HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 43. Bekingan Anggi


__ADS_3

***Ruang kantor Dian di Perusahaan Wijaya***


Dian tersenyum samar sambil menggelengkan kepalanya mendengar suara keras hentakan sepatu high heels dari kaki Anggi, disertai pintu ruang kantor tertutup dengan kuat.


Padahal foto dan rekaman Anggi masih ada di tangan Dian, tetapi Anggi terlihat tidak begitu peduli. Hal itu membuktikan Anggi masih ada bekingan dan pastinya berasal dari Perusahaan Jayanata.


Dian memang sengaja memancing Anggi untuk memperlihatkan belangnya lagi. Sikap protes Anggi terhadap daftar nama di tim khusus proyek AI membuktikan Anggi masih ingin mengambil kesempatan mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri.


"Nona Dian curiga manajer Anggi ada bekingan di Perusahaan Jayanata?" tanya David dengan hati-hati.


"Tebakanmu tepat. Dia mau cari mati, aku akan merestuinya," jawab Dian.


"Kecerdikan nona Dian tidak kalah dari CEO Chandra," batin David.


"David. Kapan aku ada jadwal kosong untuk inspeksi Perusahaan Alpha?" tanya Dian.


David membuka jurnal yang berisi jadwal kerja Dian, lalu menjawab pertanyaan gadis muda itu.


"Lusa jam satu siang, nona Dian ada jadwal kosong selama dua jam," jawab David.


"Hubungi CEO Erik dan beritahu aku akan inspeksi perusahaannya lusa jam satu siang!" perintah Dian.


"Baik nona Dian," jawab David dan meninggalkan ruang kantor untuk mengerjakan tugas dari Dian.


***


Handphone Dian berdering sehingga gadis muda itu mengangkatnya setelah membaca nama yang muncul di layar handphone.


"Ada apa Leon?" tanya Dian.


"Princess sudah baca majalah yang terbit pagi ini?" Leon bertanya balik ke Dian.


"Tentu saja. Tidak kusangka majalah Sunshine juga menerbitkannya," jawab Dian.


"Iya. Kak Chandra menelepon langsung papa dan meminta izin. Tentu saja papa tidak menolaknya," ucap Leon.


"Minggu ini aku akan berkunjung ke Mansion Saputra, bertemu om Adrian dan aunty Raisa," kata Dian.


"Baiklah. Aku akan memberitahu papa mama nanti," jawab Leon.


"Oh ya princess. Kamu sudah menonton rekaman cctv yang menyebar di internet?" tanya Leon.


"Belum. Bukannya hampir sama dengan isi majalah Kiss dan Sunshine?"


"Tentu saja tidak! Di internet lebih lengkap dan menarik. Stefan menampar adiknya saat kamu pergi," kata Leon.


"Oh ya?" jawab Dian dengan nada tidak percaya.


"Princess bisa menontonnya di waktu senggang. Semua video di internet akan beredar selama satu minggu," kata Leon.


"Baiklah Leon. Aku lanjut kerja dulu ya," ucap Dian.


"Oke Dian. See you on Sunday," kata Leon.


"See you too," ucap Dian.


Ketika Dian ingin meletakkan handphone di atas meja, terdengar bunyi notifikasi pesan masuk. Dian pun membuka pesan itu.

__ADS_1


"Dian. Aku tidak akan membiarkan Sia mengganggumu lagi."


Dian terpaku beberapa saat menatap beberapa kata yang muncul di layar handphone yang berasal dari nomor asing.


Nomor yang tidak tersimpan di dalam kontak handphone Dian, tetapi nomor itu sudah di hafal luar kepala oleh gadis muda itu.


Tidak salah lagi. Itu nomor handphone Stefan. Nomor yang terpasang di name tag plastik koper Stefan saat kopernya hendak dicuri dua pria di bar Las Vegas.


"Dari mana Stefan tahu nomorku?" batin Dian.


Suara ketukan pintu dari luar membuat Dian tersadar dari lamunannya.


"Masuk!" ucap Dian.


David berjalan menghampiri meja kerja Dian.


"Ada apa David?" tanya Dian.


"Pak Husin mengundang nona Dian bertemu di ruang kantornya," jawab David.


"Husin? Salah satu pemegang saham Perusahaan Jayanata?" tanya Dian.


"Iya nona Dian," jawab David.


Semua data pemegang saham Perusahaan Jayanata sudah dibaca oleh Dian sebelum menjadi wakil CEO. Husin termasuk salah satu pemegang saham sebesar dua persen yang akan pensiun dalam waktu dekat.


"Aku akan menemuinya sekarang," jawab Dian dengan santai.


Di Perusahaan Jayanata, hanya Chandra dan David saja yang mengetahui identitas asli Dian. Dian penasaran drama apa yang akan dimainkan oleh pemegang saham tua itu dan pastinya berhubungan dengan Anggi.


Dian menghentikan langkah kakinya dan melihat ke arah David.


"Iya nona Dian. CEO Erik meminta nomor handphone nona untuk memudahkannya menghubungi nona nanti," jawab David jujur.


Dian menghela napas panjang, lalu berjalan meninggalkan David yang kebingungan.


"Apakah aku melakukan kesalahan?" batin David sambil memandang punggung Dian yang menjauh.


***


Dian mengetuk pintu ruang kantor Husin. "Masuk!" Terdengar suara pria tua dari dalam ruangan.


Dian membuka pintu dan berjalan menghampiri meja kerja Husin. Dalam waktu singkat, gadis muda itu sudah berdiri di hadapan Husin.


"Ada apa Pak Husin mencariku?" tanya Dian sambil tersenyum.


Mata Husin berbinar menatap wajah cantik Dian, tetapi sesuatu muncul di pikirannya sehingga wajahnya menjadi dingin.


"Duduklah!" ucap Husin sambil menunjuk kursi di hadapannya.


Dian duduk dengan tenang dan melipat kedua tangan di depan dada.


"Nona Dian sangat cantik. Pantas saja CEO Chandra menggunakan kekuasaannya membuatmu duduk di posisi wakil CEO," ujar Husin.


"Rubah tua ini pasti ada rencana licik," batin Dian.


Dian sangat mengerti maksud perkataan Husin bahwa tanpa dukungan Chandra, dirinya tidak mungkin mendapatkan jabatan itu.

__ADS_1


Dian hanya tersenyum lebar dan tidak ada maksud memberikan reaksi dan jawaban apa pun atas tuduhan Husin.


Beberapa saat kemudian Husin mendengus kasar dengan sikap santai Dian sehingga memutuskan memperjelas maksud perkataannya.


"Posisi kamu ini seharusnya untuk Anggi!" ujar Husin.


"Buktinya aku yang cocok menjabat posisi ini sekarang," balas Dian.


Wajah Husin menjadi semakin merah mendengar bantahan Dian.


"Jangan terlalu sombong di tempat kerja jika tidak mau menyesal di kemudian hari!" ancam Husin.


Senyum kecil masih menghias di sudut bibir Dian. Gadis muda itu berdiri dari kursinya. "Pak Husin menyia-nyiakan waktuku yang berharga. Aku pergi sekarang," ujar Dian dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kantor.


"Dian! Tambahkan nama Anggi ke dalam tim khusus proyek AI!" perintah Husin dengan arogan.


Dian menatap Husin dari atas kepala hingga ujung kaki. Kali ini Dian semakin yakin bekingan Anggi adalah pria tua di hadapannya. Di dasi Husin masih tertinggal bekas lipstik dengan warna yang sama di bibir Anggi tadi.


"Mereka berdua membuat kotor Perusahaan Jayanata," batin Dian.


Dian yakin Anggi pasti menemui Husin setelah keluar dari ruang kantornya dan meminta pria tua itu untuk memaksa dirinya memasukkan nama Anggi di tim khusus proyek AI.


Husin merasa tidak tenang melihat Dian menatapnya intens. Aura dingin yang memancar dari tubuh Dian pernah dirasakan oleh Husin saat berhadapan dengan Chandra.


"Kamu dengar tidak perintahku?" tanya Husin dengan suara yang keras.


Husin yakin gadis muda tidak berpengalaman kerja seperti Dian akan merasa takut dengannya.


"Aku dengar dengan jelas," jawab Dian. Senyum lebar mengembang di wajah keriput Husin karena mengira ancamannya berhasil.


"Aku tidak akan melakukannya karena tidak adil terhadap karyawan lain," lanjut Dian.


"Apa katamu?" teriak Husin sambil memukul meja dengan kepalan tangannya.


"Karena pendengaran pak Husin ada masalah, aku akan mengulanginya lagi. Anggi tidak akan masuk ke dalam tim khusus proyek AI," ucap Dian dengan tegas.


"Dian! Kamu kira ada CEO Chandra, kamu bisa bertindak sesuka hatimu? Aku akan…"


Dian memotong perkataan Husin dengan cepat.


"Memecatku? Aku tidak percaya dewan direksi akan memecatku karena Anggi. Apakah Anggi tidak memberitahumu bukti rahasia busuknya ada ditanganku? Dan satu lagi, jangan membuat Perusahaan Jayanata kotor dengan perbuatan busuk kalian di ruangan ini!" tukas Dian.


Dian berjalan meninggalkan Husin yang terduduk di kursinya dengan wajah pucat seperti warna kertas. Keringat dingin bercucuran dari atas kepalanya yang hampir botak.


Husin melepaskan dasi untuk mengelap keringat. Berbagai pertanyaan muncul di pikirannya. Bagaimana mungkin Dian bisa mengetahui apa yang dilakukannya bersama Anggi tadi? Apakah gadis muda itu hanya mengancam sembarangan saja?


Mata Husin terbelalak melihat bekas lipstik di dasinya. Husin pun segera membuang dasi ke dalam tong sampah. Untung saja dirinya menyadari saat ini. Jika tidak, singa betina di rumahnya bisa mengamuk tujuh hari tujuh malam dan pastinya wajah dan tubuhnya akan babak belur.


***


Selamat malam readers tercinta. Bab ini sudah panjang ya. Langkah awal Stefan menghubungi Dian melalui sms. Bucin akutnya nyusul setelah identitas Dian terbongkar ya 🀭.


Pertemuan mereka berdua akan berlanjut di bab besok supaya tidak menggantung lagi seperti gantungan baju πŸ˜…πŸ˜…πŸ™.


Happy weekend dan selamat berkumpul bersama keluarga.


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2