
***Ruang kantor Stefan di Perusahaan Bramasta***
Dari pagi hingga siang Stefan mengadakan beberapa meeting penting di Perusahaan Bramasta. Luis mengantarkan satu kotak makan berisi lunch pesanan Stefan.
Stefan menikmati makan siang sambil membaca email melalui laptop di hadapannya. Suara handphone Stefan berbunyi sehingga pria muda itu mengangkatnya.
"Halo Rizky," ucap Stefan saat menerima sambungan telepon.
"Fan! Kamu makan siang di kantor?" tanya Rizky.
Tadi pagi Rizky mengajak Stefan untuk makan siang bersama dan ditolak karena Stefan sibuk dengan pekerjaan kantor.
"Iya," jawab Stefan dengan singkat.
"Kamu melewatkan pertunjukan bagus," ujar Rizky dengan antusias.
"Kamu bertemu siapa di sana?" tanya Stefan.
"CEO Chandra," jawab Rizky dengan cepat.
Stefan terdiam karena perkataan Rizky. Dirinya berfirasat maksud pertunjukan bagus dari Rizky pastilah berhubungan dengan Dian.
"Apakah Dian makan siang bersama Chandra? Apakah mereka berdua benar-benar menjalin hubungan spesial?" Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikiran Stefan saat ini.
Perlakuan lembut dan perhatian Chandra terhadap Dian di setiap kali pertemuan membuat Stefan yakin Chandra memang menyukai dan menyayangi Dian.
Stefan lebih memilih Chandra menggantikan posisinya dari pada Billy ataupun Leon.
"Fan! CEO Chandra makan siang bersama wanita lain. Bukan Dian! Aku duga mantan istrimu sudah didepak oleh CEO Chandra," kata Rizky.
"Apa maksudmu?" tanya Stefan.
"Aku kirim videonya sekarang," jawab Rizky dan mematikan sambungan telepon.
Beberapa saat kemudian bunyi notifikasi pesan masuk ke dalam handphone Stefan. Stefan melihat video rekaman melalui handphone yang dikirim oleh Rizky.
Chandra sedang duduk berhadapan dengan seorang gadis muda bertubuh mungil. Mereka mengobrol ringan sambil tersenyum satu sama lain.
Tatapan mata Chandra terhadap gadis muda itu sangat lembut. Bahkan mereka berdua saling bergenggaman tangan satu sama lain.
Stefan merasa terkejut dengan isi video itu, terlebih karena gadis muda itu adalah teman Dian. Stefan yakin melihat gadis muda itu di Vallkyrie Club bersama Dian dan yang lainnya.
Handphone Stefan berbunyi lagi dan tentu saja berasal dari Rizky. Rizky sengaja menunggu Stefan selesai menonton video yang dikirim olehnya, sebelum menelepon lagi.
"Fan! Kamu masih ingat kan gadis itu? Dia temannya Dian di Valkyrie Club," ucap Rizky antusias saat sambungan telepon di angkat oleh Stefan.
"Iya," jawab Stefan singkat.
"Dian pasti marah besar dan kecewa melihat video itu. Teman baiknya bersama CEO Chandra tanpa sepengetahuannya," lanjut Rizky.
"Tidak boleh kirim video itu ke Dian!" ujar Stefan secara tiba-tiba.
Stefan yakin Rizky akan menggunakan rekaman video untuk menukar foto polosnya dengan Dian. Stefan tidak ingin melihat Dian terluka karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Chandra dan teman baiknya.
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh?" protes Rizky.
"Kamu ingin menantang Chandra? Jangan lupa Perusahaan Wijaya dibelakangnya bisa menghancurkan Perusahaan Martin dengan mudah," kata Stefan.
"Ba…baiklah," jawab Rizky terbata-bata dan perasaan yang enggan.
"Oh iya, Fan. Gisel pulang sore ini. Kita ke airport jemput bersama?" tanya Rizky.
"Kamu jemput sendiri saja," tolak Stefan spontan.
"Jangan gitu dong, Fan. Aku lagi proses rujuk sama istri. Gak mungkin aku berduaan sama Gisel," kata Rizky.
Rizky tidak menyangka Gisel akan menghubungi dan memintanya untuk menjemput di airport. Rizky tidak bisa menolak permintaan Gisel karena mereka telah berteman sejak SMA bersama Stefan.
Rizky yakin tujuan utama Gisel adalah ingin kembali ke sisi Stefan. Rizky mendukung Gisel sehingga membantu gadis muda itu dengan mengajak serta Stefan.
"Kejadian di ballroom sudah satu bulan berlalu. Dian pun sudah menghukum Gisel waktu itu. Kamu masih menganggap Gisel teman kan? Teman jemput teman pulang itu hal lumrah," bujuk Rizky.
"Baiklah," jawab Stefan setelah berpikir sebentar.
"Kita berangkat bersama. Aku datang ke kantormu nanti," jawab Rizky dengan semangat.
Stefan menutup sambungan telepon dan melanjutkan mencicipi makan siangnya yang tertunda. Spaghetti aglio olio di hadapannya terasa hambar sesuai suasana hatinya.
Stefan tidak ingin melihat Dian terluka kedua kali nya lagi. Semua kesalahan berawal dari dirinya. Jika saja dirinya tidak melukai Dian dalam pernikahan pertama maka Dian tidak akan bertemu Chandra.
