
Ceklek ....
Pintu ruangan pun di buka, Tere dengan membawa nampan berisi secangkir kopi masuk ke dalamnya membuat David seketika menoleh dan menatap wajah wanita itu.
'Apakah dia wanita Spesial itu?' (batin David.)
Entah mengapa, tiba-tiba saja perasaannya merasa gugup kini. Menatap wajah Tere membuatnya mengingat kembali ucapan lantang penuh percaya diri yang dia dengar beberapa waktu yang lalu.
"Permisi, Tuan bos. Saya membawa secangkir kopi panas yang anda minta." Ramah Tere meletakan cangkir tersebut di atas meja.
"Terima kasih. Nama kamu siapa? Saya lupa." Tanya Louis yang juga memasang wajah ramah.
"Nama saya Teresia, Tuan bos. Panggil saja Tere." Jawab Tere penuh percaya diri lengkap dengan senyuman ceria.
"Hmmm ... Tere ya. Oke ... Terima kasih kopinya Tere.''
"Sama-sama, Tuan bos."
Tere pun hendak pergi.
"Tunggu, Teresia."
"Iya, Tuan bos. Apa ada hal lain lagi yang anda butuhkan?"
"Tidak, bukan begitu. Saya hanya mau bertanya sama kamu. Apakah kamu sudah punya pacar, atau sudah menikah?"
"Hah? Eu ... Belum, Tuan bos. Saya masih jomblo ko." Jawab Tere dengan wajah cengengesan.
"Daddy apaan sih nanya-nanya gitu segala sama dia? Gak ada kerjaan banget si?''
Set ....
Kedua matanya Tere seketika melesat menatap wajah David, dan tentu saja David yang semula tersenyum menyeringai penuh ejekan pun tiba-tiba saja menundukkan kepalanya merasa salah tingkah.
"Kenapa memangnya? Daddy rasa dia wanita spesial yang maksudkan."
"Hah?" David melirik ke arah sang ayah dengan tatapan tidak suka.
"Buktinya wajah kamu merah gitu? Daddy tau kamu grogi di depan dia, iya 'kan?"
Teresia menatap wajah Louis dan juga David secara bergantian seraya mengerutkan kening tanda tidak mengerti.
__ADS_1
"Dih, apaan. Enak aja, Daddy jangan ngaco ya. Mana mungkin aku--?'' David tidak meneruskan ucapannya saat tatapan mata Tere kembali mengarah kepadanya kini.
Louis pun hanya bisa menatap wajah Tere dan juga putranya secara bergantian lalu tersenyum kemudian.
"Kamu boleh pergi sekarang, maaf kalau ucapan saya agak tidak sopan karena saya suka sekali bercanda. O iya, jangan terlalu benci sama putra saya, nanti lama-lama benci kamu berubah jadi cinta lho,'' goda Louis dan wajah Tere pun seketika memerah.
"Saya permisi, Tuan bos." Pamit Tere sopan dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Setelah itu dia pun memutar badan dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Daddy apaan si? Bercandanya gak lucu tau."
Louis tersenyum menatap wajah putranya.
"Daddy tau kalau kamu berdebar saat di tatapan sama wanita itu tadi."
"Hah? Hahahaha ... Nggak ko, mana mungkin. Aku 'kan sudah bilang kalau type wanita idaman aku itu wanita yang Spesial, bukan OB rendahan seperti dia." Elak David sedikit terbata-bata.
"Memang dia spesial ko, iya 'kan."
"Iya si ...! Hah? Tidak, nggak ko. Anu ... Ikh Daddy ..."
"Hahahaha ...! Daddy sarankan kamu jangan terlalu membenci dia, Dav. Jarak antara benci sama cinta itu tipis lho. Kamu bisa saja jatuh cinta sama dia nantinya kalau kamu terlalu membenci dia."
"Nah itu dia. Penyangkalan kamu yang bisa membuat jamu jatuh cinta beneran sama dia. Kamu tau, Daddy juga dulu gitu. Daddy gak nyangka bisa jatuh cinta sama Mommy Arista. Dia persis seperti Tere, bar-bar, cuek, ceplas-ceplos bahkan selalu membantah apapun yang Daddy katakan, dan anehnya Daddy selalu mengalah,'' lirih Louis seketika pikirannya melayang ke masa lalu kembali mengingat saat dirinya pertama kali bertemu dengan istri yang sangat dicintainya itu
"O ya? Sebesar itu rasa cinta Daddy sama Mommy Arista sampai-sampai Daddy selalu mengalah apapun yang dikatakan oleh beliau?''
Louis tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Mengingat masa lalu membuatnya tiba-tiba saja merindukan istrinya itu.
"David, dengarkan Daddy. Daddy ingin mengatakan sesuatu sama kamu." Ekspresi wajah Louis tiba-tiba saja berubah serius.
"Apa, Dad? Serius amat."
"Daddy ingin kamu segera mengambil alih perusahaan Daddy. Daddy lelah dan ingin menikmati masa tua Daddy dengan Mommy mu."
"Hah? Kenapa tiba-tiba sekali? Aku belum siap, Dad. Aku masih perlu banyak belajar sama Daddy."
"Kamu sudah cukup banyak belajar sama Daddy, dan kamu sudah pantas memimpin perusahaan ini. Satu bulan lagi, setelah proyek besar kita selesai, Daddy akan mengundurkan diri dan benar-benar menyerahkan perusahaan kepada kamu."
"Daddy serius?"
__ADS_1
"Tentu saja. Dav, kamu juga tidak usah khawatir, Daddy juga gak akan kemana-mana, kamu masih bisa bertanya sama Daddy kalau ada masalah di perusahaan."
David seketika menunduk sedih. Dia sama sekali masih merasa belum siap apabila harus menggantikan posisi sang ayah.
"Pokoknya, siap gak siap kamu harus siap. Kamu gak lupa 'kan kalau Daddy gak suka di bantah?"
"Hmm ..." David pun hanya bisa menarik napas berat dan pasrah dengan apapun keputusan ayahnya itu.
❤️❤️
Ternyata, David sengaja pulang cepat agar bisa mengunjungi pusara Clara ibu kandungnya. Sudah lama sekali sejak dia terakhir kali berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir sang ibu yang berada tepat di samping neneknya.
David nampak berjongkok tepat di tepi pusara yang dipenuhi rumput hijau nampak rapi lengkap dengan batu nisan bertuliskan nama Clara Khiel Aditama.
"Apa kabar, Mom? Maaf aku baru sempat datang kemari." Lirih David menatap lekat batu nisan dan berbicara seolah-olah sang ibu sedang benar-benar berada di hadapannya kini.
"Aku udah besar, Mom. Aku juga akan segera menggantikan posisi Daddy seperti yang Mommy inginkan dulu. Tapi, sejujurnya aku sama sekali belum siap, Mom. Aku tidak yakin bisa menjalankan perusahaan Daddy dengan baik." Ucapnya lagi tersenyum seraya membersihkan rumput liar yang tumbuh di tepian pusara.
"O iya, Mom. Hari ini aku ketemu sama wanita kasar dan bar-bar, dia juga sudah dengan lancangnya melempar kepala aku d dengan sandal jepit murahan. Lucu bukan? Anehnya, sepertinya aku jatuh cinta sama wanita itu, wanita bernama Teresia. Aneh bukan?'' Ucap David akhirnya mengakui perasaannya sendiri.
Semudah itukah jatuh cinta? Seperti yang dikatakan oleh Tuan Louis Gabriel, batas antar benci dan cinta sangatlah tipis, setipis helaian benang yang mampu terputus hanya dengan satu kali tarikan saja.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai-hai Reader kesayangan. apa kabar kalian semua? jaga kesehatan dan makan yang teratur ya, biar bisa terus baca novel receh Othor🤭. O iya, Othor bawain kalian rekomendasi novel keren lho.
Ini dia bocoran ceritanya 👇👇👇
Warning!!
Cerita ini bukan untuk anak di bawah umur, berisi adegan baper dan kebucinan yang hakiki.
***
"Lepaskan aku, Bangs*t! Aku tidak tahu apa yang kamu maksud!"
"Lepaskan? Jangan harap! Kamu harus bertanggung jawab atas kematian adikku!"
Lyla tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia diculik tanpa tahu sebab yang sebenarnya. Dituduh menjadi penyebab kematian adik seorang laki-laki asing yang bahkan baru saja dia lihat.
Apa yang akan terjadi kepada Lyla. Dapatkan dia meyakinkan penculik dan bebas? Atau ....
__ADS_1
Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya Reader ♥️♥️♥️