
"BOS DAVID?" Teriak Tere panik masuk ke dalam kamar mandi.
David nampak terkulai lemas di atas lantai kamar mandi, dia bahkan masih memakai pakaian yang sama dan belum berganti pakaian sama sekali membuat Tere seketika merasa bingung.
"Astaga, Bos. Kenapa masih memakai baju basah? Ya Tuhan ..." Gumamnya menatap tubuh bosnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
❤️❤️
Keesokan harinya.
David mengedipkan kedua matanya secara berkali-kali, menarik paksa pelupuknya yang entah mengapa terasa sangat berat. Dia pun mengerutkan keningnya mencoba menyesuaikan sinar matahari yang terasa hangat menyentuh wajahnya kini.
Sampai akhirnya dia pun membuka kedua matanya secara sempurna seraya mengusapnya dengan sedikit bertenaga. Kening David pun semakin berkerut dengan mata yang menatap sekeliling terlihat heran karena dia berada di tempat yang asing.
"Saya dimana?" Gumamnya mencoba untuk bangkit, seiiringan dengan itu kain kompres yang menempel di keningnya pun jatuh tepat di atas pangkuannya.
"Apa ini?" Gumamnya lalu melemparkan sembarang ke atas ranjang.
Ceklek ....
Tiba-tiba saja pintu kamar di buka dan Tere masuk dengan membawa segelas susu putih hangat.
"Bos sudah bangun?" Tanya Tere berjalan menghampiri lalu meletakkan gelas tersebut di atas meja.
"Saya dimana?"
"Di rumahku, Bos gak ingat?"
David mengerutkan kening mencoba mengingat kejadian tadi malam.
"Astaga, iya saya lupa."
"Apa bos baik-baik saja? Semalam bos demam lho."
Tere mencoba menyentuh kening David namun, segera di tepis kasar oleh pemuda itu.
"Mau apa kamu?"
"Ngecek suhu tubuh bos, demamnya sudah turun apa belum?'' ketus Tere sedikit kesal.
"Jangan panggil saya dengan sebutan bos di sini, saya bukan bos kamu.''
"Dih, apa bos masih belum menerima saya jadi salah satu karyawan di perusahaan bos?''
"Siapa bilang?"
"Nah itu tadi, katanya jangan panggil bos dengan sebutan itu?" Tere mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa merasa kesal membuat David seketika tersenyum kecil.
Entah mengapa wajah wanita yang biasanya selalu terlihat menyebalkan kini nampak lucu dan juga menggemaskan di mata seorang David.
"Kenapa bos senyum kayak gitu? Bos ngetawain aku?''
"Hah?" David seketika merasa gugup lalu memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Bos ngetawain aku 'kan? Dasar gak tau terima kasih, aku udah nolongin bos lho semalam, aku bahkan--" Tere tidak meneruskan ucapannya.
"Nggak, bukan begitu. Hanya saja, ini 'kan bukan di kantor, panggil saya dengan sebutan David aja."
"Serius?"
David menganggukkan kepalanya samar seraya tersenyum kecil, senyuman manis yang sukses membuat Tere merasa salah tingkah.
__ADS_1
"Eu ... O iya, bos. Eh ... Maksud saya, David."
"Dav, panggil saya dengan sebutan Dav saja."
"Iya, Dav. Eu ... Aku bawain susu hangat buat kamu, di minum dulu ya.'' Pinta Tere meraih gelas lalu menyerahkannya kepada David.
"Hmm ... Kebetulan saya memang sedang haus, dan susu putih adalah minuman kesukaan saya. Terima kasih ya." David menerima gelas tersebut lalu segera meminum isi didalamnya hanya dengan sekaligus tegukan saja, gelas tersebut pun seketika langsung kosong.
Glegek ....
Glegek ....
Glegek ....
Suara air susu yang melintas di tenggorokan David bahkan terdengar begitu nyaring menandakan bahwa dia benar-benar sedang kehausan.
Tere tersenyum kecil menatap wajah David.
"Akh ... Segar sekali." Gumam David mengusap ujung bibirnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Dav."
"Pertanyaan yang mana?"
"Apa kamu sudah baik-baik saja? Semalam kamu demam lho, aku sampai gak tidur semalaman. Untung saja sekarang hari sabtu, Huaaaaa ...'' Ucap Tere lalu membuka mulutnya lebar-lebar menguap.
David seketika kembali tersenyum kecil, lagi-lagi wajah wanita ini terlihat begitu menggemaskan.
''Saya sudah baik-baik saja berkat kamu tere, sekali lagi saya berterima kasih sama kamu kalau tidak ada kamu entah seperti apa nasib saya semalam.''
''Jangan GR dulu ya, aku pun akan melakukan hal yang sama kepada siapapun jika ada di posisi kamu tadi malam.''
Trok ... Trok ... Trok ....
Suara ketukan di pintu seketika mengejutkan mereka berdua, Tere pun bangkit lalu berjalan keluar dari dalam kamar.
Trok ... Trok ... Trok ....
''Teresia buka pintunya.'' Teriak orang di luar sana terdengar tidak sabaran.
Ceklek ....
Tere membuka pintu lalu menatap ibu paruh baya yang saat ini berdiri tepat di depan pintu, dia pun nampak memasang wajah yang cengengesan.
''Kenapa lama sekali buka pintunya? kamu sengaja ya biar saya nunggu lama di sini?'' tanya Ibu tersebut ketus dan tidak ramah sama sekali.
''Tidak kok, saya sedang di belakang tadi, makanya saya lama bukain pintunya.''
"Alaah alasan aja kamu, saya ke sini mau nagih uang kontrakan, sudah 5 bulan kamu nunggak lho, kalau hari ini kamu masih belum bisa bayar juga, besok kamu harus keluar di rumah ini, saya mau kontrakan rumah ini sama orang lain." Ketusnya lagi.
"Beri saya waktu 1 minggu lagi, saya sudah mendapatkan pekerjaan dan saya janji akan bayar lunas tunggakan saya, Bu. Jadi, jangan usir saya dari sini,'' Tere terdengar memelas seraya menelungkupkan kedua telapak tangannya memohon.
"Lagi-lagi dan lagi, kamu selalu saja beralasan. Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus bayar sore ini juga. Kalau tidak, saya akan benar-benar mengusir kamu udah di rumah ini, mengerti?''
"Saya mohon jangan usir saya, Bu. Saya mau kemana lagi kalau tidak tinggal di sini?"
''Ya itu bukan urusan saya, makanya buruan lunasi hutang kamu. Di luaran sana masih banyak orang yang mau mengontrak di rumah ini.''
Tere seketika berkaca-kaca, dia sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar kontrakan yang sudah tidak dibayar selama 5 bulan.
''Ada apa ini? kenapa anda berteriak-teriak seperti itu?'' tanya David keluar dari dalam kamar, membuat ibu kontrakan tersebut terkejut menatap wajah david dari ujung kaki hingga ujung rambut.
__ADS_1
"Kamu siapa? Kenapa kamu keluar dari dalam kamar? Jadi ini pekerjaan kamu? jadi wanita panggilan? Membawa laki-laki ke rumah ini, begitu?'' Tuduh ibu tersebut dengan tatapan mengintimidasi.
"Hah? Tidak, bukan seperti itu, Bu. Dia itu--"
''Saya calon suaminya Tere, katakan berapa uang yang harus dibayarkan? saya akan membayarnya lunas sekarang juga.'' Ketus David menatap tajam wajah ibu kontrakan.
"Hah?" Teresia ketika terkejut membuatkan bola matanya lalu menoleh dan menatap wajah David.
"Beneran kamu calon suaminya dia?"
"Tentu saja, untuk apa saya berbohong sama anda, nyonya tua."
"Hah, Nyonya tua?" Ibu tersebut membelalakan matanya.
"Sudah jangan banyak omong, cepat katakan betapa yang harus saya bayarkan? anda tau? Saya ini orang kaya, saya sanggup membeli rumah ini sekalipun."
Ibu kontrakan pun menatap wajah David dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan tidak suka, bibirnya bahkan dinaikan sebelah terlihat mengejek.
Penampilan Dabid yang hanya memakai kaos oblong juga celana kolor biasa membuat penampilan tidak terlihat seperti orang kaya meskipun memiliki wajah yang tampan.
"Dia ini udah nunggak selama lima bulan, tinggal dikalikan saja satu juta lima ratus satu bulan."
"Hanya karena uang recehan, anda berteriak pagi-pagi di mengganggu waktu istirahat orang? Saya akan bayar sekarang juga." David seketika merogok saku celananya dan sama sekali belum menyadari bahwa dia sudah memakai pakaian yang berbeda.
Dia pun nampak mengerutkan keningnya seraya menatap tubuhnya sendiri dengan wajah heran.
"Baju saya? Kenapa saya memakai baju ini? Kamu mengganti pakaian saya semalam?" Tanya david terkejut bukan kepalang seraya membulatkan bola matanya menatap wajah Teresia.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai-hai Reader kesayangan, terima kasih udah setia baca novel receh Othor. Love buat kalian semua.
O iya, mampir juga di novel teman Othor yang tidak kalah keren dengan ceritanya yang sudah pasti sangat menarik.
Ini dia bocoran ceritanya 👇👇👇
Blurb.
"Kamu dijadikan alat penukar hutang oleh kekasihmu, sekarang kamu ikut Mamih!"
"Tidak mungkin, Anda pasti berbohong?"
Begitu terkejutnya Lura, saat kekasih yang amat ia cintai menjadikannya sebagai alat penebus hutang kepada seorang mucikari.
Cinta yang selama ini ia harapkan pada Farrel bisa membawanya pada masa depan cerah.
Justru cinta itu yang membuat kehidupannya menjadi kelabu.
Kehidupannya di jual secara sengaja tanpa ia ketahui.
Cinta itu berubah menjadi benci.
Kehidupan dunia malam yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya harus ia jalani. Kehormatannya pun terenggut paksa.
Bagaimana kehidupan Lura setelah ini.
Akankah kehidupan kelabu itu bisa memutih seperti harapannya?
Saat si pemilik kehormatan datang mencarinya.
__ADS_1