
***Restoran Hartono***
Thomas menyambut kedatangan Dian, Dion, Leon, Sherina, Natasha, dan Billy dengan wajah semringah. Suasana Restoran Hartono menjadi semakin meriah dengan kehadiran mereka berenam.
Walaupun Dian dan Sherina sering mengunjungi Thomas di Apartemen Regal Residence, tetapi ini pertama kali mereka berenam berkumpul lagi di Restoran Hartono seperti waktu kecil.
"Kalian pasti sudah rindu bakmi ayam legendaris kakek kan? Tunggu sebentar! Kakek masak di dapur dulu!" ucap Thomas.
"Aku bantu kakek ya," kata Dian dan berdiri dari kursi mengikuti Thomas ke dapur.
Thomas tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya. Dian tidak menyadari saat dirinya masuk ke dapur, Stefan dan Rizky berjalan masuk ke dalam restoran.
Pelayan restoran mengantarkan mereka berdua ke meja makan yang tidak jauh dari meja makan rombongan Sherina.
Rizky dan Stefan terkejut melihat rombongan Sherina. Mereka berdua mencari sosok Dian di sana secara bersamaan, tetapi dengan maksud hati yang berbeda.
Stefan merasa rindu dengan Dian sejak pertemuan terakhir di tempat penelitian rahasia Perusahaan Alpha, sedangkan Rizky masih ingat ancaman Dian untuk menjauh dari pandangan gadis muda itu dalam waktu lima detik.
Sherina, Dion, Natasha, Billy, dan Leon hanya bersikap biasa saja melihat kedatangan Stefan dan Rizky. Mereka melanjutkan obrolan ringan dengan santai.
***
"Ini menu Restoran Hartono. Menu andalan restoran kami adalah bakmi ayam legendaris," kata pelayan restoran sambil menyerahkan dua menu ke Stefan dan Rizky.
"Aku pesan bakmi ayam legendaris satu," ucap Stefan.
"Aku juga," ujar Rizky.
"Bagaimana dengan pesanan minumannya?" tanya pelayan restoran.
"Air putih," kata Stefan.
"Air putih dua!" lanjut Rizky.
"Silakan tunggu sebentar, tuan!" kata pelayan restoran.
Stefan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan di dalam restoran. Terlihat jelas warna cat yang cerah menandakan restoran sering dicat setiap tahun, tetapi letak setiap meja maupun pajangan di dalamnya sama persis dengan yang pernah Stefan lihat saat pertama kali berkunjung ke Restoran Hartono.
Ciri khas Restoran Hartono adalah foto polaroid yang menempel di setiap dinding. Foto-foto itu berupa foto para pelanggan yang pernah makan di restoran dan dijadikan kenang-kenangan.
__ADS_1
"Fan! Restoran ini sangat bersih dan nyaman. Pantas saja kamu mau makan di sini," ucap Rizky.
"Iya," jawab Stefan singkat.
Stefan berdiri dari kursinya dan berjalan menuju dinding yang dipenuhi foto-foto polaroid. Satu persatu foto itu dilihat Stefan dengan saksama hingga akhirnya tatapan mata berhenti tepat dihadapan foto yang ingin dicarinya.
Foto seorang gadis kecil berkepang dua dengan pakaian balerina. Gadis kecil itu tersenyum manis sambil memegang piring kertas berisi sepotong kue.
Tujuan kedatangan Stefan ke Restoran Hartono untuk mengucapkan selamat tinggal kepada gadis kecil cinta pertamanya karena saat ini Stefan menyadari dirinya sudah jatuh cinta kepada Dian.
Stefan jatuh cinta bukan dikarenakan Dian mirip dengan gadis kecil dari masa lalu, melainkan sifat Dian yang baik hati, tegas, dan pintar membuat gadis muda itu sudah mengisi hati Stefan selama pernikahan mereka dan Stefan baru menyadari sepenuhnya saat dirinya menggendong Dian beberapa hari yang lalu.
Gadis kecil cinta pertama akan disimpan sebagai kenangan berharga di lubuk hatinya saja, tetapi wanita yang ingin dijadikan pendamping hidup Stefan hanya Dian seorang.
Stefan bertekad kuat untuk menggunakan waktu berapa lama pun hingga berhasil mendapatkan kembali hati Dian.
Stefan berjalan kembali ke tempat duduknya dan minum beberapa teguk air putih yang sudah dihidangkan di atas meja makan.
