
"Apa? Kamu gak bercanda 'kan, sayang? Kalau dua bulan kamu gak datang bulan itu artinya--?"
"Aku ha-mil?"
Arista memotong ucapan suaminya dan langsung mendapatkan sambaran pelukan dari Mas Louis'nya itu disertai suara tawa yang menggelegar.
"Hahaha ... Kamu hamil, sayang. Astaga, Mas bakalan punya bayi lagi, ya Tuhan ... Terima kasih, terima kasih," ucap Louis merasa senang bukan kepalang.
"Huek ..."
Tiba-tiba saja, Arista kembali memuntahkan makanan tepat di badan suaminya, dekapan Louis yang begitu erat membuatnya tidak sempat menarik tubuhnya membuat pakaian sang suami penuh dengan kotoran dari dalam mulutnya kini.
"Ya ampun, Mas. Maaf baju kamu-- Huek ..." Lirih Arista.
Dia pun mengurai jarak diiringi dengan mulutnya yang kembali memuntahkan makanan, membuat tubuh suaminya yang semula telah rapih kini kembali berantakan penuh dengan kotoran yang memenuhi pakaiannya.
"Gak apa-apa, sayang. Gak apa-apa, Mas baik-baik saja ko,'' jawab Louis tidak merasa jijik sama sekali.
Tanpa basa-basi lagi, Louis pun segera membuka pakaian yang dikenakannya, begitupun dengan jas hitam yang baru saja dia pakai sehingga bagian atasnya kini benar-benar polos memperlihatkan dada bidangnya yang terlihat kotak-kotak, sedikit ditumbuhi bulu halus yang terlihat se*si dan begitu menggoda.
Louis pun segera meraih tubuh istrinya, membawa ke dalam gendongannya lalu berjalan keluar dari kamar mandi.
"Maaf, Mas. Kamu udah rapi tadi, sekarang jadi kayak gini." Lirih Arista di dalam dekapan suaminya menyandarkan kepalanya di dada bidang Louis.
"Gak apa-apa, sayang. Mas bisa mandi lagi ko." Jawab Louis membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang.
"Tapi, katanya Mas lagi buru-buru. Kalau Mas sampai terlambat gimana?"
"Hey ... Kamu lupa siapa Mas? Mas adalah pemilik perusahaan, Direktur Utama dan gak ada yang bakalan berani memarahi Mas meskipun Mas datang terlambat. Mas bisa membatalkan meeting kalau Mas ingin," jawab Louis dengan penuh percaya diri yang senyum yang mengembang begitu lebar dari kedua sisi bibirnya.
Louis pun duduk di tepi ranjang, dia menghiraukan tubuhnya yang masih dalam keadaan setengah polos, dinginnya udara yang membasuh permukaan kulitnya pun seolah tidak mengusik tubuhnya sama sekali.
Dia menatap wajah Arista dengan tatapan sayu penuh kasih sayang, Louis benar-benar bahagia, merasa sangat bahagia. Kebahagiaan yang sama seperti yang dia rasakan dulu saat mantan istrinya mengandung putra pertamanya.
"Makasih, sayang. Mas bahagia banget akhirnya, David gak akan merasa kesepian lagi di rumah ini, dia akan memiliki seorang adik sekarang." Lirih Louis, tatapan sayu'nya menyiratkan kebahagiaan yang mendalam.
"Iya, Mas. Aku juga bahagia. Tapi--''"
"Tapi apa?"
"Apa kamu gak kedinginan gak pakai baju kayak gitu? Nanti masuk angin lho?" Rengek Arista dengan begitu polosnya, mengusap dada bidang sang suami dan juga perut kotak-kotaknya dengan senyuman tipis yang terlihat menggoda.
"Ish ... Kamu ini. Ya udah Mas mandi dulu ya.'' Louis hendak bangkit.
"Maaaas ..." Lirih Arista manja seolah sedang meminta sesuatu.
__ADS_1
"Iya, sayang. Kamu mau apa? Apa kamu lagi ngidam sesuatu? Bilang aja, sayang. Mas bakalan turuti apapun yang kamu mau, Mas akan jadi suami yang siaga buat kamu, sayang."
Arista menganggukkan kepalanya, masih dengan telapak tangan yang mengusap lembut dada bidang suaminya.
"Anu, Mas. Aku ngidam sesuatu." Lirihnya dengan tatapan sayu menatap setiap jengkal raga setengah polos suaminya.
"Apa sayang. Ngomong aja, gak usah malu-malu."
"Itu ...!"
"Itu?"
"Anu ..."
"Hah, anu?''
"Dih Mas ini, gak peka banget si."
"Bukannya gak peka, Rista sayang. Tapi, Mas gak ngerti apa yang kamu katakan. Ngomongnya yang jelas dong," tanya Louis mengerutkan kening benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh istrinya.
"Aku mau di manja sama si pi-ton." Jawab Arista pelan dengan tatapan sayu menuntut menginginkan sesuatu.
"Apa? Hahahaha ..."
"Kenapa gak bilang dari tadi, sayang? Astaga."
"Ya Mas'nya yang gak peka."
"Apapun akan Mas berikan buat kamu, sayang. Apalagi kalau kamu menginginkan si piton, Mas akan berikan dengan sepenuh hati, piton Mas ini milik kamu, sayang." Jawab Louis bangkit dan segera menurunkan celana panjang yang masih melingkar di pinggangnya.
"Akh ... Mas, kamu benar-benar--"
"Benar-benar apa? S*ksi maksudnya?''
Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar, sangat lebar.
Louis pun melemparkan celana miliknya ke sembarang arah dan hendak menerkam istrinya. Namun, dia pun seketika mengurungkan niatnya saat pintu kamarnya di ketuk pelan dan beraturan.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Tuan Bos, apa anda sudah siap?" Terdengar suara Jodi dari luar sana.
"Astaga ... si Jodi gangguin aja si." Gerutu Louis berjalan ke arah pintu, lalu membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya saja dari balik pintu.
"Apaan si Jodi? Mau saya potong gaji kamu, hah?"
__ADS_1
"Hah? Salah saya apa, Tuan bos?"
"Salah kamu gangguin saya, tau?''
"Lha, 'kan bos sendiri yang meminta saya buat datang pagi-pagi karena ada meeting penting di kantor.''
"Alasan saja, cepet telpon sekertaris saya bilang sama dia kalau saya membatalkan semua jadwal meeting hari ini. Istri saya sakit jadi saya gak akan pergi ke kantor." Ketus Louis hendak menutup pintu.
"Tunggu, Tuan.'' Pinta Jodi sedikit menahan pintu kamar, membuat tubuh Louis yang sedang dalam keadaan hampir polos pun sedikit terlihat oleh kedua mata Jodi.
'Ya ampun, Tuan. Pagi-pagi begini udah *tela*njang aja, mentang-mentang pengantin baru,' (batin Jodi)
"Apa lagi? Mau saya pecat kamu?"
"Nggak, bos. Ampun, baik saya akan menelpon sekretaris bos sekarang juga. Tapi, Tuan bos--"
"Tapi apa lagi, Jodi?"
"Meeting hari ini penting banget, kita 'kan ada meeting dengan pemilik perusahaan dari luar negeri yang sengaja datang ke sini khusus buat ketemu sama Tuan, gimana dong?''
"O iya, saya sampai lupa. Hmm ... Gini aja, bilang sama sekertaris saya meeting-nya di undur sampai nanti siang, oke?"
"Baik, Tuan bos. Silahkan lanjutin bercocok tanamnya, hehehe ..."
"JODIIIIIII ... Awas kamu ya," teriak Louis membulatkan bola matanya kesal.
Jodi pun segera lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu dengan suara tawa yang terdengar menggelegar.
Blug ....
Louis menutup pintu keras dan bertenaga lalu menghampiri istrinya yang sudah tidak sabar ingin segera dimanjakan.
"Kenapa, Mas? Kalau Mas buru-buru dan ada meeting penting, Mas berangkat aja. Aku gak apa-apa ko, beneran." Tanya Arista menatap tubuh suaminya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan sayu.
"Eit ... Gak ada yang lebih penting dari kamu, sayang." Jawab Louis segera naik ke atas ranjang.
Dia pun siap untuk mempersembahkan si piton yang menjadi benda favorit istrinya, Louis segera menutup tubuhnya begitupun dengan tubuh istrinya dengan selimut tebal dan seketika ranjang besar dan megah itu pun bergoyang.
"Akh ... Mas sayang, piton kamu,'' teriak Arista di dalam sana.
"Kenapa sayang, piton'nya nakal ya?"
"Nakal, Mas. Nakal banget, tapi aku suka. Arghhhhh Mas Louis sayaaaaang ..." Teriak Arista lagi, memekik keenakan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1