
Louis seketika berlari keluar dari dalam ruangan kerjanya setelah mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya di dalam telpon.
Apakah Adryan Aditama benar-benar nekat menemui Arista padahal dirinya telah terang-terangan menunjukkan penolakan?
'Tua Bangka tidak tau diri, saya gak peduli jika saya di sebut menantu yang tidak sopan. Karena tua Bangka seperti anda tidak pantas di perlakukan secara sopan. Bapak gendeung tidak bertanggung jawab. Brengsek ...' (batin Louis.)
Louis terus berlari dengan perasaan kesal, hatinya benar-benar diliputi rasa khawatir akan keselamatan istri dan juga bayi yang sedang dikandungnya.
Bukan khawatir karena takut di sakiti oleh laki-laki yang dia maki sedemikan rupa di dalam hatinya itu. Tapi, dia takut kalau Arista akan syok dan itu akan berakibat fatal untuk mental dan juga psikisnya.
Bruk ....
Tiba-tiba saja dia menabrak seseorang sehingga membuat tubuhnya terjatuh di lantai, dan tentu saja hal itu benar-benar membuatnya semakin merasa kesal.
"Maaf, bos. Saya tidak sengaja." Ucap salah satu karyawannya yang juga terjatuh di lantai.
"KALAU JALAN LIAT-LIAT DONG. KAMU SAYA PECAT SEKARANG JUGA." Teriak Louis kesal lalu bangkit dan kembali berlari.
"Hah? Saya benar-benar tidak sengaja bos." Teriak karyawan itu lagi dengan nada suara tinggi penuh emosi dan tentu saja terkejut karena hal sepele dirinya di pecat dari pekerjaannya.
Louis yang sedang dalam keadaan emosi pun mengabaikan begitu saja teriakan karyawannya itu yang terus saja berteriak memanggil namanya. Sampai akhirnya, dia pun sampai di tempat parkir khusus dan mencari mobil miliknya.
Louis merogoh saku celana mencari keberadaan kunci mobil lalu seketika mendengus kesal.
"Sial, kunci mobilnya ketinggalan di atas lagi. Kurang ajar." Gerutunya lalu berlari keluar dari parkiran dan hendak menuju jalan raya.
"Bos?" Tiba-tiba saja dia mendengar suara Jodi dan tersenyum seketika.
"Kamu? syukurlah. Cepat antarkan saya pulang."
__ADS_1
"Lho, kenapa memangnya? Ko bos tiba-tiba pulang?"
"Udah jangan banyak nanya, mau saya pecat kamu."
Jodi seketika merapatkan bibirnya dan tidak bertanya apapun lagi, karena dia tahu bahwa ekspresi wajah Tuan Bosnya itu menunjukkan bahwa beliau tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Baik, bos. Saya akan mengantarkan anda pulang sekarang juga."
Jodi langsung membukakan pintu mobil untuk bosnya dan berlari ke arah samping lalu masuk ke dalam mobil kemudian dan siap untuk mengemudi.
"Cepetan, 30 menit harus udah sampai ya?"
"Hah? Mana mungkin, bos."
"Gak ada yang tidak mungkin di dunia ini, pokoknya kita harus sampai di rumah dalam waktu 30 menit, titik."
"Ba-baik, bos." Jawabnya segera menyalakan mobil dan melesat meninggalkan area parkiran.
'Arista, sayang. Mas harap kamu gak terlalu emosi, Mas akan segera pulang, sayang.' (Batin Louis.)
"Aduh, lama banget si Jodi. Buruan dong." Gerutu Louis kesal.
"Iya, bos. Ini udah kecepatan maksimal."
"Astaga, berhenti kamu. Biar saya yang nyetir."
"Tapi, bos?"
"Cepetan berhenti." Teriak Louis murka.
__ADS_1
"Baik, bos."
Ckiiit ....
Jodi pun seketika melipir lalu menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. Louis dengan perasaan tidak sabar segera turun dan meminta Jodi untuk duduk di kursi samping.
Setelah itu, dia benar-benar menginjak pedal gas dan melesat di jalanan dengan kecepatan di atas rata-rata.
"PELAN-PELAN TUAN, BOS. BULAN DEPAN SAYA AKAN MENIKAH, HAAAAAA ..." Teriak Jodi ketakutan, bosnya ini benar-benar sudah gila.
"Diam kamu, kalau kamu ngomong lagi. Saya bakalan potong gaji kamu 50%." Jawab Louis dengan tatapan mata lurus ke depan dan laju mobil yang dia kemudikan benar-benar seperti orang yang kesetanan.
"HMMMMM ... HMMMMM ..." Jodi hanya bergumam menahan teriakan, dengan jantung yang berdetak kencang benar-benar merasa ketakutan.
'Gila ... Tuan bos gila. Sebenarnya ada apa dengan dia? Bukannya tadi Tuan bos itu baik-baik saja?' (batin Jodi.)
Akhirnya, dalam waktu 35 menit. Mobil yang dikendarai dengan super cepat layaknya sedang balapan di sirkuit itu pun sampai di depan rumah Louis, dimana pagarnya sudah terbuka lebar dan satu buah mobil pun terparkir tepat di depannya.
Ceklek ....
Blug ....
Louis membuka mobil dengan tergesa-gesa dan segera berlari masuk ke dalam rumahnya.
"Arista, sayang!'' teriaknya dengan perasaan khawatir.
Sementara Jodi, dia pun segera keluar dari dalam mobil dengan tubuh yang hampir roboh menahan rasa pusing juga mual di mulutnya.
"Gila, Tuan bos. Saya baru tau kalau dia punya bakat jadi pembalap ... Seharusnya dia jadi pembalap profesional aja kalau gini. Huek ... Huek ..." Jodi akhirnya muntah setelah mencoba menahannya selama di perjalanan.
__ADS_1
Sementara itu, Louis masih saja memanggil nama istrinya dengan berteriak seperti orang yang keset*nan dan panik seketika karena sang istri tidak ada dimanapun di dalam rumahnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️