
''Tuan Louis? Hmm ... Kayaknya nama itu sudah gak asing lagi di telinga saya," ucap Arista mengerutkan kening mencoba mengingat nama yang sepertinya pernah dia dengar sebelumnya.
"Apa kamu punya kenalan dengan nama yang sama dengan saya?"
"Eu ... Nggak ko, Tuan. Mungkin ini hanya perasaan saya aja, saya permisi ke toilet dulu," ucap Arista lagi lalu berjalan meninggalkan laki-laki bernama Louis tersebut.
Louis menatap punggung Arista yang perlahan menjauh meninggalkan dirinya di sana. Entah mengapa, ada rasa aneh yang kini menyelusup di dalam hati seorang Louis, hati yang semula membeku terasa sedikit mencair, jiwa yang semula hampa dan kosong kini sedikit hangat padahal tidak ada hal spesial yang terjadi kepadanya hari ini.
Apa karena gadis bernama Arista? Gadis biasa saja bahkan cenderung kucel dan urakan? Apa karena dia yang juga memiliki seorang anak yang saat ini ikut bersama mantan istrinya membuat hati seorang Louis tersentuh? Atau, ada hal lain di luar nalar dan sangat tidak masuk akal telah terjadi kepadanya, cinta mungkin?
Akh ...
Entahlah, dia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan hatinya kini, yang jelas saat ini, dia ingin gadis kecil bernama Putri yang saat ini masih berada di ruangan Operasi itu sembuh dan sehat lagi seperti sedia kala.
"TUAN," terdengar suara Assisten Louis memanggil seraya berjalan menghampiri dengan wajah penuh rasa khawatir.
"Kamu? Lama banget si Jodi?"
"Iya maaf, Tuan. Jalanan macet tadi, tapi saya segera datang ke sini ko pas Tuan nelpon saya," jawabnya lagi sedikit tersenyum yang dipaksakan.
"Alasan aja kamu, mana pesanan yang saya minta?" Ketus Loius dengan wajah kecut.
"Ini pesanan anda, Tuan. Dua kotak makan dengan isian empat sehat lima sempurna 'kan?"
Jodi menyerahkan dua kantong kresek berwarna putih berisi dua kotak makanan.
"Awas aja kalau isinya bukan makanan empat sehat lima sempurna, saya bakalan potong gaji kamu 30%," ketus Louis membuat Jodi seketika menelan ludah kasar.
"Jangan gitu dong, Tuan bos. Di periksa aja dulu isinya."
"Tadi kamu udah periksa belum?"
__ADS_1
Jodi menggelangkan kepalanya tersenyum hambar.
"Astaga, bukannya kamu periksa dulu tadi. Ya udah, kamu periksa sekarang, buka dan liat dulu apakah isinya udah sesuai dengan pesanan saya atau tidak?" Pinta Louis dengan tatapan tajam membaut Jodi seketika salah tingkah.
"Ba-baik, Tuan bos."
Jodi pun meraih kembali kantor keresek yang tadi sempat dia berikan kepada bosnya dengan perasaan kesal dan bibir yang dikerucutkan tajam.
"Kenapa muka kamu kayak gitu? Gak suka saya suruh periksa kotak itu, hah?" Louis membulatkan bola matanya.
"Nggak ko, Tuan Bos. Saya gak ngerasa kayak gitu, saya periksa dulu ya." Jawab Jodi hendak membuka kotak makan tersebut.
"TUAN LOUIS," teriak Arista dari ujung lorong berjalan dengan tersenyum dan sudah berganti pakaian.
Jodi pun seketika menoleh mencari sumber suara dan menghentikan gerakan tangannya menatap Arista yang saat ini terlihat begitu cantik sempurna tanpa polesan make-up sedikitpun.
Tubuhnya yang saat ini berbalut dress berwarna merah pendek selutut dengan rambut panjangnya membuat penampilan gadis berusia 21 tahun itu terlihat pangling dan begitu cantik alami.
"Eit, jaga pandangan kamu, Jodi. Nanti saya colok mata kamu itu," sinis Louis membuat Jodi seketika memalingkan wajahnya dari Arista yang saat ini berjalan semakin mendekat.
