HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 88. Produk eksperimen Proyek AI


__ADS_3

Hubungan pertemanan Stefan dan Dian diketahui oleh Keluarga Wijaya dan juga para teman dekat Dian karena gadis muda itu yang memberitahukan kepada mereka. Mereka semua menyetujui keputusan Dian.


Dian juga memberitahukan Jackson tentang niat Adi Bramasta untuk melakukan pernikahan bisnis, tetapi ditolak oleh Stefan. Dian menduga Adi pasti tetap menjalankan rencananya dan menghubungi Jackson dalam waktu dekat.


Jackson, Chandra, dan Dian mendapatkan rencana bagus untuk menghadapi permintaan Adi nantinya sehingga mereka hanya menunggu langkah selanjutnya dari Adi.


Hari berganti hari dengan cepat. Selama seminggu Stefan dirawat di Healing Hands Hospital, Dian akan mengunjunginya setiap hari sambil membawakan sup herbal.


Sementara Adi tidak pernah datang menjenguk Stefan sejak Stefan menolak usulnya, tetapi pria tua itu mengutus Pak Eko memeriksa kondisi Stefan setiap hari dan juga memantau apakah Dian ada datang menjenguk Stefan di sana.


Suasana hati Adi menjadi senang saat mendapatkan laporan Dian membawakan sup herbal untuk Stefan setiap hari. Bahkan Pak Eko pernah melihat mereka berdua saling mengobrol dan bercanda layaknya teman dekat.


Satu minggu kemudian, Stefan diperbolehkan pulang ke Mansion Bramasta. Sejak saat itu Dian tidak pernah mengunjungi Stefan di sana dan hanya melakukan panggilan telepon untuk menanyakan kondisi Stefan setiap hari.


Trauma Dian terhadap kecelakaan tabrakan waktu itu sudah sembuh total. Dian tidak mengalami mimpi buruk lagi sesuai perkiraan Felix dan tidak membutuhkan konsumsi obat penenang.


Seminggu sekali dokter spesialis dari Healing Hands Hospital yang menangani Stefan sejak awal, akan rutin berkunjung ke Mansion Bramasta untuk memeriksa kondisi Stefan atas permintaan Jackson.


Untuk sementara waktu Stefan bekerja dari ruang kerja di mansion, sedangkan Luis membantu membawakan dokumen yang dibutuhkan oleh Stefan dari perusahaan ke mansion. Untuk meeting penting, Stefan bisa menggunakan aplikasi zoom meeting bersama para kepala departemen perusahaan.


***


Sementara produk eksperimen pertama dari proyek AI berhasil diselesaikan dalam waktu kurang satu bulan. Dian dan Stefan menuju ke tempat penelitian rahasia setelah mendapatkan kabar baik itu dari Erik.


Dian berangkat dari Perusahaan Jayanata bersama David, sedangkan Stefan berangkat bersama Luis dari Mansion Bramasta.


Erik sudah menunggu di depan pintu masuk tempat penelitian rahasia dan segera menyambut kedatangan Dian, yang baru turun dari mobil porsche putih dengan semangat.


"Terima kasih CEO Dian mengundang Dion ikut dalam penelitian. Teknologi yang paling sulit bisa diselesaikan dengan sempurna oleh beberapa rumusnya!" puji Erik dengan antusias.


Dian tersenyum kecil mendengar pujian Erik terhadap Dion. Kehebatan Dion memang tidak pernah diragukan oleh siapa pun.


"Bagaimana kalau CEO Dian meminta Dion untuk memperpanjang waktunya di tempat penelitian ini?" tanya Erik.


Adanya bantuan Dion bisa mempersingkat waktu penelitian dan juga biaya yang dikeluarkan. Bahkan kesalahan dalam proses penelitian pun bisa diperkecil.

__ADS_1


"Dion hanya bisa cuti sebulan saja karena ada proyek baru di tempat lain," jawab Dian.


"Sangat disayangkan," gumam Erik.


Mobil mercedes benz hitam berhenti di sana. Luis segera turun dan membuka bagasi mobil untuk mengambil kursi roda, sebelum memapah Stefan turun dari mobil.


