Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Masa Lalu


__ADS_3

Arista masih merasa tidak percaya bahwa dia akan menikah dalam waktu 7 hari. Jiwanya masih meraba-raba tentang rasa di dalam sana, rasa cinta yang membuatnya begitu bahagia karena Tuannya, lebih tepatnya Mas Louis sayangnya itu, tiba-tiba menyatakan cinta kepadanya sekaligus melamarnya, dua hal yang masih terasa mimpi bagi seorang Arista.


Apalagi, saat ini Mas Louis'nya itu bersikap begitu manis dan memperlakukan dirinya layaknya seorang ratu, membuat Arista semakin di buat melayang setiap kali dia mengingat sosok Mas Louis tersayangnya itu.


Akan tetapi, ada satu hal yang mengusik hatinya kini. Hal yang menganggu pikirannya dan terasa mengganjal kebahagiaan yang saat ini sedang dia rasakan.


Ya ....


Hal itu adalah mengenai mantan istri Mas Louis'nya yang bernama Clara. Apakah Clara yang dimaksud oleh calon suaminya itu adalah Clara kakak kandungnya yang telah dengan teganya meninggalkan dirinya bersama sang adik yang kala itu masih balita?


Arista yang saat ini sedang bersantai di kamarnya pun seketika mengingat kembali kejadian itu, kejadian beberapa tahun yang lalu saat kakak kandungnya meninggalkan rumah sederhananya bersama sang adik yang kini telah tiada.


Flash back


"Mbak! Mbak mau kemana? Jangan tinggalkan kami di sini, Mbak." Rengek Arista yang masih berusia 16 tahun kala itu. Dia menggendong putri yang masih balita dengan kedua tangan kecilnya.


"Mbak mau pergi ke kota, Dek. Mbak mau ngadu nasib di sana, mbak bosen hidup miskin terus kayak gini. Kalau Mbak tinggal di kota, siapa tahu ada Tuan Muda kaya raya yang mau nikahi Mbak," jawab Clara sang kakak, memasukkan seluruh pakaian yang dia punya ke dalam tas berukuran besar.


"Aku ikut ya, Mbak. Aku gak bisa kalau harus ngurus adek putri sendirian," rengek Arista dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, menatap lengan sang Kaka yang dengan begitu cepatnya memasukkan seluruh pakaian miliknya hingga tak bersisa.


"Jangan, Rista. Kalau kamu ikut, mbak gak akan bisa kemana-mana, kamu tunggu di rumah aja sama adik putri ya. Mbak janji bakalan sering pulang buat anterin kamu uang ya."


"Tapi, Mbak. Aku mana bisa ngurus putri sendirian. Aku juga harus sekolah, putri nanti siapa yang jaga kalau aku sekolah." Rengek Arista lagi duduk lemas di atas lantai dengan kedua tangan yang menggendong tubuh kecil adik bungsunya.


Clara pun duduk tepat di depan adiknya, dia mengusap lembut kening putri yang saat ini masih tertidur lelap di dalam dekapan Arista, dia pun mengecup pucuk kepala adik bungsunya itu dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. Clara terpaksa melakukan ini, dia benar-benar terpaksa meninggalkan kedua adiknya di sana, di rumah sangat sederhana yang sudah lebih dari 20 tahun dia tinggali.


"Arista, sayang. Maafin Mbak, Mbak janji akan sering pulang buat nengokkin kalian berdua. Mbak pergi karena ingin mengadu nasib di kota, Mbak sama sekali gak bermaksud buat nelantarin kalian berdua.''


''Kalau Mbak di rumah terus, hidup kita akan selamanya kayak gini. Kamu lihat, mbak cantik, siapa tau di kota ada Tuan Muda kaya raya yang jatuh cinta sama Mbak dan mau nikahi Mbak. 'kan kamu juga nanti yang bakalan senang,'' lirih Clara sang Kaka, meraih pergelangan tangan Arista mencoba membujuknya agar dia bisa melepas dirinya pergi.


"Lalu, gimana dengan sekolah aku, Mbak. Putri siapa yang jaga kalau aku sekolah, hiks hiks hiks ..."

__ADS_1


"Untuk sementara kamu berhenti sekolah dulu ya, sayang. Kita juga gak ada biaya buat bayar uang sekolah kamu tapi, Mbak janji tahun depan kamu bisa lanjutin sekolah kamu lagi. Mbak janji akan bawa uang yang banyak supaya kita gak hidup kekurangan lagi. Mbak sayang sama kalian berdua, Mbak terpaksa melakukan hal ini demi masa depan kita semua, maafin Mbak ya, Rista." Lirih Clara memeluk erat tubuh Arista, begitupun dengan tubuh adik bungsunya yang saat ini berada di dalam dekapan Arista.


