
Prak ....
Gelas kaca yang digenggam oleh Clara tiba-tiba saja lolos dari tangannya, membuat gelas berukuran tinggi yang terisi penuh oleh susu hangat pun seketika pecah dengan serpihan kacanya yang berhamburan di atas lantai begitupun dengan air susu yang juga tumpah dan memenuhi lantai kini.
Mata Clara nampak berkaca-kaca sekaligus merasa tidak percaya saat menatap gadis kecil yang saat ini berdiri tepat di samping pria tampan yang merupakan mantan suaminya.
"Aaa-arista ..." Lirihnya pelan menutup mulut dengan telapak tangannya yang kini terasa gemetar.
Hal yang sama pun dirasakan oleh Arista, dadanya terasa sesak kini bahkan tubuhnya hampir saja roboh seketika dan dengan sekejap mata, Louis segara meraih pinggang Arista dan mendekapnya kuat merasa tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan calon istri dan juga mantan istrinya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Louis menatap wajah pucat Arista dan wajah mantan isteri secara bergantian dengan wajah bingung.
Arista hanya bisa diam mematung, matanya menatap lekat wajah Clara kakak kandungnya yang dulu telah meninggalkan dirinya bersama mendiang sang adik. Seketika, janji-janji sang Kaka kembali terngiang di telinga Arista. Janji manis yang diucapkan dari bibir kakaknya yang mengatakan bahwa dia akan kembali setelah sukses dan menikahi Tuan muda kaya raya.
Janji palsu itu seketika membuat hatinya dipenuhi kebencian terhadap kakak perempuan satu-satunya itu. Kenyataannya, Clara memang menikah dengan Tuan muda kaya raya yaitu calon suaminya sendiri, nyatanya, kakaknya memang sempat hidup mewah dan bergelimang harta bersama Mas Louis tersayangnya itu tapi apa, Clara melupakan semua janjinya kepada dirinya juga sang adik yang kini telah tiada.
Sesak, sangat sesak. Hatinya bagai di hantam bongkahan batu besar yang kini menghujam keras seluruh hati seorang Arista hingga air mata itu kini lolos dan bergulir dengan begitu deras dari kedua pelupuk mata indahnya.
"Arista? Kamu beneran Arista adiknya Mbak? Adik kesayangannya Mbak," lirih Clara berjalan menghampiri membuat Louis seketika terkejut dan semakin tidak mengerti.
Mbak? Itu artinya ...? Tidak ... Tidak mungkin Arista adalah adik dari mantan istrinya, jelas-jelas Arista bercerita bahwa, dia hanya hidup berdua dengan mendiang Putri dan tidak pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang kakak perempuan. Batin Louis.
Sesaat, kepala Louis pun dipenuhi berbagai tanda tanya dan dia tidak suka dibuat penasaran apalagi menyimpan keraguan. Louis pun menatap wajah Clara dengan tatapan tajam dan guratan kebencian yang masih terlihat jelas dari sorot mata tegasnya.
__ADS_1
"Tunggu ... Clara. Apa maksud kamu? Adik ...? Siapa yang kamu maksud?" Tanya Louis dengan tangan yang masih mencengkeram kuat pinggang Arista calon istrinya.
"Mas Louis. Ada hubungan apa Mas dengan Arista? Dia adikku, adik kandung aku," jawab Clara terbata dengan suara berat dan air mata yang bergulir membasahi wajah cantiknya kini.
Deg ....
Hati seorang Louis tiba-tiba bergejolak hebat, matanya nampak membulat sempurna seolah hendak melompat dari tempatnya.
"Nggak, kamu pasti salah. Dia calon istriku. Namanya Arista, wajah Arista memang mirip sama kamu tapi, gak mungkin kalau kalian ternyata benar-benar saudara kandung. Nggak ... Kamu bohong 'kan?" Tegas Louis merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kalau kamu gak percaya, coba kamu tanya sama dia? Apakah dia masih mengakui aku sebagai kakaknya," pinta Clara mendadak rasa panas terasa membakar memenuhi relung hati begitupun dengan jiwanya.
