HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 37. Dansa pertama


__ADS_3

***Ballroom lantai satu jamuan makan malam***


Chandra berjalan menghampiri Dian ketika gadis muda itu sudah berada di anak tangga paling bawah.


"Bagaimana Dian? Apakah kerja sama batal?" tanya Chandra.


Chandra menyadari raut wajah Dian tidak ada ekspresi kegembiraan sehingga menduga Perusahaan Alpha menolak bekerja sama.


"Stefan adalah pemegang saham Perusahaan Alpha. Erik menginginkan kerja sama tiga pihak," jawab Dian dengan jujur.


Chandra tertegun sejenak setelah mendengar perkataan Dian. "Kamu menerimanya?" tanya Chandra.


"Tentu saja. Daddy menginginkan proyek ini," jawab Dian.


Chandra tersenyum dan membelai rambut sanggul Dian dengan lembut agar tidak membuat penampilan sempurna adik kesayangannya berantakan.


"Aku bangga Dian bersikap bijak dan mengutamakan kepentingan perusahaan. Anggap saja dia sebagai rekan bisnis. Lagi pula resikonya juga ditanggung bersama. Jadi kerja sama bertiga dalam proyek ini lebih banyak keuntungan dari pada kerugian," kata Chandra.


"Iya kak Chandra. Aku sudah mengusulkan modal investasi yang dikeluarkan harus sama besar sehingga keuntungan nantinya juga dibagi rata," ujar Dian.


"Adikku paling pintar bernegosiasi. Wakil CEO Dian, selamat atas keberhasilan mendapatkan proyek pertama," ucap Chandra sambil mengulurkan tangan kanan.


"Terima kasih CEO Chandra," jawab Dian dan membalas jabatan tangan Chandra.


Chandra dan Dian tertawa kecil bersamaan, lalu Dian merangkul lengan Chandra dengan mesra.


"Ayo kakak kenalkan ke rekan bisnis lainnya," ajak Chandra.


Dian menganggukkan kepala dan tersenyum manis. Stefan dan Erik yang baru saja turun dari lantai dua melihat jelas kedekatan Dian dan Chandra.


"Selama ini CEO Chandra tidak pernah dekat dengan wanita mana pun dan selalu hadir sendirian ataupun didampingi sekretaris pria di setiap jamuan bisnis. Aku duga mereka berdua ada hubungan spesial," kata Erik dengan suara kecil ke Stefan.


"Acara sudah mau di mulai. Kamu masih santai di sini?" tanya Stefan, tanpa menjawab perkataan Erik tadi.


Erik melihat jam tangan di pergelangan tangannya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Para tamu undangan sudah memenuhi ballroom lantai satu.


"Fan! Aku pamit dulu," ucap Erik dan meninggalkan Stefan untuk persiapan pembukaan acara jamuan makan malam.


***


"Fan! Kamu ke mana saja? Aku mencarimu dari tadi," ujar Rizky yang muncul di samping Stefan.


"Gak kemana-mana," jawab Stefan singkat.

__ADS_1


Tiba-tiba Rizky bersembunyi di balik punggung Stefan. "Fan! Jangan biarkan mantanmu melihatku!" ujar Rizky panik.


Stefan memandang ke arah Dian dan Chandra dari kejauhan. Mereka sedang berbincang dengan pengusaha lainnya.


"Rizky. Aku yakin Dian tidak akan menyebarkan foto itu kalau kamu tidak mengganggunya lagi," ucap Stefan.


"Aku sumpah tidak akan mencari masalah dengan Dian," ujar Rizky dengan sungguh-sungguh.


"Dan juga menghindarinya," batin Rizky.


"Di mana Sia?" tanya Stefan.


"Di sana!" jawab Rizky sambil menunjuk tempat Sia berdiri bersama kedua teman sosialitanya.


Stefan mengerutkan keningnya melihat Sia menatap penuh kebencian ke arah Dian. Entah rencana jahat apa lagi yang direncanakan oleh adiknya yang manja itu.


"Rizky. Tugasmu mengawasi Sia secara diam-diam. Jika dia mencari masalah, panggil aku!" pesan Stefan dengan tegas.


"Baiklah," jawab Rizky.


***


Pembawa acara melangkah maju ke tengah panggung dengan mikrofon.


Tepuk tangan meriah menggema di dalam ballroom hotel. Erik tersenyum semringah di atas panggung dan mengedarkan pandangannya ke para tamu undangan.


"Terima kasih sudah menghadiri jamuan makan malam ini. Aku mengumumkan rekan bisnis untuk proyek AI Perusahaan Alpha adalah Perusahaan Bramasta dan Jayanata!" kata Erik.


Suara tepuk tangan meriah menggema lagi di dalam ballroom hotel. Para tamu undangan menatap Chandra dan Stefan bergantian dengan pandangan kagum karena mereka berhasil mendapatkan proyek kerja sama itu.


"Mari kita mulai jamuan makan malam ini dengan Tuan Stefan dan Nona Dian melakukan dansa pertama," kata Erik.


Bertepatan dengan perkataan Erik, dua cahaya dari lampu sorot menerpa di tempat Dian dan Stefan berdiri. Para tamu undangan memberikan sorakan hangat dan tepuk tangan.


Dian sangat terkejut mendengar namanya disebut Erik dan juga cahaya lampu sorot itu membuatnya tidak bisa meninggalkan ballroom.


Stefan pun sama terkejutnya dengan Dian, tetapi ekspresi wajah dinginnya berhasil menutupi kegugupan serta detak jantungnya yang semakin cepat.


Stefan melangkahkan kakinya menghampiri Dian. Semua mata tamu undangan menatap kedua sosok mantan suami istri itu tanpa berkedip.


Berbagai spekulasi muncul di hati dan pikiran mereka. Apakah Stefan dan Dian akan rujuk? Bagaimana dengan Chandra?


Perceraian Stefan dan Dian telah menimbulkan semacam misteri pada kerja sama kebetulan ini.

__ADS_1


Stefan membungkukkan badan sedikit di depan Dian sambil mengulurkan telapak tangan kanan, mengundang Dian untuk berdansa bersama.


Mata Dian terpaku menatap tanda lahir bentuk hati di pergelangan tangan kanan Stefan. Tanda lahir itulah yang membuat Dian mengenali Stefan sewaktu di Las Vegas. Seketika Dian merasakan deja vu.


"Dian," panggil Chandra sambil menatap Dian sehingga gadis muda itu tersadar dari lamunannya.


Chandra tahu Dian merasa canggung untuk berdansa dengan Stefan. Jika Dian tidak bersedia maka Chandra akan membawanya pergi dari jamuan makan malam.


Walaupun konsekuensi terbesarnya akan kehilangan proyek kerja sama ini karena mempermalukan Perusahaan Alpha dan Bramasta, Chandra tidak peduli.


Chandra lebih mementingkan kebahagiaan Dian dibandingkan keuntungan yang bisa didapatkan oleh Perusahaan Jayanata di masa yang akan datang.


"Hanya satu dansa." Dian menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara. Chandra bisa membaca jelas dan menganggukkan kepalanya.


"Pergi berdansa lah," ucap Chandra sambil mengambil tangan Dian dan meletakkannya di atas tangan Stefan.


Para tamu undangan spontan memberi jalan kepada mereka berdua. Pandangan Dian lurus ke depan tanpa melihat ke samping.


Stefan bisa merasakan jemari tangan Dian yang lentik, halus dan hangat bagaikan seperti karya seni sehingga pria muda itu langsung mengingatnya di dalam hati. Stefan baru menyadari selama pernikahan mereka, dirinya tidak pernah menggenggam tangan Dian.


"Aku benar-benar suami yang gagal," batin Stefan.


Dalam waktu singkat mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan di tengah ballroom hotel. Pemain band yang diundang untuk memeriahkan acara jamuan makan malam segera memainkan musik setelah mendapatkan isyarat tangan dari Erik.


Seluruh ruangan ballroom bergema dengan lagu gembira yang panjang dan menyegarkan.


Tangan kiri Dian bersandar di atas bahu kanan Stefan, sedangkan tangan kanannya bergenggaman dengan tangan kiri Stefan.


Mata mereka saling menatap satu sama lain. Dian bisa melihat jelas sepasang mata Stefan menatapnya dengan lembut. Tangan kanan Stefan melingkar di pinggang ramping Dian serta menariknya sehingga tubuh mereka berdua semakin dekat.


Mereka berdua bisa mendengar jelas suara detak jantung yang cepat satu sama lain. Selama sebelas bulan pernikahan, mereka tidak pernah sedekat ini. Kecuali pada saat Stefan mabuk di Las Vegas dan memeluk Dian semalaman.


Entah mengapa pikiran mereka berdua teringat kembali dengan kejadian di Las Vegas. Dian berusaha menenangkan perasaan hatinya agar tidak terjebak lagi dengan masa lalu.


Senyum tipis mengembang di sudut bibir Dian. Gadis muda itu menggerakkan pinggangnya mengikuti alunan musik. Begitupun juga dengan Stefan.


***


Selamat malam readers. Tariannya lanjut besok ya 😁


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR: LYTIE


__ADS_2