
Ceklek ....
Louis membuka pintu ruangan dimana Tuan Adrian di rawat bersama Arista yang duduk di atas kursi roda kini.
"Pak ... Bapak ..." Lirih Arista masuk ke dalam ruangan tersebut.
Rian sang Assisten yang memang selalu setia mendampingi pun nampak sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Bagiamana keadaan bapak?" Tanya Arista menatap wajah Rian.
"Beliau sama saja, Nyonya. Dari semalam berbaring terus seperti ini."
"Kata Dokter gimana?''
"Dokter bilang kalau beliau hanya butuh istirahat dan makan makanan yang bergizi agar darah beliau yang sudah di ambil bisa digantikan."
Arista pun mengalihkan pandangannya kepada sang ayah.
"Bapak, ini Rista. Bangun, Pak."
Tuan Adrian pun perlahan mulai membuka mata lalu menoleh menatap wajah Arista sang putri.
"Rista, kamu di sini Nak?"
"Ya, Pak.''
"Bukannya kamu baru melahirkan? Seharusnya kamu istirahat saja."
"Aku ingin ketemu sama bapak. Kenapa bapak pake donorin darah sama aku segala, bapak 'kan sudah tua, kalau bapak sampai kenapa-napa gimana?''
Tuan Adrian pun tersenyum kecil. Wajah keriputnya menyiratkan kebahagiaan meskipun terlihat lemas tidak bertenaga.
"Kalau bukan bapak siapa lagi, cuma bapak satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Lagian bapak senang ko bisa melakukannya, gimana Louis, apa saya sudah pantas di panggil ayah sekarang?"
__ADS_1
Louis tersenyum kecil seraya menundukkan kepalanya, dia memang pernah mengatakan hal itu beberapa waktu yang lalu.
"Iya, Pak. Maaf, saya pernah mengatakan hal yang memalukan seperti itu." Jawab Louis sedikit cengengesan.
"Siapa bilang hal itu memalukan? Saya justru bangga punya menantu tegas seperti kamu. Rista, bapak benar-benar bangga punya menantu seperti suami kamu ini. Baik, tegas, penyayang, satu lagi, bucinnya itu lho, gak ada ampun."
"Dih, bapak ini. Udah tua tau yang namanya bucin segala."
"Hahaha ... Apa salahnya, gini-gini bapak ini gaul lho."
Suasana pun seketika terasa hangat, baik Louis, Arista, Tuan Adrian dan juga Rian yang juga ada di sana pun nampak melupakan sejenak bahwa mereka baru saja melewati masa-masa sulit.
"Pak, pokoknya bapak harus banyak istirahat. Jangan mikirin yang macem-macem dulu sekarang. O iya, Pak. Boleh Rista tanya sesuatu sama Bapak."
"Nanya apa, sayang?"
"Istri bapak dimana? Apa bapak juga hidup sebatang kara?" Tanya Arista merasa ragu untuk menanyakan hal itu sebenarnya.
Ceklek ....
Pintu ruangan pun di buka. Seorang wanita masuk ke dalamnya bersama seseorang yang sangat mereka kenal.
"Jodi?" Sapa Louis serta Arista membulatkan bola matanya.
"Tuan Bos, Nyonya besar? Sedang apa kalian berdua di sini?" Tanya Jodi masuk ke dalam ruangan.
"Saya yang seharusnya nanya sama kamu, kenapa kamu bisa ada di sini? Dia siapa? Dia calon istri kamu 'kan?" Tanya Louis lagi mengalihkan pandangannya kepada wanita yang masuk bersama Jodi.
"Iya, dia calon istri saya."
"Sebentar, Louis, Rista, kenalkan dia putri bapak, namanya Nadia,'' Tuan Adrian memperkenalkan.
"Mereka siapa, Dad? Apa mereka putri Daddy yang selama ini Daddy cari? Jadi mereka sudah ketemu?'' Tanya Nadia menatap wajah Louis dan juga Arista secara bergantian.
__ADS_1
"Iya, betul. Dia putri Daddy dan juga suaminya.''
Sementara itu, Arista dan juga Louis masih meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, Jodi sang asisten berpacaran dengan putri Tuan Adrian? Itu artinya sebentar lagi, dia akan menjadi adik iparnya?
'Dunia memang sempit, tapi saya tidak tau kalau akan sesempit ini. Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini kenapa harus Jodi yang jadi adik ipar saya. Apa jadinya saya kalau dia tidak bekerja lagi dengan saya?' (batin Louis.)
Nadia dan juga Arista pun bersalaman juga tersenyum ramah saling menatap wajah masing-masing terlihat begitu bahagia.
"Jodi, bisa kita bicara sebentar di luar?" Pinta Louis dengan setengah berbisik.
"Baik, Tuan.''
Keduanya pun berjalan keluar dari dalam ruangan tersebut lalu duduk di kursi yang ada diluar ruangan.
"Kamu serius pacaran sama putrinya Tuan Adrian?" Tanya Louis langsung ke intinya.
"Tentu saja serius, kami sudah bertunangan segala Tuan. Maaf, Tuan. Kalau boleh saya tahu, apakah Nyonya besar benar-benar putri yang selama ini di cari oleh calon mertua saya?''
"Lho, ko kamu bisa tau?"
"Saya tau karena beliau sempat meminta tolong sama saya untuk membantu mencarikan putrinya itu. Tapi, saya tidak menyangka kalau ternyata putri beliau itu adalah Nyonya besar. Eu ... Tuan, sebentar lagi kita akan jadi saudara lho. Hehehehe ...''
"Apa maksud kamu?"
"Anu, kalau saya sudah menikah dengan Nadia, itu artinya Tuan Louis akan jadi kakak ipar saya lho. Ya Tuhan kenapa dunia ini sempit sekali.''
Louis hanya bisa mendengus kesal lalu kembali masuk ke dalam ruangan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Mampir juga di karya keren punya Author mama Reni ya. Di jamin ceritanya tidak membosankan dan pastinya akan menghibur kalian semua.
__ADS_1