
David seketika menatap tubuhnya sendiri dengan kening yang dikerutkan benar-benar merasa heran, karena pakaian yang dia pakai sudah tidak sama lagi seperti pakaian yang semalam dia kenakan.
"Baju saya? Kenapa saya memakai baju ini? Dimana pakaian saya?" Tanya David terlihat kesal.
Sementara itu, Tere hanya bisa menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali dengan wajah yang terlihat cengengesan.
"Kamu? Kamu apakan pakaian saya?"
Tere cengengesan dengan wajah yang terlihat menyebalkan di mata David.
"Kenapa malah cengar-cengir kayak gitu, hah? Semalam kamu--" David memgusap wajahnya kasar.
"Sudah-sudah, saya tidak percaya kalau kamu itu sebenarnya orang kaya. Kamu pasti cuma pengangguran yang ngaku-ngaku jadi orang kaya, iya 'kan?" Sungut ibu pemilik kontrakan dengan tatapan yang terlihat mengejek.
"Apa? Pengangguran? Hahahaha ... Asal anda tahu saja ya, saya itu pewaris perusahaan terbesar di negara ini, ayah saya bahkan salah satu orang terkaya di Asia tenggara. Kekayaan yang kami miliki tidak akan habis tujuh turunan. Enak aja main nuduh saya pengangguran." Ketus David terlihat emosi.
"Ya udah, kalau kamu memang orang kaya, buktiin dong. Bayar tunggakan uang sewa Tere sekarang juga."
David terlihat bingung karena sepertinya, dompet miliknya berada di dalam saku celana yang dia kenakan samalam.
"Hey kamu, semalam waktu kamu gan--! Astaga ...! Heuuuh ...! Kamu lihat dompet saya nggak? Biasanya kalau kemana-mana saya selalu membawa dompet.'' David mengalihkan pandangannya kepada Teresia.
"Eu ... Nggak ko, aku gak lihat dompet atau apapun. Beneran ..."
"Bohong ...!"
"Siapa yang bohong dan buat apa juga aku bohong."
"Apa mungkin dompet aku ketinggalan di dalam mobil?"
Tere hanya mengangkat kedua bahunya dengan kening yang dikerutkan.
"Alaaaah ... Alasan aja kalian. Pokoknya saya tidak mau tahu, sore ini juga kamu harus bayar tunggakan kamu lunas gak boleh ada yang tersisa, kalau kamu sampai gak bayar sore ini, maka malam ini juga kamu harus keluar dari rumah ini, oke?" Ketus ibu kontrakan mengancam penuh penekanan.
"Hah? Darimana saya bisa dapat uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu hari?"
"Bukan urusan saya, noh ... Minta sama calon suami kamu yang katanya salah satu orang terkaya se-Asia tenggara, cuih ... Penampilan kayak gini ngaku-ngaku jadi orang terkaya," celetuknya lagi lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
"Heeuuuh ... Dasar emak-emak songong ..." David hendak mengejar, tapi segera di tahan oleh Tere.
"Sudah cukup ... Gak usah di ladeni. Dia memang begitu, mulutnya rombeng."
"Tunggu ..." David seketika menoleh dan menatap wajah Tere dengan tatapan tajam.
Tentu saja, wanita itu langsung saja memasang wajah polos lengkap dengan bibir yang cengengesan. Mengingat kejadian tadi malam membuat bulu kuduknya merinding disko dengan jantung yang berdebar.
__ADS_1
"Katakan sama saya apa yang kamu lakukan tadi malam?" Selidik David masih dengan tatapan tajam.
"Eu ... Apa lagi, pakaian kamu basah semua dan kamu pingsan di kamar mandi, masa iya aku harus membiarkan kamu pake baju basah?"
"Jadi beneran kamu yang gantiin pakaian saya?"
Tere menganggukkan kepalanya.
"Semuanya?"
Teresia pun kembali mengangguk samar.
"Termasuk yang ini?" David menunjuk bagian tengah celananya.
"I-ya ... Hehehehe ..." Jawab Tere, seketika kembali membayangkan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
"Astaga ... Teresia ... Kamu benar-benar ya." David mengusap wajahnya kasar.
"Mau gimana lagi? Masa iya aku biarin kamu memakai baju basah? Apa lagi kamu juga pingsan lho."
"Ya seharusnya kamu bangunin saya dong."
"Aku udah bangun kamu, tapi kamu-nya yang gak bangun-bangun. Aku pikir kamu mati."
"Heuuuuh ... Dasaaaaaar ..."
"Pokoknya, kamu harus tanggung jawab lho."
"Hah? Tanggung jawab gimana? Aku cuma bantuin kamu ganti baju, gak per*osa kamu merebut keperj*kaan kamu, Dav. Masa gitu aja harus tanggung jawab si? Ngaco akh ...''
"Tapi kamu lihat pusaka kebanggaan aku 'kan?"
Wajah Tere seketika memerah juga merasa malu.
Ya ....
Dia memang melihatnya jelas, sangat jelas. Benda seperti belalai gajah itu dengan kedua matanya. Akan tetapi dia sama sekali tidak menyentuh apalagi memainkan.
Ikkkh ....
Tere seketika bergidik ngeri, sekujur tubuhnya terasa merinding.
"Kenapa diam? Kamu lihat 'kan? Jawab Teresia?"
"Dikiiiit ..." Celetuk Tere merasa malu juga.
__ADS_1
"Nah 'kan. Pokoknya kamu harus--"
"Harus apa? Tanggung jawab? Nggak, gak mau, masa cuma lihat sedikit aja langsung tanggung jawab si? Lagian aku gak megang apalagi memainkan benda yang mirip belalai gajah itu ko.''
"Cukuuuuup ... Jangan di teruskan, bisa gila saya terus-terusan berada di sini. Heuuuuh ..." David melenggang pergi begitu saja meninggalkan Tere dengan wajah memerah dan juga merasa malu pastinya.
Wanita ini, wanita bernama Teresia Anindya Putri benar-benar telah melihat benda keramat yang selama ini dia sembunyikan rapat dan tidak ada satu wanita pun yang pernah melihatnya.
'Gila ... Gila ... Gilaaaaaaa ...' (batin David menjerit.)
"Hey, mau kemana kamu?" Teriak Tere menatap punggung David yang saat ini meninggalkan kediamannya.
"PULANG ... SAYA BISA GILA LAMA-LAMA BERADA DI SINI." Teriak David tanpa menoleh pada awalnya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja dia menghentikan langkah kakinya lalu memutar badan dan menatap wajah Teresia dengan tatapan tajam juga menunjuk wanita itu dengan satu jarinya.
"INGAT, KAMU HARUS TANGGUNG JAWAB. SAYA AKAN MENGEJAR KAMU SAMPAI KE UJUNG DUNIA SEKALIPUN." Teriak David lagi lalu kembali memutar badan dan berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan Teresia.
"Dih, dasar cowok aneh. Tanggung jawab gimana maksudnya? Nikahi dia gitu?'' Gumam Tere menatap punggung laki-laki itu dengan tatapan tajam merasa kesal.
♥️♥️
David berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempat dimana dia memarkir mobilnya tadi malam. Seingatnya, dia memarkir mobil mewah itu tidak jauh dari kediaman Tere dan dia masih ingat betul letak mobil tersebut.
Akan tetapi, David sama sekali tidak menemukan mobilnya dimanapun di jalanan raya itu.
"Mobil saya? Mobil saya dimana? Jelas-jelas saya memarkir mobil itu di sini?" Gumamnya merasa kesal menatap sekeliling.
Di sana, di tempat yang sama saat mobilnya tiba-tiba saja berhenti semalam, David sama sekali tidak menemukan jejaknya sedikitpun. Bahkan jejak ban mobil yang kotor dengan tanah pemakaman pun nampak sudah bersih tersapu oleh air hujan.
"Siaaaaaaaaal ..." Teriaknya merasa kesal.
Apa yang akan dia lakukan sekarang? Dompet bahkan ponselnya pasti tertinggal di dalam mobil. Bagaimana caranya dia akan pulang sekarang? Sementara dia terlalu malu jika harus kembali ke rumah wanita bernama Teresia Anindya Putri.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Promosi Novel lagi ya Reader. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya. Sayang kalian semua .
Ini dia bocoran ceritanya 👇👇👇
Blurb
Kehidupan Adistya yang awalnya tenang dan biasa saja tiba-tiba terganggu oleh kedatangan seorang lelaki bernama Darren Bramastya. Lelaki itu mengklaim dirinya sebagai istri, bahkan memaksa dirinya untuk kembali ke rumah.
Tentu mendapat perlakuan seperti ini, Adistya menjadi sangat risih. Namun, semakin hari melihat kegigihan Darren untuk meluluhkan hatinya membuat Adistya memberikan kesempatan pada Darren.
__ADS_1
Adistya mengajukan permintaan agar mereka menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, bukan sebagai suami istri. Apakah permintaannya ini akhirnya bisa di setujui Darren, atau malah sebaliknya?