
"David? Kamu kenapa, sayang? Dimana ibumu?" Tanya Arista menghampiri David yang merupakan keponakannya sekaligus calon anak tirinya kalau dia jadi menikah dengan Mas Louis'nya itu.
David pun menoleh menatap wajah Arista, tatapan matanya terlihat sayu dengan bola mata memerah lengkap dengan buliran bening yang berjatuhan dengan begitu derasnya. David sama sekali tidak menjawab pertanyaan Arista, hanya suara tangisnya saja yang masih terdengar lirih dan pilu di dengar.
Arista yang merasa iba pun seketika langsung memeluk tubuh David dan mencoba menenangkan.
"Apa Tante Arista ini beneran adiknya Mommy?" Tanya David menatap lekat wajah Arista.
"Ya, anggap aja begitu," jawab Arista datar.
"Tante ... Aku mau pulang. Aku gak mau tinggal di sini. Meskipun aku rindu dan sayang sama Daddy tapi, aku ingin tinggal sama Mommy, hiks hiks hiks ..."
"Memangnya si Clara itu. Eu ... Maaf, maksud Tante, ibumu sengaja ninggalin kamu di sini?" Tanya Arista mengerutkan kening.
David menganggukkan kepalanya dan mulai menceritakan apa yang baru saja terjadi beberapa waktu yang lalu saat ibunya meninggalkan dirinya di sana sendirian.
Flash back beberapa jam sebelumnya.
Clara yang merasa hancur setelah mendengar kabar bahwa adik bungsunya telah tiada ditambah lagi melihat dengan mata kepala sendiri, mantan suaminya lebih memilih menggendong Arista dibandingkan dengan dirinya padahal dia pun sedang membutuhkan dukungan yang sama dari Louis pun mulai berdiri dan membenahi perasaannya.
Dia mengusap kasar wajahnya sendiri, tanpa menyadari bahwa David sedang menatap dirinya dengan tatapan tidak mengerti. Sebenarnya sih Clara menyadari hal itu tapi, dia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu karena dia memang datang ke sana untuk menyerahkan David putranya agar bisa di asuh oleh mantan suaminya.
Tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang putra, Clara pun berjalan keluar dari dalam rumah namun, seketika dia pun menghentikan gerakan kakinya saat mendengar suara sang putra memanggil namanya.
"Momm ...!" Teriak David menghampiri sang ibu.
"Tungguin aku, Mom." Pinta David semakin mempercepat langkah kakinya.
"Kamu jangan ikut Mommy. Kamu di sini aja sama Daddy kamu."
__ADS_1
"Hah? Tapi, Mom? Aku gak mau, aku maunya ikut Mommy, hiks hiks hiks ..." Rengek David mulai menangis sesenggukan seraya memeluk pinggang ibunya dari arah belakang.
"Denger ya, David. Kalau kamu ikut Mommy, Daddy mu bakalan keenakan nikah lagi sama wanita lain dan harta yang dimiliki Daddy kamu itu akan jatuh ke tangan wanita itu, apa kamu mau kita hidup miskin dan gak punya apa-apa, hah?" Bentak sang ibu mencengkeram kuat kedua bahu David.
"Aku gak peduli, Mom. Yang penting aku bisa tinggal sama Mommy hidup miskin pun gak masalah. Yang aku inginkan hanya Mommy, hiks hiks hiks ..."
Plak ....
Clara memukul punggung putranya keras dan bertenaga.
"Apa kamu tau seperti apanya rasanya hidup miskin? Apa kamu tau gimana rasanya hidup kelaparan dan gak punya uang sama sekali, hah?" Teriak Clara membentak putranya membuat David semakin mengeraskan suara tangisnya.
"Sakit, Mom. Kenapa Mommy pukul aku segala? Hiks hiks hiks ..."
"Dengerin Mommy. Kamu itu anak baik, anak soleh dan penurut, bukankah selama ini kamu gak pernah ngebantah Mommy?"
David hanya terdiam menunduk. Selama ini dia memang tidak pernah membantah perkataan ibunya, David bahkan selalu menuruti semua keinginan sang ibu tapi kali ini, dia merasa sangat berat untuk mengikuti keinginan ibunya yang memintanya untuk tinggal dengan sang ayah.
"Mom, aku mohon izinkan aku ikut sama Mommy." Rengek David mengiba menatap wajah sang ibu dengan tatapan sayu.
"David, Mommy sayang sama kamu. Itu sebabnya Mommy ninggalin kamu di sini supaya kamu bisa hidup enak, Mommy bakalan balik lagi keluar negeri dan tinggal di sana bersama suami baru Mommy jadi, kamu baik-baik tinggal di sini ya. Mommy janji bakalan sering kunjungi kamu ke sini kalau Mommy lagi pulang ke negara ini. Oke?" Jawab Clara sedikit terisak.
"Tapi, Mom?" Rengek David benar-benar tidak ingin ditinggalkan.
Clara pun menc*umi wajah putra kesayangannya, dia terpaksa melakukan hal ini demi sang putra. Dia tidak ingin seluruh harta mantan suaminya jatuh ke tangan orang lain, dia ingin David menjadi pewaris tunggal dari seluruh kekayaan yang dimiliki oleh mantan suaminya.
Perlahan, Clara pun mulai mengurai pelukan. Dia memundurkan langkah kakinya lalu memutar tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan David sang putra di sana menangis sendirian dan tidak ingin ditinggalkan. Clara bahkan mengabaikan teriakan putranya itu yang terus saja memanggil namanya secara berkali-kali.
"Mom, aku mohon jangan tinggalkan aku, Mom." Rengek David mencoba mengejar ibunya.
__ADS_1
Clara tidak bergeming, dia semakin mempercepat gerakan langkah kakinya hingga benar-benar keluar dari dalam rumah besar dan segera berlari kencang di halaman luas rumah milik mantan suaminya.
'Maafkan Mommy, David. Mommy terpaksa melakukan ini, Mommy ga mau kamu hidup menderita.' (batin Starla sebelum dia masuk ke dalam mobil miliknya yang dia parkir di tepi jalan)
Flash back and.
Setelah mendengar cerita David Yeng terdengar hampir sama dengan apa yang dia alami beberapa tahun yang lalu, Arista pun seketika kembali memeluk tubuh David.
Melihat David membuatnya kembali mengingat sosok sang adik yang memiliki usia yang hampir sama dengan keponakannya itu. Arista pun mengusap punggung David mencoba untuk menenangkan.
"Kamu gak usah sedih, sayang. Ada Tante di sini, Tante janji bakalan rawat kamu dengan baik. Tante juga bakalan jadi ibu sambung kamu yang baik dan menyayangi kamu layaknya putra Tante sendiri." Lirih Arista mengecup pucuk kepala David lembut dan penuh kasih sayang.
'Terima kasih, Arista. Kamu benar-benar calon ibu sambung yang baik,' (batin Louis)
Ternyata, Louis pun sedari tadi berada di sana. Dia duduk di antara anak tangga dan mendengarkan semua yang diceritakan oleh putranya tersebut. Memang keputusan Clara meninggal David di sana sudah tepat namun, Louis menyayangkan cara Clara yang salah, sangat-sangat salah.
Seharusnya, sebelum David di serahkan kepadanya, terlebih dahulu Clara membicarakan dengan putranya itu secara baik-baik bukan langsung ditinggalkan begitu saja.
Perlahan, Louis pun berdiri lalu menuruni satu-persatu anak tangga dengan tatapan mata mengarah kepada kedua orang yang sangat dicintainya saat ini. Putra semata wayangnya serta calon istrinya.
Arista yang menyadari kedatangan Mas Louis tersayangnya itu pun seketika langsung teringat akan dirinya yang sama sekali belum mengenakan pakaian dalam apapun. Dia pun seketika berdiri lalu ....
"Mau kemana kamu, sayang?" Ucap Louis menatap tubuh Arista dengan tatapan menggoda membuat Arista yang hendak berlari ke kamarnya seketika terdiam mematung.
Dia pun nampak merekatkan belahan kimono yang menutupi bagian atas tubuhnya.
'Apa Mas Louis ngintip ke dalam sini tadi ya? Atau jangan-jangan diam-diam Mas Louis ngintip bagian bawah juga? Astaga ...' (batin Arista seraya merapatkan kedua kakinya)
"Anu, Mas. Aku mau mandi dulu. Babay ..." Arista pun langsung berlari kencang dengan tangan yang masih memegangi belahan kimono yang menutupi bagian atas tubuhnya.
__ADS_1
'Gak usah di tutup kayak gitu, Rista. Mas udah ngintip tadi, lumayan meskipun cuma dikit hahaha ...' (batin Louis cengengesan)
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️