HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 114. Bonus chapter Stefan-Dian


__ADS_3

Stefan dan Dian bulan madu ke Jepang selama seminggu. Mereka berdua tinggal di tempat penginapan orang tua Alisa.


Dian sangat suka berendam di onsen setiap hari. Kulit tubuhnya terasa lebih segar dan halus sehingga membuat Stefan tidak bisa menahan diri untuk melakukan petualangan fantasi yang agresif setiap malam di bulan madu mereka.


Sementara Chandra dan Sherina bulan madu ke Seoul karena Sherina ingin mengunjungi perkebunan stroberi di sana, sedangkan Kelvin dan Natasha bulan madu ke Paris, tempat kelahiran adibusana serta memiliki mode fashion terbaik di dunia.


Sepulangnya dari bulan madu, Stefan dan Dian mulai menempati rumah baru yang dibeli oleh Stefan sebagai tempat tinggal mereka setelah menikah. Rumah baru itu sangat dekat dengan Mansion Wijaya dan memerlukan waktu sekitar sepuluh menit saja dengan mobil.


Stefan dan Dian membuat kesepakatan bersama yaitu membatasi pekerjaan kantor hingga batas waktu pulang kerja, sedangkan hari minggu merupakan hari spesial yang harus mereka nikmati berdua seperti menonton film, jalan-jalan ataupun berbelanja ke supermarket bersama.


Pertemuan dengan rekan bisnis di luar jam kerja pun dihindari sebisa mungkin jika tidak terlalu penting. Mereka berdua ingin mempunyai waktu we time lebih banyak.


Setiap hari kerja, Stefan akan menjemput Dian di Perusahaan Jayanata, lalu mereka berdua makan malam bersama di Mansion Wijaya.


Tugas Pak Ben, sopir pribadi Stefan berakhir saat mengantar kedua sejoli itu ke Mansion Wijaya. Pak Ben mengemudikan mobil mercedes benz hitam untuk diparkir di Mansion Bramasta, sebelum pulang kerja.


Sementara Stefan akan mengemudikan mobil porsche putih milik Dian untuk pulang ke rumah baru mereka setelah selesai makan malam di Mansion Wijaya.


***Minggu pagi di rumah baru Stefan dan Dian***


"Bangun Mimi! Fan Fan sudah selesai masak breakfast!" Suara manja Mao Mao menggema di kamar tidur.


Panda merah kecil menarik selimut yang menutup tubuh Dian dengan mulutnya.


Dian membuka matanya perlahan dan membuka lebar kedua tangannya. "Morning Mao Mao!" kata Dian.


Mao Mao melompat ke dalam pelukan Dian dengan cepat. Sejak Dian tinggal di rumah baru, Mao Mao menjadi bagian keluarga kecil Dian dan Stefan.

__ADS_1


Walaupun memori Mao Mao sudah dihapus mengenai Stefan, tetapi setelah tinggal bersama, Mao Mao pun mulai dekat dengan Stefan karena dirinya memang diprogram untuk menyukai cowok tampan dan cewek cantik.


Hanya saja panggilan Mao Mao terhadap Stefan adalah Fan Fan, bukan Pipi lagi.


Cup!


Dian mengecup pipi Mao Mao sebelum turun dari tempat tidur. "Mimi mandi dulu ya," kata Dian setelah mengambil satu set baju rumah yang bersih.


Jackson dan Rossy sedang liburan berdua setelah putra-putrinya selesai bulan madu sehingga Dian dan Stefan tidak menginap di Mansion Wijaya.


Mao Mao melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju dapur. "Fan Fan! Mimi sudah bangun," kata Mao Mao.


"Terima kasih Mao Mao," ucap Stefan.


Stefan meletakkan dua piring nasi goreng oriental hasil masakannya di atas meja makan, lalu melepas celemek dari tubuhnya.


"Fan Fan jahat! Aku panda merah yang imut dan pintar. Bagaimana mungkin di rumah baru ini ada lalat?" gerutu Mao Mao.


***


Stefan dan Dian duduk berhadapan menikmati nasi goreng oriental hasil masakan Stefan, sedangkan Mao Mao duduk tenang di bawah kaki Dian.


"Fan! Masakanmu semakin enak. Mommy pasti bangga punya murid sepertimu," puji Dian.


Suasana hati Stefan semakin senang karena pujian dari istri tercinta. "Sunshine mau coffee, tea, or me?" tanya Stefan sambil menatap Dian dengan sepasang mata yang berbinar-binar.


Dian hampir tersedak nasi goreng di dalam mulutnya. Gadis muda itu sangat mengerti arti tatapan dan ucapan Stefan, yang serius serta tidak main-main.

__ADS_1


Padahal petualangan fantasi Stefan semalam sudah membuat tubuh Dian masih terasa pegal dan kecapekan. Dian tidak mau mengulanginya lagi di pagi hari ini.


"Coffee saja," jawab Dian dengan cepat.


"Coffee? Benaran gak mau Me?" tanya Stefan sekali lagi sambil menunjuk dirinya sendiri.


Stefan tertawa kecil di dalam hati hatinya menatap wajah Dian yang merona merah. Stefan memang suka menggoda istri tercintanya.


Ting Tong!


Suara bel pintu bagaikan dewa penolong bagi Dian. Wanita muda itu segera berdiri dari kursinya. "Fan! Aku buka pintu dulu!" ucap Dian dan berlari secepat kilat meninggalkan ruang makan.


Stefan tertawa kecil dan berdiri dari kursinya, menyusul Dian. "Kelinci kecilku. Kamu tidak bisa lari selamanya," batin Stefan.


***


Selamat siang readers tercinta. Babang Stefan semakin nackal setelah berhasil belah duren 😂😂😝.


Tebak yuk. Siapa yang berkunjung pagi-pagi?


Jawabannya di bab besok ya🥰


Bonus chapter hanya beberapa bab saja. Jadi up nya satu saja ya supaya bisa lebih lama bersama readers tercinta.


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2