
***Ballroom hotel tempat private fashion show Natasha***
Natasha menyambut kedatangan Dian dan Sherina dengan hangat. Sebuah panggung bentuk T dengan karpet merah diatasnya, sudah dipersiapkan di tengah ruangan.
Panjang panggung sekitar 14 meter, dengan tinggi 90 cm dan lebar 4 meter. Dekorasi yang indah dan mahal dengan tema fairytale menghiasi seluruh ruangan.
Malam ini Natasha akan mempersembahkan koleksi gaun pesta tema Peri, yang elegan, feminim, dan berkelas.
Ada dua puluh gaun yang akan ditampilkan. Semua gaun itu menggunakan bahan tulle dan brokat yang ringan dalam warna pastel seperti biru langit, kuning cerah, hijau muda,ungu, dan coklat muda.
Meja tamu undangan berbentuk bulat dan tersebar mengelilingi panggung fashion show. Satu meja untuk lima hingga enam orang. Suasana ballroom memberi kesan simpel dan elegan.
Natasha membawa Dian dan Sherina ke ruang rias. Mata mereka berdua berbinar-binar saat melihat gaun yang dipersiapkan oleh Natasha.
Gaun pesta warna kuning cerah untuk Sherina dan warna biru langit untuk Dian.
"Rina tampil di opening show. Dian di final show," kata Natasha.
"Kamu serius?" tanya Dian dan Sherina bersamaan.
"Iya! Jadi kalian berdua harus tampil maksimal di panggung. Aku percaya kalian bisa," jawab Natasha dengan yakin.
"Baiklah," jawab Dian dan Sherina.
"Kalian dirias dulu. Aku tinggal sebentar ya," ucap Natasha.
"Iya, pergilah! Kami tahu kamu seksi sibuk," canda Sherina.
***
Semua tamu undangan sudah tiba dan duduk tenang di kursi mereka untuk menunggu acara fashion show dimulai.
Kelvin sudah hadir dan duduk di meja paling dekat panggung. Kelvin tidak memerlukam kartu undangan untuk masuk karena merupakan tamu undangan istimewa.
Billy dan Leon semeja dengan Kelvin. Mereka saling menyapa dengan senyuman dan anggukkan kepala saja.
Suara musik menggema di dalam ruangan. Cahaya lampu sorot difokuskan di atas panggung sehingga cahaya lampu di sekeliling ruangan menjadi lebih gelap.
Sherina dengan gaun kuning terang berjalan percaya diri di atas panggung. Walaupun postur tubuh Sherina mungil, tetapi tidak menghilangkan kharisma yang memancar darinya.
Sepasang mata besar dan senyuman yang memperlihatkan lesung pipi membuat para tamu undangan terpukau oleh Sherina.
Leon memotret Sherina dengan cepat menggunakan handphone dan mengirimnya ke Raisa, Adrian, serta Chandra.
Sementara dua gadis yang duduk di meja lain, menatap Sherina dengan ekspresi tidak percaya. Mereka mengenali Sherina adalah teman Dian di Butik Raisa tadi.
Keluwesan Sherina berjalan di atas panggung membuat Anastasia dan Gisel menebak Sherina adalah model.
"Tidak mungkin Dian bisa ikut hadir di acara berkelas ini," batin Anastasia dan Gisel. Mereka berdua berusaha menenangkan firasat buruk yang muncul secara tiba-tiba.
***
Sherina menghampiri Dian di ruang tunggu setelah turun dari panggung. "Lancar?" tanya Dian.
"Tentu dong," jawab Sherina sambil tertawa kecil.
Dian sudah menggunakan gaun pesta warna biru langit yang sangat pas dengan lekuk tubuhnya. Riasan wajah yang natural dan rambut panjang yang tergerai membuat Dian semakin cantik.
"Dian. Dua nenek sihir tadi ada di dalam ruangan," kata Sherina.
Dian mengerti maksud perkataan Sherina. "Mereka tidak akan berani berbuat masalah di sini," ucap Dian dengan yakin.
"Iya, benar juga. Aku suruh Leon sebar di majalah Sunshine, kalau mereka berani macam-macam di acara Tasha," kata Sherina.
Kedua gadis muda itu mengobrol ringan sambil menunggu giliran Dian. Dian dalam posisi berdiri agar gaun yang dipakainya tidak kusut.
Beberapa saat kemudian Natasha berlari kecil menghampiri mereka. "Ayo, Dian! Sebentar lagi giliranmu!" kata Natasha.
__ADS_1
Natasha terlihat bersemangat karena acara puncak private fashion show hampir tiba.
"Semangat Dian! Kamu pasti bisa!" kata Sherina.
Dian tersenyum kecil mendengar dukungan Sherina, lalu berjalan dengan percaya diri mengikuti Natasha menuju panggung fashion show.
***
Di salah satu meja tamu undangan paling ujung, Rizky yang antusias menatap setiap model di atas panggung menghentikan aksinya dan menoleh ke samping, tempat Stefan berada.
Stefan duduk tenang dengan wajah tanpa ekspresi. Matanya menatap layar handphone di tangannya.
Rizky menghela napas panjang saat membaca nama Dian di layar handphone Stefan. Rizky tahu Stefan tidak bisa menghubungi Dian lagi karena gadis muda itu telah memblokir nomor handphone Stefan.
Entah mengapa, Rizky berfirasat sikap Stefan terhadap Dian semakin berbeda dibandingkan dulu. Apakah benar Stefan berniat rujuk dengan Dian?
Rizky akui dirinya sendiri pun baru merasa kehilangan istrinya setelah istrinya menggugat cerai. Bahkan saat ini Rizky menggunakan segala cara untuk mendapatkan istrinya kembali.
Rizky mencoba mengalihkan perhatian Stefan.
"Fan, private fashion show ini sangat bagus. Coba lihat! semua modelnya profesional dan cantik-cantik. Mereka jauh lebih menarik dari pada mantan istrimu," ujar Rizky sambil memegang wajah Stefan agar melihat ke arah panggung.
Stefan menepis tangan Rizky dengan keras sehingga terlepas.
"Holy s**t!" Rizky memekik secara spontan dan matanya melotot ke arah panggung.
Reaksi Rizky yang aneh membuat Stefan ikut melihat ke panggung. Wajah Stefan terkejut dan menatap lekat gadis muda yang berjalan dengan anggun di atas sana.
"It…itu Dian?" gumam Rizky.
Kemunculan Dian di atas panggung menarik perhatian semua tamu undangan. Mereka tidak bisa melepaskan pandangan satu detik pun dari Dian. Gadis muda itu berjalan dengan tenang, berhenti untuk pose, lalu berbalik dengan indah. Setiap gerakannya selaras dengan gaun pesta di tubuhnya. Memukau dan elegan.
"Princess sangat cantik," puji Billy dan Leon. Mereka berdua memotret Dian dengan cepat, sedangkan Kelvin tersenyum bangga di sana.
"Dian bisa menjadi pasangan catwalk ku nanti," batin Kelvin.
Sementara di meja lain, Anastasia dan Gisel menatap Dian dengan penuh kebencian dan iri hati. Mereka berdua ingin sekali melabrak Dian saat ini, tetapi mereka tidak berani melakukannya.
***
Tepuk tangan meriah menggema di dalam ruangan. Natasha dan semua yang berada di atas panggung membungkukkan badan sedikit sebagai pertanda ucapan terima kasih dari tepuk tangan dan antusias tamu undangan.
Puluhan model lainnya segera turun dari atas panggung meninggalkan Natasha, Dian, dan Sherina.
Tiga wartawan majalah Sunshine yang diutus Leon, mengajukan berbagai macam pertanyaan ke Natasha.
"Nona Tasha. Apakah kedua model ini adalah model luar negeri yang diundang untuk acara private fashion show mu?" tanya salah satu wartawan.
"Mereka berdua adalah teman baikku dan juga pemilik busana 'Tasha', jawab Natasha.
Para wartawan mengajukan pertanyaan yang sopan dan yang berhubungan dengan private fashion show sehingga Natasha menjawabnya dengan senang hati. Wartawan memotret ketiga gadis muda itu setelah acara tanya jawab selesai.
Sementara Billy, Leon, dan Kelvin menunggu di bawah panggung. Billy merangkul pundak Leon sambil tersenyum lebar. " Leon! Bawahanmu tidak tahu Rina nona muda Saputra?" tanya Billy penasaran.
"Kak Rina tidak suka privacy nya terganggu oleh statusnya sebagai Nona muda Saputra," jawab Leon jujur.
"Apa? Gadis itu kakakmu, Leon?" Rizky tiba-tiba muncul di hadapan mereka sambil menunjuk Sherina.
"Iya," jawab Leon singkat.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Billy sambil menatap Rizky dan Stefan.
"A...ada kartu undangan," jawab Rizky terbata-bata.
***
"Dian! Sini!" teriak Kelvin saat melihat ketiga gadis muda itu sudah selesai dipotret wartawan.
__ADS_1
Natasha, Dian, dan Sherina turun dari atas panggung dan menghampiri mereka. Kelvin merangkul pundak Dian tanpa ragu dan mencubit gemas hidung adik kesayangannya itu.
"Kamu sangat cantik dan berbakat. Lain kali kita catwalk bersama," kata Kelvin.
"No problem," jawab Dian sambil tersenyum kecil.
Rombongan Dian serentak melihat ke arah Rizky dan Stefan yang masih setia berdiri di sana.
"Acara Nona Tasha sangat sukses. Ayo kita pergi minum-minum bersama di Vallkyrie Club?" ajak Rizky.
"Kak Rizky, Kak Stefan! Aku juga mau ikut!"
Natasha mendengus kasar secara spontan melihat Anastasia dan Gisel menghampiri mereka. Acara private fashion show nya yang berkelas berubah menjadi pasar malam karena kehadiran empat tamu tak diundang, yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Nona Tasha. Aku Nona muda Bramasta dan sangat menyukai semua gaun rancanganmu." Anastasia memperkenalkan dirinya sendiri dengan bangga.
Walaupun dirinya tidak suka berdekatan dengan Dian, tetapi jika berhasil memposting foto berduanya dengan Natasha, Anastasia yakin semua teman sosialitanya akan iri setengah mati terhadapnya.
"Aku tidak mengundangmu ke acara ini," jawab Natasha dengan wajah datar.
"Kita menggunakan kartu undangan temanku," ucap Gisel.
"Siapa nama temanmu itu?" tanya Natasha.
Gisel mengira Natasha ingin memeriksa apakah kartu undangannya asli atau tidak sehingga dengan cepat menyebutkan dua nama yang menjual kartu undangan itu kepadanya.
"Mulai hari ini kedua temanmu itu masuk black list untuk menghadiri acara ku lagi," ujar Natasha.
Natasha tidak memedulikan wajah kesal Gisel dan Anastasia, gadis muda itu menatap tajam Rizky. "Bagaimana dengan kartu undanganmu?" tanya Natasha.
Natasha yakin cara Rizky mendapatkan kartu undangan itu hampir sama dengan cara Gisel.
"Kartu undangannya sudah berada di kantorku hari ini. Aku tidak tahu siapa yang mengirimnya," kilah Rizky.
"Kalau begitu, kalian berempat bisa meninggalkan tempat ini sekarang sebelum aku memanggil satpam," ujar Natasha.
Rombongan Dian mengacungkan jempol ke Natasha bersamaan. Anastasia yang melihat semua itu merasa sangat dipermalukan sehingga berlari meninggalkan ruangan.
"Fan! Ayo kita cari Sia!" ajak Gisel dan ingin menarik tangan Stefan, tetapi pria itu menghindar dengan cepat.
"Sel! Kamu yang membawa Sia ke sini. Kamu harus bertanggung jawab mengantarnya pulang ke Mansion Bramasta," kata Rizky.
Rizky tidak mau dirinya yang menjadi tumbal untuk mencari adik manja itu. Gisel terpaksa pergi mengejar Anastasia karena perkataan Rizky.
Beberapa saat setelah Gisel pergi jauh, Stefan mengeluarkan suaranya setelah terdiam cukup lama.
"Selamat Nona Tasha. Acaramu sangat sukses dan gaun rancanganmu sangat cantik," kata Stefan sambil melirik sekilas ke arah Dian, lalu membalikkan tubuh berjalan meninggalkan tempat itu. Rizky segera mengikutinya dari belakang.
***
"Ayo, kita pulang sekarang. Sekalian antar Tasha," ucap Kelvin sambil menepuk lembut pundak Dian karena adik kesayangannya terlihat melamun setelah kepergian Stefan.
"Baik, Kak Kelvin. Tunggu dulu sebentar, aku ganti pakaian dulu, " jawab Dian.
"Oke," jawab Kelvin.
"Aku juga ikut," kata Sherina sambil merangkul lengan Natasha dan Dian di sisi kiri dan kanan.
Ketiga gadis muda itu mengganti pakaian di ruang ganti dan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Mereka semua tidak akan menyangka saat mereka bangun pagi keesokan harinya, ada berita besar yang menyebar.
***
Selamat malam readers. Bab ini sudah sangat panjang dan bisa dijadikan dua bab. Author jadiin satu saja 🥰
Sampai ketemu di bab besok🤗
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE