Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Tidak Membutuhkan Konpensasi


__ADS_3

Louis tersenyum menatap wajah istrinya penuh rasa kagum. Setiap kata yang terucap dari bibir seorang Arista terdengar penuh penekanan juga tegas tidak seperti biasanya.


Sorot matanya yang tajam menyiratkan bahwa apa yang dia katakan penuh dengan harapan yang selama ini diam-diam tersembunyi di dalam hati seorang Arista.


"Tadi Tuan Alex menawarkan kompensasi yang besar kepada saya, dan saya tidak membutuhkan uang yang Tuan Alex tawarkan itu. Suami saya cukup kaya dan telah memberikan saya uang yang cukup. Jadi, saya tidak membutuhkannya lagi. Saya hanya minta tuan Alex menemukan ayah saya sebagai ganti dari apa yang Tuan tawarkan itu,'' tambah Arista lagi masih penuh dengan penekanan.


"Baik, Nyonya Arista. Saya akan mencari ayah anda, akan tetapi itu akan sedikit memakan waktu dan saya harap anda bisa bersabar sampai anda benar-benar mendapatkan kabar baik dari saya.'' Jawab Tuan Alex dengan penuh percaya diri akan memenuhi permintaan Arista meski meminta sedikit waktu.


"Baik, saya akan menunggu kabar baik dari anda. Sebelumnya, saya berterima kasih karena anda mau membantu saya dan tidak pernah menyerah dalam menemukan saya meskipun membutuhkan waktu selama 20 tahun lamanya." Ucap Arista membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebagai ucapan terima kasihnya kepada Tuan Alex dan juga Istrinya.


Tuan Alex dan Miss Shopia pun balas membungkukkan tubuhnya dalam-dalam sebelum mereka berpamitan dan meninggalkan ruangan tersebut.


Sepeninggal Tuan Alex dan juga Miss Shopia, kini tinggalah Louis dan istrinya duduk di ruangan tersebut. Tanpa di sangka dan tanpa di duga, Arista tiba-tiba saja menangis sesenggukan dengan suara yang sangat nyaring membuat Louis seketika langsung memeluk tubuh istrinya erat.


"Aku gak nyangka kalau ibu aku ternyata udah meninggal dari semenjak 20 tahun yang lalu, Mas. Rasanya sakit banget Mas. Hiks hiks hiks ..." Lirih Arista di dalam pelukan suaminya.


"Iya, sayang. Kamu yang sabar, ingat bayi yang ada di dalam kandungan kamu ini. Mas mengerti bagaimana perasaan kamu."


"Sakit Mas, sakit. Hiks hiks hiks ..."


Louis tidak mampu mengatakan apapun lagi, dia hanya bisa mengusap lembut punggung istrinya mencoba untuk menenangkan. Sebelumnya, Arista terlihat tegar bahkan dengan begitu percaya diri menuntut pertanggung jawaban Taun Alex untuk mencarikan keberadaan ayahnya yang dia pun tidak tau ada dimana apa masih hidup atau sudah tiada.


Ternyata, di balik sikap tegasnya itu Arista menyembunyikan rasa sesak dan kesedihan yang begitu mendalam yang saat ini sedang dia muntah'kan kepada suaminya.


"Sayang, Arista'nya Mas yang cantik. Sekarang kita pulang ya. Kamu harus istirahat, besok Mas akan terbang ke Singapura. Jadi, Mas akan pulang cepat hari ini biar bisa menemani kamu di rumah."


Arista menganggukkan kepalanya dan mulai mengurai pelukan.


♥️♥️


Keesokan harinya.


Louis benar-benar terbang ke Singapura meninggalkan Arista di rumah dengan perasaan khawatir dan merasa kehilangan, karena ini adalah kali pertamanya ditinggalkan oleh sang suami dari semenjak mereka menikah.


Rasanya campur aduk bagi Arista. Dia pun tidak bersemangat dalam melakukan hal apapun, rasa kesepian pun menyelimuti hati seorang Arista kini.

__ADS_1


"Dih, sampai sekarang belum nelpon aku. Apa Mas Louis gak kangen apa sama aku," gerutu Arista meringkuk di atas ranjang dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Aku kangen kamu Mas. Baru beberapa jam aja aku udah kangen berat." Gumamnya lagi memeluk ponsel miliknya berharap bawah suaminya itu akan segera menelpon dirinya.


Ceklek ....


Pintu kamar pun di buka, David yang baru saja pulang dari sekolah masuk ke dalam kamar. Bahkan, David masih memakai seragam merah putih lengkap dengan sepatu dan juga tas yang masih dia gendong di belakang punggungnya.


"Mommy udah makan?" Tanya David berjalan menghampiri lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Kamu udah pulang, sayang? Gimana sekolahnya?" Tanya Arista bangkit dan menerima uluran tangan David lalu mengecup puncak kepala putranya.


"Sekolahnya lancar, Mom. Mommy udah makan?''


Arista menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Lho, kenapa?"


"Mommy lagi gak selera makan. Mulut Mommy pait, Dav.''


"Meskipun begitu, Mommy harus tetap makan. Kasian Dede bayi dong kalau Mommy gak makan."


"Jangan nanti, harus sekarang dong, Mom."


"Tapi, Mommy gak tau mau makan apa?"


"Hmm ... Gimana ya? Eu ... Gimana kalau kita pesan makanan kesukaan Mommy?''


Arista termenung sejenak. Makanan kesukaannya? Stik?


"Mom?"


"Maaf Mommy ngelamun tadi. Emang kamu tau makanan kesukaan Mommy apa?''


"Tau dong, Stik daging 'kan?''

__ADS_1


Arista seketika tersenyum lebar, dia merasa heran darimana David bisa tahu tentang makanan kegemarannya yang satu itu? Dirinya bahkan sedang tidak menginginkan makanan itu sebenarnya. Akan tetapi, setelah mendengar putra sambungnya menyebut makanan yang satu itu membuat selera makannya mendadak terbangunkan dan dia pun seketika merasa lapar.


"Pinter kamu, Nak. Mommy jadi lapar denger kamu nyebut makanan itu. Tapi, emangnya kamu bisa masak makanan yang satu itu? Jujur aja Mommy gak bisa lho.''


"Gampang, Mom. Kita tinggal pesan ke Restoran dan minta mereka buat anterin ke sini. Gampang 'kan?"


"Emang bisa?"


"Astaga, Mommy Arista. Ya bisa 'lah."


"Ya udah ayo kita pesan Stik sekarang juga," Arista seketika langsung turun dari atas ranjang dengan tersenyum lebar.


Keduanya pun berjalan keluar dari dalam kamar dengan tangan yang saling bergandengan.


"Mommy mau pakai nasi." Celetuk Arista membuat David cengengesan merasa lucu.


"Hah? Masa Stik pakai nasi, hahahaha ..."


"Kenapa? Waktu di Restoran Daddy kamu kasih Mommy makan Stik sama nasi."


"Apa? Aku gak tau kalau Daddy bisa bodoh juga ternyata hahahaha ..." Tawa David terdengar renyah dan juga terlihat sangat bahagia.


♥️♥️


Keesokan harinya.


Ting ... Tong ....


Suara bel di pintu terdengar berkali-kali membuat Arista yang sedang duduk santai di ruang santai pun seketika bangkit lalu berdiri menuju pintu utama, karena sepertinya bibi sedang sibuk mengurus pekerjaan rumah di belakang.


"Siapa si sore-sore gini ada tamu? Tumben banget." Gumam Arista hendak membuka pintu.


Ceklek ....


Pintu rumah pun di buka. Arista seketika menatap heran seorang pria paruh baya berpenampilan lusuh berdiri tepat di depan pintu.

__ADS_1


"Maaf, anda siapa ya?" Tanya Arista menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut pria tua tersebut.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2