
***Apartemen Regal Residence***
Dian memasak di dapur dengan cekatan. Aroma masakan harum memenuhi dapur.
"Masakan Mimi wangi sekali," puji Mao Mao.
Mao Mao duduk tenang di sekitar Dian dan mengamati saksama sejak awal Dian mulai memasak. Bahkan Mao Mao bisa mengucapkan secara tepat bahan-bahan apa saja yang digunakan oleh Dian.
"Mao Mao diprogram untuk bisa mencium aroma juga?" tanya Dian sambil mengaduk spaghetti dengan saos bolognese.
"Tentu saja," jawab Mao Mao dengan percaya diri.
Dian tertawa kecil melihat sepasang mata infra merah Mao Mao yang berbinar-binar. Sangat lucu dan menggemaskan.
Dian membuka kulkas untuk mengambil keju cheddar, yang akan dijadikan topping spaghetti bolognese masakannya. Kelvin yang sudah selesai mandi, berjalan menuju dapur.
"Wangi sekali masakan princess. Pasti sama enaknya dengan masakan mommy," kata Kelvin.
"Rambut Kak Kelvin di keringkan dulu. Bentar lagi sudah ready spaghetti nya," ucap Dian.
"Oke," jawab Kelvin sambil menggosok rambut gondrongnya yang basah dengan handuk kecil.
Terdengar bunyi bel menggema di dalam apartemen. Dian yang sedang memarut keju di atas spaghetti menoleh ke arah Kelvin.
"Kak Kelvin. Mungkin satpam apartemen mengantar koper kakak," kata Dian.
"Iya. Aku yang buka pintu saja," jawab Kelvin.
Kelvin berlari kecil ke arah pintu dan langsung membukanya tanpa melihat monitor LCD yang menempel di dinding dekat pintu masuk bagian dalam apartemen.
"Kenapa kamu bisa datang?" tanya Kelvin dengan ketus saat melihat Stefan berdiri di depan pintu.
Stefan pun sama terkejutnya melihat Kelvin berada di apartemen Dian. Apa lagi Kelvin dalam penampilan hanya mengenakan jubah mandi dan rambut setengah basah.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Stefan sambil menggertakkan gigi.
Popularitas Kelvin di Bali tidak perlu diragukan lagi. Tentu saja mengenai hubungan dekatnya dengan banyak wanita cantik juga tersebar hingga ke telinga Stefan.
Stefan menduga Kelvin menggunakan wajah tampan dan mulut manisnya untuk membohongi Dian sehingga merasa marah dan kesal.
Kelvin tersenyum samar melihat wajah merah padam Stefan. Kesempatan emas untuk membalas Stefan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Kelvin.
"Aku tinggal di sini," jawab Kelvin santai sambil menaikkan alisnya.
"Mereka tinggal bersama?" batin Stefan.
__ADS_1
"Kak Kelvin. Kenapa lama sekali?" Terdengar suara Dian dari belakang punggung Kelvin.
Dian muncul di sana sambil melepas celemek tubuhnya. Gadis muda itu pun terkejut melihat Stefan berdiri di depan pintu.
"Kenapa kamu bisa datang? Karena keris antik?" tanya Dian dengan nada menyelidiki.
"Bukan!" jawab Stefan cepat.
Dian menatap Stefan dengan wajah bingung. Jika bukan karena keris antik, kenapa Stefan bisa datang ke apartemennya? Bukankah Stefan seharusnya bersama Gisel?
"Aku…aku hanya ingin mengunjungimu," jawab Stefan.
"Dian tidak menerima tamu di malam hari," tolak Kelvin dengan tegas.
"Urusan Dian bukan urusanmu," ujar Stefan dan menatap tajam Kelvin.
Kelvin merangkul pundak Dian dan membalas tatapan tajam Stefan. "Tentu saja aku tidak mau ada orang yang mengganggu ketenanganku bersama Dian," kata Kelvin.
Dian bisa melihat jelas percikan api di mata Kelvin dan Stefan. Dian tahu Kelvin sengaja memprovokasi Stefan karena ingin memulai perkelahian.
Dugaan Dian sangat tepat. Kelvin ingin memberi pelajaran kepada Stefan yang telah menyia-nyiakan adik kesayangannya selama sebelas bulan.
