
Visual Mas Louis kesayangannya Arista, ya. Semoga pas dengan karakternya.♥️♥️♥️
Arista duduk di kursi meja makan dengan menopang dagu menggunakan kepalan tangannya. Matanya nampak menatap ayah dan anak yang kini sedang memakan mie rebut buatannya dengan lahap bahkan, sangaaat lahap.
'Pantas aja David suka mie rebus, nurun dari bapaknya ternyata. Hmm ... Gak sulit juga ternyata ngasih makan mereka, cukup dibuatkan mie rebus pake telor, beres deh,' (batin Arista)
"Kamu gak makan?"
"Iya, Tante gak makan?" Tanya David dan juga Louis secara hampir bersamaan dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Nggak, Tante bosen makan mie rebus kayak gini. Dulu, setiap hari Tante makan mie rebus," jawab Arista tersenyum menatap calon suami serta calon anak sambungnya secara bergantian.
"Hmm ... Pantas aja tubuh kamu kurus kerontang kayak gini, isinya mie rebus semua," celetuk Louis menyeruput mie dengan ekspresi wajah nikmat.
"Dih, nggak kayak gitu juga kali. Tubuh aku kayak gini karena emang aku lagi diet, Mas Louis ..."
"Gak usah diet-diet segala. Mas lebih suka istri yang gemuk dan bersisi tapi ya, gak gemuk-gemuk banget ampe berlemak segala sih," jawab Louis tersenyum menggoda.
"Mas, kalau lagi makan jangan ngomong terus, nanti keselek lho.''
"Uhuk ....''
"Nah, 'kan keselek,'' ucap Arista sedikit terkekeh lalu mendekatkan segelas air putih untuk calon suaminya.
Glegek ... Glegek ... Glegek ....
Louis meminum air putih tersebut hingga suara air yang melintasi tenggorokan terdengar begitu nyaring.
"Pelan-pelan, Mas. Astaga ..." Pinta Arista sedikit terkekeh.
"Hmm ... Mie rebus buatan kamu enak juga. Meskipun Mienya kematangan, tapi telornya pas, pas banget ..." Ucap Louis meneruskan kembali melahap mie rebus yang merupakan makanan kegemarannya sedari dulu.
"Hmm ... Emang udah pas itu, kalau kurang matang nanti mienya gak enak."
"Iya-iya ... Ini udah pas, semuanya pas. The best deh pokoknya. Euuuu ..." Ucap Louis seraya bersendawa nyaring.
"Ikh ... Mas ini. Gak sopan banget sih."
"Kenapa? Itu tandanya makanan yang kamu masak itu enak dan Mas kenyang banget," jawab Louis tersenyum puas.
David hanya bisa memperhatikan ekspresi wajah sang ayah dengan tersenyum kecil. Wajah ayahnya itu terlihat begitu bahagia, kebahagiaan yang tidak pernah dia lihat saat ayahnya masih bersama dengan sang ibu dahulu.
Sesaat, David yang saat ini berusia 10 tahun dan duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar itu pun ikut merasa bahagia. Dia pun kembali mengingat sosok sang ibu dan seketika meletakan sendok di atas mangkuk yang masih terisi mie rebus.
"David, kamu kenapa? Mau Tante suapin?" Tanya Arista, bangkit lalu berpindah tempat duduk tepat di samping David.
"Nggak usah, Tante."
"Nggak, Tante pengen suapin kamu. Pokoknya, kamu harus makan Mie rebus ini sampai habis ya," pinta Arista meraih mangkok dan mencoba menyuapi calon anak sambungnya.
__ADS_1
"Aaaa ..." Pinta Arista mendekatkan sendok berisi mie di depan mulut David dengan tersenyum.
David pun reflek membuka mulutnya dan menerima suapan tersebut. Arista pun melakukannya secara berkali-kali sampai mangkuk tersebut terlihat kosong tidak bersisa.
♥️♥️
Malam hari.
Louis menyiapkan acara barbeque yang dia janjikan kepada calon istrinya. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal tersebut juga bukan untuk menyambut kedatangan putra kesayangannya tapi, karena dirinya merasa terhenyak saat Arista mengatakan bahwa dia tidak pernah memakan stik daging dan dia sangat ingin memakan makanan itu.
Dengan ditemani Jodi yang sengaja dia panggil untuk membantu dirinya, Louis menata atap dirumahnya sedemikan rupa.
