
Louis mendekap erat tubuh Arista yang saat menangis sesenggukan dengan suara yang menggelar terdengar pilu bagi siapa yang mendengar. Tanpa terasa, air mata Louis pun seketika berjatuhan seolah merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh gadis bernama Arista yang saat ini baru saja kehilangan adik yang sangat disayanginya.
"Putri udah tiada, Tuan. Saya gak akan pernah bisa ketemu lagi sama dia, hiks hiks hiks ..."Lirih Arista di dalam dekapan Louis.
"Iya, kamu harus sabar dan ikhlas melepas putri pergi, Arista. Saya yakin kamu adalah gadis yang kuat," jawab Louis mengusap lembut punggung Arista.
♥️♥️
Satu Minggu kemudian.
Pagi ini, Louis spesial mengosongkan jadwal kerjanya, dia bahkan membatalkan meeting yang sudah di jadwalkan. Hari ini, dia hendak menjemput gadis bernama Arista untuk bekerja sebagai pelayan di rumahnya, sesuatu yang telah mereka sepakati.
Louis sengaja memberi waktu selama satu Minggu kepada Arista agar bisa menata terlebih dahulu perasaannya yang baru saja kehilangan sang adik. Sebenarnya, Louis sama sekali tidak mempermasalahkan uang yang menurutnya tidak berjumlah seberapa itu, hanya saja, baginya menepati janji adalah hal yang paling utama karena pantang bagi seorang Louis untuk mengingkari janji yang telah dia ucapkan.
Bersama Jodi, assiten yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi dan saat ini sedang menyetir mobil, Louis sedang berada di perjalanan menuju rumah Arista dan akan menjemput gadis itu sekarang juga.
Akhirnya, mereka pun sampai di depan gang kecil dimana kediaman Arista berada, Jodi pun segera melipir dan menghentikan laju mobilnya dengan tatapan heran menatap sekeliling.
"Tuan, Bos. Serius rumah Arista di daerah sini?" Tanya Jodi memutar kepala menatap wajah bosnya.
"Sudah jangan banyak tanya, buruan buka pintu mobil," pinta Louis datar.
"Ba-baik, Tuan Bos." Jawab Jodi segera keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil bosnya tersebut.
Ceklek ....
Jodi membuka pintu mobil dan Louis pun mulai menapaki kakinya di jalanan dengan tangan yang membuka kancing atas kemeja berwarna hitam yang dikenakannya.
Blug ....
Pintu mobil pun kembali di tutup dan Jodi mengikuti langkah bosnya itu dari arah belakang.
"Rumahnya sebelah mana, Tuan bos?"
"Tuh ..." Jawab Louis menatap rumah kecil yang kini berada di hadapannya.
__ADS_1
"Ini?"
Louis menganggukkan kepalanya.
Jodi nampak menatap sekeliling rumah dengan perasaan tidak percaya, matanya menyisir setiap sudut halaman rumah berukuran tidak terlalu luas itu dengan mengerutkan kening.
Berbeda dengan Jodi, Louis nampak biasa saja karena ini bukan kali pertamanya dia datang ke rumah itu dan dia pun langsung memasuki halaman lalu mengetuk pintu seraya memanggil nama pemilik rumah.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Permisi, Arista ..." Panggil Louis diiringi suara ketukan.
Tok ... Tok ... Tok ....
Louis terus mengetuk secara berkali-kali namun, masih tidak ada jawaban dari dalam sana, suasana rumah pun nampak begitu hening dan sepi layaknya rumah kosong.
"Tuan Bos yakin ini rumahnya?" Tanya Jodi kemudian.
"Apa maksud kamu? Kamu pikir saya bodoh?"
Louis terdiam, seraya menatap sekeliling.
