HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 71. Akhir dari keris antik


__ADS_3

***Ballroom hotel tempat perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya***


Adi Bramasta merasa lebih tenang setelah meneguk habis segelas air putih. Raut wajahnya berubah menjadi muram dan bukan lagi pucat pasi.


Sebagai orang tua yang berpengalaman dan sudah menghadapi banyak cobaan berat semasa muda, Adi bisa mengontrol perasaan hatinya dengan cepat.


"Kakek. Kita pulang saja sekarang," rengek Anastasia.


Gadis manja itu tidak tahan melihat Dian menjadi pusat perhatian semua orang. Padahal dirinya sendiri juga nona muda Bramasta, tetapi kalah telak dari Dian.


"Tidak boleh! Acara belum selesai!" ujar Adi dengan tegas.


Harga dirinya yang tinggi membuat Adi menolak bersikap seperti pengecut dan melarikan diri. Jika keluarga Bramasta meninggalkan acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya sekarang, Adi bisa memastikan mereka akan masuk ke dalam berita besok pagi dan tentunya bukan hal yang patut dibanggakan.


Lagi pula keris antiknya masih berada di tangan Dian. Adi memutuskan menunggu acara selesai dan meminta keris antiknya ke Jackson.


Adi yakin Jackson akan memberi muka kepadanya sebagai orang tua yang seangkatan dengan Agung Wijaya, kakek Jackson sehingga keris antik bisa dibawa pulang dengan aman.


Beberapa saat kemudian keluarga kecil Wijaya turun dari atas panggung dan pembawa acara mengumumkan jamuan makan malam sudah dipersiapkan.


Para tamu undangan pun mengambil makanan dari meja buffet serta mengambil tempat duduk untuk mencicipi hidangan makan malam yang mewah.


Sementara keluarga kecil Wijaya duduk bersama di depan sebuah meja bundar yang besar. Para pelayan hotel menghidangkan makanan di atas meja.


Sebagai tuan rumah acara malam ini,Jackson dan keluarga tidak perlu mengantri untuk mengambil makanan di meja buffet, melainkan dihidangkan oleh para pelayan hotel.


Acara makan malam berjalan lancar di iringi permainan musik klasik dari para musisi di atas panggung.


Meja makan keluarga Bramasta terkesan muram. Laura, Anastasia, dan Gisel tidak begitu menikmati hidangan mewah di atas piring mereka. Semua makanan lezat itu terasa hambar di lidah mereka.


Sementara Adi mencicipi makanan dalam porsi kecil, sedangkan Stefan sama sekali tidak mengambil makanan apa pun dan hanya meneguk anggur merah hingga beberapa gelas jumlahnya.


Sesekali pandangan mata Stefan jatuh ke meja makan keluarga Wijaya, tepatnya ke tubuh Dian. Gadis muda itu makan dengan tenang dan terlihat jelas mengobrol riang dengan keluarga kecilnya. Sherina pun semeja dengan Dian dan duduk di samping Chandra.


Stefan melihat meja besar yang berdampingan dengan meja keluarga Wijaya. Adrian, Raisa, Leon, Kelvin, dan Natasha berada di sana. Bahkan ada sepasang suami istri yang sangat familiar di mata Stefan.


Stefan berusaha berpikir keras siapa sepasang suami istri itu dan akhirnya menemukan jawabannya. Mereka adalah Michelle dan Felix yang merupakan teman baik Jackson dan Rossy. Mereka berdua sering muncul di dalam majalah maupun media sosial, mempromosikan Healing Hands Hospital.

__ADS_1


Stefan bisa mengenali mereka karena dirinya tertarik dengan bakat Dion, putra tunggal Michelle dan Felix, yang merupakan ilmuwan fisika terkenal. Stefan ingin mengajak Dion bergabung dan membantu dalam proyek AI Perusahaan Alpha.


***


Satu jam kemudian setelah para tamu undangan selesai mencicipi hidangan makan malam, Jackson membawa Dian menemui para rekan bisnis untuk memperkenalkan Dian secara pribadi dan dalam waktu yang singkat.


Satu demi satu meja didatangi oleh Jackson dan Dian. Para tamu undangan menyambut Dian dengan ramah. Hingga akhirnya Jackson membawa Dian kembali ke meja makan mereka.


Wajah Adi Bramasta menjadi hitam seketika karena Jackson sengaja melewatkan meja tempat keluarga Bramasta berada.


Laura, Anastasia, dan Gisel memendam kekesalan dan amarah didalam hati. Mereka tidak berani bertindak sesuka hati karena melihat Adi juga terdiam dengan wajah yang muram.


***


Acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya hampir berakhir. Pembawa acara mempersilakan Jackson dan Rossy naik ke atas panggung untuk memotong kue ulang tahun yang mewah dengan 7 tingkat.


Para tamu undangan pun berkumpul di bawah panggung termasuk keluarga Bramasta. Adi menarik napas lega karena sudah saatnya berada di penghujung acara.


Jackson memegang erat tangan Rossy dan bersama-sama memotong kue dari tingkat paling atas ke bawah. Tepuk tangan meriah menggema di dalam ballroom hotel.


Puluhan pelayan hotel lainnya membawa nampan berisi piring kecil kosong dan meletakkan setiap potongan kue kecil di atas piring, lalu membagikannya ke para tamu undangan.


Perhatian para wartawan fokus kepada Dian. Gadis muda itu naik ke atas panggung secara tiba-tiba. Pembawa acara segera memberikan mikrofon ke Dian.


Firasat buruk menghantui pikiran anggota keluarga Bramasta kecuali Stefan karena Dian menatap ke arah mereka sambil tersenyum penuh misteri. Bahkan Adi merasakan kepalanya berdenyut keras.


"Para tamu undangan sekalian, di penghujung acara aku ingin mengumumkan sesuatu," ucap Dian dengan suara yang jernih.


Para wartawan segera bersiap memegang kamera masing-masing menyambut pengumuman dari Dian. Malam ini satu demi satu pengumuman dari anggota keluarga Wijaya, sangat membuat semua orang terkejut setengah mati sehingga mereka semakin penasaran dengan apa pengumuman dari Dian.


"Beberapa waktu yang lalu, aku membeli keris antik dari pelelangan amal pribadi," ucap Dian sambil berhenti sejenak, melihat reaksi Adi Bramasta.


Kakek tua itu terlihat panik dan gelisah serta menatap tajam Dian. Dian tersenyum lebar dan mendekatkan mikrofon ke bibir nya lagi.


"Keris antik itu akan…."


"Tunggu sebentar!" Adi berteriak keras dan maju mendekat panggung. Semua orang yang berada di ballroom hotel menatap pria tua itu dengan penasaran.

__ADS_1


"Dian! Keris antik itu pusaka keluarga Bramasta. Aku bersedia membelinya dengan harga sepuluh kali lipat!" ujar Adi.


Semua wartawan menatap saksama reaksi Dian terhadap penawaran yang fantastik dari Adi.


"Pak Adi! Aku sangat kaya dan tidak kekurangan uang. Lagi pula keris antik sangat berharga dan tidak bisa dibandingkan dengan nilai uang. Oleh karena itu aku memutuskan menyumbangkan keris antik ke museum secara gratis!" kata Dian.


"Apa?" teriak Adi dengan wajah pucat. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan berhasil ditangkap oleh Stefan dan Laura.


"Pak Tjokorda. Silakan naik ke atas panggung," ucap Dian.


Seorang pria paruh baya berpakaian rapi dan berwibawa naik ke atas panggung dan berdiri di samping Dian.


"Bapak Tjokorda adalah kurator museum. Saya serahkan keris antik untuk dilestarikan di museum agar semua orang yang menghargai sejarah bisa menikmatinya bersama. Saya yakin museum adalah tempat yang paling tepat untuk keris antik dari pada di Mansion Bramasta. Saya juga yakin Pak Adi akan sepemikiran denganku," kata Dian panjang lebar dengan tenang.


Suara tepuk tangan menggema dari para tamu undangan. Mereka semua mendukung keputusan Dian.


Dian mengambil kotak panjang yang berisi keris antik dari tangan salah satu pelayan mansion Wijaya, yang bersama Dian di ruang ganti tadi, lalu menyerahkan kotak itu ke tangan Tjokorda.


"Terima kasih nona Dian!" jawab Tjokorda.


"Sama-sama," jawab Dian.


Tjokorda membawa kotak itu turun dari panggung dan berjalan meninggalkan ballroom hotel karena tugasnya sudah selesai.


Sementara Adi Bramasta memandang punggung Tjokorda yang menjauh sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Kedua matanya sudah memerah, tetapi keris antik tidak mungkin kembali ke tangan Keluarga Bramasta selamanya.


***


Selamat siang readers. Hari ini author up satu bab saja ya karena ada urusan keluarga sampai malam sehingga gak sempat ketik naskah 🙏


Sampai jumpa di bab besok. Happy weekend.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2