Hasrat Tuan Kesepian

Hasrat Tuan Kesepian
Salah Paham


__ADS_3

Arista menatap wajah suaminya yang terlihat gugup dengan suara yang terbata-bata. Wajah Louis pun nampak pucat pasi dengan keringat yang membasahi pelipisnya kini.


"Mas kenapa? Wajah Mas pucat banget kayak mayat hidup," tanya Arista sedikit terkekeh.


"Hus kamu ini, Mas 'kan sudah pernah bilang kalau ibu hamil itu gak boleh ngomong sembarangan. Kalau putra kita mukanya pucat seperti yang kamu katakan tadi, gimana? Hiiih ... Amit-amit jabang bayi," ketus Louis mengetuk keningnya tiga kali lalu mengetuk kursi yang di duduknya juga sebanyak tiga kali.


"O iya, aku lupa. Amit-amit jabang bayi ..." Jawab Arista yang juga melakukan hal yang sama.


"Ingat, jaga hati, jaga bibir juga jaga tingkah laku kamu mulai sekarang, oke?"


"Gara-gara Mas juga si?"


"Lho, ko gara-gara Mas lagi si?"


"Ya ... Kenapa Mas wajahnya pucat kayak gitu? Pake keringatan segala lagi, aku 'kan jadi ngomong sembarang kayak tadi." Celetuk Arista tidak ingin mengalah seperti biasanya.


"Ya itu karena--"


"Karena apa? Sebenarnya kamu itu kenapa si, Mas?"


Louis terdiam tidak mengatakan apapun lagi, dia seketika merasa ragu apa dia harus mengatakan yang sebenarnya kepada sang istri? Apa istrinya itu akan baik-baik saja jika dia tahu hal yang sebenarnya?


Akan tetapi, Louis lebih takut kalau sang istri akan lebih marah lagi jika dia menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya bahwa pria tua yang baru saja ditemuinya adalah ayah kandungnya sendiri.


"Nah 'kan ngelamun lagi? Ada apa si Mas?" Tanya Arista lagi seketika membuyarkan lamunan Louis.


"Eu ... Nggak ko, sayang. Mas cuma lelah aja, akhir-akhir ini di kantor banyak banget pekerjaan." Jawab Louis akhirnya memilih untuk menyembunyikan apa yang semula hendak dia katakan.


"Hmm ... Ya udah, kamu istirahat aja kalau gitu."


"Nggak, Mas lapar banget. Mas pengen makan mie rebus pake telur." Celetuk Louis seketika membuat Arista terkekeh.


"Mas ini aneh-aneh aja si, kalau lelah ya istirahat, kalau lapar ya makan. Sebenarnya Mas itu lelah apa lapar si, hehehe ....''


"Mas lelah plus lapar."


"Ya udah kita masuk, aku buatkan mie rebus kesukaannya Mas ya."


"Nggak, biar Mas minta bibi aja yang buatkan. Astaga, Mas sampai lupa bibi 'kan udah Mas pecat tadi."


"Apa? Seriusan? Bibi Mas pecat?''

__ADS_1


Louis menganggukkan kepalanya seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali, lengkap dengan wajah yang cengengesan.


Plak ....


Louis seketika mendapatn pukulan di bahu kirinya dari sang istri.


"Argh ... Sakit sayang."


"Kenapa bibi Mas pecat? Kalau gak ada bibi, nanti siapa yang beres-beres? Terus aku gimana, aku sebentar lagi melahirkan lho, kalo gak ada bibi siapa yang akan ngajarin aku caranya ngurus bayi, Mas ini." Ketus Arista merasa kesal.


"Ya, salah bibir sendiri kenapa jawab pertanyaan Mas bertele-tele."


"What? Hanya karena ngejawab pertanyaan Mas bertele-tele, Mas pecat bibi gitu aja?"


Louis kembali menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dipaksakan.


"Astaga, Mas Louis." Arista mengusap wajahnya kasar.


"Hehehe ... Gimana dong sekarang? Masa Mas tarik ucapan Mas yang tadi itu? Malu 'kan?"


"Gak ada malu-maluan, pokoknya Mas masuk dan tarik ucapan Mas itu sekarang juga." Ketus Arista.


"Tapi, sayang--"


Louis terdiam merasa percuma berdebat dengan sang istri karena dirinya tidak akan pernah menang.


'iya-iya, wanita selalu menang, dan laki-laki harus selalu mengalah, hadeuuuuh ...'' (batin Louis.)


