
Sudah lebih dari satu jam Louis berada di sana, menunggu gadis bernama Arista yang katanya belum mandi selama dua hari. Apa yang dilakukan oleh Louis merupakan hal diluar kebiasaannya sebenarnya. Baru pertama kali ini dia rela membuang waktunya untuk melakukan yang hal sama sekali gak penting dan tentu saja membuang waktu berharganya begitu saja.
Louis pun berjalan mondar-mandir di area kamar seraya menatap pintu kamar mandi dengan tatapan kesal. Setelah itu dia berjalan menuju pintu kamar mandi lalu mengetuknya dengan perasaan keras dan sedikit bertenaga.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Arista, kamu lagi ngapain si? Mandi aja lama benget. Jangan bilang kalau kamu pingsan di dalam sana." Teriak Loius diiringi suara ketukan.
Ceklek ....
Pintu pun sedikit dibuka dan Arista mengeluarkan kepalanya mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka itu dengan tubuh masih tersembunyi di balik pintu.
"Tuan ..." Rengek Arista sedikit cengengesan.
"Astaga Arista. Lagi ngapain kamu? Kamu tau, ada satu aturan lagi yang belum saya kasih tau kamu?''
"Maaf, Tuan. Tapi bolehkan saya memotong ucapan anda kali ini?"
"Nggak ....''
"Ini darurat, Tuan.''
"Aturan terakhir yang belum saya kasih tau ke kamu adalah. 'Saya gak suka kalau saya harus membuang waktu berharga saya.' Kamu udah langgar aturan saya yang satu itu dengan membuat saya menunggu di sini selama lebih dari satu jam. Apa kamu tau setiap detik bagi pengusaha kayak saya tuh sangat berharga tau." Tegas Louis penuh penekanan.
"Iya maaf, Tuan. Lagian, saya 'kan udah suruh Tuan buat nunggu di luar. Tuan sendiri yang memilih untuk menunggu di sini jadi, bukan salah saya dong," jawab Arista dengan begitu polosnya membantah ucapan Louis membuat Duda satu anak itu semakin dibuat kesal.
"Kamu ini ... Heuuuuh ... Bikin kesel saja si."
"Tuan ..." Rengek Arista lagi masih dengan posisi yang sama.
"Apa lagi? Buruan keluar.''
"Tunggu dulu. Izinin saya ngomong dulu, Tuan. Tuan ini bener-bener arogan."
"Apa? Arogan?"
"Iya, makannya izinin saya ngomong dulu. Sekarang Tuan tutup mulut dulu. Gantian saya yang ngomong dari tadi nyerocos Mulu kayak petasan aja," ucap Arista kesal membuat Louis seketika merapatkan bibirnya.
"Nah, sebenarnya saya udah selesai mandi dari tadi, tapi--" Arista tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi apa?"
__ADS_1
"Saya gak tau harus pakai apa sekarang, saya 'kan gak bawa baju ganti sama sekali," lirih Arista membuat Louis seketika terkejut.
"Astaga? Jadi sekarang kamu masih polos? Gak pake apapun?"
Arista menganggukkan kepalanya merasa malu.
"Kenapa gak bilang dari tadi? Kenapa juga diam aja di dalam? Saya 'kan bisa bawain kamu pakaian.''
"Saya malu, Tuan."
Louis pun menatap ke arah pintu kini, sejenak otaknya disinggahi bayangan kotor akan tubuh Arista yang saat ini tanpa sehelai benangpun.
"Tuan lagi mikirin apa? Jangan deket-deket ya. Awas aja kalau ngintip," Arista menutup pintu kamar mandi sehingga hanya tersisa celah kecil kini.
"Hahaha ... Maksud kamu apa? Enak aja ngintipin kamu, kalau aku mau, aku bisa maksa kamu buat--" Louis tidak meneruskan ucapannya.
''Buat apa?"
"Nggak, lupakan aja. Kamu tunggu di sini saya bawakan kamu baju ganti." Pinta Louis berjalan keluar dari dalam kamar.
"Dasar Arista, bikin kesel aja si." Gerutu Louis dengan wajah yang sedikit cengengesan.
Dia pun masuk ke sebuah kamar yang sepertinya kamar yang sudah lama dibiarkan kosong. Dia nampak menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dirinya mulai membuka pinta dan masuk ke dalam kamar tersebut.
Ceklek ....
Sebenarnya, pakaian siapa yang ada di sana? Apakah pakaian mantan istri yang sudah dia ceraikan tiga tahun yang lalu? Jawabannya iya. Pakaian Clara masih tergantung rapi di sana, lengkap dengan pakaian dalam dan aksesoris lainnya yang semuanya dari merk ternama buatan desainer terkenal.
Louis pun menatap satu persatu pakaian tersebut mencari pakaian yang cocok yang akan dia pinjamkan kepada Arista.
"Kenapa semua pakaian gak ada satupun yang cocok buat gadis pecicilan itu sih?" Gerutu Louis menutup pintu lemari kaca lalu membuka lemari lainnya.
"Hmm ... Kayaknya yang ini cocok deh," gumamnya lagi saat menemukan dress berwarna abu dengan motif sederhana.
Dia pun meraih dress tersebut lalu hendak keluar dari dalam ruangan tersebut namun, seketika dia pun menghentikan langkahnya dan kembali menatap sekeliling.
"Pakaian dalam? Dia juga pasti butuh pakaian dalam." Ucapnya pelan lalu membuka laci tempat dimana pakaian dalam berada.
"Hmm ... Tapi saya gak tau berapa ukuran pakaian dalam yang biasa dia pakai." Gumam Louis terdiam sejenak.
Otaknya melayang kini membayangkan ukuran dada Arista dan mencoba menebak berapa kira-kira ukuran B*H yang cocok untuk gadis yang memiliki tubuh kurus dengan tinggi semampai itu.
__ADS_1
"36 atau 34 ya? Hmm kalau kekecilan gimana? tapi kayaknya dengan tubuh kurus kayak gitu ukuran dadanya 36 deh?" Louis bicara sendiri seraya memilih B* berwarna hitam lengkap dengan ce*ana da*am dengan warna yang senada.
Setelah itu dia pun keluar dari dalam kamar dan kembali ke ke kamar dimana Arista berada.
Di dalam kamar.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Buka, saya bawain kamu baju ganti." Pinta Louis mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek ....
Pintu kamar mandi pun terbuka dan Arista hanya mengulurkan satu tangannya dan meminta Louis untuk memberikan pakaian yang di bawanya.
"Mana siniin." Arista dengan sedikit menaikan suaranya.
"Heuuuuh ... Dasar pelayan tidak tau diri, kenapa jadi saya yang melayani kamu sih?'' gerutu Louis menyerahkan pakaian yang dibawanya.
"Makasih, Tuan Louis arogan."
Blug ....
Arista menutup pintu dengan sedikit bertenaga membuat Louis semakin di buat kesal seketika.
♥️♥️
10 menit kemudian, Arista pun keluar dari dalam kamar mandi sudah berpakaian lengkap dengan wajah cengengesan dia berjalan menghampiri Louis yang saat masih dengan setia menunggu dirinya di sana.
"Tu-an ..." Sapa Arista sedikit terbata-bata.
Louis yang sedang memunggunginya pun, seketika memutar badan lalu menatap Arista dari ujung kaki hingga ujung rambut seolah tanpa berkedip sedikitpun merasa terpesona dengan kecantikan alami yang kini terpancar begitu menyilaukan mata.
"Tuan, kenapa pakaiannya bisa pas banget di badan saya? Pakaian dalamnya juga? Padahal saya gak kasih tau Tuan ukurannya lho," tanya Arista merasa heran.
"Ya saya cuma nebak saja, ukuran badan kurus kayak kamu pasti memiliki ukuran dada 36."
"Tuan gak ngintipin saya 'kan tadi? Awas, nanti matanya bintitan lho."
"Arista, kamu dari tadi bikin kesal saya terus ya? Apa kamu tau apa yang biasa saya lakukan jika ada wanita yang berani bikin kesal perasaan saya?"
Louis berjalan mendekat dengan mata yang menatap tajam wajah Arista membuat gadis itu sontak memundurkan langkah kakinya seiringan langkah kaki Louis yang kini semakin mendekati dirinya hingga tubuh Arista bersandar di tembok kini.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️