"Kak Kelvin, spaghetti nya nanti dingin. Ayo kita makan bersama," ucap Dian sambil menarik tangan Kelvin, lalu menoleh ke arah Stefan.
"CEO Stefan. Kalau ada keperluan tentang proyek AI, bisa melakukan janji temu dengan sekretaris pribadiku terlebih dahulu," ucap Dian.
"Dian! Kamu tahu Chandra bersama temanmu?" tanya Stefan.
"Teman? Maksudmu Kak Rina? Kak Rina sekretaris Kak Chandra sekarang," jawab Dian dengan wajah tanpa beban.
Stefan termenung sejenak karena jawaban Dian. Tepat saat itu Kelvin mengambil kesempatan untuk menutup rapat pintu, sebuah benda kecil berlari keluar melewati kaki Kelvin dan berhenti di bawah kaki Stefan.
"Pipi! Mao Mao sangat rindu Pipi."
Mereka bertiga spontan menatap Mao Mao dengan perasaan yang berbeda. Stefan merasa terkejut, Kelvin merasa marah, dan Dian merasa kesal.
Stefan mengangkat tubuh Mao Mao dan menggendongnya. "Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Stefan.
"Vi menghadiahkanku ke Mimi. Sekarang aku milik Mimi," jawab Mao Mao jujur.
"Mao Mao! Kembali ke sini!" perintah Dian.
Kelvin merampas Mao Mao dari pelukan Stefan dan melemparkan ke arah Dian, lalu menutup pintu apartemen dengan keras.
"Benda milik kita, tidak boleh disentuh olehnya!" Kelvin sengaja berbicara dengan keras agar Stefan mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
Dian tersenyum canggung dan menarik tangan Kelvin menuju ruang makan.
"Aku akan menghubungi Vi untuk merubah program Mao Mao," ucap Dian.
Mao Mao merupakan robot hasil dari kecerdasan buatan sehingga Vivian sebagai penciptanya pasti mempunyai solusi untuk mengubah Mao Mao sesuai keinginan Dian.
"Baguslah kalau begitu," jawab Kelvin dengan suara yang melunak.
Ketika Kelvin ingin mencicipi spaghetti bolognese buatan Dian, suara bel menggema di dalam apartemen lagi.
"Pasti koperku. Kamu makan saja dulu," kata Kelvin dan berjalan meninggalkan ruang makan.
Dian menganggukkan kepala. Gadis muda itu sepemikiran dengan Kelvin. Tidak mungkin Stefan masih berada di luar dan menekan bel pintu.
Kali ini Kelvin memeriksa monitor LCD yang menempel di dinding dekat pintu masuk bagian dalam apartemen terlebih dahulu dan membukanya setelah memastikan satpam apartemen yang datang.
"Selamat malam tuan Kelvin. Ini koper milik tuan," ucap satpam apartemen dengan ramah.
"Terima kasih pak satpam," jawab Kelvin.
Wajah Kelvin berubah menjadi dingin saat melihat Stefan masih berdiri tidak jauh dari pintu dan berjalan ke arahnya sekarang.
"Benar-benar tricky man," batin Kelvin.
"Ada apa?" tanya Kelvin tanpa basa-basi.
"Sejauh mana hubunganmu dengan Dian?" tanya Stefan.
"Baiklah. Aku akan berbicara jujur padamu," jawab Kelvin dengan senyuman samar.
"Nyawaku milik Dian dan Dian dilahirkan di dunia ini karena aku juga," lanjut Kelvin sambil tertawa kecil dan menutup pintu apartemen tanpa ragu, meninggalkan Stefan yang berdiri mematung di luar serta mencerna maksud perkataan Kelvin.
Tentu saja Stefan tidak bisa menebak tepat maksud perkataan Kelvin, yang memang sesuai kenyataan.
Darah tali pusat Dian sewaktu lahir menyembuhkan penyakit leukimia Kelvin, puluhan tahun yang lalu.
***
Selamat siang readers. Author tunggu dukungan vote, favorit, tips iklan, hadiah, dan komentar positifnya ya 🤗🤗🙏
Gisel akan muncul di bab malam. Don't miss it 😂
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE