
***Laboratorium pribadi milik Vivian***
Laboratorium Vivian sangat besar dan dikelilingi oleh dinding putih transparan. Di salah satu sudut ruangan terdapat papan tulis besar yang berisi tulisan rumus fisika yang rumit.
Selain itu di atas meja putih panjang ada berbagai bagian robot dan juga spare part untuk rakitan. Semuanya tersusun rapi dan tidak berantakan.
Dian dan David merasa takjub dengan kelengkapan dan kecanggihan teknologi yang ada di laboratorium ini. Pantas saja Vivian dijadikan pemimpin proyek AI.
Mata Dian membulat besar saat melihat beberapa bingkai foto di atas meja kerja Vivian. "Dion?" gumam Dian.
"Nona Dian juga tahu siapa Dion?" tanya Vivian dengan antusias.
Dian menganggukkan kepalanya perlahan.
Vivian mengambil salah satu bingkai foto yang berisi Dion memegang sebuah medali emas dan tersenyum tipis.
"Dion ilmuwan fisika genius idolaku. Di usia tujuh belas tahun mendapatkan penghargaan Nobel di Swedia. Aku sangat menyukainya dan ingin bertemu dengannya," kata Vivian dengan semangat.
Dian tersenyum mendengar perkataan Vivian. Dirinya tidak menyangka Dion yang memiliki sikap pendiam, kaku, dan tidak suka didekati wanita, ternyata merupakan idola Vivian.
"Kamu menjadi ilmuwan karena terpengaruh oleh Dion?" tanya Dian.
"Iya, benar sekali. Aku ingin mengikuti jejaknya mendapatkan penghargaan Nobel. Kedua orang tuanya adalah dokter. Ayahnya pemilik Healing Hands Hospital. Tetapi Dion mengejar impiannya sendiri. Selain pintar, Dion juga tampan," jawab Vivian.
"Kamu benar-benar fans fanatiknya," ucap Dian.
Dian mengamati Vivian saksama. Sifat ceria gadis muda itu membuat Dian ingin menjodohkannya dengan Dion.
Selama ini Dion hanya fokus dengan pekerjaannya dan melakukan penelitian di berbagai tempat maupun negara. Dion sama sekali tidak pernah pacaran.
Dian yakin Dion dan Vivian bisa cocok karena menyukai bidang pekerjaan yang sama.
"Nona Vivian. Aku punya nomor handphone Dion. Kamu mau?" tanya Dian.
"Benarkah?" tanya Vivian.
Ilmuwan muda itu masih belum mempercayai perkataan Dian seratus persen. Dian mengambil handphone dan mencari nomor kontak Dion serta melakukan panggilan video call di depan Vivian.
Beberapa saat kemudian wajah Dion muncul di layar handphone Dian. Dion memakai jas putih, sama seperti Vivian.
Vivian yang berdiri di samping Dian melihat jelas wajah Dion di layar handphone. Gadis muda itu berjalan mundur dua langkah sambil menutupi mulut sendiri dengan kedua telapak tangan untuk mencegah suara teriakannya keluar karena terlalu bersemangat dan gembira.
Dian tersenyum kecil melihat reaksi Vivian, lalu mendekatkan wajahnya sendiri ke layar handphone.
"Halo Dion," sapa Dian.
"Ada apa Dian? Maaf aku sibuk belakangan ini sehingga tidak ikut ngobrol di grup chat," kata Dion.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dion. Ada seorang temanku, ilmuwan dan juga penggemar setiamu. Bolehkah aku memberinya nomor handphone mu?" tanya Dian.
Terlihat Dion terdiam dan berpikir sejenak, lalu melihat panda merah yang berada di pangkuan lengan Dian.
"Panda merah hasil rancangan ilmuwan itu?" tanya Dion.
"Iya, benar sekali. Ada beberapa rumusan fisika yang tidak bisa dipecahkan olehnya. Dia ingin bertanya padamu," ucap Dian.
Dian sengaja menggunakan alasan yang berhubungan dengan pekerjaan karena yakin Dion tidak akan menolaknya.
"Baiklah," jawab Dion.
"Terima kasih Dion. Aku tutup teleponnya ya. Selamat bekerja," kata Dian.
***
"Nona Dian. Mulai sekarang kamu adalah sahabat terbaikku. Panggil saja aku, Vi," ucap Vivian setelah Dian menutup sambungan telepon dengan Dion.
"Kamu juga bisa memanggilku Dian saja," kata Dian.
"Berapa nomor handphone mu? Aku kirim nomor handphone Dion," lanjut Dian.
Kedua gadis muda itu pun saling bertukaran nomor handphone. Dian menepati janjinya memberikan nomor handphone Dion ke Vivian. Vivian menatap saksama nomor handphone itu dan menghafalnya luar kepala dengan cepat.
"Dian! Aku akan memberimu panda merah sebagai imbalan dari nomor handphone Dion," ucap Vivian.
"Benarkah? Apakah CEO Erik akan setuju?" tanya Dian.
"Dia milikku bukan milik Erik. Jadi terserah aku mau kasih siapa," jawab Vivian dengan yakin.
"Deal!" jawab Dian dengan cepat.
"Mao Mao. Sekarang kamu milikku," ucap Dian sambil memegang salah satu tangan panda merah.
"Hore! Aku suka mimi cantik! Cepat bawa aku pulang," kata panda merah dengan semangat.
"Dasar nakal. Kamu tidak sedih berpisah denganku," ujar Vivian seraya bercanda.
"Tentu saja aku lebih memilih mimi cantik," jawab panda merah dengan yakin.
Dian dan Vivian tertawa kecil mendengar jawaban Mao Mao.
"Oh ya, Vi. Mao Mao perlu di cas listrik berapa jam sehari? Ada hal penting lain yang perlu diperhatikan selama merawat Mao Mao?" tanya Dian.
"Mao Mao sangat mudah dipelihara dan pintar. Dia bisa istirahat atau tidur sebentar saja maka semua energi akan pulih kembali. Tidak perlu makan, minum, ataupun ke toilet," jelas Vivian.
Beberapa saat kemudian Dian dan David meninggalkan ruang laboratorium Vivian. Mereka berdua menemui Erik di ruangan sebelumnya.
__ADS_1
"CEO Erik. Vi memberikan Mao Mao padaku. Bolehkah aku membawanya pulang?" tanya Dian.
Erik terlihat terkejut sebentar, tetapi senyuman lebar menghias sudut bibirnya dengan cepat.
"Panda merah adalah milik pribadi Vivian. Wakil CEO Dian boleh membawanya pulang sesuai keinginan Vivian," jawab Erik.
Erik menyentuh punggung panda merah. "Selamat tinggal Mao Mao," ucap Erik.
Beberapa ilmuwan yang berada di dalam ruangan juga mengucapkan salam perpisahan dengan panda merah.
"Selamat tinggal semuanya. Aku mau tinggal bersama mimi cantik," ucap panda merah.
Pada akhirnya David mengantar Dian pulang ke apartemen Regal Residence.
***Apartemen Dian***
Dian meletakkan panda merah di lantai saat masuk ke dalam apartemen. Panda merah berlari kecil mengelilingi setiap sudut ruangan dengan semangat.
Dekorasi mewah dan perabotan yang mahal membuat sepasang sinar infra merah di matanya semakin bercahaya.
Mao Mao melompat ke atas sofa dan berbaring di sana dengan posisi nyaman. Bulu di tubuhnya terbuat dari bahan sintetis sehingga Dian tidak khawatir sofanya penuh dengan rontokan bulu hewan.
"Mao Mao mau tidur di sofa?" tanya Dian.
"Iya. Sofa ini lembut," jawab Mao Mao.
"Aku akan memesan tempat tidur kucing premium dengan bahan yang sama untukmu. Untuk sementara kamu tidur di sofa dulu ya," kata Dian.
"Baik mimi cantik," jawab Mao Mao.
"Selamat beristirahat. Good night," kata Dian dan berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamar tidur.
Gadis muda itu ingin secepatnya mandi dan beristirahat agar tidak terlambat bangun pagi keesokan harinya.
***
Selamat siang readers tercinta. Author senang banget readers bisa menebak tepat seseorang yang akan pulang itu adalah Gisel 😊. Gisel dan Kelvin muncul di bab malam.
Tentu saja Gisel harus hadir dan menyaksikan saat identitas Dian terungkap nanti 😆.
Ada beberapa kejadian lagi sebagai pelengkap identitas Dian terungkap nantinya.
Oh iya, readers yang sudah baca cerita daddy Jackson dan mommy Rossy pasti sudah bisa menebak Dion putra dari Felix dan Michelle.
Mudah-mudahan awal bulan oktober author ada waktu untuk buat bonus chapter masa kecil mereka ya 🤗🤗
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE