
Akhirnya, pesta besar pun selesai diadakan. Tamu undangan satu-persatu perlahan mulai meninggalkan tempat acara menyisakan beberapa tamu inti saja kini.
Meskipun hanya tinggal segelintir orang saja yang masih ada di sana. Hal itu tetap saja membuat Louis merasa gelisah, berkali-kali Louis menghitung jumlah tamu dan berharap mereka cepat pergi sehingga dirinya bisa cepat-cepat membawa istrinya masuk ke dalam kamar untuk berkenalan dengan piton kesayangannya yang saat ini sudah terasa tidak karuan.
"1,2,3,4,6 ...,11,12,13,14 ..." Louis menghitung jumlah tamu yang masih berada di ruang pesta dan masih dengan asiknya menikmati makanan meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
"Kamu lagi ngapain, Mas?'' tanya Arista menatap heran wajah suaminya.
"Kenapa mereka gak pulang-pulang si? Udah malam ini," gerutu Louis kesal, menatap satu-persatu tamu yang masih berada di sana.
"Hahaha ... Mas ini gimana si? Biarin aja kali mereka masih di sini, namanya juga tamu. Ingat, tamu adalah raja, masa mau di usir?"
"Ya tapi tetap aja, mereka itu gak ngertiin banget si? Gak tau apa kalau pengantin baru udah gak sabar pengen segera belah duren."
"Dih ... Mas ini. Emangnya kita gak punya waktu lagi apa? Kalau gak bisa malam ini, 'kan masih bisa besok, lagian apa Mas gak lelah?''
"Nggak, Mas gak lelah sedikitpun. Malahan Mas udah gak sabar pengen segera bawa kamu masuk ke dalam kamar," jawab Louis menyandarkan kepalanya di pundak istrinya dengan mata yang terlihat curi-curi pandang ke bagian da*a sang istri yang terlihat begitu menggoda.
"Maaaaaas ...'' Rengek Arista membulatkan bola matanya.
"Iye-iye ... Hadueuuuuh ... Sabar ya piton sayang. Tunggu satu jam lagi. Satu jam lagi kamu bakalan bebas muntahin bisa kamu sepuasnya ..." Gumam Louis.
Dia mengelus piton kesayangannya yang sepertinya memang sudah tidak sabar dan terus meronta-ronta minta dikeluarkan, bahkan piton'nya itu berdiri menegang membuat Arista yang menyaksikan hal itu seketika bergidik merinding.
"Cukup, Mas. Jangan di elus-elus di sini, malu diliatin orang kali."
"Malu apa geli?"
"Dih ..."
"Tenang aja, bentar lagi kamu bakalan kenalan sama piton kesayangannya Mas ko."
"Maaas ..."
__ADS_1
"Hahaha ..." Louis tertawa nyaring menatap ekspresi wajah istrinya yang terlihat menggemaskan.
♥️♥️
Satu jam kemudian.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Sayang, mandinya lama banget si?" Louis mengetuk pintu kamar mandi hotel, sudah sekitar satu jam istrinya itu berada di dalam sana.
"Iya, Mas. Tunggu sebentar lagi," teriak Arista di dalam sana.
"Lagian kenapa di kunci segala si? Kita 'kan udah suami-istri, gak apa-apa 'kan kalau kita mandi barengan sekalian?"
Ceklek ....
Pintu kamar mandi pun dibuka, Arista keluar dari dalam kamar dengan memakai baju tidur serba panjang membuat Louis membulatkan bola matanya seketika. Jujur saja, Louis berharap istrinya itu memakai Lingerie tembus pandang se*si, kalau bisa tidak memakai pakaian dal*m, agar malam pertama mereka bisa berlangsung mengai*ahkan.
Louis pun masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah masam dan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa merasa kesal dan kecewa dengan istrinya.
Blug ....
Louis menutup pintu keras dan bertenaga membuat Arista seketika terkejut menatap pintu kamarnya mandi.
"Mas Louis kenapa? Apa dia marah gara-gara aku kelamaan mandi?" Gumam Arista naik ke atas ranjang, meringkuk dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
Sejujurnya, Arista benar-benar merasa tegang. Tidak mudah untuknya melewati malam yang akan menjadi malam pertamanya bersama Mas Louis yang saat ini telah sah menjadi suaminya.
Gugup, jantung berdetak kencang, bahkan seluruh tubuhnya serasa bergetar mengingat bahwa malam ini, dia akan membuka segel kewanitaannya oleh suaminya tercinta.
Berbeda dengan Arista, Louis nampak terus saja bergerutu kesal di dalam kamar mandi seraya membersihkan diri di bawah guyuran shower air hangat yang kini mengguyur sekujur tubuhnya layaknya air hujan.
"Heuh ... Bukannya pake baju se*si, atau gak usah pake baju kek sekalian biar malam pertamanya seru dan menegangkan gitu. Ini malah pake baju serba panjang kayak yang mau pengajian aja si,'' gumam Louis mengusap tubuh polosnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Dada bidang Louis pun tak luput dari usapan lembut telapak tangannya. Tidak lupa, piton miliknya pun dia usap lembut seolah sedang ditenangkan.
"Sabar ya piton, sebentar lagi ... Sebentaaaaar lagiiii ..." Gumamnya lagi menuntaskan kegiatannya dalam membasuh tubuhnya.
Louis pun meraih handuk dan melingkarkan'nya sembarang untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, sementara dada bidangnya akan dia biarkan terekspos sempurna.
Ceklek ....
Louis pun membuka pintu kamar mandi. Matanya nampak menatap sekeliling mencari sosok sang istri yang saat ini tidak terlihat dimanapun di dalam kamar hotelnya.
"Rista sayang ..." Louis berteriak memanggil nama istrinya seraya berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
"Aku di sini, Mas." Jawab Arista dari dalam selimut tebal.
"Astaga, lagi ngapain kamu di sana?"
Louis berjalan menghampiri istrinya yang ternyata sembunyi di dalam selimut tebal. Tubuh kecilnya benar-benar tertutup selimut dan membuatnya tidak terlihat sama sekali.
"Dingin, Mas. Dingin ..." Ucap Arista lagi masih berada di dalam sana, membuat Louis yang saat ini sedang berdiri tepat di samping ranjang pun segera menyibakkan selimut yang menutupi tubuh istrinya.
Louis pun seketika membulatkan bola matanya sempurna, bibirnya nampak mengembang begitu lebar bahkan sangaaaaaat lebar dengan mata yang berbinar. Bagaimana tidak, istrinya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun membuat Louis merasa senang bukan kepalang.
"Waaaaaaaaaw .... Amazing my honey ..." Lirih Louis segera menarik handuk yang melingkar di pinggangnya dan melemparkannya ke sembarang arah lalu segera menerkam istrinya layaknya singa lapar yang menemukan mangsanya.
"Maaaasssss Louiiiissss ..." Teriak Arista memekikkan telinga.
"Iya sayaaaaang. Tahan sebentar, sebentaaaaar aja ..."
"Haaaaaaaaa ..." Teriak Arista lagi menggelegar di seisi ruangan kamar.
(Hmm ... Kira-kira mereka berdua lagi ngapain ya? Jadi penasaran 🤔)
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1