
***Kamar tidur Dian di Mansion Wijaya***
"Fan! Fan! Bangun Fan!" teriak Dian.
Dian terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk. Di dalam mimpinya Dian melihat Stefan berlumuran darah di tengah jalan dan tidak mau bangun walaupun Dian memanggilnya berulang kali.
Keringat dingin bercucuran di dahi Dian. Tubuhnya pun gemetaran. Napasnya tidak beraturan. Dian mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari dirinya berada di dalam kamar tidur, bukan di jalan raya dekat Restoran Hartono.
"Mimi! Mimi mimpi buruk?"
Suara nyaring dan ceria Mao Mao membuat Dian menoleh ke samping tempat tidurnya. Ternyata Mao Mao menemani Dian tidur di dalam kamar.
Sejak pulang dari tempat penelitian rahasia, Mao Mao resmi menjadi anggota keluarga kecil Wijaya. Rossy sangat menyukai Mao Mao karena panda merah sangat pintar dan bermulut manis memberikan pujian terhadap Rossy.
Sebuah kasur hewan yang sama bentuk dan warna dengan kasur hewan yang berada di apartemen Dian, diletakkan di dekat tempat tidur gadis muda itu.
Pak Lesmana memang sengaja membeli jenis kasur hewan yang sama dengan kasur di apartemen karena Mao Mao sudah terbiasa tidur dengan kasur lembut.
Dian segera memeluk erat tubuh Mao Mao. Walaupun panda merah hanyalah produk kecerdasan buatan, tetapi hati Dian menjadi lebih tenang setelah memeluk Mao Mao.
"Iya, Mao Mao. Aku mimpi buruk," jawab Dian dengan jujur.
Mao Mao bisa merasakan pikiran dan perasaan Dian berada dalam kondisi yang kurang baik sehingga mencoba diagnosis keadaan Dian dengan program kepintaran yang terpasang di tubuhnya.
"Mimi gugup dan cemas. Mao Mao panggil dokter ya?" tanya Mao Mao.
"Tidak perlu, Mao Mao. Nanti Mimi mau ke rumah sakit," jawab Dian dengan cepat.
Gadis muda itu turun dari tempat tidur, lalu membuka lemari pakaian untuk memilih satu setel pakaian bersih sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Mao Mao menatap punggung Dian yang menghilang di dalam kamar mandi, kemudian melompat turun dari tempat tidur menuju pintu kamar.
Mao Mao menekan handle pintu sehingga terbuka, lalu berlari keluar mencari Rossy di dapur, untuk memberitahukan Dian mimpi buruk.
***Ruang makan Mansion Wijaya***
__ADS_1
"Good morning daddy, mommy, Kak Chandra, Kak Kelvin!" sapa Dian dengan ceria saat tiba di ruang makan.
"Good morning Dian," jawab Jackson, Rossy, Kelvin, dan Chandra bersamaan.
"Morning Mimi!" sapa Mao Mao saat Dian sudah duduk di depan meja makan.
Dian menoleh ke sumber suara dan melihat Mao Mao duduk tenang di samping kursi Rossy. Pantas saja ketika dirinya keluar dari kamar mandi, Mao Mao sudah tidak ada. Ternyata panda merah sudah berada di ruang makan.
Dian mencicipi nasi goreng spesial hasil masakan Rossy dengan tenang. Anggota Keluarga Wijaya tahu Dian tidak ingin mereka khawatir sehingga memperlihatkan sikap ceria dan tenang, padahal belenggu di dalam hatinya masih belum terlepas.
"Dian. Bagaimana dengan luka di tubuhmu? Sakitnya sudah berkurang?" tanya Rossy.
"Sudah, mommy. Tidur semalaman membuat tubuhku lebih sehat sekarang," jawab Dian.
"Sopir yang menabrak kamu sudah tertangkap. Pemabuk itu dibayar dua puluh juta oleh Anggi untuk mencelakaimu," kata Jackson.
"Anggi?" tanya Dian dengan nada tidak percaya.
"Gisel yang memprovokasinya. Sejak wanita gila itu pulang ke Bali, dia menghubungi Anggi setiap hari!" jelas Chandra.
"Sopir dan Anggi tidak akan pernah bisa keluar dari penjara. Perusahaan ayah Gisel sudah bangkrut semalam. Mereka sekeluarga melarikan diri dari kejaran penagih hutang," kata Chandra.
"Daddy sudah meminta om Bagaskara menyediakan dua bodyguard terbaik untuk melindungimu. Mulai hari ini kemana pun kamu pergi, harus didampingi bodyguard!" kata Jackson dengan tegas.
"Baik daddy," jawab Dian.
"Keluarga Wijaya akan bertanggung jawab dan membalas budi terhadap Stefan yang menyelamatkan nyawamu, tetapi kita tidak akan mengabulkan permintaan berlebihan yang merugikan kebahagiaan kamu, Dian! Jangan khawatir!" ucap Jackson.
"Benar sekali, Dian. Mungkin kamu menyadari Stefan menyukaimu juga, tetapi kita semua memprioritaskan keinginan dan kebahagiaanmu. Jangan salah mengambil langkah lagi," saran Chandra.
Baik Jackson, Chandra, Rossy, maupun Kelvin sangat berterima kasih terhadap Stefan yang menyelamatkan nyawa Dian, tetapi mereka semua tidak mau Stefan memanfaatkan budi baik itu untuk meminta rujuk kembali dengan Dian.
"Aku mengerti daddy, Kak Chandra!" jawab Dian sambil menganggukkan kepala.
"Tadi Bagaskara menelepon bilang Stefan sudah siuman. Kondisinya sudah stabil," kata Jackson.
__ADS_1
"Daddy. Bolehkah aku cuti kerja satu minggu?" tanya Dian secara tiba-tiba.
"Tentu saja boleh!" jawab Jackson.
Jackson tahu Dian ingin menggunakan waktu seminggu untuk menjenguk Stefan selama dirawat inap di Healing Hands Hospital.
"Mommy sudah memasak sup herbal. Kamu bisa membawanya ke rumah sakit," ucap Rossy.
"Baik mommy," jawab Dian.
"Jam berapa kamu mau berangkat? Pak Benyamin akan mengantarmu. Kedua bodyguard sudah bersiap menunggumu di depan mansion," kata Jackson.
"Setengah jam lagi, tetapi aku akan menemui om Felix terlebih dahulu. Semalam aku mimpi buruk," kata Dian.
"Perlu mommy temani?" tanya Rossy dengan antusias.
"Oke mommy," jawab Dian sambil tersenyum kecil.
Rossy merasa senang karena Dian berinisiatif bertemu Felix untuk berkonsultasi tentang mimpi buruknya.
Felix dokter psikiater senior dan pernah membantu Jackson mengatasi trauma masa lalu sehingga Rossy yakin Felix bisa membantu Dian.
Suasana hati Jackson, Chandra, dan Kelvin pun sama dengan Rossy. Mereka semua merasa senang Dian bersedia menghadapi trauma yang dialaminya kemarin.
***
Selamat malam readers. Babang Fan Fan sudah siuman, tetapi tidak semudah itu mendapatkan Dian lagiπ. Setidaknya sudah dibuka sedikit pintu, Stefan usaha lagi ya πͺ.
Jangan lupa save vote untuk besok ya readers π₯°π₯°π₯°. Mungkin minggu ini atau minggu depan novel ini tamat. Atau bisa jadi minggu berikutnya lagi ππ. Nikmati saja alur ceritanya ya readers. Author usahakan di bulan oktober sudah finish, masih harus nyambung benang-benang kusut dulu π€π€
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE
__ADS_1