HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 50. Blokir


__ADS_3

Dian dan Billy masuk ke dalam mobil. Sopir mengemudikan mobil secara perlahan sambil menunggu perintah dari Billy tentang tempat tujuan berikutnya.


"Princess. Kita dinner bersama?" tanya Billy.


Dian melirik jam tangan di pergelangan tangannya sebentar.


"Aku ingin pulang beristirahat malam ini. Bagaimana kalau besok malam kita makan malam bersama kak Rina, Tasya, dan Leon?" usul Dian.


Sejak Chandra dinas ke luar negeri, Dian harus lembur kerja setiap malam. Untuk menghadiri acara pelelangan malam ini, jadwal kerja Dian dibuat lebih padat lagi agar bisa menyisihkan waktu.


Semua anggota keluarga Wijaya sedang berada di luar negeri sehingga hanya Dian seorang saja yang bisa mewakili untuk hadir.


"Baiklah. Ada satu restoran yang baru dibuka. Kita bisa makan di sana," jawab Billy.


"Besok aku ada meeting jam 3 siang dengan rekan bisnis. Kamu share location restoran, aku pergi sendiri ke sana," kata Dian.


"Oke," jawab Billy.


Ada sedikit rasa kecewa muncul di dalam hati Billy karena tidak bisa menjemput Dian besok malam, tetapi dirinya sadar Dian masih menganggapnya sebagai teman dekat saat ini.


Billy tidak mau memberikan tekanan ke Dian untuk menerima perasaan hatinya dalam waktu singkat. Lagi pula tidak ada orang yang bisa mempengaruhi pikiran dan keinginan gadis muda itu.


Jika terlalu dipaksakan maka besar kemungkinan hubungan pertemanan mereka akan rusak dan Billy tidak mau hal itu terjadi.


"Aku chat mereka dulu," kata Dian sambil mengambil handphone untuk mengabari dinner bareng besok malam di grup chat.


Bertepatan dengan itu, suara handphone Dian berdering dan muncul sederetan angka yang sangat dihafal oleh Dian. Dian segera menekan tombol untuk menolak panggilan masuk itu.


Suara handphone Dian menggema lagi di dalam mobil dan tentunya berasal dari nomor panggilan yang sama. Dian langsung memblokir nomor panggilan masuk itu sehingga suasana menjadi tenang dan sepi.


"Telepon dari Stefan?" tanya Billy. Pertanyaan yang sudah pasti jawabannya.


"Iya. Semua karena ini," jawab Dian santai sambil menunjuk kotak panjang di samping tempat duduknya.


"Princess akan menjualnya dengan harga tinggi?" tanya Billy penasaran.


"Sementara dijadikan pajangan di apartemen saja. Jika aku kesulitan keuangan, baru akan menjualnya," jawab Dian.


Billy tertawa kecil mendengar jawaban Dian. Bagaimana mungkin putri kesayangan keluarga Wijaya akan kesulitan dalam hal keuangan? Jawaban pastinya adalah keris antik itu tidak mungkin kembali ke Keluarga Bramasta lagi. Billy sangat yakin akan hal itu.


Tiga puluh menit kemudian, mobil porsche milik Billy berhenti di depan Apartemen Regal Residence.

__ADS_1


Dian turun dari mobil ketika sopir Billy membukakan pintu mobil. Tangan Dian memegang kotak yang berisi keris antik milik Adi Bramasta.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Bye Billy," kata Dian.


"Bye princess. Good night," ucap Billy dari dalam mobil.


Dian berjalan menghampiri satpam yang bertugas di apartemen untuk mengambil kunci mobil yang dititipkan David di sana terlebih dahulu, sebelum naik lift menuju apartemennya.


***Apartemen Dian***


Dian meletakkan kotak berukuran persegi panjang itu di atas meja ruang tamu secara sembarangan, lalu menuju kamar tidur, membuka lemari untuk mengambil pakaian tidur sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Gadis muda itu berendam di dalam bathtub dengan suasana hati riang sambil bersenandung. Pikiran dan tubuhnya terasa sangat rileks.


Dian yakin Laura dan Anastasia pasti akan mendapatkan hukuman dari Adi Bramasta. Semua itu terjadi karena kebodohan mereka berdua yang berani mencuri keris antik dan membawanya ke pelelangan.


Ketika Dian keluar dari kamar mandi, terdengar bunyi panggilan masuk ke handphone nya. Dian segera mengangkatnya.


"Halo kak Chandra," sapa Dian.


"Dian. Bagaimana pekerjaan di kantor? Mereka tidak berani membuat masalah lagi kan?" tanya Chandra.


Chandra tertawa kecil mendengar jawaban Dian. "Aku akan pulang lusa malam," ucap Chandra.


"Hore! Akhirnya aku bisa bebas dari lembur," pekik Dian kegirangan.


"Bukannya malam ini kamu sangat gembira? Menghabiskan 550 juta di tempat pelelangan amal," kata Chandra.


Chandra bisa mengetahuinya karena mendapatkan notifikasi sms jumlah pemakaian kartu kredit milik Dian sehingga Chandra pun menggunakan keahlian hacker nya memeriksa apakah memang benar Dian yang menggunakan kartu kredit itu atau tidak.


"Iya kak Chandra. Aku beli mainan baru," jawab Dian.


"Harga yang cukup murah untuk benda pusaka turun temurun. Aku yakin Adi Bramasta tidak bisa tidur nyenyak malam ini," kata Chandra.


"Perkiraanku sama dengan kak Chandra. Ada dua wanita bodoh yang senasib dengannya. Tidak bisa tidur nyenyak," ucap Dian.


Chandra tertawa kecil mendengar jawaban Dian. Chandra tidak peduli Adi Bramasta akan tersinggung dan pastinya mencari masalah dengan Dian di kemudian hari.


Chandra yakin Dian mampu menghadapi Adi. Selain itu keluarga Wijaya juga akan mendukung Dian sepenuhnya dari belakang.


"Cepatlah beristirahat. Besok kamu harus bangun pagi," kata Chandra dengan suara lembut.

__ADS_1


"Oke kak Chandra. Good night," kata Dian.


"Good night," balas Chandra.


***Ruang kantor Dian di Perusahaan Jayanata***


"Nona Dian. Sekretaris CEO Stefan menelepon ingin membuat janji makan siang ataupun makan malam," lapor David.


"Tolak saja dengan alasan saya mempunyai meeting penting dengan rekan bisnis seharian," jawab Dian.


"Baik nona Dian," kata David.


"Tidak disangka nomornya sudah kublokir, dia menghubungi dengan memakai nama perusahaan," kata hati Dian.


"David. Untuk selanjutnya tetap tolak setiap ajakan pertemuan dari Perusahaan Bramasta!" perintah Dian.


"Baik nona Dian," jawab David dengan patuh. Sekretaris pribadi itu berfirasat ada sesuatu yang terjadi di antara Stefan dan Dian.


"Oh iya. Tolong bantu awasi gerak–gerik Anggi dan laporkan jika ada yang mencurigakan. Kak Chandra akan pulang besok malam dan lusa pagi mengadakan rapat intern pemegang saham," pesan Dian.


"Siap nona Dian," jawab David.


***Restoran***


Dian tiba di restoran yang telah dipesan oleh Billy. Kebetulan Leon pun tiba di waktu yang bersamaan sehingga mereka berdua berdampingan masuk ke dalam restoran sambil mengobrol ringan.


"Leon!"


Suara seorang pria memanggil Leon membuat mereka berdua menghentikan langkah kaki. Wajah Dian muram seketika melihat jelas wajah orang yang memanggil Leon.


Rizky pun terkejut melihat Dian berdiri di samping Leon, lalu Rizky menoleh ke Stefan yang berdiri di sampingnya secara spontan.


***


Selamat siang readers. Muncul lagi satu biang kerok 😂😂. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2