
Louis benar-benar menuruti istrinya yang tiba-tiba saja mengidam ingin dimanjakan oleh si piton. Tentu saja Louis langsung mempersembahkan piton kesayangannya itu untuk sang istri dengan senang hati tidak merasa keberatan sedikitpun.
Berbeda dengan permainan sebelumnya, kali ini dia tidak terlalu aktif mengingat bahwa istrinya itu sedang dalam keadaan hamil muda. Louis mencoba bermain sehalus mungkin dan selembut mungkin bahkan membiarkan istrinya yang lebih mendominasi permainan, sampai akhirnya mereka mencapai puncak bersama dan melepaskannya secara bersamaan.
"Akh ... Mas sayang," Arista melenguh panjang saat apa yang dia inginkan berhasil dia dapatkan dengan kenik*atan yang sempurna.
"Iya, sayang. Argh ... Kamu benar-benar luar biasa, sayang.'' Jawab Louis yang juga memejamkan mata.
Sungguh pagi yang indah bagi Louis, selain bahagia karena mendapatkan kabar kehamilan istrinya secara tiba-tiba, dia pun bahagia karena permainan pagi ini benar-benar luar biasa.
Arista lebih liar dari biasanya, dia lebih berani mengekspresikan diri dan sudah tidak malu-malu lagi dalam melakukan permainan ranjang.
Bisa di bilang bukan istrinya yang dimanjakan tapi malah sebaliknya, dirinyalah yang benar-benar dimanjakan oleh Arista membuat piton kesayangannya itu benar-benar meronta-ronta tidak membutuhkan waktu lama untuk memuntahkan bisa.
Bruk ....
Louis menjatuhkan diri tepat di samping tubuh polos sang istri, napasnya masih tersengal-sengal dengan dada yang terlihat naik turun lengkap dengan peluh dan keringat yang membasahi tubuhnya kini. Dia pun menatap puas wajah Arista yang saat ini juga merasakan hal yang sama.
"Gimana, sayang? Kamu puas?"
Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
"Piton'nya Mas benar-benar luar biasa, aku suka."
"Hahaha ... Mas 'kan pernah bilang, kalau kamu udah ngerasain sekali di belai sama si piton, di jamin kamu pasti bakalan ketagihan," jawab Louis mencubit kecil kedua sisi pipi istrinya.
"Iya-iya, aku akui deh. Aku emang ketagihan."
"Hmm ... Besok Mas bakalan luangin waktu buat kita pergi ke Dokter kandungan, Louis junior di dalam perut kamu ini harus diperiksa lho."
"Tapi, apa kamu gak sibuk, Mas?"
"Arista, sayang. Istriku, cintaku. Sesibuk-sibuknya Mas kamu tetap nomor satu, meskipun pekerjaan Mas menumpuk kamu tetap jadi pekerjaan nomor satu buat Mas."
Arista tersenyum senang, suaminya ini benar-benar pintar dalam hal menggombal. Setiap ucapan yang keluar dari bibirnya selalu saja terdengar manis bagaikan madu yang baru saja di ambil dari dalam sangkarnya.
"Udah cukup Mas. Sekarang kamu mandi dulu, nanti aku pingsan lho dengerin gombalan kamu terus," rengek Arista menatap sayu wajah suaminya.
__ADS_1
"Hahaha ... Emangnya ini pertama kalinya Mas gombalin kamu kayak gini?''
"Nggak juga sih. Tapi, Mas benar-benar selalu bikin hati aku berbunga-bunga lho tiap kali Mas ngomong kayak gitu. Mas tau, hatinya aku dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran dan mengeluarkan aroma wangi semerbak, dan Mas itu ibarat kumbang ****** yang menghisap madu di dalam setiap kuncup bunganya,'' lirih Arista membuat hati Louis seketika terasa melayang ke udara.
"Hahaha ... Istri Mas ini benar-benar udah pintar menggombal juga rupanya. Kumbang? Hahaha ... Kalau Mas kumbang, itu berarti kamu bunga mawar merah yang lagi mekar-mekarnya dan madu kamu gak pernah habis meskipun Mas hisap secara berkali-kali." Jawab Louis dengan senyum yang mengembang begitu lebar dari kedua sisi bibirnya.
"Hahaha ... I love you Mas Louis, I love you ... Aku padamu pokoknya, muach ...'' Arista mengecup bibir suaminya merasa gemas.
