HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 93. Dua pembohong


__ADS_3

***Ballroom hotel tempat jamuan makan malam bisnis***


Ellen menatap Dian dengan wajah tersipu malu mengenai masalah pertunangannya, seolah-olah membenarkan apa yang dikatakan oleh Naomi.


"Pernikahan bisnis?" ucap Dian sambil tertawa kecil.


Pada akhirnya Dian mengerti maksud tersembunyi Adi Bramasta berhubungan dengan Anjas. Dian menduga ada kesepakatan pernikahan bisnis antara Adi dan Anjas. Tentu saja Stefan tidak mengetahui hal itu.


Sementara Ellen dan Naomi menatap Dian saksama dengan perasaan bingung. Mereka berdua tidak mengerti mengapa Dian tertawa kecil setelah mendengar kabar pernikahan bisnis Naomi dengan Stefan.


"Apakah Dian tidak menyukai Stefan lagi?" batin Ellen.


Sebenarnya Ellen merasa minder dibandingkan dengan Dian karena gadis muda itu cantik sempurna, memiliki beking keluarga kaya, dan juga wanita karier yang hebat. Oleh karena itu, Ellen sengaja memanfaatkan Naomi agar dirinya terlihat lebih baik dari pada Dian.


Dian mengambil handphone dari dalam tas dan mengirim sms ke Stefan. Dirinya mengacuhkan Naomi dan Ellen.


Dian : "Fan! Masih di kantor?"


"Aku dalam perjalanan ke sana. Sebentar lagi tiba!" Sms balasan dari Stefan masuk dengan cepat di handphone Dian.


"Oke!" balas Dian di sms, sebelum menyimpan kembali handphone ke dalam tas.


Dian berdiri dari kursinya, bersiap untuk meninggalkan dua wanita tak tahu diri yang merusak suasana hatinya. Akan tetapi, Ellen dan Naomi pun ikut berdiri dan menghalangi jalan Dian secara terang-terangan.


Alunan musik dansa menggema di dalam ballroom hotel. Para tamu undangan pun berdansa berpasangan. Dian melipat kedua tangannya di depan dada sambil menunggu apa yang ingin dikatakan oleh dua wanita jahat di depannya.


Tiba-tiba Kelvin datang menghampiri Dian sambil tersenyum semringah. Pipi Naomi merona merah dan menatap Kelvin dengan tatapan berbinar-binar.


Kelvin mengulurkan tangan kanannya ke Dian. "Ayo kita berdansa, Dian!" ajak Kelvin.


Perkataan Kelvin membuat wajah Naomi berubah menjadi muram. Apa lagi sejak awal pandangan Kelvin hanya menatap Dian seorang saja, seolah-olah Naomi dan Ellen bagaikan obat nyamuk di sana.


"Halo Kelvin. Lama tidak bertemu," sapa Naomi dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


Kelvin hanya menoleh sekilas ke Naomi, lalu menggenggam tangan Dian dengan erat karena ingin berdansa bersama adik kesayangannya.


Wajah Naomi menjadi pucat diacuhkan oleh Kelvin. Naomi menggigit bibir bawahnya keras sambil menatap Dian penuh kebencian.


"Kak Kelvin gak ingat dia? Katanya dia partner di Fashion Week Paris," ucap Dian sambil menunjuk Naomi.


"Gak kenal. Kamulah partner dansaku sekarang," ucap Kelvin sambil membelai kepala Dian dengan lembut.


Bersamaan dengan itu, Stefan tiba di ballroom hotel dan melihat sikap mesra Kelvin terhadap Dian. Stefan berusaha menahan keinginannya untuk mematahkan tangan usil Kelvin yang menyentuh kepala Dian.

__ADS_1


Rizky menghampiri Stefan dengan cepat. Rizky sudah berada di dalam ballroom sejak awal, tetapi tidak berani muncul di dekat Dian dan hanya mengawasi dari kejauhan.


Walaupun Rizky tahu hubungan Dian dan Stefan sudah membaik, tetapi foto polosnya masih ada di tangan Dian sehingga Rizky bersikap hati-hati.


"Fan! Kenapa Dian datang sama Kelvin? Bukankah kalian sudah baikan?" tanya Rizky penasaran.


Stefan tidak menjawab pertanyaan Rizky melainkan melangkahkan kakinya mendekati Dian. Rizky pun menutup rapat mulutnya dan mengikuti Stefan dari belakang.


***


"Kelvin! Kamu jangan mau dimanfaatkan janda ini! Dia suka gonta-ganti pasangan. Namamu bisa buruk jika terlalu dekat dengannya," kata Naomi dengan suara yang lumayan keras sehingga sebagian tamu undangan menoleh ke sana bersamaan.


Wajah Stefan menjadi semakin dingin karena perkataan Naomi. Stefan sangat menyesal dengan kebodohannya di masa lalu yang menyebabkan Dian mendapat predikat janda.


Kemarahan Kelvin pun memuncak oleh perkataan Naomi. "Mulutmu bau busuk seperti sampah! Kenapa tempat jamuan makan malam ini menerima orang gangguan mental sepertimu! Crazy woman!" ujar Kelvin dengan ketus.


Wajah Naomi menjadi pucat seperti warna kertas karena dicap wanita gila oleh Kelvin. Tubuhnya gemetaran sehingga Ellen melangkah maju dan melindungi Naomi di belakang tubuhnya.


