
Louis seketika merasa terkejut melihat reaksi David yang dinilai terlalu berlebihan. Dia tau kalau putranya itu memang masih begitu berduka dengan kepergian ibu kandungnya. Tapi, tidak sepatutnya David sampai bersikap tidak sopan seperti ini di depan dirinya dan juga ibu sambungnya.
"DAVID--" Louis hendak memarahi putranya namun, Arista segera mengusap punggungnya lembut berusaha menenangkan.
"Sudah, Mas. Gak usah di perpanjang, biar aku yang beresin," lembut Arista hendak membereskan makanan dan juga pecahan piring di atas lantai.
"Gak usah, biar sama bibi aja. Kalau tangan kamu sampai terluka gimana?"
"Gak bakalan, Mas."
"Mas bilang gak usah ya gak usah, Rista."
Kali ini, Arista benar-benar sedang malas berdebat dengan suaminya seperti yang selalu dia lakukan selama ini. Dia hanya ingin fokus kepada David yang saat ini keadaan jiwanya masih belum stabil. Arista pun menghela napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, setelah itu dia berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan putra sambungnya itu.
"Apa tangan kamu baik-baik aja? Pasti rasanya sakit banget menepis piring tebal kayak gitu.'' Tanya Arista memeriksa keadaan telapak tangan David lalu meniupnya pelan dan penuh perasaan.
"Kalian pasti senang 'kan karena Mommy udah mati? Kalian bebas ngelakuin apapun yang kalian mau.'' Ucap David dengan bola mata memerah menahan rasa amarah.
"DAVID!" Teriak Louis, emosinya hampir saja meledak jika saja Arista tidak segera menoleh dan membulatkan matanya, membuat Louis seketika menutup mulut lalu mengangkat kepala mencoba menahan emosi yang ingin sekali dia ledakkan sebenarnya.
"Sayang ... Kamu tau Mommy kamu itu siapa? Dia itu kakak kandung Tante, wanita yang udah Tante anggap seperti ibu Tante sendiri. Bagi Tante, Mommy kamu itu adalah satu-satunya orang yang Tante punya sebelum Tante ketemu sama Daddy kamu ini. Jadi, mana mungkin Tante senang dengan kepergian dia."
"Tante dan Daddy kamu juga sama sedihnya kayak kamu, sayang. Tapi, kami mencoba mengikhlaskan Mommy kamu pergi agar dia tenang di alam sana. Kamu tau, kalau kamu kayak gini Mommy Clara bakalan sedih ngelihat kamu." Ucap Arista, mengusap kepala David lembut dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Seketika, David menundukkan kepalanya. Buliran air mata pun berjatuhan begitu saja dari kedua kelopak matanya yang sudah membengkak sebenarnya.
"Tante sayang sama kamu, Tante akan berusaha menjadi ibu pengganti buat kamu. Meskipun mustahil Tante bisa benar-benar menggantikan posisi Mommy Clara di hati kamu, sayang. Karena apa? karena di dunia ini, tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu kandung meskipun dia sudah tiada. Kamu mengerti maksud Tante?"
David menganggukkan kepalanya, emosi yang semula meledak-ledak kini mulai kembali tenggelam. Tatapan mata yang semula berapi-api penuh dengan kebencian kini berubah sendu dan semakin berair menyiratkan kesedihan.
Sungguh ... Hati seorang Louis benar-benar merasa tersentuh mendengar semua yang diucapkan oleh istrinya. Setiap kalimat yang seolah dirangkai dengan begitu apik itu mampu menyentuh titik terdalam relung hati seorang Louis.
Louis pun berjongkok tepat di samping istrinya, dia menatap wajah sang putra dengan tatapan mata penuh penyesalan. Mata sayu Louis mencoba menyelami bola mata putranya dan berusaha memahami kesedihan yang sampai saat ini masih di rasakan oleh putranya tersebut.
__ADS_1
"Maafin Daddy, Nak. Maaf karena Daddy bentak-bentak kamu tadi. Semua yang dikatakan oleh Tante Arista itu benar, bukan hanya kamu yang merasa kehilangan sosok Mommy, kami berdua pun sama. Jika perkataan Daddy waktu itu membuat kamu terluka, Daddy sekali lagi minta maaf, sayang." Lirih Louis lalu memeluk tubuh sang putra.
