
***Ruang kantor Chandra di Perusahaan Jayanata***
Dian duduk di hadapan Chandra dengan wajah merah padam. Chandra meletakkan dokumen yang dibacanya di atas meja.
"Dian. Siapa yang membuatmu marah?" tanya Chandra dengan lembut.
"Kak Chandra. Ternyata Husin bekingan Anggi. Aku yakin beberapa proyek yang dipegang Anggi sebelumnya ada hubungan dengan Husin," jawab Dian dengan serius.
"Tebakanmu tepat," ucap Chandra.
"Kak Chandra sudah mengetahuinya sejak awal?" tanya Dian.
"Tentu saja aku tahu siapa saja pemegang saham yang tidak setia dengan Perusahaan Jayanata," jawab Chandra.
Dian menarik napas lega setelah mendengar jawaban Chandra. Dian yakin Husin tidak bisa bertindak jauh merugikan Perusahaan Jayanata karena Chandra sudah mengawasinya secara diam-diam.
"Aku yang akan menghadapi rubah tua itu. Kamu konsentrasi sama proyek AI Perusahaan Alpha saja," kata Chandra.
"Baik kak Chandra," jawab Dian dengan patuh.
"Dian. Aku dengar bahwa Stefan bermaksud turun tangan sendiri dalam kerja sama proyek AI," ucap Chandra.
"Tidak apa-apa kak Chandra. Hubunganku dengan Stefan hanya sebatas rekan bisnis," jawab Dian.
Dian tahu Chandra mengkhawatirkan perasaannya yang harus berhubungan dengan Stefan secara langsung untuk kepentingan perkembangan proyek AI.
"Besok aku dinas ke Amerika. Kamu mau nitip hadiah untuk om Michael dan aunty Chika?" tanya Chandra.
"Ada, kak Chandra. Nanti malam aku bawa ke kamar kakak," jawab Dian.
Selamat empat tahun Dian tinggal bersama Michael dan Chika di Amerika sehingga hubungan mereka sangat dekat.
"Baiklah. Semua urusan Perusahaan Jayanata, aku serahkan padamu lagi," ucap Chandra.
"Tenang saja kak Chandra. Jika ada yang berani macam-macam denganku selama kepergian kak Chandra, aku akan bersikap tegas," kata Dian.
"Aku selalu percaya dengan kemampuan adikku," jawab Chandra.
***Perusahaan Alpha***
Jam satu siang, Dian membawa David dan lima orang karyawan yang termasuk dalam tim khusus proyek AI tiba di Perusahaan Alpha. Dian sengaja memilih lima karyawan yang berasal dari departemen teknologi.
__ADS_1
Erik menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan langsung membawa rombongan Dian mengunjungi ruang penelitian.
Dian kagum melihat beberapa produk hasil penelitian terbaru di ruang penelitian. Kemajuan eksperimen Perusahaan Alpha sangat bagus.
Erik menjawab setiap pertanyaan Dian tentang produk baru dengan antusias. Terlihat jelas Erik sangat bangga dan percaya diri dengan produk yang dihasilkan oleh para ilmuwan Perusahaan Alpha.
Tiba-tiba Dian merasakan sesuatu benda kecil dan lembut menabrak sepatu high heels nya sehingga gadis muda itu menundukkan kepala.
"Panda merah?" gumam Dian.
Dian yakin dugaannya tidak salah karena dirinya pernah melihat panda merah di Taman Safari.
Panda merah menatap Dian dengan sepasang matanya yang jernih dan bisa membuat siapa pun meleleh hatinya saat melihat hewan imut, lucu, dan menggemaskan ini.
Warna bulunya cokelat kemerahan dengan bagian lengan dan kaki berwarna hitam.
Bagian ekor yang lebat tebal dengan rnam cincin merah kekuningan yang sangat panjang.
Wajahnya terlihat mirip rakun yaitu sama-sama memiliki telinga yang tegak dan hidung yang berwarna hitam. Ukuran tubuhnya sebesar kucing rumahan.
"CEO Erik. Kenapa ada panda merah di sini?" tanya Dian.
CEO Erik tersenyum kecil mendengar pertanyaan Dian, lalu menlihat ke arah panda merah yang masih menatap Dian tanpa mengedipkan mata satu kali pun.
