HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 91. Teman wanita pendamping


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, Dian menerima panggilan telepon dari David.


"Nona Dian. Anjas pergi ke salah satu lounge hotel. Aku melihatnya bertemu dengan Pak Adi Bramasta," lapor David melalui sambungan telepon.


"Baiklah. Kamu masih di sana?" tanya Dian.


"Iya nona Dian. Perlu aku memotret mereka secara diam-diam?" tanya David.


"Tidak perlu. Kamu bisa pulang beristirahat sekarang," jawab Dian.


"Baik nona Dian," ucap David.


Dian mematikan speaker handphone dan berkonsentrasi menyetir mobilnya menuju Mansion Wijaya.


"Apakah proyek kawasan vila mewah Perusahaan Bramasta yang dimaksud oleh Anjas tadi?" batin Dian.


Dian memutuskan menelepon Stefan setelah tiba di mansion nanti. Dian ingin tahu apa tujuan Adi berhubungan dengan Anjas.


Walaupun Dian bisa menggunakan kemampuan hacker nya untuk mengetahui hubungan Anjas dengan Perusahaan Bramasta, Dian ingin menanyakannya langsung ke Stefan untuk mencari tahu apakah pria muda itu juga mengetahui kedekatan Anjas dengan Adi Bramasta.


***Mansion Bramasta***


Stefan duduk bersandar di atas tempat tidur sambil membaca dokumen yang dibawanya pulang. Sesekali matanya melirik ke handphone yang terletak di atas meja nakas, samping tempat tidur.


Stefan sedang menunggu balasan sms dari Dian. Setiap malam Stefan akan mengirim sms ke Dian menanyakan kabar gadis muda itu dan juga melaporkan semua yang dikerjakan olehnya hari ini.


Meskipun Stefan merasa dirinya terkesan cerewet, tetapi Stefan ingin Dian mengetahui segala hal tentangnya. Balasan singkat dari Dian selalu bisa membuat hati Stefan bahagia.


Suara handphone Stefan berdering. Mata Stefan membulat besar saat membaca nama yang muncul di layar handphone.


DIAN


Ini pertama kalinya Dian berinisiatif meneleponnya sehingga Stefan merasa gugup dan gembira.


"Halo Dian," sapa Stefan saat menerima sambungan telepon.


"Fan. Kamu sudah mau tidur?" tanya Dian.


"Belum. Aku masih bisa ngobrol lama di telepon denganmu," jawab Stefan.


Entah mengapa muncul keberanian dalam diri Stefan untuk berkata manis terhadap Dian. Stefan menganggap telepon dari Dian sebagai sinyal gadis muda itu mulai membuka pintu hati untuknya lagi.


"Aku mau nanya tentang proyek perusahaanmu. Kalau kamu keberatan untuk menjawabnya, juga tidak apa-apa," kata Dian.

__ADS_1


"Aku akan memberitahukan apa pun yang kamu ingin tahu," jawab Stefan dengan cepat.


Ada sedikit rasa kecewa dalam hati Stefan karena telepon dari Dian menyangkut masalah perusahaan dan bukan pribadi, tetapi Stefan optimis dirinya bisa meluluhkan hati Dian suatu saat nanti.


"Proyek kawasan vila mewah sudah dimulai kah? Kamu sudah mendapatkan developer yang cocok?" tanya Dian.


"Proyeknya masih belum dimulai. Ada beberapa kandidat developer," jawab Stefan jujur.


"Kalau boleh tahu, Perusahaan Bramasta berniat membayar lebih dari 20% harga di pasaran?" tanya Dian.


"Tidak mungkin! Perusahaan Bramasta tidak mungkin melakukan perjanjian kerja sama yang merugikan," jawab Stefan.


Dian terdiam sejenak setelah mendengar jawaban Stefan. Stefan pun mulai mencerna arti pertanyaan Dian dan mengambil kesimpulan dengan cepat.


"Apakah proyek real estate Perusahaan Jayanata mengalami masalah dengan developer?" tanya Stefan.


"Iya," jawab Dian.


"Developer nya berhubungan dengan Perusahaan Bramasta?" tanya Stefan sekali lagi.


Dian tertawa kecil mendengar pertanyaan Stefan karena pria muda itu bisa menebak tepat masalah yang sedang terjadi.