"I love you too Arista sayang, i love you sekebon bunga mawar buat kamu istriku, muach ... muach ...'' jawab Louis membalas kecupan sang istri.
"Ya udah, mandi dulu sana. Kasian Jodi nungguin lama tuh di luar."
"Iya-iya, Mas mandi dulu deh. Kamu gak mandi sekalian?"
"Nanti aja deh. Aku masih pengen rebahan dulu kayak gini."
"Ya udah Mas mandi dulu ya."
Arista menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar.
♥️♥️
Inggrid sekertaris Louis bahkan berjalan mondar-mandir di depan pintu ruangan bosnya itu seraya menatap ke arah depan berharap bosnya akan segera datang. Sampai akhirnya, yang ditunggu pun menunjukkan batang hidungnya dan berjalan menghampiri bersama Jodi seperti biasanya.
"Bos!" Sapa Inggrid menatap dengan tatapan lega sekaligus kesal sebenarnya.
"Kenapa wajah kamu kayak gitu, Inggrid?'' Tanya Louis masuk ke dalam ruangannya.
"Tuan Alex sudah menghubungi saya terus, bos. Beliau bingung karena bos tiba-tiba saja membatalkan meeting," jawab Inggrid mengikuti bosnya masuk ke dalam ruangan.
"Hmm ... Saya mendadak ada urusan penting tadi pagi, makannya saya batalin meeting-nya."
"Uhuk ..." Jodi tiba-tiba terbatuk-batuk dengan wajah yang cengengesan.
'Urusan penting bercocok tanam, hihihi ...' (batin Jadi)
"Kenapa kamu batuk, Jodi? Kamu sakit? Mau saya antar ke Dokter?" Tanya Louis dengan wajah datar duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Nggak, bos. Saya cuma keselek ko."
"Keselek apa? Kamu gak lagi makan apa-apa 'kan?"
"Keselek angin bos. Saya lupa tutup mulut pas tadi di jalan," jawab Jodi lagi, tidak menyangka kalau bosnya akan bertanya mendetail seperti itu.
"Alasan." Ketus Louis menatap tajam wajah asisten pribadinya itu membuat Jodi seketika merasa salah tingkah.
"Jadi gimana, bos? Apa perlu kita jadwal ulang sekarang? Saya dengar besok pagi beliau harus segera kembali ke Singapura." Tanya Inggrid yang juga sedikit menatap kesal wajah Jodi.
"Ya udah kamu telpon dia, tanyain dia lagi dimana sekarang. Kita yang akan nyamperin dia."
"Baik, bos. Saya permisi."
Louis menganggukkan kepalanya.
♥️♥️
Akhirnya, Louis benar-benar mendatangi Tuan Alex klien pentingnya dari Singapura. Selain karena dia merasa tidak enak karena tiba-tiba membatalkan meeting-nya pagi ini, Tuan Alex itu adalah klien pentingnya yang akan menjadi partner bisnis di negara Singapura.
Louis nampak sudah berada di Restoran hotel dimana Tuan Alex berada, dirinya masih menunggu dengan perasaan kesal karena sudah hampir 30 menit orang itu belum juga datang.
"Ini orang kemana si? Lama banget," gerutu Louis seraya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Tidak lama kemudian, yang di tunggu pun akhirnya datang. Pria paruh baya dengan tubuh tinggi dan gagah datang menghampiri dengan wajah ramah membuat Louis seketika berdiri menyambut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Maaf Tuan Louis saya sedikit terlambat," ucapnya menyambut uluran tangan Louis.
"Tidak apa-apa, Tuan Alex. Saya belum terlalu lama menunggu di sini ko.''
Keduanya pun kembali duduk dan mulai membicarakan bisnis yang akan mereka kerjakan bersama.
"Jadi kita sepakat ya, bulan depan saya yang akan terbang ke Singapura." Ucap Louis setelah Tuan Alex sepakat akan berkerja sama dengan perusahaan miliknya.
"Oke, saya akan tunggu anda di sana. O iya, saya juga ingin meminta bantuan sama anda, Tuan Louis.''
"Bantuan apa? Katakan saja, saya akan berusaha membantu selagi saya sanggup."
__ADS_1
"Begini, istri saya berasal dari Indonesia. Dahulu dia meninggalkan anak-anaknya di sini, sekarang istriku ingin mencari keberadaan putri-putrinya itu. Bisakah anda mencari tahu keberadaan mereka?" Tanya Tuan Alex menatap penuh harap wajah Louis Gabriel.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️