"Arista, jawab Mas. Apa benar dia itu kakak kan-dung ka-mu, jawab sayang."
Deg ....
Louis seketika melepaskan lingkaran tangan di pinggang Arista, dia memundurkan langkah kakinya seraya menatap wajah Arista yang saat ini terlihat pucat pasi.
"Sayang ...! Kamu ...?''
Louis tidak mampu lagi berkata-kata. Suaranya terasa tertahan di dalam tenggorokan, kakinya pun terasa lemas sangat lemas.
"Mas, kita bicarakan masalah ini lagi nanti. Biarkan aku bicara sebentar dengan wanita yang mengaku sebagai kakak aku ini," Arista tiba-tiba mendapatkan keberanian yang besar.
__ADS_1
Entah dari mana dia mendapatkan keberanian seperti itu, dia berjalan menghampiri kakaknya dengan tatapan tajam penuh kebencian menyorot dari kedua mata bulatnya.
"KEMANA AJA MBAK SELAMA INI, HAH? MBAK BILANG, MBAK BAKALAN SERING NENGOKIN AKU DAN PUTRI SAAT MBAK UDAH NIKAH SAMA TUAN MUDA KAYA RAYA ... KEMANA AJA KAMU MBAK ...?"
"APA MBAK TAU? SETIAP HARI, SETIAP DETIK, AKU SELALU NUNGGUIN MBAK, NUNGGUIN MBAK PULANG DENGAN MEMBAWA SUSU FORMULA BUAT PUTRI, TAPI APA? SEKALIPUN MBAK GAK PERNAH PULANG ATAU SEKEDAR DATANG HANYA UNTUK MEMBERIKAN KAMI UANG, PADAHAL MBAK UDAH HIDUP ENAK DAN BERGELIMANG HARTA."
"MBAK BENAR-BENAR JAHAT. APA MASIH PANTAS WANITA JAHAT KAYAK KAMU AKU SEBUT SEBAGAI SEORANG KAKA? AKU BENCI SAMA MBAK ... BENCIIIIIII ... HIKS HIKS HIKS ..." Teriak Arista meluapkan rasa kecewa dan sakit di hatinya, apalagi saat dia mengingat mendiang sang adik yang kini telah tenang di atas sana. Tangisnya pun pecah seketika, menggelegar dan menggema di seisi ruangan.
"Maafkan Mbak, Dek." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Clara, meski matanya berurai air mata tapi, tetapi saja kakaknya itu tidak menunjukkan rasa bersalahnya sedikitpun.
"MAAF ... MAAF MBAK BILANG. UCAPAN MAAF MBAK GAK AKAN MENGEMBALIKAN PUTRI ... HIKS HIKS HIKS ..."
"A-pa maksud kamu? Dimana putri, dimana adik bungsu Mbak? Putri ... Sayang ... Kamu dimana, kamu pasti sudah besar ..." Clara berjalan kesana kemari berteriak memanggil nama adiknya yang dulu dia tinggalkan saat sang adik masih bayi.
Arista pun berjalan cepat meraih pergelangan tangan kakaknya dan membalikan tubuh sang kakak kasar dan bertenaga, hingga mereka pun kini saling berhadapan dan saling melayangkan tatapan tajam. Sorot mata kebencian memenuhi relung terdalam kedua mata indah Arista yang kini masih berurai air mata.
"Mbak gak akan pernah bertemu lagi sama putri, selamanya. DAN ITU SEMUA GARA-GARA MBAK. PUTRI MATI GARA-GARA MBAK ... HIKS HIKS HIKS ..." Teriak Arista duduk lemas di atas lantai menangis sesenggukan mengingat sosok putri sang adik.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Clara, dia duduk di atas lantai merasa tidak percaya bahwa, Putri adik bungsunya telah tiada.
"MBAK BENAR-BENAR JAHAT, MBAK JAHAAAT. AKU BENCI SAMA MBAK ... HIKS HIKS HIKS ..." teriak Arista menggelegar di seisi ruangan diiringi suara tangis yang terdengar pilu dan mengenaskan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1