"Anjas, developer Perusahaan Jayakencana bertemu dengan Pak Adi malam ini," jawab Dian dengan jujur.


Kali ini Stefan yang terdiam sejenak karena jawaban Dian.


"Tidak perlu, Stefan. Aku sudah memutuskan mencari developer baru. Aku memberitahumu masalah ini agar kamu bisa lebih waspada," ucap Dian.


Dian berfirasat Adi mempunyai rencana tersembunyi terhadap Stefan. Apa lagi belakangan ini Adi terlihat aktif kembali di Perusahaan Bramasta dan itu bukanlah hal yang menguntungkan bagi Stefan jika di dalam satu perusahaan ada dua orang pemimpin. Padahal Adi sudah pensiun dini dan menyerahkan semuanya ke Stefan lima tahun yang lalu.


"Aku senang kamu perhatian padaku." Stefan melancarkan rayuan gombal ke Dian lagi.


"Tentu saja. Aku selalu perhatian ke semua temanku," jawab Dian.


"Tidak apa. Nanti aku akan menjadi teman spesial nomor satu," kata Stefan sambil menggertakkan giginya karena tahu Dian memang memiliki beberapa teman pria yang sangat menonjol dan sering membuat Stefan merasa cemburu dengan kedekatan mereka.


Ketika Dian ingin mengakhiri sambungan telepon, Stefan mencoba menahannya karena masih ingin mendengar suara Dian. Stefan sengaja mencari topik pembicaraan yang lain.


"Dian. Sabtu ini ada jamuan makan malam bisnis. Bisakah kamu menjadi teman wanita pendampingku?" tanya Stefan dengan hati-hati.


Stefan tahu Perusahaan Jayanata pasti mendapatkan undangan yang sama sehingga dirinya ingin hadir bersama Dian di sana.


"Sabtu ini? Kak Kelvin sudah mengajakku menjadi partner nya," jawab Dian.

__ADS_1


Jamuan makan malam bisnis sabtu ini mengundang beberapa selebriti dan model. Kelvin termasuk salah satu undangan. Seharusnya Kelvin pergi bersama Natasha, tetapi Natasha ada pertunjukkan fashion show di Jakarta sehingga Dian menggantikan Natasha menjadi pendamping Kelvin.


"Kelvin? Kelvin pernah bilang nyawanya milik kamu dan kamu dilahirkan di dunia ini karena dia. Apa maksudnya?" tanya Stefan.


Pernyataan Kelvin beberapa waktu yang lalu itu membuat perasaan Stefan tidak karuan karena sampai saat ini dirinya tidak mengerti maksud Kelvin.


"Bukankah pernyataan Kak Kelvin sudah jelas? Aku yakin kamu pasti mengerti," jawab Dian sambil tertawa kecil.


Dian bisa membayangkan wajah terkejut dan bingung Stefan saat kebenaran Kelvin adalah kakak dan juga saudara kembar Chandra terungkap.


"Aku juga ingin membuat pernyataan," ucap Stefan serius.


"Pernyataan apa?" tanya Dian.


"Nyawaku adalah milikmu dan aku dilahirkan untuk menemukanmu!" jawab Stefan.


Pipi Dian merona merah karena perkataan Stefan. Untung saja saat ini mereka menggunakan telepon dan bukan bertatap muka secara langsung.


Sementara Stefan menjadi gelisah karena Dian terdiam dalam waktu lama.


"Dian. Kamu percaya perkataanku?" tanya Stefan dengan suara bergetar.


"Iya. Aku percaya," jawab Dian.


Kali ini telinga Stefan yang merona merah karena merasa malu. Ini pertama kali Stefan memberikan pernyataan cinta ke Dian, bahkan pria muda itu bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri saat ini.


"Good night Stefan," ucap Dian.


"Good night Dian. See you di jamuan makan malam sabtu ini," kata Stefan.


"Iya. Aku tetap pergi bersama Kak Kelvin," kata Dian.


"Aku mengerti. Lain kali kamu harus menjadi pasanganku. Sabtu ini aku pergi sendiri," ucap Stefan.


"Baiklah," jawab Dian.


***


Selamat malam readers. Bab ini full Dian dan Stefan 🥰🥰🥰


Jangan lupa baca kelanjutan cerita besok ya. Ada pertunjukkan menarik di jamuan makan malam. Identitas Kelvin pun akan terungkap di bab besok 🤗


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2