
***Ballroom hotel jamuan makan malam***
Billy terkejut melihat ekspresi wajah dingin Dian sehingga
mengikuti arah pandangan mata gadis muda itu untuk mengetahui kemunculan siapa yang menyebabkan suasana hati Dian menjadi buruk.
Anastasia berkacak pinggang menatap penuh kemarahan ke Dian. Sementara Ayu dan Indah, kedua teman sosialitanya berdiri di sisi kiri dan kanan. Mereka hanya mengikuti ajakan Anastasia dan tidak tahu apa yang ingin dilakukan oleh gadis manja itu terhadap mantan kakak iparnya.
"Adik Stefan? Pasti mau cari gara-gara dengan Dian lagi," batin Billy.
Billy memperlihatkan wajah yang dingin setelah mengenali Anastasia, sedangkan Dian pun mengumpat kesialannya malam ini bisa bertemu dengan Anastasia yang terlihat jelas memperlihatkan sikap permusuhan.
Dian tidak habis berpikir kenapa Laura dan Anastasia masih saja mencari masalah dengannya setelah dirinya bercerai dengan Stefan.
Bukankah sejak awal Laura dan Anastasia menginginkan Dian meninggalkan Mansion Bramasta dan bercerai dengan Stefan?
Sekarang keinginan ibu dan anak tidak tahu diri itu sudah terkabul, tetapi mereka masih saja ingin menginjak-nginjak harga diri Dian.
"Kamu mau apa?" tanya Dian tanpa basa-basi. Anggur merah yang nikmat diatas meja menjadi tidak menarik perhatian Dian karena kemunculan Anastasia.
"Dian! Kamu sudah bercerai dengan kak Stefan dan masih saja mau menggodanya. Jangan harap pintu Mansion Bramasta akan terbuka untukmu. Mimpimu untuk rujuk tidak akan kesampaian!" ujar Anastasia.
Kemarahan dan kecemburuan terhadap gaun pesta yang dikenakan oleh Dian membuat Anastasia menggunakan kejadian di tengah ballroom untuk menghujat Dian.
Selain itu Dian menjadi pusat perhatian para tamu undangan malam ini sehingga Anastasia ingin membuat Dian kehilangan muka di acara jamuan makan malam ini.
"Kamu siapa? Wajah jelek dan mulut busukmu membuatku mual!" sindir Billy sambil menunjuk Anastasia.
Mata Anastasia spontan melotot ke arah Billy.
"Kamu yang jelek dan bau!" teriak Anastasia.
Teriakan Anastasia membuat beberapa tamu undangan datang mengelilingi mereka. Anastasia tersenyum angkuh dan semakin yakin dirinya bisa mempermalukan Dian.
"Dian yang mengajukan cerai dan membuang keluarga Bramasta. Kamu jangan mencari masalah lagi!" ketus Billy.
"Tadi Dian mencium kak Stefan. Semua orang di ballroom ini melihatnya jelas!" ujar Anastasia tidak mau kalah.
Billy terkejut mendengar perkataan Anastasia, tetapi rasa terkejutnya menghilang dengan cepat. Billy percaya Dian tidak mungkin mencium Stefan di tempat umum atas inisiatif gadis muda itu. Pasti terjadi sesuatu sebelum kedatangannya dan sikap muram Dian tadi berhubungan dengan ciuman itu.
"Satu ciuman menandakan apa? Jangan bilang kamu belum pernah berci*man dengan pria yang berbeda," ujar Billy dengan santai.
Anastasia semakin kesal dengan jawaban Billy. Apa lagi Dian duduk tenang di samping Billy dan tidak memberi ekspresi apa pun sehingga membuat Anastasia terlihat seperti wanita gila yang membuat keributan di acara jamuan makan malam.
"Dian. Aku peringatkan kamu sadar diri dengan statusmu. Kak Gisel pasangan serasi Kak Stefan. Mereka saling mencintai. Jangan harap kamu bisa rujuk dengan kak Stefan. Mansion Bramasta tidak akan menerima sampah sepertimu!" umpat Anastasia.
__ADS_1
Dian tertawa kecil mendengar provokasi dari mulut Anastasia. Dian tahu jika dirinya masih diam dan tidak membalas perkataan Anastasia maka masalah ini akan bertambah panjang.
"Aku yakin para tamu undangan yang hadir di sini sudah mengetahui kabar perselingkuhan Stefan dan Gisel. Aku berterima kasih kepada nona Sia yang mengkonfirmasi fakta Stefan berselingkuh," kata Dian dengan tenang.
Wajah Anastasia pucat seketika. Perkataannya berubah menjadi bumerang. Jika saja tersebar, maka besar kemungkinan akan mempengaruhi saham Perusahaan Bramasta. Stefan dan kakek pasti akan menghukumnya lagi.
Para tamu undangan saling berbisik dan menunjuk-nunjuk Anastasia sehingga membuatnya malu.
Kenapa semuanya berjalan tidak sesuai rencana awalnya? Seharusnya Dian yang dipermalukan, bukan dirinya. Anastasia tidak mau menyerah sehingga berjalan mendekati Dian yang duduk tenang di samping Billy.
