HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 47. Keris antik


__ADS_3

***Ruang kantor Dian di Perusahaan Jayanata***


David berada di dalam ruangan untuk melaporkan perkembangan proyek kecil lainnya yang diserahkan oleh Chandra ke Dian.


Sejak kejadian di ruang meeting dua hari yang lalu, semua karyawan setiap departemen Perusahaan Jayanata bekerja keras menjalankan perintah Dian yang bersangkutan dengan proyek AI.


Mereka tidak berani lagi menyinggung Dian. Hanya Anggi seorang yang masih saja memberikan tatapan benci di hadapan Dian, di setiap kali pertemuan tanpa sengaja di dalam Perusahaan Jayanata.


Dian tidak memedulikan sikap kurang ajar Anggi karena Chandra sudah akan pulang dalam waktu dekat. Dian lebih memfokuskan dirinya sendiri terhadap pekerjaannya yang menumpuk.


Suara handphone Dian berbunyi sehingga gadis muda itu mengangkatnya setelah melihat nama yang muncul di layar handphone.


"Halo Billy," kata Dian.


"Halo princess. Aku sudah tiba di depan perusahaan," ucap Billy.


"Baiklah. Tunggu sebentar. Aku segera turun," kata Dian.


Dian mengambil kunci mobil miliknya dari laci meja kerja dan menyerahkannya ke David.


"David. Seperti biasa tolong bawa mobilku ke apartemen," pesan Dian.


"Baik nona Dian," jawab David dengan patuh.


Keamanan apartemen Regal Residence tidak perlu diragukan lagi. David akan menitipkan kunci mobil Dian di petugas lobi apartemen setelah selesai memarkirkan mobil gadis muda itu.


David mengikuti Dian meninggalkan ruang kantor menuju lift. Dian keluar dari lift saat lift berhenti di lantai satu perusahaan, sedangkan David akan turun di lantai basement untuk mengambil mobil Dian yang parkir di sana.


Malam ini Dian dan Billy akan menghadiri acara pelelangan amal pribadi. Uang yang dihasilkan dari pelelangan akan disumbangkan ke beberapa panti asuhan yang membutuhkan.


Acara pelelangan amal seperi ini sering diadakan setiap bulan. Banyak artis maupun pengusaha akan hadir untuk memeriahkan acara pelelangan itu.


Keluarga Wijaya dan Tatum ikut serta menyumbangkan benda berharga dalam pelelangan itu sehingga mereka mendapat undangan untuk menghadiri acara pelelangan.


Sewaktu Dian dan Billy tiba di sana, tempat duduk bagian depan sudah hampir penuh sehingga mereka berdua duduk di bagian belakang.


Dian mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mengenali banyak wajah dari para pengusaha yang dikenalnya. Mereka saling menyapa dengan senyuman dan anggukkan kepala.


Petugas pelelangan memberikan dua buah papan nomor pelelangan ke Dian dan Billy. Setiap tamu undangan mendapatkan papan dengan nomor yang berbeda. Mereka akan mengangkat papan nomor itu jika tertarik dengan benda lelang yang di tunjukkan di atas panggung.


Dian dan Billy hanya mewakili keluarga masing-masing untuk menghadiri acara pelelangan amal malam ini sehingga meletakkan papan nomor itu di atas pangkuan masing-masing, tanpa niat membeli apapun nantinya.


Wajah Dian menjadi dingin saat melihat di barisan tempat duduk depan ada dua sosok wanita yang tidak disukainya. Billy pun menyadari arah pandangan Dian.


"Tidak disangka Anastasia bermuka tembok. Hot gosip mengenainya baru saja mereda beberapa hari, dia sudah berani tampil di tempat umum," ujar Billy.

__ADS_1


"Dia ingin menggunakan pelelangan amal ini untuk memperbaiki citranya yang sudah jelek," jawab Dian dengan santai.


Billy langsung mengerti maksud perkataan Dian. Hasil pelelangan amal akan disumbangkan ke panti asuhan yang membutuhkan. Jika Anastasia membeli salah satu benda dengan harga mahal maka nama nya akan terkenal sebagai donatur yang dermawan.


"Apa pun benda yang dia ingin beli, aku akan merebutnya," jawab Billy sambil tersenyum penuh makna.


"Bagaimana kalau dia beli perhiasan? Kamu akan menghadiahkannya ke cewek mana nantinya?" tanya Dian seraya bercanda.


"Tentu saja untukmu," jawab Billy spontan.


"Perhiasanku sudah banyak di mansion. Kamu hadiahkan untuk aunty saja," kata Dian.


"Kita lihat saja nanti," jawab Billy.


