
Sopir mengemudikan mobil Rolls-Royce warna putih menuju Mansion Bramasta. Adi Bramasta duduk di dalam mobil sambil melipat kedua tangan di depan dada, sedangkan Anastasia duduk dengan gelisah di sampingnya.
"Kamu dan Laura tidak bersyukur menikmati fasilitas yang diberikan keluarga Bramasta. Berani sekali mencuri keris antikku!" maki Adi Bramasta dengan ketus.
"Maaf, kakek. Aku tidak akan mengulanginya lagi," mohon Anastasia.
"Semua salah Kasan! Kenapa dia bisa memperistri Laura setelah Yumi meninggal? Kalau saja Kasan tidak menikah lagi maka cucu keluarga Bramasta hanya Stefan seorang saja. Tidak akan ada kamu yang bisanya membuat masalah. Kamu tidak berguna, sama seperti ibumu," ujar Adi.
Wajah Anastasia memucat mendengar perkataan Adi, tetapi dirinya tidak berani melawan pria tua yang arogan itu.
Anastasia menggigit bibir bawah untuk menahan air mata dan juga mengepalkan kedua tangan dengan erat. Saat ini dirinya tidak boleh menangis di depan Adi. Jika tidak, maka amarah Adi akan semakin memuncak.
Perkataan Adi membuat Anastasia tersadar dari kenyataan bahwa Laura hanyalah ibu tiri Stefan.
Yumi, ibu kandung Stefan meninggal dunia karena sakit. Beberapa bulan kemudian Kasan menikahi Laura, yang merupakan pengasuh Stefan sejak Yumi sakit.
Walaupun pada saat itu Adi tidak menyukai Laura, tetapi demi Stefan yang merupakan satu-satunya penerus keluarga Bramasta maka Adi pun tidak terlalu ikut campur dalam urusan keluarga Kasan.
Kasan yang tidak pintar berbisnis sudah dicoret dari daftar ahli waris oleh Adi Bramasta. Pria tua itu menaruh harapan besar terhadap Stefan, yang sudah terlihat sangat pintar di usianya yang masih kecil.
Penilaian Adi tidaklah salah. Buktinya Stefan baru menjadi CEO Perusahaan Bramasta, pria muda itu sudah berhasil membuat perusahaan berkembang pesat.
Sementara Kasan sendiri lebih suka berpetualang dan tinggal di tempat terpencil serta menikmati kehidupan di alam bebas. Tentu saja Laura menolak ikut Kasan ke sana.
Laura lebih memilih menikmati hidupnya berkumpul bersama teman sosialita dan berfoya-foya. Sifat Laura itu menurun ke Anastasia sehingga tumbuh menjadi nona muda yang manja dan arogan.
Adi semakin kesal mengingat perlakuan Dian dan juga penolakan dari Jackson yang membuatnya merasa kehilangan muka.
Kemarahan di dalam hati Adi tidak mereda setelah memarahi Anastasia sehingga pria tua itu mengambil handphone untuk menelepon Stefan.
"Halo kakek. Ada apa?" tanya Stefan ketika menjawab panggilan telepon dari Adi.
"Fan! Mantan istrimu tidak tahu berterima kasih kepada keluarga Bramasta dan berani melawanku. Semua salahmu membawa pulang gadis miskin itu!" ujar Adi.
"Kakek pergi temui Dian?" tanya Stefan.
"Tentu saja! Keris antik itu pusaka keluarga Bramasta. Aku harus turun tangan sendiri. Diam berani menolak dan bersikap tidak sopan terhadapku!" jawab Adi dengan ketus.
__ADS_1
"Kakek. Aku yang akan mengurus masalah ini dan mendapatkan kembali keris antik. Kakek jangan khawatir," ucap Stefan.
Stefan sangat mengenal sikap angkuh Adi sehingga berusaha memenangkan kakek tua itu terlebih dahulu agar tidak mencari masalah dengan Dian.
"Bagus kalau kamu bisa mendapatkan keris antik kembali. Jika tidak, aku tidak akan mengampuni Dian! Berani sekali melawanku, lihat saja pembalasanku nanti!" kata Adi sambil tersenyum licik.