"Sekarang Mas masuk dan temui bibi."


"Sekarang juga?"


"Ya terus kapan lagi, mau nunggu bibi benar-benar pergi, ingat lho beliau itu udah bekerja di sini selama lebih dari 10 tahun, Mas ko tega main pecat aja hanya karena masalah sepele."


"Hmmm ...'' Louis hanya menghembuskan napas panjang.


"Kenapa malah diam?"


"Iya, ini mau masuk. Tapi, temenin ya."


Kali ini Arista yang menghembuskan napas kasar seraya mengusap perut buncitnya.

__ADS_1


'Amit-amit jabang bayi, jangan sampai sifat kasar, arogan Daddy kamu ini turun sama kamu, Nak.' (Batin Arista.)


Keduanya pun bangkit lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


♥️♥️


Sementara itu, bibi sama sekali tidak merasa terusik dengan ucapan Tuannya yang dengan begitu mudahnya memecat dirinya. Ini bukan kali pertama Tuan besarnya itu mengatakan hal yang sama dan dia sama sekali tidak pernah menanggapi hal itu.


Bibi malah sedang senyum-senyum sendiri seraya melipat pakaiannya sendiri yang baru saja dia angkat dari jemuran.


Tok ... Tok ... Tok ....


Ceklek ....


Suara ketukan dan pintu di buka seketika menghentikan gerakan tangannya. Wanita paruh baya yang telah menghabiskan waktu selama lebih dari 20 tahun bekerja dikediaman Louis pun seketika menoleh dan menatap wajah kedua majikannya.


"Ada apa Tuan sama Nyonya sampai jauh-jauh datang ke kamar saya, tumben banget?" tanya Bibi langsung berdiri seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Bibi? Bibi mau kemana? Kenapa baju-baju bibi dibereskan kayak gini?" Tanya Arista menatap pakaian yang sudah dilipat rapi di atas ranjang.


"Bi ... Apa bibi tersinggung dengan apa yang saya katakan tadi? Memangnya bibi sudah bekerja di sini berapa lama si? Bibi tau 'kan sifat saya seperti apa? Sudah berapa kali saya mengatakan hal seperti itu. Tapi, kenapa kali ini bibi langsung bersikap kayak gini?" Ucap Louis sedikit menaikan suaranya.


"Tidak, Tuan, Nyonya. Saya hanya--"


"Bi, ucapan suami saya tidak usah dimasukin ke dalam hati. Dia memang jahat, arogan, dan maunya menang sendiri, bibi masukin lagi pakaian bibi ini ke dalam lemari ya. Apa jadinya saya jika bibi tidak lagi bekerja di sini.'' Sela Arista sebelum bibi menyelesaikan ucapannya.


"Nyonya, Tuan. Jangan salah paham saya--''


"Pokoknya, saya gak izinin Bibi keluar dari rumah ini. Saya akan naikan gaji bibi 2x lipat sebagai permintaan maaf saya sama bibi. Saya Louis Gabriel dengan segenap hati saya meminta maaf kepada bibi. Bibi tau 'kan kalau saya jarang-jarang meminta maaf sama orang?'' tegas Louis menekan rasa malu dan egonya dalam-dalam.


"Tuan, Nyonya. Stop ... Izinkan saya bicara. Astaga kalian berdua. Tuan Louis Gabriel yang terhormat tolong diam dulu sebentar, saya mau bicara sama kalian berdua." Tegas bibi sedikit menaikan suaranya.


Louis dan Arista pun seketika merapatkan bibir masing-masing.


"Tuan Louis, Nyonya Arista. Saya tidak akan kemana-mana, pakaian ini adalah pakaian yang baru saja saya ambil dari jemuran dan akan saya rapikan. Lagipula, saya mau kemana lagi kalau sampai keluar dari rumah ini." Jelas bibi membuat Louis seketika terkejut lalu langsung memeluk tubuh bibi, hal yang baru pertama kali dia lakukan selama bibi bekerja di sana.


"Makasih banyak bi. Saya tidak tahu apa jadinya saya jika tidak ada bibi, jujur saja, bibi sudah saya anggap seperti ibu saya sendiri." Lirih Louis memeluk erat tubuh bibi membuat bibi merasa terharu.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Jangan lupa mampir juga di karya teman Othor ya, semoga bisa menghibur.☺️

__ADS_1



__ADS_2