
David menatap lekat pusara mendiang sang ibu. Dia bahkan membersihkan rumput liar yang tumbuh di tepian pusara hingga gunukan tanah yang berbalut rumput hijau itu pun benar-benar bersih tanpa rumput liar ataupun sampah yang dedaunan yang biasanya selalu memenuhi pusara tersebut.
"Tidak terasa sudah lama sekali kita terpisah ruang dan waktu, Mom. Aku sangat merindukanmu, sungguh ...! Tapi, Mommy tidak usah khawatir, meskipun begitu aku sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang, karena Mommy Arista selalu menghujani aku dengan kasih sayang tulus.''
"Mommy tau, beliau tidak pernah sekalipun menganggap aku sebagai anak tirinya. Justru sebaliknya, Mommy Arista memperlakukan aku layaknya anak kandungnya sendiri bahkan aku tidak merasa kalau dia itu ibu tiriku. Maaf karena rasa sayangku terbagi."
Ucap David, berbicara seolah-olah sang ibu bisa mendengar apa yang dia ucapkan. Terakhir David mendekatkan wajahnya di batu nisa dan mengecupnya seraya memejamkan kedua mata.
"David sayang sama Mommy, sampai kapan pun, Mommy tetap nomor satu di hati David." Gumamnya mengusap batu nisan tersebut lembut dan penuh kasih sayang.
"Semoga kalian berdua beristirahat dengan tenang di alam sana," ucapan terakhirnya sebelum David berdiri dan mulai meninggal tempat itu.
Tanpa di sangka, hujan pun tiba-tiba saja turun dengan begitu derasnya. David segera berlari ke arah mobil lalu masuk ke dalamnya, dia pun mengusap pakaiannya yang sempat basah terkena percikan air hujan.
"Jam berapa sekarang?'' gumamnya menatap arloji yang melingkar di perlangan tangan kirinya kini.
"Hah? Jam setengah 6 sore? Astaga, berapa jam aku berada di sini." Gunanya lagi, seraya menyalakan mesin mobil lalu mulai meninggalkan area pemakaman.
Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di kota, karena pemakaman itu berada di pinggiran kota membuat David harus menempuh jarak yang lumayan jauh hanya untuk mengunjungi pusara sang ibu.
Dua jam berlalu dan dia pun akhirnya hampir sampai tapi, hujan masih saja belum berhenti bahkan semakin deras kini lengkap dengan petir sang saling bersahutan.
Jalanan yang licin juga sepi pengendara pun membuat David terpaksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, sampai akhirnya tiba-tiba saja dia tidak bisa mengendalikan laju mobilnya dan berhenti tepat di tengah jalan juga tepat di tengah guyuran air hujan.
Ckiiiit ....
Mobil pun berhenti dan seketika mengeluarkan asap dari bagian kap mobil depan miliknya itu.
"Sial, pake mogok segala lagi." Ketus David menatap ke arah depan, asap pun semakin mengepul terguyur derasnya air hujan.
Mau tidak mau, dia pun dari dalam mobil tidak peduli meskipun tubuhnya basah kuyup kini.
Brak ....
David membuka kap mobil miliknya dan seketika asap pun semakin membumbung tinggi ke udara dan segera tersapu rintikan air hujan.
"Haaa ... Dasar mobil sialan, kenapa pake mogok di sini si?''
Bruk ....
Bruk ....
Bruk ....
David mendendang mobilnya secara berkali-kali meluapkan rasa kesal.
Dia pun menatap sekeliling dengan tubuh yang benar-benar basah kuyup, rambutnya yang sedikit panjang pun nampak menutupi keningnya kini.
Sepi dan hening, tidak satupun orang yang bisa dia mintai tolong.
"Mobil anda kenapa, Tuan?" Tiba-tiba saja samar-samar terdengar suara seorang wanita di tengah derasnya suara air hujan.
David pun menoleh dan mencari sumber suara.
"Kamu?" Teriak David, suaranya terdengar samar-samar tertelan suara gemuruh air hujan menatap seorang wanita yang sangat dia kenal membawa payung berukuran sedang.
__ADS_1
"Bos David? Sedang apa anda di sini?" Tanya Teresia menatap dari ujung kaki hingga ujung rambut bos yang sebenarnya sangat menyebalkan.
"Mobil saya tiba-tiba mogok."
Tere tersenyum menyeringai.
"Masa mobil mahal bisa mogok?"
"HAH? APA?"
"TIDAK APA-APA, APA BOS MAU BERTEDUH SAMPAI HUJANNYA REDA DI RUMAH SAYA? BOS BISA SAKIT KALAU TERLALU LAMA BERDIRI DI TENGAH HUJAN SEPERTI INI."
Nyaringnya suara gemuruh hujan pun membuat mereka harus saling berteriak kencang.
"RUMAH KAMU DIMANA?" teriak David, mengusap wajahnya kasar.
"DI DEPAN SANA, BOS."
David diam seolah sedang berfikir, sepertinya tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran wanita bernama Teresia ini.
"YA SUDAH SAYA IKUT SAMA KAMU." Jawab David akhirnya.
Tere pun mengangguk lalu berjalan di depan dan diikuti oleh David kemudian.
"TUNGGU, APA KAMU TIDAK AKAN BERBAGI PAYUNG DENGAN SAYA?''
"UNTUK APA? TUBUH ANDA SUDAH BASAH, TUAN DAVID YANG TERHORMAT."
"ISH ... DASAR PELIT."
Sampai akhirnya, mereka pun sampai di rumah sederhana dan minimalis yang terletak di tepian jalan, Tere meletakan payung miliknya di teras rumah lalu membuka pintu.
"Ini rumah saya, kecil dan sederhana tapi, cukup untuk berteduh daripada anda hujan-hujanan di luar." Ucapnya membuka pintu rumah lalu masuk ke dalamnya.
Tanpa basa basi lagi, David yang memang sudah kedinginan pun langsung masuk begitu saja tanpa membuka sepatu pantofel miliknya dan tentu saja, sepatu miliknya yang memang baru saja menginjak tanah merah di pemakanan juga terkena air hujan seketika meninggalkan jejak kotor di lantai.
"Astaga, Tuan David yang terhormat. Kenapa sepatunya tidak di buka dulu? Lihat, lantainya jadi kotor 'kan? Lagian anda habis darimana si? Sepatu anda kotor banget gitu. Memangnya anda baru pulang dari pemakaman apa?" Celetuk Tere memarahi David.
"Jangan banyak ngomong, saya kedinginan ini." Jawab David santai lalu membuka sepatu miliknya dan melemparkannya sembarang keluar rumah.
Bibir David nampak saling beradu menahan rasa dingin yang seolah menjalar di seluruh tubuhnya kini bahkan terasa menembus tulang.
"Kamar mandi? Dimana kamar mandi? Apa kamu juga punya pakaian yang layak? saya benar-benar sudah tidak tahan." Lirih David melingkarkan dua telapak tangannya di dada.
"Kamar mandi ada di belakang, sebentar saya ambilkan baju ganti buat anda. Kebetulan ada pakaian bekas ayah saya." Jawab Tere berjalan masuk ke dalam kamar lalu kembali beberapa saat kemudian dengan membawa satu stel pakaian.
"Kenapa anda masih di sini?'' tanya Tere membulatkan matanya karena David masih berdiri mematung dengan wajah yang semakin pucat pasi juga tubuh yang gemetar.
"Sa-ya ti-dak ta-hu kamar mandi-nya a-da dimana.'' Jawab David dengan gigi yang saling beradu semakin kedinginan.
"Astaga, anda tinggal jalan kebelakang saja, Tuan David. Wajah anda udah pucat banget, bibir anda juga membiru seperti itu. Apa anda baik-baik saja?''
David tidak menjawab, dia berjalan ke arah belakang dan di susul oleh Tere kemudian. David bahkan berjalan hingga melewati kamar mandi tersebut.
"Anda mau kemana? Kamar mandinya ada di sini." David seketika menoleh lalu memutar badan dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ceklek ....
Blug ....
Pintu kamar pun di buka dan langsung di tutup rapat.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Bos, bajunya ketinggalan." Tere kembali mengetuk pintu.
Ceklek ....
Pintu kembali di buka dan David hanya mengulurkan tangannya untuk meraih pakaian tersebut.
Blug ....
Pintu kamar mandi pun kembali di tutup rapat.
Tere sengaja menunggu di depan pintu karena dia merasa khawatir dan sepertinya, kekhawatiran Tere pun terbukti. Sudah lebih dari 30 menit David masih belum juga keluar dari dalam kamar mandi.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Bos, anda baik-baik saja?"
Tok ... Tok ... Tok ....
"Bos ...!"
Tere, mengetuk bahkan berteriak secara berkali-kali tapi masih tidak mendapatkan jawaban apapun.
Terpaksa, dia pun menggedor keras pintu kamar mandi tersebut bahkan mencoba membukanya secara paksa.
Bruk ....
Bruk ....
Bruk ....
Tere berusaha mendongak pintu kamar mandi.
Bruuuuuk ....
Sampai akhirnya, pintu kamar mandi pun terbuka dan Tere seketika membelalakan kedua matanya.
"BOS DAVID ...'' teriak Tere masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan panik.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Hai-hai Reader kesayangan. Terima kasih telah setia baca novel receh Othor ya. semoga kalian sehat selalu dan di murahan rezekinya oleh Tuhan Yang Maha Esa, biar bisa terus baca novel Othor.🤭
O iya, hari ini Othor bawakan rekomendasi novel buat kalian. Ini dia bocoran ceritanya 👇👇👇
blurb.
"Kau adalah milikku, sebanyak apapun wanita yang berada disekitar ku. Kau adalah satu-satunya yang tak akan aku lepas sampai kapan pun," ketegasan dalam ucapan tersebut seolah menjadi bukti bahwa gadis yang kini berada dalam sangkar emas milik laki-laki yang tak lain adalah seoarang mafia tersebut adalah gadis yang begitu ia jaga. Dia, Eric Roymond. Laki-laki yang memiliki tatapan mematikan dengan aura penguasa. "Kau hanya menjadikan ku budak mu, lalu bagaimana bisa aku bertahan dengan segala rasa sakit yang aku rasakan?" wanita tersebut menatap penuh kebencian pada laki-laki yang telah dengan sengaja menjebak pamannya tersebut. Untuk mendapatkan gadis tersebut Eric sengaja menjebak paman gadis tersebut agar menjual gadis tersebut padanya. Dia, Evelyne Gregory. Gadis lembut yang penuh dengan keceriaan. Kedua orang tersebut malah terjebak dengan takdir yang membawa mereka untuk menjadi satu. Namun akankah mereka benar menjadi satu? atau justru semesta memiliki cara untuk menjadi pemisah?
__ADS_1