
Tanpa sadar, Louis memeluk tubuh bibi wanita paruh baya yang telah bekerja dengan dirinya lebih dari sepuluh tahun lamanya. Hal yang baru pertama kali dia lakukan sebenarnya, entah sadar atau tidak rasa sayang itu terasa begitu dalam kepada Assisten Rumah Tangganya itu.
"Makasih karena bibi masih bertahan di sini di tengah sikap saya yang arogan dan temperamental. Saya sudah menganggap bibi seperti ibu saya sendiri, jadi jangan pernah keluar dari rumah ini. Saya benar-benar minta maaf karena telah membentak bibi tadi.'' Ucapnya membuat bibi seketika merasa terkejut.
Dia memang sudah menganggap Tuannya itu seperti putranya sendiri. akan tetapi, bibi sama sekali tidak menyangkan kalau Tuan besarnya itu pun akan merasakan hal yang sama.
"Iya, Tuan. Terima kasih juga karena Tuan telah menganggap saya seperti ibu Tuan sendiri, meskipun saya tidak pantas di anggap ibu karena saya hanya wanita tua biasa." Jawab bibi mengusap lembut punggung Tuannya dengan perasaan terharu sebenarnya.
"Kata siapa bibi tidak pantas saya anggap ibu? Bibi yang selalu menyiapkan kebutuhan saya sebelum saya menikah dengan istri saya yang cantik dan baik hati ini, bibi juga yang selalu sabar menghadapi sikap jelek saya." Jawab Louis mulai mengurai pelukan.
"Wajar saya seperti itu, saya 'kan bekerja di sini. Sudah kewajiban saya untuk menyiapkan semua kebutuhan Tuan."
"Pokoknya, saya haramkan bibi keluar dari rumah ini. Dan mulai bulan depan, gaji bibi akan saya naikan."
"Terima kasih, Tuan."
Arista hanya tersenyum menatap suaminya dan juga bibi dengan perasaan senang. Akhirnya, Mas Louis tersayangnya itu sudah benar-benar berubah, tidak seperti Mas Louis yang dahulu saat dirinya baru pertama kali bertemu dengannya.
"Bi, kalau suami saya bersikap seperti tadi lagi bibi bilang sama saya ya. Biar saya yang marahin dia." Celetuk Arista dan ditanggapi dengan tersenyum ramah oleh Bibi begitupun oleh Louis yang saat ini tersenyum mengalihkan pandangannya kepada sang istri.
"O iya, bi. Saya lapar, saya ingin makan mie rebus kesukaan saya."
"Boleh, Tuan. Sebentar saya siapkan dulu ya.''
Louis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Apa Nyonya juga ingin makan mie rebus juga? Biar saya buatkan sekalian." Tanya Bibi mengalihkan pandangannya kepada Nyonya besarnya.
''Tidak, Bi. Saya enek makan mie rebus, buatkan saja saya susu hangat.''
"Baik, Nyonya. Saya permisi ke belakang, Tuan, Nyonya.''
Louis dan istrinya pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah.
__ADS_1
Sepeninggal Bibi, Arista pun menghampiri suaminya lalu memeluk tubuhnya erat.
"Makasih, Mas. Kamu sudah benar-benar berubah sekarang. Kamu bukan lagi Tuan muda sombong dan Arogan, kamu telah menjelma menjadi laki-laki baik hati dan juga penyayang." Lirih Arista menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Tapi, sayang. Mas masih punya satu masalah lagi." Jawab Louis menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
"Masalah? Masalah apa?"
"Eu ... Anu, tadi Mas habis pecat satu karyawan di kantor sebenarnya."
"Hah?" Arista terkejut lalu mengurai pelukan.
"Hehehe ... Mas gak sengaja pecat dia. Habisnya, Mas lagi buru-buru eh dia main tabrak Mas gitu aja.''
"Apa? Serius?"
Louis menganggukkan kepalanya seraya tersenyum datar.
"Astaga Mas Louis tersayang. Cuma masalah kayak gitu Mas langsung pecat dia?"
"Hmmm ..." Arista pun mendengus kesal lalu berjalan begitu saja meninggalkan suaminya.