"Nggak, aku gak mau ditinggalin sama Mbak. Ayah sama ibu udah ninggalin kita, sekarang Mbak juga mau ninggalin aku, Mbak jahat. Aku benci sama Mbak," rengek Arista mendorong tubuh sang Kaka kasar.


"Sayang, kamu boleh membenci Mbak sepuas hati kamu tapi, mbak akan tetap pergi. Maafkan Mbak, Rista."


Perlahan Clara pun bangkit lalu berjalan keluar dari dalam rumah, isak tangisnya nampak tidak bisa terbendung lagi saat dia mendengar Arista berteriak memanggil namanya diiringi isakan yang terdengar nyaring dan pilu dari adik bungsunya.


"Mbak ...! Mbak Clara, jangan pergi Mbak, jangan tinggalkan kami."


Clara tidak bergeming, dia terus saja berjalan keluar tanpa menoleh ataupun menjawab panggilan adiknya.


"Eak ... Eak ... Eak ..." Si kecil Putri pun akhirnya terbangun karena mendengar teriakan sang Kaka.


"Mbak, Mbak Clara. Aku mohon Mbak, putri bangun Mbak, dia nangis terus Mbak, hiks hiks hiks ...'' Rintih Arista dengan nada memelas mencoba untuk bangkit dan mengejar kakaknya.


"Eak ... Eak ... Eak ...''


Sakit dan perih, itulah yang saat ini dirasakan oleh seorang Arista. Kedua kakinya yang saat ini berlari tanpa menggunakan alas kaki pun nampak menginjak kerikil-kerikil tajam yang terasa begitu perih namun, rasa sakit yang dia rasakan di telapak kakinya itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.


"Mbak ... Mbak Clara. Jangan tinggalin kami, Mbak. Aku mohon,'' teriak Arista terus berlari menyusuri gang hingga akhirnya sampai di tepi jalan raya.


Akan tetapi, usahanya pun sia-sia kini. Clara sang kakak sudah tidak terlihat lagi, seiringan dengan itu, mobil berwarna putih pun melintas tepat di hadapannya dan Clara sang kakak duduk di kursi depan dengan tatapan mata tanpa melirik ke arahnya sedikitpun.


"MBAAAAAK ... MBAAAK CLARA ...."


Teriak Arista diiringi suara tangisan sang adik di dalam gendongannya begitupun dengan suara tangis dirinya yang kini terdengar menggelegar memecah keheningan.


Flash back and


❤️❤️

__ADS_1


Arista nampak mengusap wajahnya yang kini basah dengan lelehan air mata. Mengingat masa lalu membuat luka yang selama ini dia sembunyikan di balik senyumannya pun terasa kembali naik ke permukaan.


Ceklek ....


Pintu kamarnya pun di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu, Arista sudah dapat menebak siapa yang masuk ke dalamnya.


"Arista, sayang. Ko tumben masih di kamar aja? Keluar yu, Mas sayangmu ini udah siapin makan malam romantis buat kita," ucap Louis berjalan mendekati ranjang.


Arista hanya terdiam masih mencoba menata perasaannya yang sempat larut dalam lamunan masa lalu.


"Sayang, kamu habis nangis?" Tanya Louis menatap lekat wajah calon istrinya seraya meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pipi Arista.


"Nggak, Ko Tu-- maksud aku, nggak ko Mas Louis, mataku cuma kelilipan aja tadi.''


"Ish, ada yang kurang. Sayangnya mana, Mas Louis sayang," ujar Louis mencubit kecil kedua sisi pipi Arista membuatnya seketika tersenyum.


"Iya-iya aku ulangi ya. Mas Louis sa-yang.''


"Nah gitu dong."


"Mas, aku ingin minta sesuatu sama Mas Louis sayangku ini."


"Apa, sayang. Ngomong aja, apapun akan Mas berikan, apa kamu mau tas baru? Atau baju baru? O iya, kamu belum punya mobil 'kan? Mas bakalan ajarin kamu nyetir setelah itu baru Mas bakalan beliin kamu mobil baru, gimana?" Ucap Louis secara bertubi-tubi membuat Arista kembali tersenyum, bahkan senyumannya lebih lebar dari sebelumnya.


"Nggak, bukan itu, Mas. Aku punya permintaan lain.''


"Lho, bukan itu toh? Ya udah, kamu katakan apa permintaan kamu."


"Bolehkah aku lihat Poto mantan istri Mas?"


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2