
***Airport Ngurah Rai***
Dian berlari kecil menuju terminal kedatangan internasional setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir terlebih dahulu.
Pekerjaan yang menumpuk membuat gadis muda itu terlambat menjemput Dion. Walaupun begitu Dian tidak panik karena dirinya sudah menelepon Leon untuk menjemput Dion di airport.
Dian tersenyum kecil melihat Dion dan Leon sedang duduk di salah satu kursi tanpa sandaran, yang terletak di dekat pintu keluar terminal kedatangan internasional.
Ada beberapa tempat duduk yang sama dengan jumlah terbatas di sekelilingnya. Tempat duduk itu merupakan tempat duduk umum bagi orang yang akan menunggu kedatangan pesawat.
Terlihat Leon sedang berbicara dengan antusias dan Dion mendengarkannya dengan serius. Penampilan Dion sangat dingin dan pendiam. Sangat berbeda jauh dengan Leon yang ceria dan bersemangat.
Kepribadian dan sikap yang bertolak belakang antara Dion dan Leon, malahan membuat mereka berdua saling melengkapi dan berteman dekat. Bahkan usia mereka pun hanya berbeda satu hari saja dan dilahirkan di rumah sakit yang sama.
Dion mengendap-endap secara perlahan dan menutup mata Dion dengan telapak tangannya. "Coba tebak! Siapa aku!" ucap Dian sambil tertawa kecil.
Dion melepaskan tangan Dian yang menutup matanya, lalu menoleh ke belakang.
"Princess!" panggil Dion dan Leon bersamaan.
"Sudah lama nunggunya?" tanya Dian.
"Tentu saja. Kamu terlambat 30 menit. Untung saja aku berada di dekat airport waktu kamu meneleponku tadi," jawab Leon.
"Maaf! Maaf! Terima kasih Leon!" ucap Dian.
"Sama-sama. Aku serahkan Dion ke kamu sekarang. Antar Dion dengan selamat ke Mansion Wilson. Aku harus bertemu rekan bisnis sekarang," kata Leon panjang lebar.
"Baiklah. Hati-hati di jalan," kata Dian.
"Aku pergi dulu ya, bro! Nanti kita atur jadwal untuk hang out bareng sama Kak Rina, Tasha, dan Billy," ucap Leon sebelum meninggalkan Dian dan Dion di sana.
__ADS_1
Dion menjawab dengan anggukkan kepala dan wajah tanpa ekspresi. Walaupun begitu, tatapan matanya mengikuti punggung Leon yang semakin jauh dan naik ke dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir.
"Aku hampir lupa, Leon CEO juga!" ucap Dian sambil menepuk jidatnya spontan dan membuat gadis muda itu mengeluh karena terasa sakit.
Dion mengulurkan tangannya menyentuh dahi Dian sebentar. "Masih sakit?" tanya Dion.
"Tidak lagi. Ayo kita ke tempat parkir," ajak Dian.
Dion menarik kopernya dan berjalan berdampingan dengan Dian. Mereka berdua tidak menyadari dari kejauhan ada dua pasang mata yang sedang menatap mereka.
"CEO Stefan. Sepertinya itu Dion, ilmuwan fisika yang kita tunggu," kata Luis dengan hati-hati.
Stefan tidak memberikan reaksi apa pun terhadap perkataan Luis, melainkan melangkahkan kakinya menuju ke arah Dian dan Dion dari belakang, seolah-olah ada magnet yang menarik kakinya saat ini.
Luis pun bergegas mengikuti Stefan dengan perasaan hati yang tidak karuan. Sebelumnya Stefan memberinya perintah untuk memeriksa keberadaan Dion Wilson, ilmuwan fisika legendaris karena Stefan ingin mengajaknya bergabung dalam proyek AI Perusahaan Alpha.
Luis berhasil mendapatkan informasi Dion akan pulang ke Bali malam ini sehingga Luis dan Stefan datang ke airport untuk menjemput Dion.
Tidak disangka Dian juga datang menjemput Dion dan terlihat jelas hubungan mereka berdua sangat dekat.
***
"Dion. Kamu pasti tidak membawa oleh-oleh untukku kan?" tanya Dian.
"Aku akan membelikanmu hadiah apa pun yang kamu inginkan," jawab Dion.
Selama ini Dian tidak pernah meminta hadiah ke Dion karena semua benda yang diinginkan gadis muda itu pasti akan dikabulkan oleh daddy Jackson serta si kembar Chandra dan Kelvin sehingga Dion menduga Dian ingin meminta sesuatu darinya dan tentu saja dirinya akan mengabulkan semua permintaan Dian.
"Aku mendapatkan kerja sama proyek AI dan membutuhkan ilmuwan untuk mewakili Perusahaan Jayanata. Kamu bisa membantuku kan sebagai hadiah?" tanya Dian sambil tersenyum manis.
"Tentu saja bisa! Aku mempunyai liburan satu bulan. Apakah waktunya cukup?" tanya Dion.
__ADS_1
"Cukup! Tentu saja cukup!" jawab Dian dengan semangat.
Dian sangat gembira Dion tidak menolak permintaannya. Gadis muda itu yakin kemampuan Dion akan membuat proyek kecerdasan buatan bisa menghasilkan produk baru dalam waktu satu bulan.
Dion tipe pekerja keras dan perfeksionis sehingga Dion tidak mungkin meninggalkan proyek AI yang belum selesai.
"Itu mobilku!" ujar Dian sambil menunjuk mobil porsche putih.
Mereka berdua pun berjalan mendekati mobil itu. Dian membuka bagasi mobil untuk meletakkan koper Dion, sebelum mereka berdua masuk ke dalam mobil.
Pada saat Dian menyalakan mesin mobil, gadis muda itu terkejut saat melihat kaca spion mobil. Sosok Stefan berdiri tegak, tidak jauh dari mobilnya.
"Kenapa Stefan bisa disini?" batin Dian.
Saat Dian melihat Luis berdiri dibelakang Stefan, gadis muda itu menduga Stefan juga menjemput rekan bisnis malam ini. Dian mengemudikan mobil meninggalkan airport.
Stefan masih berdiri mematung di sana dengan wajah tanpa ekspresi. Luis memberanikan diri bersuara.
"CEO Stefan. Mobil nya di parkir di lantai dua," kata Luis.
Stefan melangkahkan kakinya dengan tidak bersemangat menuju lantai dua tempat parkir. Luis menduga Stefan kecewa karena tidak bisa mengajak Dion membantu proyek AI.
Luis sama sekali tidak mendengar jelas pembicaraan Dian dan Deon tadi karena posisinya yang berada di belakang Stefan.
***
Selamat siang readers. Terima kasih semua doa nya ya. Walaupun masih belum sembuh total, author akan usahakan up nanti malam 🤗🙏
Author sedang menyambung benang merah antara Dian dan Stefan 😆. Pastinya nanti ada kejadian yang dibuat oleh Gisel sehingga Stefan tahu Dian gadis kecil cinta pertamanya.
Jadi dinikmati saja alur ceritanya ya readers. TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE