pagi!" jawab Stefan sambil menganggukkan kepala.


Stefan melangkahkan kakinya menuju ruang meeting diikuti oleh Luis dan beberapa eksekutif muda itu.


***


Luis membuka pintu ruang meeting dan Stefan berjalan masuk ke dalam. Stefan melihat Adi sudah berada di dalam ruang meeting bersama para pemegang saham lama serta dua kepala departemen yang sudah berada di pihak Adi.


Stefan tersenyum samar melihat semua pemegang saham lama berpihak ke Adi. Stefan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Adi. Sementara para eksekutif muda duduk di deretan kursi yang tersusun di belakang Stefan.


Para kepala departemen dan juga pemegang saham yang memilih bersikap netral mengambil tempat duduk di barisan kiri dan kanan. Wajah mereka semua tegang karena mata elang dan tajam Stefan melihat mereka satu persatu dengan saksama.


Mereka semua tahu Stefan sedang mengintimidasi mereka agar tidak ikut campur dalam pertarungan antara Stefan dan Adi pagi ini. Jika mereka tetap mempertahankan posisi netral, maka situasi mereka yang akan datang lebih aman setelah meeting berakhir nantinya.


Stefan tersenyum puas melihat reaksi mereka semua, sedangkan wajah Adi terlihat muram karena kesal tidak berhasil membuat semua yang hadir di dalam ruang meeting berada di pihaknya.


"Pagi kakek!" sapa Stefan sambil tersenyum penuh percaya diri.


Adi tidak membalas sapaan Stefan, melainkan mendengus kasar. Sepasang mata tua nya menatap tajam ke Stefan, seolah-olah Stefan merupakan musuh bebuyutan.


Beberapa saat kemudian setelah sapaan singkat dari Stefan, suasana ruang meeting menjadi sunyi dan sepi karena tidak ada yang bersedia memulai pembicaraan terlebih dahulu.


Stefan duduk tenang dan sabar. Pria muda itu menggenggam erat kedua tangan dan meletakkannya di atas meja.


Stefan tahu pasti siapa yang memulai pembicaraan terlebih dahulu, maka akan kehilangan kesempatan untuk mengendalikan keadaan.

__ADS_1


Pada akhirnya Adi Bramasta lah yang kehilangan kesabaran terlebih dahulu. Pria tua itu memicingkan matanya menatap Stefan.


"Stefan! Kamu masih terlalu muda untuk memegang jabatan CEO. Aku dan para pemegang saham lainnya sudah berdiskusi dan memutuskan mengambil kembali jabatan CEO dari tanganmu. Aku yang akan memimpin Perusahaan Bramasta mulai hari ini," ujar Adi dengan arogan.


Perkataan Adi yang terus terang tanpa basa-basi membuat keadaan ruang meeting menjadi semakin tegang. Para eksekutif muda yang mendukung Stefan memperlihatkan wajah muram, tetapi mereka tidak berani bersuara sedikitpun dan menunggu Stefan mengambil sikap yang tepat.


"Mencabut jabatanku? Jangan lupa aku pemegang saham sebesar 60% saat ini," jawab Stefan dengan nada datar.


"Aku berhak menarik kembali sepuluh persen saham yang kuberikan padamu sebelumnya," kata Adi dengan ketus.


"Aku bersedia mengembalikannya ke kakek, tetapi saham kakek masih belum cukup untuk menjadi pemegang kekuasaan tertinggi," jawab Stefan.


"Semua pemegang saham lama berada di pihakku. Mereka sudah menandatangani surat persetujuan," ujar Adi sambil menyentuh satu dokumen file yang berada di hadapannya.


"Benarkah? Kalian semua yakin mau berada di pihak kakek sekarang? Kalian yakin di bawah kepemimpinan kakek, kalian masih bisa menikmati dividen yang besar seperti lima tahun belakangan ini?" tanya Stefan sambil menatap tajam satu persatu pemegang saham lama.


Para pemegang saham lama diam seribu bahasa dan tidak berani menjawab pertanyaan Stefan. Adi bisa merasakan mereka sudah mulai goyah dan terpengaruh oleh Stefan. Surat persetujuan di tangannya akan menjadi kertas yang tidak berguna jika para pemegang saham lama mengingkarinya sekarang.


Adi sendiri pun akui selama lima tahun ini dividen yang didapat oleh para pemegang saham memang lebih banyak dibandingkan sebelumnya dan semua ini karena jasa Stefan.


Stefan berhasil mendapatkan proyek kerja sama yang menguntungkan untuk Perusahaan Bramasta. Adi juga tahu Stefan memiliki saham di beberapa perusahaan kecil lainnya yang sedang maju pesat belakangan ini, termasuk Perusahaan Alpha milik Erik.