Emosi di dalam diri David benar-benar telah menghilang sekarang. Hatinya seketika luluh setelah mendengar ucapan Ayah serta ibu sambungnya.
"Aku juga minta maaf, Dad. Aku masih belum bisa menerima kepergian Mommy. Bagiku kepergian Mommy masih terasa mimpi, dan aku sangat terluka saat mendengar kalian mengatakan bahwa Mommy bahagia dengan pilihan dia untuk mati,'' lirih David mendekap erat tubuh ayahnya.
"Bukan seperti itu maksud Daddy. Kamu bakalan ngerti jika kamu sudah besar nanti. Sekarang, kamu coba untuk mengikhlaskan kepergian Mommy Clara, bukan maksud Daddy untuk melupakan Mommy kamu itu. Tapi, cobalah menerima kenyataan bahwa dia telah tenang di alam sana." Jawab Louis mengusap punggung putranya lembut dan penuh kasih sayang.
Arista pun tersenyum senang sekaligus haru, dia menatap wajah David dan suaminya secara bergantian lalu memeluk keduanya dengan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
♥️♥️
Dua bulan kemudian.
Kehidupan yang dijalani oleh Louis benar-benar merasa bahagia. Apalagi putranya sudah memulai membiasakan diri memanggil Arista dengan sebutan Mommy Rista, meskipun masih malu-malu dan masih mencoba membiasakan diri dengan panggilan itu.
Louis nampak sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Dirinya berdiri tepat di depan cermin dengan merapikan kemeja berwarna hitam yang dikenakannya.
Sepertinya dia tidak akan bisa berangkat ke kantor jika semua pakaian dan juga kebutuhan lainnya tidak disiapkan oleh istrinya.
"Iya, Mas. Ini lagi aku bawa," jawab Arista membawa dasi serta jas hitam yang diminta suaminya.
"Buruan, sayang. Udah siang ini."
"Iya-iya sabar dong, Mas." Gerutu Arista berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di depan suaminya.
"Sayang? Muka kamu pucat banget? Kamu sakit?" Tanya Louis meletakan punggung tangannya di kening Arista dengan mata yang menatap lekat wajah istrinya penuh rasa khawatir.
"Aku emang lagi gak enak badan, Mas. Entah kenapa akhir-akhir perut aku kembung banget."
"Kenapa gak bilang sama Mas. Kalau tau kamu lagi sakit kayak gini, Mas gak bakalan minta kamu buat nyiapin semua keperluan Mas." Lembut Louis penuh perasaan.
"Emangnya Mas bisa nyiapin semua ini sendiri?"
__ADS_1
"Ya ... Ya ... Bisalah. Apa kamu lupa kalau Mas itu udah hidup sendiri selama tiga tahun sebelum menikah sama kamu?" Tanya Louis mencubit kecil kedua sisi pipi istrinya.
"Hmm ... Iya deh. Aku lagi malas berdebat sama kamu, Mas."
"Tumben?"
"Tumben kenapa? Tumben kamu mengalah sama Mas, biasanya kamu selalu bersemangat buat ngebantah semua yang Mas katakan? Hmm ... Kayaknya ada yang gak beres sama kamu.''
"Hmm ..." Arista hanya bergumam pelan, perutnya tiba-tiba saja terasa nyeri disertai dengan rasa mual yang tiba-tiba saja menyerang.
"Huek ... Huek ... Huek ..." Arista berlari ke arah kamar mandi dan langsung di susul oleh suaminya dengan perasaan khawatir.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Louis dengan setengah berlari mengikuti istrinya dari belakang.
"Huek ... Huek ... Huek ..." Arista pun benar-benar memuntahkan seluruh makanan yang ada di dalam perutnya tidak bersisa, membuat perutnya itu benar-benar terasa kosong.
"Sayang. Kamu beneran sakit?"
Arista hanya terdiam duduk di atas lantai kamar mandi dengan dada yang terlihat naik turun. Helaan napasnya pun berhembus tidak beraturan dengan kelopak matanya yang mulai berair.
"Mas ... Sebenarnya--"
"Sebenarnya apa?"
"Sudah dua bulan ini aku tidak datang bulan," lirih Arista di tengah napasnya yang masih tersengal-sengal.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
PROMOSI NOVEL.
MAMPIR JUGA DI KARYA TEMAN OTHOR YA READER. DI JAMIN CERITANYA BIKIN BAPER. JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN JUGA DI SANA.
__ADS_1