HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
Bab 69. Besan?


__ADS_3

***Ruang ganti***


Acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya akan dimulai dalam waktu dekat dan riasan di wajah Dian pun sudah hampir selesai serta sangat sempurna.


Penata rias sedang menggunakan finishing powder untuk mendapatkan hasil akhir make up yang lebih sempurna. Finishing powder ini memiliki fungsi utama mengunci make up agar tidak mudah luntur dan menjadikan hasil akhir riasan lebih terlihat smooth dan bebas kilap.


"Hasil make up di wajah nona Dian akan flawless dan tahan lama," ucap penata rias.


"Terima kasih," kata Dian sambil menatap cermin di hadapannya dengan puas.


"Acara akan dimulai. Apakah nona Dian mau ke toilet dulu sebelum mengenakan gaun pesta?" tanya salah satu pelayan mansion, yang memang ditugaskan untuk membantu Dian di sana.


"Boleh juga. Aku ke toilet sebentar," jawab Dian.


Dian dan Sherina berjalan keluar bersamaan dari ruang ganti. Sherina teringat akan sesuatu yang ingin disampaikan kepada Dian.


"Dian. Keluarga Bramasta datang bersama Gisel," kata Sherina.


"Sudah kuduga," ucap Dian.


Gisel tidak mungkin melewatkan kesempatan emas tampil bersama Stefan di acara besar. Apa lagi kedatangannya bersama keluarga Bramasta bisa membuat orang lain menduga Gisel calon nyonya Stefan yang baru.


"Kata Leon, Adi Bramasta membayar beberapa wartawan untuk mengawasi apakah kamu akan hadir di acara ini. Jika kamu hadir, maka besok akan muncul berita besar kamu diusir oleh keluarga Wijaya," lanjut Sherina dengan wajah gusar.


"Tidak apa-apa, Kak Rina. Aku sudah menyiapkan hadiah spesial untuk tua bangka itu," ucap Dian sambil tersenyum samar.


Dian menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba sehingga Sherina pun ikut berhenti.


"Ada apa Dian?" tanya Sherina.


"Kak Rina masuk ke ballroom saja. Aku pergi ke toilet sendiri. Kasihan kak Chandra nunggu lama," jawab Dian sambil menunjuk ke arah kiri dan kanan jalan.


Ballroom hotel dan toilet berada di sisi yang berlainan sehingga Dian mengusulkan mereka berpisah jalan.


"Baiklah. Aku tunggu kemunculanmu di ballroom," jawab Sherina.


"Oke," kata Dian.


***


Ketika Dian ingin membuka pintu toilet, gerakan tangannya berhenti karena mendengar percakapan dua wanita yang sedang mempergunjingkan dirinya.


Laura dan Anastasia berada di depan kaca besar toilet sambil memperbaiki riasan wajah mereka.


"Ma. Aku tadi sudah keliling ballroom dan tidak melihat Dian," kata Anastasia.


"Wanita miskin itu mana mungkin bisa hadir di acara berkelas ini?" ujar Laura.


"Keluarga Wijaya pasti tidak menerimanya juga. Lagi pula gosip hangat yang beredar sekarang cukup membuat Dian bersembunyi dan tidak berani keluar," kata Anastasia dengan antusias.


"CEO Chandra dan Keluarga Wijaya bukan orang bodoh. Lihat saja nona muda Saputra sangat sepadan dengan CEO Chandra. Dian tidak ada bekingan lagi dan nama baiknya rusak, pasti sukarela menyerahkan keris antik," ucap Laura.

__ADS_1


"Semoga saja Dian cukup bodoh untuk hadir dan dipermalukan keluarga Wijaya. Aku tidak sabar melihat pertunjukan itu," kata Anastasia.


"Iya, benar sekali. Apa lagi saat dia melihat CEO Chandra dengan nona muda Saputra dan juga Stefan dengan Gisel," ucap Laura.


Laura memang sengaja mengajak Gisel ikut ke acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya dan tentu saja Gisel menerima ajakan itu dengan senang hati.


Brak!


Suara pintu salah satu toilet dibuka dengan keras sehingga Laura dan Anastasia menoleh ke sana. Dian berjalan dengan santai menghampiri mereka dan membuka keran air untuk mencuci tangan.


"Ma! Ada orang bodoh ingin dipermalukan di dalam acara. Kita bisa menonton pertunjukan bagus," ujar Sia.


"Benar sekali! Kalian berdua jangan melewatkan pertunjukan bagus malam ini!" kata Dian.


Dian meninggalkan toilet tanpa memedulikan sepasang ibu anak yang sedang melotot ke arahnya.


"Apa maksudnya, ma?" tanya Anastasia, setelah Dian pergi.


"Biarin saja. Jangan kasih tahu Stefan kalau kamu lihat Dian," jawab Laura.


Laura tidak mau Stefan membawa Dian pergi meninggalkan acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya. Dirinya sudah tidak sabar melihat Dian dipermalukan didepan umum oleh keluarga Wijaya.


"Iya, ma. Kak Stefan pasti akan melindungi Dian lagi," jawab Anastasia sambil menganggukkan kepala.


Laura dan Anastasia menyadari sikap Stefan yang berbeda seratus delapan puluh derajat terhadap Dian semenjak perceraian. Bahkan di dalam hati kecil mereka berdua menduga Stefan menyukai Dian dan hal itu tidak boleh dibiarkan terjadi.


***Ballroom hotel***


Dari kejauhan Adi dan Stefan datang menghampiri mereka. "Selamat Jackson. Perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya sangat megah dan meriah," puji Adi sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih," jawab Jackson singkat.


"Perkenalkan, ini cucuku Stefan. CEO Perusahaan Bramasta," kata Adi.


"Om Jackson," sapa Stefan.


Jackson menjawab sapaan Stefan dengan wajah tanpa ekspresi, sedangkan Chandra dan Rossy pura-pura tidak menyadarinya.


Perhatian Chandra jatuh ke Gisel yang berdiri di belakang Stefan. "Ternyata CEO Stefan membawa pacar ke sini. Aku yakin tidak lama lagi akan nenjadi nyonya Stefan," ujar Chandra.


"Gisel hanya teman yang menjadi pendamping malam ini," jawab Stefan spontan.


Wajah Gisel menjadi pucat karena perkataan Stefan, tetapi muka temboknya membuat dirinya tetap berdiri setia di belakang Stefan sambil menyunggingkan senyum palsu untuk menutup kepedihan hatinya.


Adi pun terkejut dengan perkataan tegas Stefan. Walaupun begitu, Adi tidak membela Gisel karena status gadis itu pun tidaklah sepadan dengan Stefan. Gisel hanya anak dari pengusaha perusahaan kecil.


Adi mengalihkan perhatian ke Rossy yang tampil anggun dan menawan.


"Rossy sangat cantik dan lemah lembut. Aku duga anak perempuan yang masih sekolah di luar negeri pasti mewarisi semua kelebihan Rossy. Siapa tahu kita bisa menjadi besan suatu hari nanti," ucap Adi dengan tidak tahu malu.


Jackson, Rossy, dan Chandra tertegun sebentar karena perkataan Adi. Mereka tidak menyangka tua bangka ini menginginkan pernikahan bisnis Stefan dengan Dian. Untung saja sejak awal Dian sudah menyembunyikan identitasnya ketika menikah.

__ADS_1


"Putriku sangat pemilih. Stefan bukan pilihan utamanya," tolak Jackson dengan tegas.


"Lagi pula adikku tidak sepadan dengan CEO Stefan yang hebat," kata Chandra.


Adi mengira Chandra berkata demikian untuk mencairkan suasana, tetapi Stefan berfirasat Jackson dan Chandra tidak suka kepadanya sejak awal dan dirinya tidak mengerti kesalahan apa yang sudah diperbuat olehnya.


Senyum tipis mengembang disudut bibir Chandra saat melihat Sherina menghampirinya. Chandra menggenggam erat tangan Sherina.


"CEO Chandra. Wanita cantik ini pacarmu?" Gisel yang diam sejak tadi tidak bisa menahan keinginannya untuk menanyakan secara jelas hubungan Chandra dan Sherina.


"Iya," jawab Chandra dengan singkat.


"Bagaimana dengan Di…"


Perkataan Gisel terputus karena suara musik mengalun di ballroom disertai suara pembawa acara yang berasal dari panggung, mengumumkan acara perayaan ulang tahun Perusahaan Wijaya sudah dimulai.


Rossy dan Jackson bersiap-siap naik ke atas panggung, sedangkan Chandra dan Sherina mengikuti mereka dari belakang.


Para tamu undangan berjalan mendekati panggung, begitupun juga dengan Adi. Sementara Stefan masih berdiri di tempatnya sehingga Gisel menunggunya.


"Sel! Kamu pulang saja kalau ingin mencari masalah di sini!" ujar Stefan dengan ketus sebelum meninggalkan Gisel dan menyusul Adi.


Stefan tidak suka dengan niat Gisel menyinggung nama Dian di depan keluarga Wijaya karena akan menyebabkan Dian terjebak dalam keadaan yang lebih buruk lagi.


Selama beberapa hari ini suasana hati Stefan semakin jelek melihat dan membaca setiap berita yang menjelekkan Dian sehingga menyebabkan gadis muda itu bersembunyi di apartemen, sesuai laporan dua bodyguard suruhan Stefan yang berjaga di dekat apartemen Dian.


Stefan sudah berusaha meminta Luis menghapus berita itu dengan sejumlah uang, tetapi tidak berhasil karena kekuasaan Adi.


Laura dan Anastasia menghampiri Gisel yang mematung dengan wajah pucat pasi. "Kak Gisel. Acara sudah dimulai. Ayo kita bergabung. Aku sudah tidak sabar melihat Dian dipermalukan," ucap Anastasia sambil menarik tangan Gisel.


"Dian? Maksudmu Dian ada di sini?" tanya Gisel.


"Iya. Aku dan mama bertemu dengannya di toilet," jawab Anastasia.


Entah mengapa Gisel memiliki firasat yang tidak bagus dengan kehadiran Dian di ballroom hotel, tetapi saat melihat Chandra menggenggam tangan Sherina dengan mesra, Gisel yakin Chandra tidak akan memilih Dian nantinya.


"Sia! Jangan biarkan Stefan menolong Dian," ujar Gisel.


"Tentu saja, Kak Gisel. Nanti kita dan mama berdiri mengelilingi kak Stefan sehingga tidak bisa menghampiri Dian dengan mudah," jawab Anastasia.


***


Selamat siang readers. Jreng jreng jreng, akhirnya identitas Dian pasti terungkap di bab malam ya 😆.


Terima kasih semua dukungan komentar positifnya 🥰🥰🥰🙏


Mampir yuk di karya author senior, Kak Ramanda 😍😍😍



SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2