
Louis mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi memecah kegelapan malam yang terasa begitu mencekam kini. Hujan pun tiba-tiba saja menguyur padahal sebelumnya langit sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan turunnya hujan.
"Saya mohon bertahanlah Arista sayang.'' Gumam Louis menatap lurus ke depan.
Sebenarnya, dia bisa saja menelpon ayah mertuanya itu, tapi dia tidak yakin kalau beliau akan mengangkat telpon karena posisi malam yang sudah semakin larut dan mertuanya itu pasti sedang tertidur lelap sekarang.
20 menit kemudian, dia pun sampai di rumah besar dengan pagar tinggi menjulang dan satu pos satpam bertengger di depannya.
Ceklek ....
Blug ....
Louis pun keluar dari dalam mobil tidak peduli meskipun air hujan membasahi tubuhnya kini, begitupun pun dengan suara petir yang kini terdengar saling bersahutan.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Gimana caranya saya bisa masuk ke dalam sana. Pagarnya tinggi sekali," gumamnya seraya mengusap wajahnya kasar dengan tubuh yang sepenuhnya basah dengan air hujan.
Beruntung, pintu pagar sama sekali tidak di kunci dan Louis bisa dengan leluasa memasuki halaman luas dan segera berlari menuju teras rumah.
Trok ... Trok ... Trok ....
Louis menggedor pintu dengan bertenaga sehingga meningkatkan suara yang sangat nyaring.
"Permisi, Bapak ... Ini saya, Pak? Buka pintunya ..." Teriaknya, suaranya seketika menyatu dengan suara gemericik air hujan yang semakin deras menimbulkan suara yang sangat nyaring.
Trok ... Trok ... Trok ....
Masih belum ada tanda-tanda di dalam sana dan sepertinya penghuninya pun masih tertidur lelap.
Trok ... Trok ... Trok ....
Ceklek ... Ceklek ... Ceklek ....
Louis tidak menyerah, dia terus menggedor pintu secara kasar bahkan berusaha membuka paksa pintu tersebut.
Sampai akhirnya, usahanya pun membuahkan hasil, pintu pun seketika di buka dan Tuan Adrian berdiri tepat di depan pintu kini.
Ceklek ....
"Louis ...? Sedang apa kamu di sini malam-malam begini? Hujan-hujanan lagi? Apa terjadi sesuatu dengan putri saya?" Tanya Tuan Adrian merasa khawatir.
__ADS_1
"Ikut saya ke Rumah sakit sekarang juga, Pak. Arista mau melahirkan dan dia sedang membutuhkan transfusi darah golong O." Jawab Louis dengan gigi yang saling beradu menahan dinginnya air hujan yang terasa menembus setiap lapisan kulit tubuhnya.
"Kamu serius?"
"Tentu saja, Pak. Buat apa saya malam-malam kemari, hujan-hujan'nan pula."
"Ya sudah, kita ke sana sekarang. Tapi, Louis. Sebaikanya kamu ganti pakaian kamu dulu, nanti kalau kamu sakit bagaimana?''
"Tidak ada waktu lagi, Pak. Nyawa Arista akan terancam kalau kita terlambat datang ke sana."
"Tapi nyawa kamu juga akan terancam jika kamu terlalu lama memakai pakaian basah seperti ini, sekarang kamu masuk dulu dan ganti pakaian kamu.''
"Tidak usah, pak."
"Louis ... Kalau kamu sampai sakit, siapa yang akan menjaga istri kamu nantinya."
Louis seketika terdiam seperti sedang berpikir. Apa yang baru saja diucapkan oleh ayah mertuanya itu memanglah benar adanya. Tubuhnya memang mulai terasa menggigil dan dinginnya air hujan terasa menusuk jantungnya kini.
"Baiklah, saya akan ganti pakaian saya di sini." Jawab Louis akhirnya, lalu masuk rumah tidak peduli meskipun tubuhnya yang sepenuhnya basah dan meninggalkan jejak kotor di atas lantai.
"Kamu tunggu sebentar, saya ambilkan baju ganti buat kamu." Pinta sang ayah lalu masuk ke dalam kamar dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa pakaian ganti miliknya.