"Sayang, dia yang salah ko, bukan Mas yang salah. Kenapa dia jalan gak lihat-lihat." Ucap Louis mengekor Arista dari belakang.
"Ya, tapi tatap saja. Masa gara-gara hal sepele kayak gitu dia Mas pecat? Kasian 'kan."
"Ya udah, nanti Mas bisa cari lagi pegawai baru ko."
"Mas benar-benar ngeselin, ternyata sifat Arogannya Mas belum sepenuhnya hilang." Ketus Arista duduk di kursi ruang santai.
"Mas minta maaf."
"Kenapa minta maaf sama aku? Minta maaf sama karyawan yang udah Mas pecat itu. Kasian banget dia, ditengah situasi sulit seperti ini harus di pecat tanpa alasan yang jelas, ck ... CK ... CK ...."
__ADS_1
"Ya udah, Mas bakalan minta Inggrid buat bilang sama karyawan Mas itu bahwa dia tidak jadi di pecat.'' Ucap Louis duduk tepat di samping istrinya.
"Sekarang ya."
"Iya, sekarang juga. Tunggu di sini, Mas mau telpon Inggrid dulu."
Arista menganggukkan kepala seraya mengusap perutnya.
❤️❤️
Sementara itu, Tuan Adrian Aditama yang masih merasa syok setelah menerima kabar bahwa putri sulungnya sudah tiada pun nampak sudah berdiri tepat di depan pusara Clara yang berdampingan dengan mantan istrinya.
Dia menatap batu nisan bertuliskan nama Clara Kiel dan batu nisan bertuliskan nama istrinya secara bergantian. Penyesalan pun menyelimuti relung hatinya kini. Karena perbuatan dirinya Clara sang putri harus berakhir dengan bunuh diri dan dirinya sangat menyesali hal itu.
Andai saja dia lebih cepat dalam menemukan kedua putrinya, mungkin dia masih bisa menyelamatkan nyawa Clara. Andai saja dia tidak meninggalkan mereka dahulu, mungkin saja kedua putrinya itu tidak hidup menderita sampai akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Bruk ....
Tuan Adrian seketika duduk lemas tepat di depan pusara Clara lalu mengusap batu nisan dengan hati dan perasaan hancur.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah benar-benar menyesal telah meninggalkan kamu dan juga adik kamu dahulu. Ayah benar-benar menyesal. Hiks hiks hiks ...'' tangisnya pun seketika pecah.
Sang Assisten yang juga berada di sana pun hanya bisa menatap punggung majikannya dengan perasaan iba.
"Ayah sadar kalau apa yang ayah lakukan itu adalah sebuah kesalahan, dan penyesalan ayah pun tidak ada gunanya lagi sekarang. Akan tetapi, ayah akan menggunakan waktu ayah yang tersisa untuk meminta dan mendapatkan maaf dari adik kamu, ayah akan menebus semua kesalahan ayah di masa lalu, ayah harap dia bersedia memaafkan ayah." Lirihnya lagi mengusap batu nisan dan berbicara sendiri seolah putrinya bisa mendengar semua yang dia ucapkan.
Kemudian, dia pun mengalihkan pandangannya kepada pusara Mona sang mantan istri.
"Mona, aku benar-benar minta maaf karena telah mengkhianati dan meninggalkan kamu dulu. Aku telah benar-benar dibutakan oleh harta hingga melupakan rasa cintaku padamu yang sebenarnya begitu besar kala itu. Menyesal tidak ada gunanya, aku hanya berharap kalau kamu sudah bisa beristirahat dengan tenang karena telah kembali dan tempatkan di sisi Clara putri kita. Semoga kalian berdua bisa beristirahat dengan tenang.'' Ucapnya dengan nada suara berat menahan rasa sesak di dadanya.
Tuan Adrian pun bangkit lalu menatap secara bergantian pusara putri dan mantan istrinya.
"Antar'kan saya ke rumah menantu saya. Sekarang juga saya akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Arista, saya akan meminta maaf sekarang juga sebelum semuanya terlambat." Pinta Tuan Adrian yang langsung di jawab dengan anggukan oleh sang Assisten.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️