***


Beberapa saat kemudian acara pelelangan amal di mulai. Pembawa acara memperkenalkan satu per satu benda dan patokan harga dasar untuk melelang. Setiap benda memiliki patokan harga dasar yang berbeda.


Tanpa terasa acara pelelangan berlangsung hampir satu jam lebih, tetapi Laura dan Anastasia tidak ikut serta dalam menawar benda mana pun.


Billy pun tidak ikut menawar karena perhiasan yang dilelang sangat jauh kualitasnya dibandingkan dengan perhiasan pribadi milik Dian.


Pada saat pembawa acara memperkenalkan sebuah keris antik Dian semakin mengerti maksud tersembunyi Laura dan Anastasia.


"Keris antik ini berasal dari Keluarga Bramasta. Terima kasih Nyonya Laura dan Nona Anastasia ikut berpartisipasi dalam acara pelelangan amal ini," kata pembawa acara.


"Sombong sekali! Hanya keris biasa saja. Kakek juga mempunyai koleksi keris yang banyak di mansion," kata Biily.


Billy yakin pembawa acara memperkenalkan nama sepasang ibu anak sombong itu pasti atas permintaan mereka ke panitia acara.


Buktinya barang yang disumbangkan Keluarga Tatum dan Wijaya untuk pelelangan tidak disebutkan berasal dari siapa oleh pembawa acara.


"Itu bukan keris biasa," jawab Dian dengan suara kecil.


Keris antik itu berukuran sedikit lebih besar dibandingkan keris biasa dan memiliki ornamen sarung serta bentuk desain pegangan keris yang lebih rumit.


Dian mengenali keris antik karena pernah melihatnya di Mansion Bramasta. Keris antik merupakan pusaka turun temurun keluarga Bramasta dan selalu tersimpan di ruang kerja Adi Bramasta.


Keris antik merupakan benda kesayangan Adi. Hanya keluarga terdekat saja yang pernah melihat keris itu. Dian pernah melihat Adi membersihkan keris antik itu dengan penuh perhatian di ruang keluarga.


Dian mengedarkan pandangannya ke sekeliling lagi untuk mencari sosok Stefan ataupun Adi, apakah ada berada di dalam ruangan ini. Senyum tipis mengembang di sudut bibir Dian karena yakin Laura dan Anastasia membawa keris antik itu untuk dilelang tanpa sepengetahuan Adi dan Stefan.


"Dua orang yang bodoh!" batin Dian.


***

__ADS_1


"Kita mulai lelang sekarang. Harga awalnya adalah lima juta," kata pembawa acara.


"Lima juta!"


"Sepuluh juta!"


"Dua puluh juta!"


"Dua puluh lima juta!"


Laura dan Anastasia bersikap tenang tidak mengangkat papan nomor di tangan mereka karena yakin keris antik itu pada akhirnya akan jatuh di tangan mereka dengan harga yang tinggi.


"Dua puluh lima juta sekali! Apakah ada yang ingin menawar lagi?" tanya pembawa acara sambil memberi jeda waktu sebentar untuk menunggu.


Senyuman lebar mengembang di sudut bibir Laura dan Anastasia karena tidak ada lagi terdengar suara orang yang menawar lebih dari dua puluh lima juta.


Billy lah yang menawar dua puluh lima juta dan menghentikan aksinya setelah Dian memberi isyarat mata kepadanya.


Laura mengangkat papan nomornya. " Lima puluh juta!" ucap Laura dengan sombong.


"Wow lima puluh juta untuk satu keris? Keluarga Bramasta sangat dermawan menyumbang untuk panti asuhan."


Terdengar beberapa pengusaha kenalan Keluarga Bramasta memuji Laura dan Anastasia.


"Lima puluh juta sekali! Lima puluh juta dua kali!"


"Seratus juta!" Suara merdu Dian menggema di dalam ruangan pelelangan sehingga gadis muda itu menjadi pusat perhatian dalam hitungan detik.


Laura dan Anastasia menatap tajam Dian. Gadis muda itu membalas dengan senyuman kecil di sudut bibirnya sehingga membuat mereka berdua panik.


"Sialan! Kenapa Dian bisa di sini?" batin Laura.


"Dian sengaja menaikkan harga!" batin Anastasia.


Mereka berdua tahu Dian mengenali keris antik itu dan pastinya sengaja mempersulit mereka mendapatkan keris antik dengan menawar harga yang tinggi.


***


Selamat malam readers tercinta. Terima kasih pengertian dan dukungan komentar positif serta vote nya ya. Love sekebon deh 😘.


Cerita ini sudah panjang ya, lanjutannya besok 🙏. Selamat beristirahat semuanya.


Pastinya Dian yang mendapatkan keris itu dan ada bumbu percikan api lagi. Jangan lupa siapkan camilan sambil baca bab besok ya 😂🙏


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2