"Mao Mao. Jangan mengganggu tamu istimewa perusahaan," ucap Erik dengan suara lembut.
"Nama panda merah ini Mao Mao? Hewan peliharaan CEO Erik?" batin Dian.
"Aku suka mimi. Mimi sangat cantik," kata panda merah.
"Apa? Panda merah yang bisa bicara?" Dalam hitungan detik muncul pertanyaan yang sama dalam pikiran Dian dan rombongannya. Mereka semua menatap panda merah dengan lebih saksama lagi.
Dian membungkukkan badan dan mengangkat tubuh panda merah, lalu meletakkannya di pangkuan lengan. Dian menyentuh bulu di tubuh panda merah dan terasa sangat halus seperti bulu hewan asli.
Dian menatap sepasang mata panda merah dari dekat dan terlihat sinar infra merah di sana. Saat ini Dian yakin panda merah bukan hewan asli.
"Mao Mao merupakan hasil tes pertama dari tim eksperimen. Saat ini mereka sedang mengembangkan hewan peliharaan. Dia pasti diam-diam keluar dari ruang penelitian," jelas Erik.
"Apakah ini juga bagian dari proyek AI kerja sama kita?" tanya Dian dengan antusias sambil membelai bulu panda merah.
__ADS_1
Panda merah kecil sangat manja dan senang berada di dalam pelukan Dian.
"Tidak! Dia masih belum sempurna dan butuh beberapa bagian yang harus diperbaiki. Untuk sementara belum cocok dengan permintaan di pasaran," jawab Erik.
"Panda merah sangat imut. Pasti banyak yang menyukainya," kata salah satu karyawan dari rombongan Dian.
"Sebenarnya alasan utama adalah bahan yang digunakan untuk membuatnya sulit didapat dan cukup mahal sehingga nantinya memerlukan biaya yang cukup besar untuk produksi massal jika ingin dipasarkan dan pastinya harga jualnya juga mahal," kata Erik.
Walaupun Perusahaan Jayanata dan Bramasta bersedia memberikan modal untuk mendukung eksperimen dan penelitian yang dilakukan oleh Perusahaan Alpha, sangat disayangkan jika hanya fokus kepada satu produk saja sehingga Dian mengerti pertimbangan dan keputusan yang diambil Erik.
"Aku satu-satunya di dunia ini." Suara nyaring panda merah membuat rombongan Dian tertawa kecil.
Terlihat jelas teknologi yang digunakan didalam tubuh panda merah merupakan teknologi yang paling maju sehingga membuatnya memiliki kecerdasan berpikir seperti manusia umumnya.
Suara yang dihasilkan pun bukanlah suara kaku seperti robot, melainkan suara anak kecil normal yang lincah dan semangat.
"Mari kita lanjutkan inspeksi hari ini," ucap Erik ke Dian.
Dian menganggukkan kepala dan membungkukkan badan sedikit untuk meletakkan panda merah di atas lantai.
"Aku mau ikut mimi. Mimi sangat cantik dan wangi," ucap panda merah sambil memandang Dian.
"Mimi? Kenapa dia memanggilku mimi?" tanya Dian ke Erik.
"Itu salah satu kemampuan yang dimasukkan oleh ilmuwan yang merancangnya ke dalam sistem. Panda merah akan memanggil mimi ke wanita cantik yang disukainya dan pipi ke pria tampan yang disukainya," jawab Erik sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
Dian tertawa kecil mendengar penjelasan Erik. Dian memaklumi para ilmuwan memiliki sifat eksentrik masing-masing dan pastinya akan memasukkannya ke dalam program produk yang dibuatnya.
Dian penasaran ingin bertemu dengan ilmuwan yang membuat panda merah. Dian yakin ilmuwan itu pasti bisa berteman dekat dengan Dion karena memiliki hasrat dan minat yang sama dalam bidang penelitian.
"CEO Erik. Bolehkah aku membawa Mao Mao ikut serta dalam inspeksi?" tanya Dian.
"Tentu saja boleh," jawab Erik.
Mao Mao alias panda merah langsung melompat ke arah Dian setelah mendengar jawaban Erik. Dian pun menggendongnya di pangkuan lengan.
***
Selamat siang readers. Babang Stefan muncul di bab malam ya.
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE