Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Tenaga Kerja Indonesia


__ADS_3

Baik Louis maupun Arista seketika merasa tersentak, apa maksud dari ucapan Tuan Alex yang mengatakan bahwa Assisten Rumah Tangganya meninggal 20 tahun yang lalu?


Seperti sebuah firasat, dada Arista tiba-tiba saja terasa sesak. Kelopak matanya pun dipenuhi dengan buliran air mata kini, tubuh seorang Arista pun terasa lemas seolah tidak bertenaga.


"Apa maksud, Tuan Alex?" Tanya Louis merasakan perasaan yang sama seperti istrinya.


"Tujuan kami mencari anak itu adalah untuk melaksanakan permintaan terakhir mendiang Assiten saya itu. Sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya di sana, beliau ingin kami menemukan dua putrinya di sini di negara Indonesia."


Duar ....


Arista bagai tersambar petir di siang bolong. Dia yang semula menunduk lemas, kini mengangkat kepalanya menatap wajah Tuan Alex dengan tatapan tajam lengkap dengan air mata yang berjatuhan membasahi wajah cantiknya.


"A-apa maksud anda? Maksudnya ibuku meninggal di sana, di Singapura sebagai Tenaga Kerja Indonesia, begitu?" Tanya Arista dengan suara bergetar.


Tuan Alex dan Miss Shopia pun seketika tertegun menatap wajah Arista dengan tatapan tidak percaya.


"Kamu--" Lirih Miss Shopia yang juga dengan mata yang berkaca-kaca.


"Biar saya jelaskan. Sebenarnya, istri saya ini adalah gadis yang sedang kalian cari. Maaf karena baru mengatakannya sekarang karena istri saya butuh waktu untuk berfikir," jelas Louis meraih pergelangan tangan istrinya lalu menggenggam erat jemari-nya seolah ingin memberinya kekuatan.

__ADS_1


"Jadi--" Lagi-lagi Miss Shopia tidak kuasa meneruskan ucapannya, dia berpindah tempat duduk menjadi tepat di samping Arista dengan buliran air mata yang kini membasahi wajahnya.


"Kamu putri dari Wina? Kenapa kamu sendiri, dimana Kakak kamu? Bukannya Wina punya dua putri cantik?" Tanya Miss Shopia meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi Arista, menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.


"Jawab dulu pertanyaan saya. Apakah Assisten Rumah Tangga yang anda maksud adalah ibuku?" Lirih Arista, rasa sesak di dadanya terasa semakin menyiksa tatkala menunggu jawaban yang tidak kunjung dia dapatkan.


"Kalau kamu adalah gadis yang ada di Poto yang dikirimkan oleh suami saya, itu berarti memang iya. Kamu adalah putri Assisten Rumah Tangga saya yang telah meninggal 20 tahun yang lalu. Poto itu saya dapatkan dari dalam koper Wina yang masih saya simpan sampai sekarang."


"Astaga, ya Tuhan. Mas ...? Hiks hiks hiks ..." Tangis Arista seketika pecah, seketika itu juga Louis langsung memeluk tubuh istrinya mencoba untuk menenangkan di tengah hatinya yang juga merasakan kesedihan yang saat ingin dirasakan oleh istrinya.


"Jadi selama ini ibuku telah meninggal? Mas bagaimana ini, Mas. Aku telah menghabiskan separuh umurku untuk membenci dia, hiks hiks hiks ..." Teriak Arista menangis histeris di dalam pelukan suaminya.


Sungguh .... Hati Arista benar-benar merasa hancur. Apakah sang kakak pun tau prihal ibunya yang berangkat ke Singapura kala itu? Mengingat bahwa dirinya masih terlalu kecil waktu itu, membuat otaknya sama sekali tidak dapat mengingat sedikitpun kenangan masa kecil dirinya bersama sang ibu.


"Jadi, ibumu sempat bekerja selama satu tahun, dan saya sangat dekat dengan beliau, mengingat bahwa beliau orang yang jujur dan juga baik kepada saya. Akan tetapi, naas Wina harus kena serangan jantung, dia sempat di rawat di Rumah Sakit di sana namun, nyawanya tidak tertolong. Tadinya, kamu kamu memulangkan dia ke Indonesia, tapi kamu sama sekali tidak tau harus memulangkan dia kemana, karena Wina bekerja di sana dengan cara yang Ilegal."


"Akan tetapi, sebelum dia meninggal. Beliau sempat memberi kami pesan untuk mencari kalian berdua dan memberikan uang gaji yang selama ini dia tabung untuk dikirimkan selama Wina berkerja bersama kami."


"Akan tetapi, kami kesulitan mencari kalian. Karena Wina memakai paspor palsu waktu itu. Mungkin dia nekad bekerja di Singapura kerena desakan ekonomi dan tidak melewati prosedur yang seharusnya, itu sebabkan kami kesulitan untuk memulangkan jenazah dia kalah itu. Maafkan kami, seharusnya kami bekerja lebih keras lagi untuk mencari kalian." Jelas Miss Shopia panjang lebar.

__ADS_1


Arista tidak mengatakan apapun lagi, bibirnya terasa begitu kaku untuk digerakkan. Dia hanya bisa mendekap erat tubuh suaminya masih diiringi tangis yang terdengar begitu pilu.


"Tapi Tuan Louis. Apakah anda belum menemukan putri yang satunya?" Tanya Tuan Alex merasa heran.


"Kakakku udah meninggal beberapa bulan yang lalu," lirih Arista mulai mengurai pelukan.


"Astaga? Kamu serius? Ya Tuhan, malang sekali nasib keluarga kalian. Saya janji akan memberikan kompensasi yang besar untuk kalian."


"Saya tidak butuh uang, suami saya sudah cukup memberi saya uang. Saya ingin ketemu sama ibu saya, antar'kan saya ke sana sekarang juga, hiks hiks hiks ..." Tegas Arista menahan rasa sakit di hatinya.


Tuan Alex dan Miss Shopia pun hanya bisa menahan rasa bersalahnya, bahkan semakin merasa bersalah mengingat bahwa putri pertama dari wanita bernama Wina, telah meninggal beberapa bulan yang lalu.


"Sekali lagi kami minta maaf. Kalau anda ingin mengunjungi makam beliau saya akan pesankan tiket sekarang juga dan kita bisa terbang ke Singapura sore ini juga.''


"Tidak bisa, Tuan Alex.'' Jawab Louis membuat Arista merasa terkejut seketika.


"Lho, kenapa gak bisa, Mas. Aku ingin ketemu sama ibuku sekarang juga. Maksud aku, aku ingin ke tempat peristirahatan terakhir beliau. Kalau bisa, aku juga ingin memindahkan makamnya ke sini. Bisa 'kan, Mas? Kamu selalu mengabulkan permohonan aku, Mas selalu bisa menunjukkan keinginan aku. Aku mohon, aku ingin membawa ibuku pulang dan dimakamkan di samping Mbak Clara," rengek Arista dengan suara manja seperti biasanya.


Louis seketika hanya bisa menunduk merasa dilema. Mana mungkin makam yang sudah 20 tahun di kuburkan bisa dipindahkan begitu saja? Apalagi makam itu dari negara yang berbeda.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2