Adi mengambil handphone dari atas meja dan menelepon seseorang. "Masuklah!" perintah Adi dengan singkat kepada orang yang mengangkat teleponnya.


Laura dan Anastasia berjalan masuk ke dalam ruang meeting. Mereka berdua menghampiri Adi dan berdiri di samping kursi pria tua itu.


Tubuh Anastasia lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Bahkan kulitnya berwarna kecoklatan. Stefan yakin Adi mengizinkan Anastasia pulang ke Bali dengan syarat tertentu dan pastinya Laura dan Anastasia berada di pihak Adi saat ini.


"Kasan masih memiliki 15% saham Perusahaan Bramasta. Semua saham itu mendukung Pak Adi," ucap Laura.


Dalam sekejap, ruang meeting yang sunyi tadi berubah menjadi riuh. Sebagian besar peserta meeting yakin Adi bisa mengambil alih jabatan CEO dari tangan Stefan. Bahkan Adi sendiri pun tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Stefan.


Suasana riuh di dalam ruang meeting menjadi terhenti seketika saat mendengar suara tertawa kecil dari mulut Stefan. Mereka semua merasa merinding secara bersamaan karena Stefan memberikan ekspresi yang aneh dalam situasi memanas saat ini.


"Luis!" panggil Stefan.


Luis menyerahkan sebuah dokumen file ke tangan Stefan. Stefan membukanya dan melemparkannya ke atas meja, tepat di hadapan Adi.


"Ini adalah surat kontrak transfer saham yang sudah di tanda tangani oleh Kasan Bramasta!" kata Stefan.


Wajah Adi menjadi pucat seketika. Adi mengambil dokumen file dan membaca tulisan di dalamnya dengan saksama. Bahkan Laura dan Anastasia pun ikut memajukan kepala mereka untuk melihat isi dokumen file.

__ADS_1


Adi sama sekali tidak menyangka Kasan akan memberikan semua sahamnya ke Stefan. Padahal Adi sudah meminta Anastasia untuk membujuk Kasan ikut hadir dan mendukung Adi, tetapi Kasan menolak tegas sehingga Adi menggunakan Laura dan Anastasia untuk mendukung rencananya menggertak Stefan di meeting intern hari ini.


Adi terduduk lemas di kursinya. Rencananya untuk mengambil alih Perusahaan Bramasta gagal total. Stefan sudah menjadi pemegang saham terbanyak saat ini.


"Kami mendukung sepenuhnya CEO Stefan!"


"Iya, benar! CEO Stefan paling hebat dan membawa Perusahaan Bramasta maju pesat!"


Beberapa pemegang saham lama mulai membuka suara untuk mendukung Stefan. Mereka semua tahu Adi Bramasta sudah kalah telah dalam pertarungan pagi ini.


"Apakah kalian masih ingin mengambil alih jabatanku?" tanya Stefan dengan nada datar.


"Tentu saja tidak!" jawab para pemegang saham lama sambil menggelengkan kepala mereka dengan kuat.


"Kalau begitu, sekarang giliranku!" kata Stefan.


Luis menyerahkan satu dokumen file yang lain ke tangan Stefan dengan cepat. Stefan meletakkannya di atas meja.


"Kalian semua harus menandatanganinya. Jika tidak setuju, silakan keluar dari Perusahaan Bramasta!" ujar Stefan dengan tegas.


Salah satu pemegang saham lama mengambil dokumen itu dan membacanya dengan saksama, sedangkan Adi masih duduk tegak ditempatnya dengan firasat yang tidak enak.


Dokumen file itu dioper dari satu tangan ke tangan yang lainnya, khususnya tangan para pemegang saham lama dan juga dua kepala departemen yang berada di pihak Adi sebelumnya.


Satu persatu dari mereka membubuhkan tanda tangan, tanpa merasa ragu sedikit pun. Luis mengambil dokumen yang sudah ditanda tangani dan menyerahkannya ke Stefan.


Stefan memeriksanya sekilas, lalu menyerahkan dokumen file itu ke tangan Luis.


"Luis! Buat pengumuman resmi agar semua karyawan dan setiap departemen Perusahaan Bramasta mengetahui hal ini!" perintah Stefan.


"Baik, CEO Stefan!" jawab Luis.


"Meeting dibubarkan!" ujar Stefan dan berdiri dari kursinya meninggalkan ruang meeting, tanpa memedulikan Adi yang masih berada di sana.


***


Selamat malam readers. Si aki kalah nih dalam meeting. Besok lanjut part 2 ya 🤗🙏


TERIMA KASIH


SELAMAT MALAM

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2