"Maaf Kelvin. Naomi tidak bermaksud jahat. Naomi hanya mengkhawatirkanmu." Ellen berusaha membela Naomi karena para tamu undangan yang menoleh ke arah mereka, saling berbisik mempergunjingkan Naomi dan dirinya.


"Kamu siapa? Aku tidak mengenal kalian berdua!" ucap Kelvin dengan suara tegas.


Kali ini giliran Ellen yang merasa dipermalukan oleh Kelvin. Selama ini Ellen merasa dirinya sudah cukup terkenal di Bali sehingga model sukses seperti Kelvin pastilah mengenalinya dan akan memberi muka kepadanya, tetapi harapannya kandas seketika.


Ellen berdiri dengan gelisah dan berusaha berpikir keras bagaimana caranya keluar dari situasi yang canggung dan memalukan saat ini.


Mata Ellen berbinar-binar melihat Stefan berdiri di antara kerumunan tamu undangan. Ellen pun melangkahkan kakinya cepat, menghampiri Stefan. Seolah-olah Stefan adalah dewa penyelamatnya.


"Stefan! Kamu sudah datang," sapa Ellen sambil tersenyum manis.


Rizky yang berdiri di samping Stefan, tidak bisa menahan rasa penasarannya yang kuat.


"Fan! Kamu kenal Naomi?" tanya Rizky spontan.


Pertanyaan Rizky membuat fokus tamu undangan beralih ke Stefan. Bahkan Dian dan Kelvin pun menunggu jawaban dari mulut Stefan.


Stefan melirik sekilas ke arah Naomi yang menatapnya dengan antusias dan senyuman lebar. Stefan membuang muka dengan cepat dan menatap Dian dengan tatapan lembut.


"Dian! Aku tidak mengenalnya!" jawab Stefan dengan tegas.


Jawaban Stefan yang ditujukan khusus ke Dian membuat para tamu undangan mengerti maksud Stefan. Pria muda tidak ingin Dian salah paham hubungannya dengan wanita lain.


Tubuh Ellen menjadi tegang seketika. Senyuman di wajahnya pun menghilang dengan cepat. Dian tersenyum samar melihat wajah panik Ellen.

__ADS_1


"Stefan! Kamu tidak mengenal tunanganmu sendiri?" tanya Dian sambil menunjuk Ellen.


"Dian! Aku tidak mempunyai tunangan. Jangan percaya omong kosong dari orang lain. Semua itu bohong. Siapa yang mengatakannya?" tanya Stefan.


Stefan menduga sebelum kedatangannya, Dian pasti mendengar gosip yang tidak benar sehingga dirinya harus menjelaskan kesalah pahaman sekarang juga.


"Tadi mereka berdua yang mengatakannya," jawab Dian sambil menunjuk Naomi dan Ellen bergantian.


Sekali lagi Ellen dan Naomi menjadi pusat perhatian. Semua orang menunggu jawaban dari mereka berdua. Bahkan Naomi sendiri pun merasakan kejanggalan karena Stefan tidak mengaku Ellen sebagai tunangannya.


"Ellen! Cepat jelaskan kepada mereka semua!" desak Naomi. Dirinya tidak mau dicap sebagai pembohong, yang akan membuat kariernya sebagai model terancam.


"Aku… aku mendengar tentang rencana pernikahan bisnis antara Keluarga Jayakencana dengan Keluarga Bramasta dari ayahku. Seharusnya aku menunggu kepastian baru mengumumkannya," kata Ellen sambil menatap Stefan dengan tatapan memelas.


Anjas lah yang memberitahukan kepada Ellen kemungkinan besar Keluarga Bramasta ingin melakukan pernikahan bisnis antara Stefan dan Ellen. Bahkan proyek besar dari Perusahaan Bramasta akan diserahkan ke Perusahaan Jayakencana.


Ellen tidak menduga Stefan masih belum mengetahui hal ini. Ellen berharap Stefan akan membelanya setelah mendengar penjelasan darinya.


"Aku tidak akan pernah melakukan pernikahan bisnis denganmu!" tolak Stefan dengan tegas.


Perkataan Stefan bagaikan air dingin yang menyiram sekujur tubuh Ellen sehingga memadamkan semua mimpi indah Ellen menjadi nyonya Stefan di kemudian hari.


Ellen berlari kecil meninggalkan ballroom hotel dengan cepat. Penolakan Stefan secara terang-terangan membuat Ellen kehilangan muka dan merasa dipermalukan. Naomi pun berlari menyusul Ellen.


"Ayo kita pulang saja," ajak Kelvin.


"Iya," jawab Dian.


Dian sangat setuju dengan ajakan Kelvin. Saat ini Dian juga kehilangan minat untuk berada di dalam ballroom hotel.


"Aku juga pulang sekarang," kata Stefan ke Rizky.


Rizky hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Stefan mengikuti Dian dari belakang.


***


Selamat malam readers. Ternyata scene gelut menguras otak juga😂😂😂. Ceritanya sudah panjang ya. Maaf prediksi author meleset lagi 🙏, identitas Kelvin terbongkar di bab besok ya.


Jangan lupa baca kelanjutannya besok dan pastinya ada bumbu masako yang fresh lagi 😂😂😂


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2