Luis mendorong kursi roda Stefan menuju pintu masuk. "Fan! Bagaimana keadaan kakimu?" tanya Erik sambil melihat kaki Stefan yang di gips.


Saat mereka bertemu dalam keadaan tidak formal dan bukan di depan banyak karyawan, Erik lebih suka menyapa nama panggilan Stefan secara langsung.


Selain Rizky, Erik termasuk salah satu teman yang mengetahui Stefan mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu.


"Minggu depan gips nya akan dibuka," jawab Stefan sambil menatap Dian yang berdiri di samping Erik.


"Ayo kita pergi melihat produk AI pertama," ajak Erik.


Erik menunjukkan jalan ke ruang laboratorium khusus, sedangkan Dian dan Stefan mengikutinya dari belakang.


"Fan! Minggu depan gips nya sudah bisa dibuka?" tanya Dian.


"Nanti share jadwalnya. Aku ikut pergi ke rumah sakit," ucap Dian.


"Baiklah," jawab Stefan sambil tersenyum kecil.


Erik yang mendengar pembicaraan Stefan dan Dian, ikut merasa gembira karena hubungan mereka berdua sudah membaik sehingga dirinya tidak perlu terjepit di antara mereka berdua dan merasa serba salah lagi.


***


Vivian mengeluarkan sebuah pelat berbentuk cetakan jari tangan. "Di dalam pelat ini ada chip sensor yang bisa memeriksa kesehatan tubuh dalam waktu lima detik serta membuat laporan dan diagnosis yang tepat," jelas Vivian.


Dian memegang pelat itu dan mengamatinya saksama, lalu mengopernya ke tangan Stefan.


"Cara pemakaiannya dengan meletakkan telapak tangan di dalam cetakan ini?" tanya Stefan.


"Iya CEO Stefan. Silakan mencobanya," jawab Vivian.

__ADS_1


Stefan menempelkan telapak tangannya ke dalam cetakan. Pelat itu bergetar halus dan terasa hangat. Muncul tulisan angka di atas pelat dan mulai menghitung waktu.


1…2…3…4…5…


Beep!


"Laporan: suhu tubuh normal. Fragmen tulang patah di kaki kanan sudah berangsur sembuh. Gips bisa dibuka dalam waktu dekat dan bisa melakukan fisioterapi untuk patah tulang." Terdengar suara robot yang memberikan laporan mengenai kesehatan Stefan terkini.


"Hebat sekali! Kapan kita bisa memproduksinya secara massal untuk dipasarkan?" tanya Dian.


"Produk eksperimen ini masih belum sempurna. Meskipun chip pintar ini dapat mendeteksi masalah penyakit dalam tubuh manusia, semuanya didasarkan pada data yang kita masukkan ke dalam program. Ilmu medis sangat rumit dan banyak sehingga chips ini tidak bisa mendeteksi penyakit yang tidak ada datanya," jelas Dion.


"Benar juga," jawab Dian.


"Tidak apa-apa. Sejak awal aku sudah tahu proyek AI memerlukan waktu yang lebih lama agar hasilnya sempurna. Penelitian bisa dilanjutkan untuk mencapai progress yang kita inginkan. Aku percaya kemampuan Perusahaan Alpha," kata Stefan.


"Iya, benar sekali. Perusahaan Jayanata juga akan mendukung sepenuhnya," kata Dian.


"Langkah awal sudah sukses. Jika Vi mengalami kesulitan dalam rumusan, aku bisa membimbingnya," ucap Dion.


"Vi?" kata Dian sambil tersenyum nakal melirik Vivian sekilas. Wajah Vivian tersipu malu dan berusaha bersikap tenang, sedangkan Dion masih setia dengan wajah tanpa ekspresi.


"Iya. Iya. Vi bisa menghubungi Dion kapan pun dan pasti akan dibimbing dengan baik. Aku percayakan proyek AI ke tangan kalian berdua," lanjut Dian.


Dian merasa senang karena usahanya menjadi cupid di antara Dion dan Vivian berhasil.


***


Selamat siang readers. Jangan lupa masih ada satu bab nanti malam ya.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2