Mata Anastasia berbinar-binar melihat senyum licik Adi. Gadis manja itu penasaran apa rencana pembalasan Adi terhadap Dian
"Iya kakek. Aku ada meeting penting sekarang," ucap Stefan.
"Baiklah," jawab Adi dan menutup sambungan telepon.
Suasana hati Adi lebih membaik dibandingkan sebelumnya. Anastasia memberanikan diri berbicara dengan Adi.
"Apa rencana bagus kakek menghadapi Dian?" tanya Anastasia dengan hati-hati.
"Dian sangat percaya diri bisa menjadi bagian keluarga Wijaya. Aku bisa menyebarkan berita kehidupan pribadinya yang kacau dan tidak benar. Harapannya untuk menjadi menantu keluarga Wijaya akan pupus seketika!" jawab Adi.
"Rencana kakek sangat bagus," puji Anastasia.
Anastasia menganggukkan kepalanya dan di dalam hati kecilnya, gadis manja itu berharap Stefan gagal mendapatkan keris antik. Anastasia ingin melihat Dian hidup menderita karena berani mempermalukannya berkali-kali.
***Ruang kantor Stefan di Perusahaan Bramasta***
Stefan duduk termenung setelah menutup sambungan telepon dengan Adi. Luis yang berdiri di hadapannya memanggil Stefan.
"CEO Stefan. Meeting akan dimulai sepuluh menit lagi," ucap Luis.
"Luis. Apa jawaban sekretaris pribadi Dian?" tanya Stefan secara tiba-tiba.
Sejak keris antik dibeli oleh Dian dan nomor handphone Stefan diblokir oleh gadis muda itu, Luis mendapatkan tugas untuk menghubungi David setiap hari untuk membuat janji temu makan siang maupun makan malam dengan Dian.
"Maaf CEO Stefan. Jawaban dari sekretaris pribadi tetap sama. Nona Dian sangat sibuk," jawab Luis dengan jujur.
Aura dingin yang menyebar dari tubuh Stefan membuat Luis menggigil seketika.
"Saya akan tetap menghubungi sekretaris nona Dian hingga berhasil membuat janji temu," ucap Luis.
__ADS_1
"Ke ruang meeting sekarang!" kata Stefan dan berjalan meninggalkan ruang kantor. Luis bergegas mengikuti Stefan dari belakang.
***Ruang kantor Dian di Perusahaan Jayanata***
Suara handphone berdering dalam ruang kantor sehingga Dian mengambilnya dari atas meja. Senyum tipis mengembang di sudut bibir gadis muda itu saat membaca nama yang muncul di layar handphone.
"Halo daddy. Apakah mommy ada beli hadiah untukku?" tanya Dian saat mengangkat telepon.
Jackson tertegun sebentar saat mendengar pertanyaan Dian. Dalam hitungan detik, Jackson sudah yakin seratus persen apa yang terjadi tadi.
"Kakek tua itu datang mengganggumu?" tanya Jackson.
"Iya, daddy. Dia di ruang kantorku tadi ketika menelepon daddy dengan speaker handphone menyala," jawab Dian sambil tertawa kecil.
"Berani sekali dia meneleponku untuk mengadu domba. Lain kali aku tidan akan mengangkat teleponnya lagi," ujar Jackson.
"Daddy jangan khawatir. Selama keris antik ada ditanganku, dia tidak akan berani macam-macam," jawab Dian.
"Kalau ada apa-apa, telepon daddy ya. Lusa Kelvin pulang ke Bali. Dia bisa menjagamu," ucap Jackson.
"Oke daddy. Kapan daddy dan mommy pulang ke Bali?" tanya Dian.
"Dua minggu lagi. Ada perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya. Daddy akan mengumumkan identitasmu di acara itu," jawab Jackson.
"Baik daddy," ucap Dian.
***
Selamat siang readers. Maaf bab ini agak sore karena author ada kesibukan di real life.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam ya.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1