"Kalian jangan tertipu dengan penampilan gaun mewah nya! Dia cuma gadis miskin! Dia hanya dijadikan pembantu di Mansion Bramasta! Memasak, nyuci, menyapu pekerjaannya setiap hari. Sekarang setelah bercerai, dia rela menjadi wanita simpanan dari pria yang berbeda demi kekayaan yang melimpah!" teriak Anastasia sambil menunjuk Dian.
"ANASTASIA!"
Tubuh Anastasia gemetaran mendengar namanya dipanggil. Wajahnya berubah menjadi pucat karena mengenali jelas siapa pemilik suara itu.
Anastasia membalikkan tubuhnya perlahan dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Stefan yang berdiri di belakangnya.
"Kak Stefan!" kata Anastasia.
Sementara Chandra yang mendengar jelas hinaan Anastasia, berlari cepat menghampiri Dian dan memegang kedua tangan gadis muda itu. Wajahnya sama merahnya dengan wajah Billy. Mereka berdua menatap tajam ke Anastasia.
Putri kecil yang selalu disayang dan dijaga oleh mereka semua, ternyata dijadikan pembantu di Mansion Bramasta.
***
Stefan menyesal memperbolehkan Rizky membawa Anastasia ke jamuan makan malam sehingga adik manjanya membuat kekacauan lagi.
Rizky menghampiri Anastasia dan menarik tangannya. Rizky sama sekali tidak berani menatap Dian. Rizky takut Dian mencurigai dirinya mempunyai hubungan dengan kekacauan yang dibuat oleh Anastasia saat ini.
Rizky lah yang segera mencari Stefan setelah melihat Anastasia menghampiri Dian. Rizky tidak menyangka adik manja ini akan membeberkan semua keburukan yang terjadi di dalam Mansion Bramasta.
Anastasia menepis tangan Rizky dengan kuat. Di bawah tatapan mata dua teman sosialita dan para tamu undangan membuat Anastasia tidak mau kehilangan muka dan harga dirinya di tempat umum.
"Aku tidak bersalah! Kenapa harus pulang? Aku hanya menegurnya untuk tidak menggoda kak Stefan lagi!" ujar Anastasia.
Dian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Anastasia. Anastasia terkejut serta wajahnya pucat saat melihat tangan Dian memegang segelas anggur merah.
Anastasia masih mengingat jelas Dian menyiramnya dengan anggur merah di restoran beberapa waktu yang lalu sehingga bersikap waspada.
Dian berhenti tepat di hadapan Anastasia dan mencicipi satu teguk anggur merah di tangannya.
"Nona Sia. Aku menikmati jamuan makan malam dengan suasana hati senang dan kamu sengaja membeberkan aib keluarga Bramasta hanya untuk mempermalukanku. Kamu benar-benar BODOH!"
Dian sengaja memberi penekanan pada saat mengucapkan kata bodoh.
__ADS_1
"Kamu yang bodoh! Dasar wanita murahan!" teriak Anastasia dan ingin bergerak maju menjambak sanggul Dian.
Stefan menghadang di depan Dian dan mencekal pergelangan tangan Anastasia dengan keras sehingga gadis manja itu mengeluh kesakitan. Air mata sudah bercucuran di pipi Anastasia.
"Sia! Minta maaf ke Dian!" perintah Stefan setelah melepaskan pergelangan tangan Anastasia.
"Tidak mau! Sampai mati pun aku tidak akan minta maaf kepadanya!" bantah Anastasia sambil menatap Dian penuh kebencian.
Ekspresi wajah Stefan semakin dingin. Dirinya tidak peduli menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Stefan bertekad akan memaksa Anastasia meminta maaf ke Dian.
"Tidak perlu minta maaf!" ucap Dian.
Para tamu undangan menatap Dian bersamaan dan mencurigai pendengaran mereka mengalami masalah. Bagaimana mungkin Dian tidak mau permintaan maaf dari orang yang memperlakukannya sebagai pembantu ?
"Nona Sia tidak perlu meminta maaf atas perbuatan jahatnya terhadapku karena dia tidak ikhlas dan pasti akan mengulanginya lagi," lanjut Dian.
Anastasia mendengus kasar dan mengangkat dagunya, memperlihatkan sikap angkuh yang luar biasa.
Splash!
"Wanita gila!" teriak Anastasia dan ingin menerjang Dian, tetapi kali ini Rizky yang menahannya dengan memeluk pinggang Anastasia dari belakang.
Anastasia masih tidak menyerah dan meronta-ronta sambil menendang-nendang kakinya di udara. Semua orang memiliki pemikiran yang sama bahwa Anastasia lah wanita gila sesungguhnya saat ini.
"Aku juga tidak perlu minta maaf karena aku akan mengulanginya lagi," ujar Dian sambil tersenyum lebar, lalu meletakkan gelas wine kosong di atas meja.
Billy dan Chandra mengapit Dian di sisi yang berlawanan. Mereka berdua menyiku tangan di pinggang sehingga Dian merangkulkan tangan kiri dan kanannya ke lengan kedua pria itu.
"Ayo kita pulang sekarang," ajak Chandra.
"Pertunjukan wanita gila sudah selesai," lanjut Billy dengan suara yang keras.
Mereka bertiga tertawa kecil bersamaan dan meninggalkan ballroom dengan santai.
***
Selamat malam readers.
Ditunggu dukungannya untuk novel ini ya🥰🥰🥰
Sampai jumpa di bab besok.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE