
"Mas, boleh aku liat Poto mantan istri Mas?" Tanya Arista, ingin lebih memastikan bahwa dugaannya adalah salah.
"Poto? Buat apa?" Louis mengerutkan keningnya.
"Hmm ... Cuma pengen tau aja si, cantikan dia apa aku?" Arista beralasan.
"Hahaha ... Ya jelas cantikan kamu dong, Rista sayang."
"Akh, masa? Aku gak percaya sebelum liat dengan mata kepala aku sendiri."
"Gak usah liat. Dari semenjak Mas berpisah sama dia, Mas sama sekali gak nyimpen Poto dia, sedikitpun, satupun gak ada. Semuanya udah Mas buang."
"Lho, kenapa? Gak ada satupun gitu?"
"Gak ada. Lagian buat apa kamu pengen liat poto dia segala? Gak penting banget si," ucap Louis menatap lekat wajah calon istrinya.
"Tadi 'kan aku udah bilang, aku cuma ingin tau aja, cantikan dia apa aku. Cuma itu aja ko," jawab Arista sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Mas juga 'kan udah bilang tadi, cantikan kamu 'lah tapi, ada yang aneh juga dengan kalian. Wajah kalian emang sedikit mirip sih, raut wajah sama tatapan kamu mirip dengan mantan istri Mas. Tapi ya udahlah gak usah terlalu dipikirin, di dunia ini emang banyak wajah-wajah yang mirip meski mereka gak ada hubungan darah sekalipun.''
''Contohnya Mas Louis mu ini, meskipun Mas gak ada hubungan darah sama Lee Min Hoo tapi, muka Mas mirip sama dia, iya kan?" Jawab Louis dengan penuh percaya diri.
"Dih, Mas ini ada-ada aja sih."
"Kenapa? Kamu gak setuju kalau Mas Louis sayangmu ini mirip sama artis Korea itu?" Tanya Louis sedikit memasang wajah kecewa.
"Siapa bilang? Mas Louis sayangnya aku ini mirip ko sama Lee Min Hoo, mirip banget malah tapi--"
"Tapi apa? Ko ada tapinya segala?"
"Kalau di liat dari puncak gunung, hahaha ..." Ucap Arista tertawa terbahak-bahak lalu turun dari atas ranjang dan berlari ke arah kamar mandi lalu menutup pintunya keras.
"Ish ... Dasar ... gak sopan banget sih? Masa kalau di liat dari puncak gunung sih?" Gerutu Louis, dia pun bangkit lalu berjalan ke arah cermin.
Dengan begitu percaya dirinya, Louis menatap wajahnya sendiri dari dalam pantulan cermin, dia pun menatap tubuh atletisnya yang saat ini dibalut stelah jas berwarna abu lengkap dengan dasi berwarna hitam yang menyempurnakan penampilan dirinya.
"Hmm ... Muka saya emang mirip Lee Min Hoo ko, si Arista aja yang gak sadar kalau calon suaminya ini tampannya gak ketulungan," ucap Louis berbicara seraya menatap tubuhnya sendiri dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Dia bahkan berpose layaknya poto model profesional dengan begitu percaya dirinya berputar lalu merentangkan kedua tangannya dengan tatapan kagum menatap tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Perfek ... Tubuh kamu memang sempurna Louis Gabriel," gumamnya penuh percaya diri.
Setelah puas menatap dan mengagumi keindahan tubuhnya sendiri, Louis pun berjalan kembali ke arah ranjang dan duduk di tepi ranjang menunggu calon istrinya yang saat ini sedang berada di kamar mandi.
Lama menunggu, Louis pun akhirnya merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk. Dirinya berbaring telentang dengan menatap langit-langit kamar membayangkan malam pertama bersama Arista nanti di ranjang itu di kamar itu pula.
Louis pun meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala, menjadikan telapak tangan lebarnya itu sebagai bantalan kepalanya yang saat ini sedang membayangkan sesuatu.
Otak laki-laki yang sudah tiga tahun menduda itu benar-benar mesuum saat ini. Dia membayangkan tubuh calon istrinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, entah apa yang merasuki jiwa seorang Louis hingga otaknya benar-benar kotor dan tercemar saat ini.
Louis bahkan memejamkan matanya, dengan tersenyum manis, laki-laki itu membayangkan dirinya sedang bercumbu dengan Arista. Mungkin, karena dia memang sudah tidak sabar ingin segera melepas status dudanya yang selalu tidur sendirian setiap malam dan benar-benar merasa kesepian.