"Emangnya dia siapanya bos?"
"Udah jangan banyak tanya, kalau masih nanya lagi, gaji kamu saya potong jadi 35%, mau?"
Jodi segera merapatkan bibirnya.
"Tuan, bajunya bagus banget, apa gak terlalu berlebihan jika saya memakai pakaian kayak gini?" Tanya Arsita merasa tidak nyaman.
"Nggak ko, kamu cantik pakai baju itu," celetuk Louis entah sadar atau tidak dia mengatakan hal itu.
"Uhuk ... Baru kali ini saya denger bos memuji seorang gadis," Jodi dengan tersenyum kecil dan sukses membuat Louis melayangkan tatapan tajam membuat Jodi segera memutar badan memunggungi bosnya tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, lampu yang berada di pintu ruangan Operasi pun padam dan seiiringan dengan itu, Dokter keluar dari dalam ruangan tersebut dan segera di sambut dengan perasaan cemas oleh Arista.
"Bagaimana adik saya, Dokter?" Tanya Arista berdiri tepat di depan sang Dokter.
"Alhamdulillah operasinya lancar, tapi saat ini kondisi pasien masih lemah dan belum terbangun, mungkin karena ini operasi besar, kami memakai anastesi yang terbaik." Jelas sang Dokter sedikit tersenyum.
"Tapi adik saya bakalan bangun lagi 'kan?"
"Tentu saja, hanya saja membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk menghilangkan efek anastesi di dalam tubuh pasien, dan untuk sementara, pasien harus ditempatkan di ruangan ICU terlebih dahulu, dan belum bisa di kunjungi, tapi Nona masih bisa melihat dia dari balik kaca," jelas Dokter lagi membuat Arista kecewa, padahal dirinya sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan adiknya tersebut.
"Baik, saya permisi dulu," ucap Dokter kemudian lalu masuk kembali ke dalam ruangan operasi.
"Gimana ini, Tuan. Masa saya gak bisa ketemu sama adik saya? Dia pasti sedang nungguin saya saat ini," rengek Arista dengan mata yang berkaca-kaca menatap wajah Louis dengan tatapan sayu dan penuh kesedihan.
"Kamu tenang dulu ya, meskipun kamu gak bisa ngeliat dia secara langsung, tapi, kamu masih bisa ngelihat dia dari balik kaca."
Arista pun mengerucutkan bibirnya merasa kecewa, dia pun duduk di kursi tunggu dengan perasaan khawatir. Meskipun Dokter mengatakan bahwa Operasinya lancar, tapi tetap saja hatinya masih belum merasa tenang jika belum melihat Putri siuman dan kembali tersenyum.
❤️❤️
Setelah seharian menemani gadis bernama Arista di Rumah Sakit, akhirnya Louis kembali pulang ke rumahnya. Sebenarnya, dia ingin membawa serta gadis itu namun, Arista menolak dengan keras karena bersikukuh ingin menemani putri yang sampai saat ini masih belum siuman.
Louis yang memang hanya tinggal sendiri nampak menatap sekeliling rumah besarnya yang terlihat begitu rapi lengkap dengan perabotan rumah mahal dan juga mewah, namun, seperti biasa, rumah yang sudah dia tinggali lebih dari 10 tahun itu masih saja terasa hampa dan sepi bahkan hening. Hanya suara jarum jam saja yang terdengar lirih saling bersautan berirama.
Akhirnya, dia pun merogoh saku celana dan meraih dompet hitam miliknya lalu membuka dan menatap secarik poto yang terselip di dalamnya.
"Kamu apa kabar, David? Daddy kangen banget sama kamu," lirih Louis mengusap wajah sang putra di dalam potret.
Tatapan matanya kini beralih kepada wajah mantan istri yang berpose dengan putranya di dalam sana, dia pun seketika mengeluarkan potret tersebut lalu memotong bagian potret yang ada wajah Clara.
"Sialan, kenapa Poto wanita jahat ini masih ada di sini," gerutu Louis, lalu melemparkan sembarang potongan Poto mantan istrinya.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️