HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 55. Tempat penelitian rahasia


__ADS_3

***Ruang kantor Dian di Perusahaan Jayanata***


Dian membereskan dokumen di atas meja kerja dan bersiap untuk pulang ke apartemen. Malam ini Dian tidak perlu bertemu dengan rekan bisnis karena Chandra yang akan mewakilinya.


Chandra tahu selama dirinya dinas ke luar negeri, Dian harus lembur kerja setiap malam sehingga Chandra memberi kebebasan pada Dian untuk pulang kerja tepat waktu selama beberapa hari ke depan.


Lagi pula besok sore Dian harus menjemput Kelvin di airport dan membawanya pulang ke apartemen.


David mengetuk pintu ruang kantor dan masuk ke dalam setelah mendapat izin dari Dian.


David menatap Dian yang sudah berdiri sambil memegang tas kerja dan kelihatan sedang bersiap diri untuk pulang.


"Ada apa David?" tanya Dian.


"CEO Erik baru saja telepon dan ingin mengajak nona Dian makan malam bersama untuk membicarakan tentang perkembangan proyek AI," jawab David.


Dian berpikir sebentar, lalu menganggukkan kepala pertanda setuju. Proyek AI sangat penting baginya.


"David. Kamu juga ikut," kata Dian.


"Baik nona Dian," jawab David.


***


David mengemudikan mobil porsche putih Dian menuju restoran tempat janji temu dengan Erik.


Pada saat pelayan restoran mengantar Dian dan David ke meja Erik, mereka berdua terkejut karena bukan hanya ada Erik saja, melainkan Stefan juga berada di sana.


Dian spontan menoleh ke arah David. Sekretaris pribadi itu menggelengkan kepalanya perlahan sebagai jawaban dirinya tidak tahu Stefan ikut dalam pertemuan ini.


Dian mendekati meja restoran dan menatap tajam Erik. "Ini makan malam jebakan?" tanya Dian tanpa basa basi.


Erik tersenyum canggung dan berdiri dari tempat duduknya, lalu menarik kursi di sebelah kiri untuk mempersilakan Dian duduk di sana.


"Wakil CEO Dian. Maafkan atas kelancanganku. Stefan ingin bicara hal penting denganmu. Aku janji hanya sebagai penengah dan bersifat netral. Aku tidak akan mencampuri urusan kalian berdua. Sebagai bukti ketulusan permintaan maaf, aku akan membawamu ke tempat penelitian rahasia proyek AI nanti. Para ilmuwan tim peneliti teknologi inti ada di sana," jelas Erik panjang lebar.


"Tempat penelitian rahasia?" batin Dian.


Dian memang tertarik dengan penawaran Erik, tetapi perasaan tertipu ini sangat tidak nyaman.


"Aku harap CEO Erik tidak mengulanginya lagi," ucap Dian dengan wajah tanpa ekspresi, lalu duduk di kursi yang disediakan oleh Erik.


Erik menarik napas lega dan duduk kembali di kursinya. Erik duduk di antara Stefan dan Dian. David mengambil tempat duduk di sebelah Dian.


"CEO Stefan. Jika mengenai keris antik, maka tidak ada yang perlu dibicarakan," kata Dian dengan tegas.


Stefan menatap Dian. Wajah dingin gadis muda itu membuat hati Stefan terasa hampa.


"Maaf Dian. Hari ini kakek pergi mencarimu dan mengatakan banyak hal buruk," kata Stefan.

__ADS_1


Dari pembicaraan telepon sebelumnya dengan Adi, Stefan tahu pria tua itu pasti mempersulit Dian. Apa lagi Dian menolak tegas memberikan keris antik.


"Hanya itu saja yang mau kamu katakan?" tanya Dian dengan nada menyelidiki.


Stefan terlihat berpikir sejenak, lalu berbicara lagi.


"Kapan pun kamu bersedia mengembalikan keris antik, aku akan menyetujui semua persyaratan yang kamu ajukan," jawab Stefan.


Stefan tahu Dian tidak mau mengembalikan keris antik karena ingin membuat kesal Laura, Anastasia, dan Adi. Sekarang tujuan Dian sudah tercapai.


Stefan tidak masalah Dian menyimpan keris antik untuk sementara waktu hingga gadis muda itu bersedia mengembalikannya ke Adi.


Dian merasa heran dengan sikap Stefan malam ini, tetapi dirinya tidak peduli apakah Stefan memang tulus mengatakannya atau tidak.


"Baiklah," jawab Dian dengan singkat, lalu menoleh ke Erik.


"Kita ke tempat penelitian rahasia sekarang," ucap Dian.


"Aku selalu menepati janji," kata Erik sambil tersenyum lebar.


Erik, Dian, dan David meninggalkan restoran dan Stefan yang masih setia duduk di sana. Erik tidak berani mengajak Stefan karena takut mendapatkan kemarahan dari Dian. Lagi pula Stefan sebagai pemegang saham Perusahaan Alpha sudah pernah berkunjung ke tempat penelitian rahasia.


***


Mobil porsche putih berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat tiga. Dian dan David mengikuti Erik masuk ke dalam gedung.


Erik menempelkan kartu identitasnya di depan pintu masuk, lalu menekan beberapa nomor sandi. Pintu masuk terbuka secara otomatis.


Dian mengamati seisi ruangan yang berupa koridor kaca yang panjang dengan dinding yang terbuat dari bahan tembus pandang.


Erik berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Dian dan David mengikuti dari belakang. Erik membawa mereka ke sebuah ruangan tertutup yang kosong.


Erik menempelkan telapak tangan kanan di salah satu sisi dinding kaca sehingga muncul gambar tipis berupa sensor semua sidik jari tangan Erik.


Erik mendekatkan wajahnya untuk pemindaian pupil mata. Beberapa detik kemudian dinding di depannya terbuka.


Ternyata di balik dinding itu terdapat koridor kaca yang panjang. Mereka bertiga berjalan melewatinya. Dian merasakan dirinya seolah-olah berada dalam labirin yang panjang.


Pada akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu berwarna putih. "Kita sudah sampai," ucap Erik sambil membuka pintu itu.


Di dalam ruangan ada beberapa ilmuwan dengan penampilan jas putih. Mereka konsentrasi melakukan pekerjaan masing-masing. Ada yang menguji remote control dengan produk yang dibuat. Ada juga yang berbicara dengan komputer di hadapannya.


Dian memandang takjub teknologi penelitian di depannya, yang bisa membantunya memahami perkembangan masa depan industri kecerdasan buatan.


Tiba-tiba Dian merasakan sesuatu benda lembut menabrak kakinya. Perasaan deja vu yang pernah dirasakan olehnya dan terulang saat ini.


"Mao Mao," panggil Dian saat melihat panda merah sedang menatap dan memegang erat kakinya.


"Mimi cantik! Aku rindu mimi cantik!" kata Mao Mao.

__ADS_1


Dian membungkukkan badan dan mengangkat panda merah, lalu meletakkannya di pangkuan lengan.


"Mao Mao masih ingat padaku. Kenapa dia bisa ada di sini?" tanya Dian ke Erik.


"Mao Mao diprogram memiliki kecerdasan dan daya ingatan yang tajam sehingga bisa mengenali setiap orang yang pernah bertemu dengannya walaupun hanya beberapa detik saja," jawab salah satu ilmuwan pria bertubuh kurus dan memakai kacamata besar.


"Oh ternyata begitu," jawab Dian sambil membelai bulu lembut panda merah.


Ilmuwan pria itu menatap Dian dari atas kepala hingga ujung kaki.


"Mao Mao! Dia mimi cantik yang kamu bilang beberapa waktu yang lalu?" tanya ilmuan pria.


"Iya. Mimi cantik," jawab panda merah sambil menganggukkan kepala.


"Mao Mao menceritakan tentangku?" tanya Dian.


"Iya. Aku yang mendesainnya. Karakter Mao Mao memang suka sama pria dan wanita cantik."


Seorang gadis muda dengan wajah ceria dan mata besar serta memakai jas putih berjalan menghampiri Dian.


"Mao Mao. Sini aku gendong," kata gadis muda itu sambil merentangkan tangannya.


"Tidak mau! Aku mau dipeluk mimi cantik!" tolak panda merah.


Erik dan beberapa ilmuwan lainnya tertawa kecil mendengar jawaban polos panda merah.


"Kamu pencipta Mao Mao?" tanya Dian.


"Iya. Nona sangat cantik," jawab gadis muda itu sambil menatap Dian dengan mata berbinar-binar. Dian tersenyum kecil melihat sikap gadis muda itu yang sama persis dengan panda merah.


"Wakil CEO Dian. Perkenalkan, ini Vivian, ilmuwan genius terkenal di industri ini dan juga pemimpin proyek AI," kata Erik ke Dian.


"Vi! Ini wakil CEO Dian, rekan bisnis dari Perusahaan Jayanata," ucap Erik ke Vivian.


"Senang berkenalan denganmu nona Dian," sapa Vivian.


"Senang berkenalan dengan nona Vivian," balas Dian.


"Vi! Kamu antar wakil CEO Dian berkeliling. Aku pergi melihat yang lainnya," kata Erik.


Vivian menganggukkan kepala dan membawa Dian serta David ke ruang penelitian pribadi miliknya. Tentu saja panda merah ikut serta karena tidak mau lepas dari pelukan Dian.


***


Selamat malam readers. Spoiler dikit bab besok: Kelvin pulang ke Bali. Selain Kelvin, ada orang lain yang pulang juga. Siapa dia?


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2