HASRAT CINTA PERTAMA

HASRAT CINTA PERTAMA
BAB 87. Satu permintaan


__ADS_3

***Healing Hands Hospital***


Dua puluh menit setelah Adi Bramasta dan Pak Eko meninggalkan Healing Hands Hospital, Luis berjalan menuju kamar rawat inap VVIP karena sudah selesai makan siang di kantin.


"Nona Dian belum bertemu CEO Stefan?" tanya Luis.


Luis merasa heran melihat Dian duduk di kursi tunggu pasien yang terletak di dekat kamar rawat inap VVIP Stefan.


"Tadi aku membeli buah di lantai satu," jawab Dian sambil berdiri dari kursi.


Dian memang sengaja mampir di salah satu toko buah yang berada di dalam rumah sakit. Parcel buah-buahan segar memang tersedia di sana sehingga keluarga atau pun teman terdekat bisa membelinya sebelum menjenguk pasien.


"Mari saya bantu bawa parcel buahnya, nona Dian!" kata Luis sambil mengambil parcel buah dari tangan salah satu bodyguard.


Luis berusaha mengatasi rasa ngeri nya melihat dua bodyguard bertubuh kekar yang berdiri tepat di sisi kiri dan kanan Dian. Kedua bodyguard yang bersama Dian lebih sangar wajahnya dibandingkan dua bodyguard yang menjaga Stefan semalam.


Dian tersenyum kecil melihat reaksi Luis terhadap kedua bodyguard. "Kalian tunggu di sini saja!" pesan Dian.


"Baik nona Dian!" jawab kedua bodyguard bersamaan.


***


Stefan menoleh ke arah pintu kamar ketika mendengar suara pintu dibuka. Sosok Luis muncul di hadapannya beserta sebuah karangan buah yang besar dan cantik.


Stefan mengira karangan buah itu pastilah berasal dari rekan bisnis sehingga mengalihkan perhatiannya dari pintu kamar ke layar handphone yang berada di tangannya.


Ketika Adi pergi dalam keadaan marah, Stefan tidak memedulikannya. Stefan fokus memeriksa email berisi laporan kerja dari kepala setiap departemen.


Walaupun saat ini Stefan harus dirawat di Healing Hands Hospital, tetapi pria muda itu tetap melakukan pekerjaannya agar posisinya sebagai CEO Perusahaan Bramasta tidak terancam.


Berita kecelakaan yang menimpa Stefan pun tidak menyebar luas karena Jackson dan Chandra yang menutupinya. Jika tidak, maka bisa dipastikan saham Perusahaan Bramasta pasti akan anjlok lagi.


"CEO Stefan. Nona Dian datang menjengukmu," kata Luis sambil meletakkan parcel buah di atas meja.


Stefan segera mengangkat kepalanya dan melihat jelas sosok Dian berdiri di depan pintu kamar. "Dian?" gumam Stefan.


Stefan mengira dirinya berhalusinasi mendengar Luis mengatakan Dian datang menjenguknya, tetapi saat matanya melihat jelas wajah gadis muda itu, Stefan merasa sangat senang.


Dian berjalan menghampiri tempat tidur pasien dan duduk di kursi yang terletak di samping Stefan.


"Bagaimana keadaanmu Stefan?" tanya Dian.


Dian menatap kepala Stefan yang diperban dan juga kaki kanan pria muda itu yang di gips.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menjengukku," jawab Stefan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah menolongku," ucap Dian dengan tulus.


Luis bisa merasakan Dian dan Stefan berkomunikasi dengan canggung sehingga memutuskan memberikan lebih banyak privacy kepada mereka berdua dan mencari alasan untuk pergi.


"CEO Chandra. Aku akan meminjam pisau buah," kata Luis dan keluar dari kamar dengan cepat sebelum Stefan memberikan jawaban.


Kali ini Luis ingat menutup rapat pintu kamar, bahkan Luis memberi pesan ke suster jaga agar tidak masuk ke dalam kamar pasien dalam waktu satu jam ke depan.


***


Stefan menatap tangan dan siku Dian yang masih dibalut perban. "Luka ditanganmu masih sakit? Apakah sudah rontgen full body?" tanya Stefan.


"Sudah rontgen. Hanya luka lecet saja," jawab Dian.


Suasana kamar pasien menjadi sunyi lagi karena Dian dan Stefan tidak tahu harus memulai percakapan mengenai apa. Mereka berdua mungkin pernah terlihat dekat karena ikatan pernikahan, tetapi hubungan mereka berdua semakin jauh karena ikatan yang sama.


"Oh iya. Aku membawa sup herbal untukmu," ucap Dian, untuk mencairkan suasana.


Dian berdiri dari tempat duduk, lalu membantu menarik overbed table (meja makan pasien di tempat tidur) agar mendekat ke Stefan.


Dian meletakkan termos penghangat di atas meja dan membukanya perlahan. Aroma sup herbal yang harum merebak di dalam kamar. Dian mengambil satu mangkuk dari laci meja dan menuangkan semua sup herbal ke dalam mangkuk itu.


"Harum kan? Sup herbal ini bisa membantu proses penyembuhan kesehatanmu dengan cepat. Minumlah selagi hangat," kata Dian.


Stefan mengangkat mangkuk yang berisi sup herbal, meniupnya sebentar sebelum meneguknya secara perlahan.


"Enak kan?" tanya Dian.


"Iya. Sangat enak. Kamu yang memasaknya?" tanya Stefan.


"Bukan! Mommy yang memasaknya," jawab Dian jujur.


Stefan merasa kecewa sedikit dengan jawaban Dian, tetapi rasa kecewanya berhasil ditekan dengan cepat. Sup herbal itu sangat berharga karena dimasak oleh Nyonya Wijaya sendiri. Jika bukan karena telah menyelamatkan Dian, Stefan bisa memastikan dirinya tidak akan pernah bisa mencicipi masakan Rossy.


"Dian. Tolong sampaikan ucapan terima kasih ke nyonya Rossy dan juga tuan Jackson," kata Stefan.


"Baiklah. Besok aku datang dan membawakan sup herbal yang sama," ucap Dian.


Dian bersiap meninggalkan kamar pasien, tetapi Stefan memanggilnya dengan cepat.


"Dian. Bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Stefan.


"Baiklah," jawab Dian. Dian duduk tenang di samping Stefan, menunggu dengan sabar apa yang ingin dikatakan Stefan.


"Apakah Stefan sudah terbujuk dengan perkataan Adi?" batin Dian.

__ADS_1


"Dian. Aku ingin kamu memberiku satu kesempatan," ucap Stefan dengan hati-hati.


"Sebagai balasan atas budimu menyelamatkanku?" tanya Dian.


"Bukan! Aku bukan orang licik yang memanfaatkan hal itu!" jawab Stefan dengan tegas.


Dian menatap tajam Stefan untuk mencari tahu apakah pria muda di depannya berbohong atau tidak.


"Kesempatan apa?" tanya Dian, beberapa saat kemudian.


"Satu tahun! Aku akan membuktikan padamu bahwa aku juga mencintaimu dengan tulus. Jangan khawatir! Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Jika pada akhirnya aku masih tidak bisa meluluhkan hatimu, aku akan mundur!" jawab Stefan dengan sungguh-sungguh.


"Kamu ingin pernikahan bisnis?" tanya Dian sekali lagi.


"Tidak! Aku tidak akan pernah mengikatmu dalam pernikahan yang kamu benci. Aku hanya ingin berada di sisimu. Anggap saja kita mulai dari teman biasa. Bolehkah?" mohon Stefan.


"Kenapa kamu mengajukan permintaan ini? Kamu gak takut aku membalas semua perbuatanmu dulu," ucap Dian.


"Aku bersedia menerima semua pembalasan darimu," jawab Stefan.


Suasana kamar menjadi sepi. Dian terdiam dalam waktu yang lama sambil memikirkan permintaan Stefan dengan serius, sedangkan Stefan menunggu jawaban Dian dengan gelisah.


Jika Dian menolak permintaannya, Stefan bisa pastikan dirinya akan kehilangan Dian selama-lamanya. Akan tetapi, Stefan tidak berani mendesak Dian. Apa pun hasil keputusan Dian, Stefan akan menerimanya.


Sementara Dian mengingat kembali rekaman cctv yang diperlihatkan oleh Chandra tadi pagi. Rekaman cctv yang memperlihatkan jelas kecelakaan yang dialami olehnya kemarin.


Stefan berlari kencang ke arahnya serta mendorongnya keras sehingga Dian terhindar dari tabrakan mobil. Terlihat jelas Stefan tidak ragu-ragu mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan Dian.


Pada akhirnya Dian memutuskan mengabulkan permintaan Stefan, setelah mempertimbangkan dengan matang.


"Baiklah. Kita mulai dengan hubungan teman biasa," kata Dian dengan wajah serius.


"Iya. Teman biasa," jawab Stefan sambil tersenyum.


***


Selamat malam readers. Akhirnya babang Fan Fan bisa mulai hubungan pertemanan dengan Dian.


Apakah lancar atau ada godaan? 😂😂


Besok si aki akan muncul lagi ya. 🤭🤭


TERIMA KASIH


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2