Beberapa saat kemudian dua orang pelayan restoran keluar dari dapur membawa nampan. Masing-masing nampan berisi dua mangkuk bakmi ayam legendaris.
Keempat mangkuk bakmi ayam legendaris itu dihidangkan di meja rombongan Sherina. Dian dan Thomas berjalan keluar dari dapur dengan membawa nampan yang sama.
"Dian! Sini!" panggil Billy dengan suara keras sehingga Stefan dan Rizky pun melihat ke arah Dian.
"Ini pesanan bakmi ayam legendarisnya. Selamat menikmati," ucap Dian sambil cekatan meletakkan kedua mangkuk bakmi ayam di hadapan Stefan dan Rizky, tanpa melihat jelas wajah kedua pria itu.
"Dian!" panggil Stefan dengan suara lembut.
Dian mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap Stefan dengan wajah bingung. Pantas saja Billy tadi memanggilnya dan dirinya malahan tidak mengerti isyarat yang diberikan Billy sehingga terjebak dalam situasi canggung ini.
Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Dian. Bagaimana mungkin Stefan bisa muncul di Restoran Hartono? Apakah Stefan masih mengingat dirinya sewaktu kecil?
Dian berusaha menghilangkan semua pertanyaan yang membuat perasaan hatinya tidak karuan. Gadis muda itu menoleh ke arah Rizky dan mengerutkan keningnya spontan.
Kedua tangan Rizky memegang menu restoran dan mengangkatnya tinggi hingga wajahnya tertutup penuh oleh menu restoran.
"Dian! Anggap saja kamu tidak melihatku! Atau aku harus lenyap dari hadapanmu dalam lima detik?" tanya Rizky. Rizky bisa merasakan tatapan mata laser Dian sedang ditujukan ke arahnya.
Dian tertawa kecil mendengar perkataan Rizky. Dian tidak menyangka Rizky menganggap serius ancamannya. Jika saja dirinya bukan putri kecil Keluarga Wijaya, bisa dipastikan Rizky tidak akan takut kepadanya.
__ADS_1
"Habiskan bakminya dan jangan buat masalah di sini!" ucap Dian ke Rizky dan berjalan meninggalkan meja Stefan menuju meja nya sendiri.
Thomas sudah meletakkan dua mangkuk bakmi ayam legendaris terakhir di atas meja dan menunggu Dian.
"Terima kasih kakek," kata Dian dan semua temannya bersamaan.
"Makanlah yang kenyang. Kakek masak bakmi untuk pelanggan lain," ucap Thomas.
"Baik, kakek!"
***
Rombongan Dian mulai mencicipi bakmi ayam legendaris, sedangkan Rizky menurunkan tangan yang memegang menu secara perlahan, lalu melirik sekilas ke meja Dian.
"Fan! Aku baru sadar mantanmu tidak jahat juga!" ujar Rizky.
Ricky akui selama ini dirinya yang selalu berpikiran negatif terhadap Dian dan menghinanya sebagai gadis miskin. Bahkan setelah Stefan bercerai, dirinya termakan hasutan Anastasia untuk menjelekkan Dian sehingga gadis muda itu memberi perlawanan yang membuatnya kalah telak.
Rizky yakin jika mulut embernya bisa dikendalikan dan tidak menyinggung Dian lagi, maka Dian tidak mungkin mencari perhitungan dengannya. Pemikiran itu membuat Rizky merasa tenang dan mencicipi bakmi ayam dengan semangat.
"Fan! Bakmi ayamnya sangat lezat!" ucap Rizky.
"Iya," jawab Stefan.
Stefan mencicipi satu mangkuk bakmi ayam legendaris itu dengan tenang dan suasana hati yang senang. Stefan yakin bakmi ayam di hadapannya merupakan hasil masakan Dian.
Stefan menyesali sikap bodohnya selama ini yang menolak lunch masakan Dian. Pria muda itu bertekad akan belajar memasak agar dirinya bisa membuat masakan untuk Dian di kemudian hari.
Bagaimana usaha Dian yang berhasil mengisi hatinya selama sebelas bulan ini, Stefan bertekad untuk melakukan hal yang sama terhadap Dian agar adil.
***
Selamat malam readers. Terima kasih semua dukungannya🥰
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya. Author sudah pakai kecepatan turbo agar ceritanya cepat tamat nih 😂😂
BESOK HAPPY WEEKEND DAN BERKUMPUL DENGAN KELUARGA TERCINTA
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE