
***Ruang kerja Stefan di Perusahaan Bramasta***
Stefan menggenggam erat handphone di tangannya setelah sambungan telepon diputuskan oleh Adi Bramasta secara sepihak.
"Luis. Cari dua pengawal berpengalaman untuk stand by di dekat apartemen Regal Residence. Tugas mereka lindungi Dian secara diam-diam!" perintah Stefan.
"Baik pak Stefan!" jawab Luis.
Stefan menghela napas panjang saat Luis meninggalkan ruangan.
Stefan menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa melindungi Dian saat ini.
Walaupun Adi Bramasta sudah pensiun, tetapi kekuasaannya di Perusahaan Bramasta masih besar. Stefan bertekad dalam hati untuk merebut kekuasaan itu agar Adi tidak bisa mengintimidasi Dian lagi.
***Mansion Bramasta***
Anastasia yang berdiri di dekat tangga, menguping pembicaraan Adi dengan Stefan tersenyum lebar, lalu kembali ke kamarnya untuk menelepon Gisel memberitahukan kabar baik ini.
Semalam Anastasia yang memprovokasi Adi untuk menjalankan rencana itu karena sudah lebih tujuh hari Stefan masih belum berhasil mendapatkan keris antik.
Sementara Adi dengan suasana hati senang keluar berkumpul dengan teman untuk bermain catur bersama hingga pulang ke mansion di malam hari.
Ketika Adi tiba ke mansion, pria tua itu memanggil Pak Eko, kepala pelayan mansion.
"Pak Eko! Dian sudah telepon ke mansion?" tanya Adi tanpa basa basi.
Adi yakin Dian pasti tertekan dengan semua kabar miring dan pastinya sudah menelepon ke mansion untuk meminta bertemu dengannya. Adi sudah membayangkan Dian berlutut meminta maaf serta mengembalikan keris antik.
"Tidak ada telepon dari nona Dian," jawab Pak Eko.
"Apa yang dilakukannya seharian ini?" tanya Adi penasaran.
"Nona Dian tidak keluar dari apartemen seharian dan juga tidak mengklarifikasi semua kabar buruk tentangnya," jawab Pak Eko.
"Dia pasti malu dan bersembunyi. Aku yakin besok dia akan menghubungiku," ujar Adi.
Keesokan hari Adi seharian berada di mansion untuk menunggu telepon dari Dian. Penantiannya sia-sia sepanjang hari hingga keesokan hari nya lagi, Adi merasa kesal dan gelisah sejak pagi dan akhirnya tidak tahan lagi sehingga meminta Pak Eko menghubungi Dian dengan telepon mansion di siang hari.
***
Dian dan Kelvin duduk santai di ruang tamu menonton drakor sambil menunggu jam lima sore untuk menjemput Jackson dan Raisa di airport.
Mereka berdua sangat menikmati masa karantina mandiri. Setiap hari para pelayan mansion akan datang beberapa kali mengantarkan makanan, kudapan ringan, maupun barang titipan belanjaan Dian dan Kelvin. Bahkan Sherina pun ikut bergabung di apartemen Dian setiap hari.
Keamanan apartemen Regal Residence sangat terjamin sehingga para wartawan hanya bisa menunggu di depan pintu masuk apartemen.
Suara handphone Dian berdering. Kelvin menoleh ke arah adik kesayangannya. "Siapa?" tanya Kelvin.
Dian memicingkan mata membaca deretan nomor yang muncul di layar handphone. "Mansion Bramasta," jawab Dian singkat sambil menekan tombol untuk menolak panggilan.
__ADS_1
"Pasti si tua bangka!" duga Kelvin.
"Keris antiknya masih di tanganku," ucap Dian.
Sementara di Mansion Bramasta, Pak Eko menatap Adi dengan tatapan serba salah.
"Masih belum diangkat?" tanya Adi tidak sabaran.
"Panggilannya ditolak," jawab Pak Eko jujur.
"Telepon lagi!" perintah Adi sambil menggertakkan gigi.
Pak Eko pun menelepon Dian berulang kali hingga akhirnya Dian menerima panggilan telepon.
"Siapa?" tanya Dian.
"Tuan Adi. Nona Dian sudah angkat teleponnya," ujar Pak Eko dengan semangat sehingga terdengar suara tertawa kecil Dian dari seberang sana.
Pak Eko menutup mulutnya dengan tangan secara spontan karena mendapatkan tatapan tajam dari Adi.
Adi mengambil gagang telepon dari tangan Pak Eko. "Dian! Sia-sia saja semua usahamu membersihkan nama baik. Kecuali keluarga Bramasta yang membantu klarifikasi. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan sekarang?" tanya Adi dengan angkuh.
Beberapa detik berlalu, Adi tidak mendengar jawaban Dian melainkan suara drama korea yang semakin besar sehingga wajah Adi menjadi merah padam seketika.
Dian memang sengaja menerima panggilan telepon dan menekan tombol speaker sambil menonton sehingga Kelvin pun mendengar jelas pertanyaan Adi.
"Bawa keris antik ke Mansion Bramasta dan berlutut minta maaf padaku sekarang juga!" perintah Adi.
Adi membanting gagang telepon dengan keras. "Dikasih hati minta jantung!" geram Adi.
***Mansion Wijaya***
Penyamaran sempurna ditambah perlindungan dari bodyguard membuat Dian dan Kelvin berhasil meninggalkan apartemen tanpa diketahui oleh wartawan.
Mereka berdua menunggu kepulangan Jackson dan Rossy di Mansion Wijaya atas saran dari Bagaskara untuk menghindari para wartawan yang sudah berkumpul di airport.
Jackson dan Rossy memberikan pelukan hangat ke Dian serta membawakan banyak hadiah untuknya.
Dian duduk di tengah Jackson dan Rossy sambil merangkul tangan mereka berdua, sedangkan Kelvin dan Chandra duduk berdampingan.
Keluarga kecil Wijaya berkumpul di ruang tamu dan bersenda gurau. Gosip yang beredar memanas di luar tidak mempengaruhi suasana hati mereka semua.
Terdengar bunyi dering telepon mansion dua kali dan Pak Lesmana segera mengangkatnya. "Tuan Jackson. Telepon dari Pak Adi Bramasta," lapor Pak Lesmana.
Senyum tipis di wajah Jackson hilang seketika dan mengangkat gagang telepon. "Ada apa Pak Adi?" tanya Jackson.
"Jackson. Aku tahu kamu dan istrimu sudah pulang ke Bali. Aku ingin mengundang kalian makan malam bersama besok," jawab Adi dengan ramah.
"Ada masalah kecil di perusahaan yang harus aku urus. Bagaimana kalau Pak Adi dan keluarga datang ke acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya tiga hari nanti?" tanya Jackson.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pasti hadir," jawab Adi dengan pasti.
Adi ingin Jackson bekerja sama dengannya memaksa Dian menyerahkan keris antik karena Jackson pasti tidak menyukai Dian yang berniat menjadi menantu keluarga Wijaya.
***Ballroom Hotel***
Acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya dirayakan secara meriah di ballroom hotel bintang lima, yang terletak di kawasan Nusa Dua, Bali.
Bagaskara dan puluhan pengawal berjaga di setiap sudut untuk memastikan acara perayaan berlangsung lancar nantinya.
Para undangan berasal dari pengusaha berbagai perusahaan, selebriti lokal, dan juga kepala departemen setiap anak Perusahaan Wijaya.
Tentu saja Sherina dan Leon ikut hadir bersama Adrian dan Raisa. Sherina memakai gaun malam berwarna coklat yang sepadan dengan jas coklat Chandra.
Warna kesukaan Chandra adalah coklat sehingga pria muda itu ingin tampil sempurna saat mengumumkan hubungannya dengan Sherina nanti.
Sejak Sherina tiba di ballroom, Chandra selalu menggenggam erat tangannya dan berjalan berdampingan dengan gadis pujaan hatinya, sedangkan Leon menjadi anak penurut mengikuti Adrian dan Raisa dari belakang.
Ballroom hotel menyediakan satu ruangan khusus sebagai ruang ganti untuk Dian. Gaun pesta, penata rias, dan kalung permata untuk Dian sudah tersedia di ruangan itu.
Jackson dan Rossy berjalan menghampiri Dian yang sedang dirias oleh penata rias. Dian masih mengenakan long dress casual saat ini dan akan menggantinya dengan gaun pesta pada saat acara dimulai.
"Princess mommy paling cantik," puji Rossy.
"Cantik seperti mommy," balas Dian sambil tertawa kecil.
"Kalian berdua sama cantiknya," ucap Jackson.
Mereka bertiga pun tertawa bersamaan. Jackson dan Rossy sangat bahagia karena sebentar lagi semua orang mengetahui identitas Dian sebagai putri bungsu kesayangan keluarga Wijaya.
Chandra dan Sherina berjalan masuk ke dalam ruang ganti. "Daddy, mommy. Keluarga Bramasta sudah datang," kata Chandra.
"Ayo, Rossy. Sekarang saat yang tepat untuk bertemu mereka," ajak Jackson sambil tersenyum samar.
Rossy menganggukkan kepala dan merangkul lengan Jackson dengan mesra. Chandra mengikuti kedua orang tuanya dari belakang, sedangkan Sherina tetap berada di ruang ganti karena ingin mengobrol sebentar dengan Dian.
***
Author minta maaf karena prediksi ceritanya meleset. Identitas Dian terungkap besok ya. Cerita di bab ini sudah dipercepat semaksimal mungkin dan hanya bisa tiba di awal acara perayaan.
Bukan maksud author untuk menunda ceritanya. Setiap bab diketik tepat dihari yang sama dan langsung di upload. Setiap bab menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuatnya karena author hanyalah penulis amatir saja 🙏 yang menuangkan imajinasi dalam tulisan.
Author harus membagi waktu dengan kesibukan reallife sehingga tidak bisa melanjutkan mengetik naskah malam ini.
Harap readers setia memakluminya 🙏.
TERIMA KASIH
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE