
Louis seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut dengan apa yang dia lihat di bawah sana. Jodi dengan lantangnya mengutarakan perasaan cintanya kepada Arista dengan berlutut lengkap dengan setangkai bunga mawar merah yang akan dia persembahkan kepada gadis yang saat ini dia cintai.
Dengan perasaan geram Louis pun turun dari lantai dua, langkah kakinya terlihat lebar menapaki setiap anak tangga dengan setengah berlari. Mata Louis pun nampak menatap tajam wajah Jodi penuh rasa dendam. Belum lagi, rasa cemburu yang kini mengusik hatinya terasa panas membara bagai membumi hanguskan seluruh organ di dalam tubuhnya.
'Kurang ajar kamu, Jodi,' (batin Louis merasa kesal)
"JODIIIIIII ..." Teriak Louis sesaat setelah dirinya sampai di ujung tangga, membuat Jodi terkejut begitupun dengan Arista yang kini menoleh menatap wajah Louis dengan tatapan heran.
"Tu-an bos? Ada apa?" Tanya Jodi polos dan tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Kamu saya pecat sekarang juga."
"Hah?"
"Tuan Louis kenapa? Jodi kenapa di pecat?" Tanya Arista dengan begitu polosnya membuat Louis semakin merasa kesal.
"Tuan, kenapa saya di pecat? Salah saya apa Tuan?" Tanya Jodi bangkit lalu menatap wajah Bosnya itu dengan tatapan tidak mengerti.
"Pokoknya kamu saya pecat. Jangan tanyakan alasannya, oke?" Jawab Louis terlalu malu untuk mengakuinya bahwa sebenarnya dia merasa cemburu.
"Ya gak bisa gitu dong, Tuan. Kalau anda memecat saya, anda harus kasih tau alasan kenapa saya di pecat. Gak bisa main pecat-pecat gitu aja dong. Saya 'kan udah 5 tahun lebih kerja sama Tuan,'' rengek Jodi menuntut kejelasan.
"Jadi kamu bantah saya, Jodi? Kamu berani menjawab setiap ucapan saya?"
"Saya cuma mau bos jelasin, apa alasan bos tiba-tiba pecat saya gitu aja?"
__ADS_1
"Kamu ingin tau apa alasannya?"
Jodi mengangguk pasti.
"Alasannya adalah, karena kamu udah bikin keributan di sini dengan bersikap so romantis. Berlutut segala, bawa bunga juga, cuih ... Jijik saya ngeliatnya," tegas Louis meraih bunga mawar yang genggam Jodi lalu melemparnya ke sembarang arah.
"Hahahaha ... Jadi karena itu Bos marah, karena cemburu?" Tanya Jodi tertawa terbahak-bahak merasa lucu dengan sikap bosnya tersebut.
"Ko kamu malah ketawa? Apanya yang lucu? Dasar kurang ajar.'' Louis semakin membulatkan bola matanya.
"Tuan Bos yang lucu, lucu banget. Bilang aja kalau Tuan bos itu sebenarnya cemburu, pake muter-muter kanan-kiri kayak komedi putar aja. Hahaha ...'' Jodi tertawa terbahak-bahak, dan hal itu sukses membuat Louis semakin murka lalu mencengkram erat kedah kemeja berwarna putih yang dipakai oleh Jodi membuatnya seketika terkejut dan langsung merapatkan kedua bibirnya begitupun pun suara tawanya yang kini lenyap di telan kesunyian yang datang secara tiba-tiba.
Atmosfer di rumah itu mendadak terasa mencekam. Pemilik rumah yang saat sedang dalam keadaan marah besar sukses membuat semua yang ada di sana termasuk bibi yang juga keluar dari dalam dapur mendadak terdiam hingga kesunyian pun seketika tercipta.
Hening dan sepi layaknya kuburan di tengah malam, hanya suara jarum jam saja yang kini terdengar saling bersautan membuat suasana terasa semakin mencekam. Mata Louis yang kini menatap tajam wajah Jodi dengan kerah baju yang diangkat kuat membuat tubuh pemuda itu ikut sedikit terangkat hingga kedua kakinya berjinjit kini.
"Ti-tidak Tu-an. Am-pun, an-da sa-lah pa-ham, Tuan bos," jawab Jodi terbata-bata dengan tubuh yang gemetar.
"Cukup, Tuan. Anda salah paham. Mas Jodi gak sedang nyatain cinta sama saya, dia cuma--"
"Diam kamu, Rista. Kamu juga akan saya hukum nanti," Louis mencela ucapan Arista namun, Arista sama sekali tidak merasa takut meski kedua mata Tuannya itu menatap tajam ke arahnya dengan bola mata yang seperti hendak melompat dari tempatnya.
Arista pun berjalan mendekati Tuannya lalu mencoba melepaskan cengkraman tangan Louis dengan sedikit dihentakan. Setelah itu, dia pun menggenggam jemari tangan Louis dan menariknya keluar dari dalam rumah.
"Ikut saya, Tuan. Saya akan menjelaskan semuanya sama anda," ucap Arista seraya menggenggam kuat jemari Tuannya itu.
__ADS_1
Anehnya, Louis yang semula terbakar emosi bahkan rahang tegasnya yang semula mengeras dengan bola mata memerah pun menurut begitu saya saat tubuhnya ditarik paksa oleh gadis itu, bahkan Louis balas mencengkeram jemari tangan Arista kuat.
"Awas kamu, Jodi. Urusan kita belum selesai ya," tegas Louis seraya berjalan menjauh dari arah Jodi.
Jodi pun akhirnya bisa bernapas lega, dia berjongkok mencoba mengatur napasnya yang sempat berhenti berhembus untuk sesaat. Ini adalah kedua kalinya dia melihat Tuan bos murka. Hal yang sama pernah dia saksikan dulu saat mengetahui istrinya selingkuh tiga tahun yang lalu, dan bagi Jodi, tidak ada hal yang paling menakutkan selain melihat Tuan bosnya itu marah.
Sementara itu, Arista dengan wajah kesalnya melepaskan tangan Louis kasar sesaat setelah dirinya dan Tuannya itu sampai di taman yang ada dihalaman rumah besar milik Tuan Louis Gabriel.
"Tuan apa-apaan sih? Seharusnya Tuan nanya dulu dong apa yang sebenarnya terjadi, bukan langsung marah kayak gini. Dasar Tuan Arogan gak punya hati," ketus Arista menunjuk wajah Louis dengan jari telunjuknya.
Bukanya menjawab dan menanggapi ucapan Arista, Louis malah menc*um bibir Arista buas dengan tangan yang diletakan di kedua sisi pipi tirus Arista secara membabi buta. Arista yang saat ini sedang kesal pun berusaha melepaskan diri dengan menggerakkan tubuh dan kepalanya sedemikan rupa namun, usahanya sia-sia, tubuh kecilnya tidak dapat mengimbangi tenaga Tuannya itu yang saat ini mencekam kuat kedua sisi pipinya.
"Hmm ..." Gumam Arista mencoba melepaskan diri.
Sampai akhirnya, Louis pun melepaskan Tautan bibirnya lalu menatap wajah Arista masih dalam keadaan wajah yang sangat dekat, bahkan hanya tersisa beberapa senti saja.
"Saya udah pernah bilang sama kamu, Rista. Saya akan melakukan hal yang lebih dari ini kalau kamu berani menghina saya lagi." Bisik Louis dengan napas yang terdengar memburu terasa menyapu permukaan wajah Arista.
"Mas Jodi sedang latihan aja tadi, dia bukan lagi nyantain cinta sama saya, Tuan,'' lirih Arista membuat Louis seketika terkejut lalu menurunkan kedua tangannya.
"Hah? Maksud kamu apa, Rista? Latihan? Latihan apa?" Tanya Louis merasa tidak mengerti.
"Jadi gini. Mas Jodi itu mau ngungkapin perasaannya sama seorang wanita, tapi bukan saya. Dia cuma berlatih mengatakan hal itu supaya dia gak merasa gugup saat mengatakannya di depan wanita itu nanti," jelas Arista jelas dan lantang membuat wajah Louis seketika memerah menahan rasa malu karena telah salah paham kepada Jodi.
'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?' (batin Louis)
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️