Louis menerima pakaian tersebut dan menggantinya di dalam kamar yang memang berada tepat di samping ruangan luas tersebut.
Tidak lama kemudian, dia pun kembali dengan memakai kemeja kotak-kotak dan juga celana bahan berwarna hitam terlihat aneh sebenarnya. Tapi, dia tidak peduli dengan hal itu.
"Kita berangkat sekarang, Pak." Pinta Louis yang langsung di jawab dengan anggukan oleh ayah mertuanya itu.
❤️❤️
30 menit kemudian, mereka berdua pun sampai di Rumah Sakit. Louis segera berlari ke tempat dimana istrinya berada dan menggedor pintu ruangan bersalin dengan kasar dan tergesa-gesa sehingga menimbulkan sedikit kegaduhan.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Dokter2 buka, Dok. Saya bawa orang yang akan mendonorkan darahnya untuk istri saya." Teriak Louis.
"Tenang, Tuan besar. Kalau anda seperti ini. Anda hanya akan menganggu Dokter di dalam sana." Ucap Bi Surti yang memang sudah berada di sana sedari awal.
Ceklek ....
__ADS_1
Pintu pun di buka. Dokter dengan perasaan kesal keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Silahkan masuk yang mau mendonorkan darahnya." Pinta sang Dokter dan Tuan Adrian pun melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam ruangan.
"Anda yang akan mendonorkan darah?" Tanya sang Dokter mengerutkan kening.
"Betul, Dokter."
"Tapi anda sudah berusia lanjut, apa tidak ada pilihan lain lagi selain anda."
"Tidak ada lagi, Dok. Saya satu-satunya keluarga yang dimiliki putri saya." Jawab Tuan Adrian, wajah renta-nya terlihat penuh rasa khawatir.
"Apa anda punya riwayat penyakit jantung, asma, darah rendah atau darah tinggi?"
"Tidak, Dok. Cepat ambil darah saya dan selamatkan putri saya."
Dokter pun menganggukkan kepalanya lalu mempersilahkan Tuan Adrian untuk masuk ke dalam ruangan.
"Tuan Louis, silahkan anda kunjungi bagian Administrasi dan tanda tangani surat kuasa yang sudah disiapkan di sana." Pinta sang Dokter yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Louis Gabriel.
❤️❤️
Sudah hampir dua jam Istri juga ayah mertuanya berada di sana. Tapi, Louis sama sekali belum mendengar tangisan bayi membuatnya semakin merasa khawatir, dia pun mengusap wajahnya kasar secara berkali-kali mencoba menepis pikiran buruk yang saat ini memenuhi otak kecilnya.
Bibi yang saat ini duduk tepat di samping Tuannya itu pun nampak mengusap punggung lebar Louis mencoba untuk menenangkan.
"Tuan yang sabar ya. Nyonya pasti baik-baik saja di dalam sana begitupun dengan bayinya."
"Ini sudah hampir dua jam bi, kenapa belum ada tanda-tanda bayi lahir? Saya benar-benar takut terjadi sesuatu sama istri dan bayi saya, Bi." Lirih Louis nada suaranya terdengar berat memendam perasaan khawatir.
"Kita berdoa semoga Nyonya baik-baik saja. Tuan yang sabar, percaya sama bibi, Nyonya pasti baik-baik saja dan bayi Tuan juga akan baik-baik saja."
'Ya Tuhan, saya mohon selamatkan istri dan juga bayi saya. Saya mohon ... Saya tidak tahu akan seperti apa hidup saya jika mereka sampai kenapa-napa.' (batin Louis memanjatkan doa.)
Tidak lama kemudian, suara tangis bayi pun seketika terdengar dari dalam sana membuat Louis yang memang sedari tadi sudah menahan rasa khawatir seketika menitikkan air mata diiringi dengan hembusan napas lega.
"Akhirnya ... Akhirnya ... Terima kasih ya Tuhan ... Hiks hiks hiks ..." Gumam Louis Gabriel seketika menangis sesenggukan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1