HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 45. Ruang Meeting


__ADS_3

***Perusahaan Alpha***


Dian dan rombongannya mengikuti Erik melakukan inspeksi di Perusahaan Alpha. Kelima karyawan Perusahaan Jayanata sesekali melirik ke arah panda merah yang berada di dalam pelukan Dian.


Mereka pun tertarik untuk menggendong panda merah yang imut dan mencoba kecerdasan apa saja yang sudah terpasang di tubuh Mao Mao oleh ilmuan yang membuatnya.


Keinginan hati mereka kandas karena Mao Mao mengacuhkan mereka dan terlihat jelas hanya menyukai Dian seorang saja. Bahkan Erik sendiri pun tidak mendapatkan sambutan yang hangat dari Mao Mao tadi.


Lagi pula kelima karyawan Perusahaan Jayanata itu juga khawatir mereka harus membayar ganti rugi yang besar jika tidak sengaja merusak panda merah saat menyentuhnya sehingga risiko besar ini lebih baik dihindari.


Tanpa terasa Dian dan rombongannya sudah berada di Perusahaan Alpha selama satu jam. Dian sangat puas dengan beberapa contoh produk yang sudah dibuat di sana.


Erik mengundang Dian dan rombongannya untuk menikmati kudapan ringan di ruang meeting Perusahaan Alpha sebagai akhir dari proses inspeksi hari ini.


Tepat saat Erik membuka pintu ruang meeting, Ponco sekretaris pribadi Erik menghampirinya.


"CEO Erik! CEO Stefan sudah datang," lapor Ponco.


"Tolong antar CEO Stefan bergabung ke ruang meeting," ucap Erik.


Ponco menganggukkan kepala dan pergi melakukan perintah Erik, sedangkan Dian terdiam menatap Erik menunggu penjelasan darinya.


"Wakil CEO Dian. Kebetulan CEO Stefan datang untuk mengambil proposal kerja sama. Aku memintanya bergabung bersama di ruang meeting," kata Erik sambil tersenyum ramah.


Wajah Dian berubah menjadi dingin. Apakah Stefan memang datang secara kebetulan atau karena Erik memberitahukan tentang inspeksinya hari ini ke Stefan? Gadis muda itu tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan Erik.


Jika memang pertemuan penting untuk membahas masalah proyek AI,  sebagai rekan bisnis Dian tidak keberatan dengan kedatangan Stefan. Dian tidak suka Erik mempunyai niat tersembunyi untuk mendekatkannya dengan Stefan, seperti kejadian dansa pertama beberapa waktu yang lalu.


Suasana menjadi tegang karena Dian masih berdiri di luar ruang meeting sehingga para karyawan Perusahaan Jayanata yang datang bersamanya pun belum ada yang masuk ke dalam ruang meeting.


Beberapa saat kemudian Ponco mengantar Stefan ke ruang meeting. Stefan datang bersama Luis.

__ADS_1


"Erik! Wakil CEO Dian!" sapa Stefan.


"CEO Stefan!" Dian membalas sapaan Stefan, lalu melihat ke arah Luis yang berdiri di samping Stefan.


Luis tersenyum ramah dan memberi salam dengan anggukkan kepala ke Dian. Gadis muda itu membalasnya dengan senyuman dan anggukkan kepala juga.


Erik dan Stefan tertegun sejenak melihat perlakuan ramah Dian terhadap Luis, yang berbeda seratus persen dengan sapaan terhadap Stefan tadi.


Selama pernikahan dengan Stefan, Luis satu-satunya orang yang selalu bersikap ramah terhadap Dian sehingga gadis muda itu menganggap Luis sebagai teman.


"Ayo kita masuk ke dalam ruang meeting bersama," ajak Erik.


"Maaf CEO Erik. Wakil CEO Dian masih ada meeting penting di Ubud dan harus berangkat sekarang sehingga tidak bisa bergabung."


David yang sedari tadi diam di samping Dian, memberikan alasan untuk menolak halus karena bisa merasakan Dian enggan seruangan dengan Stefan saat ini.


"Baiklah kalau begitu. Kita bisa mengatur waktu di lain hari," ucap Erik.


"Mao Mao! Ayo bangun!" panggil Dian sambil menepuk lembut punggung panda merah.


Panda merah itu tertidur pulas di pangkuan lengan Dian karena inspeksi yang berlangsung lama. Beberapa saat kemudian Mao Mao terbangun dan menatap Stefan dengan mata berbinar-binar.


Panda merah melompat turun dari lengan Dian menuju Stefan. "Pipi! Mao Mao ingin digendong," ucap panda merah kegirangan sambil mengangkat kedua tangan depan menarik kaki celana Stefan dengan manja.


Stefan membungkukkan badannya dan mengangkat panda merah ke dalam pelukannya. Hati Stefan terasa hangat karena mencium aroma parfum tubuh Dian menempel di tubuh Mao Mao saat ini.


"Aku pamit dulu!" ucap Dian dengan wajah tanpa ekspresi dan meninggalkan Perusahaan Alpha bersama rombongannya.


"Mimi! Mimi cantik!" panggil panda merah yang masih berada di pelukan Stefan. Dian tidak menoleh ataupun menjawab panggilan panda merah. Dalam waktu singkat rombongan Dian sudah pergi.


Erik menepuk pundak Stefan dengan lembut.

__ADS_1


"Fan! Tadi nona Dian sangat menyukai Mao Mao. Sekarang mengacuhkan Mao Mao karena kamu," kata Erik sambil menggelengkan kepala.


Stefan menatap panda merah yang berada di pelukannya, lalu memberikannya ke Erik.


"Ke ruang kantormu sekarang," ucap Stefan.


"Baiklah. Proposal kerja sama memang ada di kantorku," kata Erik.


Panda merah merasa bingung dipindahkan dari satu tangan ke tangan yang lain. Selain itu program kecerdasan di dalam sistemnya membuat Mao Mao tahu Dian mengacuhkannya karena Stefan, tetapi dirinya sendiri tidak bisa membenci Stefan karena sudah diprogram.


***


Satu minggu kemudian, Perusahaan Jayanata melakukan meeting untuk membahas detail lebih lanjut tentang proyek kerja sama dengan Perusahaan Alpha.


Husin yang biasanya jarang muncul di meeting perusahaan, kali ini ikut hadir. Begitu pun juga dengan Anggi yang mewakili kepala departemen pemasaran untuk hadir di ruang meeting.


Dian berfirasat mereka berdua mempunyai rencana jahat terhadapnya saat ini. Apa lagi Chandra masih dinas di luar negeri sehingga Husin pasti akan memanfaatkan kesempatan emas ini.


Tim khusus proyek AI yang dipilih oleh Dian beberapa waktu lalu mengusulkan beberapa rencana yang telah disetujui oleh Dian sebelumnya.


Sesuai dugaan Dian, para kepala departemen menolak mengambil keputusan untuk menyetujui rencana itu. Bahkan ada yang diam saja seolah menjadi penonton di sana.


Husin dan Anggi tersenyum puas melihat kekacauan di ruang meeting. Para pemegang saham dan kepala departemen itu telah mendapat hasutan dari Husin sehingga mereka sengaja memperberat dan menekan Dian di meeting hari ini.


***


TERIMA KASIH DUKUNGANNYA


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2