Apa mungkin gadis itu sudah tidak lagi tinggal di sini? Kalau iya, kemana Arista pergi? Tiba-tiba ada rasa sesal yang terselip di dalam lubuk hati seorang Louis, kenapa dia terlambat datang ke sana? Kenapa juga harus menunggu selama satu Minggu segala? Akh ... Sudahlah, hati Louis mendadak dilanda rasa galau, rasa yang dia pun tidak mengerti, mungkinkah dia kecewa karena tidak bisa bertemu lagi dengan gadis bernama Arista?
"Tuan, sedang apa anda di rumah saya?"
Tiba-tiba terdengar suara lembut memanggil dari luar halaman, membuat Louis dan juga Jodi seketika menoleh mencari sumber suara. Seketika, ada rasa lega yang kini memenuhi hati Louis, senyumnya terlihat mengembang sempurna menatap wajah gadis yang saat ini berjalan mendekati dirinya. Apakah Louis merasa bahagia? Sepertinya begitu.
"Kamu darimana? Apa kamu tau saya dari tadi menunggu di sini, hah?" Tanya Louis menyembunyikan rasa senang sebenarnya.
"Bukannya kita baru juga datang ya, Tuan bos?" Celetuk Jodi yang langsung mendapatkan sambaran tatapan tajam dari kedua mata Louis membuat Jodi seketika langsung merapatkan bibirnya.
"Maaf, Tuan. Saya habis dari depan. Tapi, ada apa Tuan datang ke sini?" Tanya Arista lagi.
"Astaga, apa kamu lupa sama janji kamu?"
__ADS_1
"Janji yang mana?"
"Kamu akan bekerja di rumah saya sebagai pelayan untuk membayar utang kamu."
Arista seketika terdiam.
'O iya, aku memang berjanji hal itu sama Tuan Louis, tapi--' (batin Arista)
"Saya ke sini buat ngejemput kamu, kita berangkat sekarang juga." Pinta Louis penuh penekanan.
"Tapi, Tuan."
"Tapi apa lagi?"
"Saya belum bersiap-siap, pakaian saya juga belum di kemas, beri saya waktu mengemasi pakaian saya dulu, ya."
"Gak usah, saya yakin pakaian kamu gak ada yang layak untuk di bawa, saya bakalan ganti semua pakaian kamu sama yang baru."
Arista mengerutkan kening, begitupun dengan Jodi yang kini merasa heran. Jika memang Arista akan bekerja sebagai pelayan, mengapa harus dibelikan baju baru segala? Apa jangan-jangan? Batin Jodi diliputi tanda tanya.
"Gak usah, Tuan. Pakaian saya masih layak ko, jadi Tuan gak usah beliin saya pakaian baru segala, lagian saya hanya akan bekerja sebagai pelayan 'kan? Buat apa pelayan pakai baju baru segala?" Tanya Arista tidak mengerti.
"Eit, jangan salah paham ya, saya beliin kamu pakaian baru karena saya mau semua pelayan di rumah berpakaian rapi, gak kucel, gak urakan kayak kamu."
"Emangnya Tuang bos punya banyak pelayan di rumah?" Celetuk Jodi dan langsung mendapat tatapan tajam dari Louis.
"Kamu Jodi, kalau kamu bicara lagi, saya bakalan potong gaji kamu 30%, mau?"
"Tidak, Tuan bos. Ampun, saya gak bakalan ngomong apa-apa lagi," jawab Jodi merapatkan bibirnya, rapat serapat-rapatnya.
"Kita berangkat sekarang, Arista. Jangan banyak alasan, jangan banyak tanya, sekarang kamu salah satu pelayan saya, dan saya bos kamu, jadi, kamu harus ikuti semua perkataan saya, tanpa bantahan, oke ...?" Ucap Louis penuh penekanan.
"Ba-baik, Tuan."
'Kayaknya aku salah nilai dia, aku pikir dia baik. Ternyata, dia cuma laki-laki kaya, sombong, arogan, dan semena-mena,' (batin Arista)
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️