Stefan menghela napas panjang dan mendorong jauh kotak makan siang di hadapannya. Pikirannya berkecamuk antara memberitahukan Dian tentang perselingkuhan Chandra atau berdiam diri saja.
Dian tiba di airport dan menuju terminal kedatangan internasional setelah memarkirkan mobilnya. Dari kejauhan Dian melihat sekelompok gadis muda dengan wajah riang semangat sambil memegang banner warna warni melihat ke arah pintu keluar kedatangan internasional.
Seketika Dian teringat akan perkataan Chandra untuk berhati-hati terhadap fans fanatik Kelvin. Dian semakin yakin tujuan sekelompok gadis muda itu adalah menyambut kepulangan Kelvin saat melihat nama Kelvin di banner warna warni.
Dian sengaja berdiri agak jauh dari kelompok gadis muda itu. Senyum mengembang di sudut bibir Dian saat membaca pesan masuk dari Kelvin yang mengabarkan akan keluar sebentar lagi.
"Fan!"
Suara nyaring dari gembira dari seorang gadis muda membuat Dian menoleh ke sumber suara secara spontan.
Di depan pintu keluar Gisel tersenyum semringah sambil menarik koper serta berlari kecil menghampiri orang yang menjemputnya.
Gisel merangkul mesra tangan Stefan, sedangkan Rizky yang berada di samping mereka tersenyum lebar.
Mata Dian terasa perih sedikit melihat pemandangan di sudut sana. Bagaimana pun juga hatinya pernah menyukai Stefan dengan tulus, tetapi dirinya bisa menenangkan perasaan tidak nyaman itu dengan cepat dan mengalihkan perhatiannya ke sisi lain sehingga tidak melihat Stefan melepaskan rangkulan Gisel.
Tiba-tiba sepasang tangan memeluk pinggang Dian dari belakang sehingga membuat gadis muda itu terkejut.
"Surprise!" Suara pria yang sangat familiar mengalun di telinga Dian. Dian membalikkan tubuh dan wajah terkejutnya sudah berubah menjadi wajah gembira.
"Kak Kelvin," panggil Dian.
"Princess semakin cantik," puji Kelvin.
"Kak Kelvin semakin tampan. Rambutnya gak mau dipotong?" tanya Dian sambil menyentuh rambut gondrong Kelvin.
__ADS_1
"Ini style ku!" ucap Kelvin dengan bangga.
Chandra dan Kelvin merupakan kembar identik sehingga memiliki wajah yang hampir sama. Akan tetapi, semakin bertambah dewasa Kelvin sengaja merubah penampilannya agar terlihat berbeda dengan Chandra.
Kelvin membiarkan rambutnya tumbuh gondrong dan stylist. Kulit tubuhnya pun berwarna lebih gelap dibandingkan dengan Chandra, yang membuat penampilannya semakin seksi dan macho.
Sejak Kelvin memulai debutnya sebagai model, sepasang kacamata hitam selalu menjadi ciri khas nya sehingga penampilannya jauh berbeda dari Chandra serta tidak ada yang menyadari Kelvin dan Chandra adalah kembar kecuali keluarga terdekat saja.
"KELVIN!"
"KELVIN!"
Kelompok fans fanatik Kelvin berlari serentak ke arah mereka berdua. Kelvin merangkul pundak Dian dengan santai dan tersenyum ramah.
Lampu flash dari kamera handphone para fans fanatik menyala dan memotret Kelvin tanpa jeda. Tentu saja Dian yang berdiri disamping Kelvin ikut terekam jelas dalam setiap lembar foto.
"Kelvin! Siapa wanita cantik ini?"
"Wanita ini pacar Kelvin?"
"Sepertinya aku familiar dengan wajah wanita ini."
Kelvin melangkahkan kakinya dengan santai sambil merangkul pundak Dian sehingga para fans fanatik yang berdiri di hadapannya membuka jalan untuk Kelvin secara refleks.
"Terima kasih atas sambutan hangat dari kalian semua. Jangan menakuti gadis kecilku," ucap Kelvin dengan senyum ramah.
"Ah! Mereka berpacaran."
"Aku patah hati."
"Aku tetap dukung Kelvin sepenuhnya."
Suasana menjadi riuh dengan teriakan para fans fanatik Kelvin. Dua orang bodyguard pribadi Kelvin muncul secara tiba-tiba dan menghalangi para fans fanatik mendekati Kelvin dan Dian.
"Ayo kita ke tempat parkir," ajak Kelvin sambil menggandeng tangan Dian.
Dian menganggukkan kepala. Adanya dua bodyguard membuat mereka berdua tidak terganggu oleh para fans fanatik, tetapi Dian bisa merasakan ada yang mengawasinya sehingga gadis muda itu mencari sumbernya.
Di sisi pintu keluar yang lain, Stefan sedang menatap ke arah Dian dengan wajah tanpa ekspresi. Sementara Gisel memberikan tatapan kebencian dan Rizky mengalihkan perhatiannya ke samping berpura-pura tidak melihat Dian.
"Mereka belum pergi?" batin Dian.
Dian mengalihkan pandangannya dengan cepat dan membawa Kelvin ke tempat parkir airport.
***
Selamat malam readers. Bab ini sudah sangat panjang. Kelanjutannya besok ya 🤗
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1