"Persiapan pernikahan saya gimana, Jodi. Apa sudah beres? Gedung, katering, dan undangan udah siapa semua 'kan?" Tanya Louis yang memang menyerahkan acara pernikahan yang akan dia adakan kepada Assiten kepercayaannya itu.
"Semuanya hampir beres, Tuan. Tinggal 50% lagi," jawab Jodi seraya memasang lampu kelap-kelip di pagar tembok atap.
"Bagus ... Dua hari lagi saya ingin semuanya beres.''
"Baik, Tuan. Pokoknya Tuan serahkan semuanya sama saya. Tapi--"
"Tapi apa?"
"Anu ..."
"Anu apa?" Louis mengerutkan keningnya.
"Boleh dong saya dapat bonus? Sebentar lagi juga saya bakalan lamar pacar saya jadi, saya pun lagi nabung buat pernikahan saya," ucap Jodi cengengesan.
"Hehehe ... Siap Tuan Bos. Eu ... O iya, apa tadi siang mantan Nyonya bos ke sini?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Nggak, saya sempat lihat dia di Rumah Sakit."
"Rumah Sakit?"
Jodi menganggukkan kepalanya.
"Iya, sendirian. Tapi, itu juga cuma sekilas sih. Saya pikir dia bukan mantan Nyonya bos tapi, setelah melihat lebih dekat lagi, ternyata memang benar dia. Tapi bos--" Jodi tidak meneruskan ucapannya dia duduk tepat di depan Louis yang sedari tadi memperhatikan Assisten-nya bekerja.
"Tapi kenapa?"
"Saya baru sadar kalau ternyata wajah mantan Nyonya bos mirip sama calon Nyonya bos. Apa itu cuma perasaan saya aja ya?'' tanya Jodi menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.
"Mereka memang bersaudara."
"Hah?"
"Gak usah terkejut gitu, biasa aja kali."
"Jadi maksud bos, calon Nyonya bos itu adiknya mantan Nyonya bos, begitu?"
__ADS_1
Louis menganggukkan kepalanya.
"Waaah ... Kalau dalam istilah itu namanya turun ranjang," celetuk Jodi membuat Louis seketika mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Maksud kamu?"
"Bos 'kan mantan suaminya kakaknya calon istri bos, nah mantan istri bos 'kan kakaknya calon istri bos. Jadi--"
"Aduuuh ... Belibet banget si. Jelasinnya yang bener dong." Celetuk Louis memotong ucapan Jodi sedikit kesal.
"Jadi maksudnya gini, Tuan. Kalau Tuan menikahi adik dari mantan istrinya Tuan, itu namanya turun ranjang," jelas Jodi singkat.
"Oh begitu? Baru tau saya."
Tidak lama kemudian, Arista pun datang menghampiri dan berdiri tepat di samping Jodi.
"Mas Jodi, boleh saya bicara empat mata sama Mas Louis?"
"Hus, panggilan Mas hanya buat Mas mu ini ya. Sama dia, cukup panggil JOOODIIII ..." Protes Louis penuh penekanan.
"Hehehe ... Iya, Nona Arista. Panggil saya dengan sebutan Jodi aja," Jodi dengan wajah cengengesan.
"Kamu juga, panggil dia dengan sebutan NYONYA BESAR ... Gak usah pake NONA-NONA segala, geli saya dengernya," celetuk Louis lagi membuat Jodi seketika kembali menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal sebenarnya.
"Iye-iye, Tuan bos. Ribet banget si akh ... Saya permisi dulu ya,'' pamit Jodi memasang wajah kesal.
Jodi pun berjalan menuju tangga lalu turun ke lantai dasar.
"Apa yang mau kamu bicarakan, sayang. Kayaknya serius banget?" Tanya Louis menatap wajah calon istrinya dengan tatapan penuh rasa cinta.
"Mas ..."
"Iya, Rista sayang. Mas Louis mu ini ada di sini.''
"Mas Louis sayang 'kan sama aku?"
"Tentu saja."
"Mas Louis, cinta 'kan sama aku?"
"Tentu saja, pertanyaan macam apa itu?"
"Mas Louis juga percaya 'kan kalau akupun punya perasaan yang sama, sama Mas Louis?"
"Iya, sayang. Mas Louis mu percaya 1000% kalau kamu sayang dan cinta sama Mas."
"Tapi, aku ingin pernikahan kita di undur. Aku masih butuh waktu sedikit lagi buat membenahi perasaan aku." Ucap Arista membuat Mas Louis tersayangnya itu terkejut.
Ini Visualnya Arista-nya Mas Louis. Semoga sesuai dengan karakter Arista ya.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️