'Akh ... Kenapa 6 hari lama banget sih?' (batin Louis masih dengan mata terpejam)
Semakin intens saja otak Louis dalam membayangkan tubuh Arista di otaknya, sampai akhirnya suara pintu kamar mandi pun di buka membuat Louis seketika langsung membuka mata lalu menoleh ke arah kamar mandi.
"Waaaw ... Apa bayangan saya jadi kenyataan?" Gumam Louis saat menatap tubuh Arista yang berdiri tepat didepan pintu kamar mandi dengan tubuh yang setengah polos hanya dibalut dengan handuk kecil yang membalut tubuh sek*inya.
"Mas Louis? Lagi ngapain di sini?" Teriak Arista dengan begitu polosnya, belum menyadari keadaan dirinya yang saat ini dalam keadaan setengah telanjal*ng.
Louis tidak menjawab sama sekali. Matanya sibuk menyisir setiap jengkal tubuh gadis yang akan segera menjadi istrinya itu dengan tatapan tajam seolah tanpa berkedip sedikitpun. Kaki jenjang yang putih mulus terlihat begitu indah.
Apalagi bagian atas tubuh Arista yang menunjukkan dua bulatan yang tidak terlalu besar namun sedikit menyembul menunjukkan belahan yang begitu indah dan sangat menggoda iman.
"Haaaaaaa ...'' teriak Arista memekikkan telinga.
Blug ....
Dia pun kembali menutup pintu kamar mandi keras dan bertenaga membuat Louis seketika tertawa lepas.
"Hahaha ... Arista, Arista ... Kamu ini, sampe segitunya banget si. Baru juga di tatap, gimana kalau nanti saya jamah tubuh indah kamu itu? Astaga, sabar-sabar Louis, sabar, 6 hari lagi. Tahan ..." Gumam Louis menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, mencoba mengatur detak jantungnya yang kini berdetak tidak karuan.
"Hmm ... Tubuh kamu benar-benar indah, Rista. Tapi, saya gak akan menjamah kamu sebelum kita sah menjadi suami istri." Gumamnya lagi.
Ceklek ....
Pintu kamar mandi pun kembali di buka. Arista yang saat ini sudah memakai kimono handuk, hingga tubuhnya benar-benar tertutup sempurna pun keluar dari dalam kamar mandi. Tatapan matanya nampak menatap tajam ke arah calon suaminya lalu sedetik kemudian ....
Plak ....
__ADS_1
Louis yang sudah dalam keadaan duduk di tepi ranjang mendapatkan pukulan keras di punggungnya.
"Argh ... Sayang, kenapa Mas di pukul?" Protes Louis meringis kesakitan.
"Mas nakal? Kenapa Mas liat-liat aku tadi? Kalau sampai ada setan lewat gimana?" Gerutu Arista dengan suara cemprengnya.
"Ya, Mas gak salah dong. Kamu sendiri yang salah, kenapa cuma pakai handuk gitu tadi? Lagian kalau ada setan 'kan tinggal di ajak main bareng sama kita."
Plak ....
Punggungnya pun kembali di pukul keras oleh Arista.
"Argh ... Sakit, Rista."
"Mas ini, mulutnya harus di kasih pelajaran ya."
"Mau dong, di kasih pelajaran sama kamu, sayang," jawab Louis tersenyum genit seraya memanyunkan bibirnya.
Arista pun tersenyum geli, melihat tingkah calon suaminya yang terlihat begitu menggemaskan bahkan, Mas Louis kesayangannya itu terlihat begitu manja menggoda membuatnya tanpa sadar mengecup pelan bibir calon suaminya itu.
Cup ....
Kecupan yang dilayangkan oleh Arista bahkan terdengar nyaring membuat Louis segera menarik pergelangan tangan Arista hingga bibirnya kembali bersentuhan. Louis pun segera melahap bibir ranum Arista, lembut dan penuh perasaan, menyisir setiap jengkal bibir kenyal dan hangat milik calon istrinya tersebut.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Tuan ...?"
Suara ketukan disertai suara bibi terdengar dari luar sana membuat Louis dan Arista seketika melepaskan tautan bibir masing-masing.
"Astaga, ganggu aja si? ADA APA SI, BI?" Teriak Louis dengan nada kesal.
"Boleh saya masuk, Tuan."
"Nggak, nggak boleh."
"Tapi ini penting, Tuan. Penting banget."
"Ya udah tinggal ngomong aja di situ, gak usah masuk segala." Teriaknya lagi semakin merasa kesal.
__ADS_1
"Anu, Tuan. Di bawa ada tamu, eu ... Itu ... Nyonya Clara sama den David ada di bawah, Tuan." Ucap Bibi terbata-bata membuat Louis seketika terkejut.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️